MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (25) Ada Apa Dengan Mereka?


__ADS_3

...Wah, lagi happy neh...


Belut seperti biasa, menchatku di pukul delapan malam


...Iya yang! Temen2 sama Boss kasih surprise (emoji mata lope-lope)...


...Maaf,... Aku kemaren lupa kasih kado...


...Keberadaanmu disampingku itu adalah kado terindah, Lifah!...


Auw auw auw... Lumer ga tuh hati si Alifah. Ish wkwkwk... Kacau nih rayuan gembelnya makin gelandangan. Eh gelindingan maksudnya. Hehehe...


Treeet... Treeet... Treeet


"Hallo, Yang!?"


Uhuk... Loncer banget ni bibir sekarang panggil 'Ayang'.


...[Tot! Gimana kemaren keadaan gudang?]...


"Hehehe... Alhamdulillah, tercover semua! Berkat doa kamu, Yang! Makasih ya!?"


^^^[Yang, Yang melulu ish! Gatel nih dengernya!]^^^


"Mana yang gatel? Mau digarukin gak?"


...[Ish, Imuuut!]...


"Hahaha...! Jadi tambah kangen pingin ketemu kamu, Yang!"


...[Si Gatot kesurupan setan apaan sih? Gelay gue dengernya! Hiks..]...


"Kesetanan cinta kamu! Ahhay... Hahaha..."


...[Gatot Gelo! Udah ah, ga mau gituuu...! Lagi pusing nih mikirin bahan!]...


"Bahan apaan? Bahan saten, brukat apa bahan katun? Hahaha..."


...[Tot! Rese' deh! Hihihi... Bales dendam ya? Inget awal-awal aku ledekin kamu gitu ya?]...


Aku tertawa. Bukan karena ucapan si Lifah yang lucu. Tapi karena ketidak-konsistenan ucapannya yang imut, manis menggemaskan. Kadang Elo-Gue, tapi sering juga Aku-Kamu.


"Bab berapa sekarang?" tanyaku agak serius.


...[Bab 3. Hiks, makin ruwet otak!]...


"Semangat! Kalo Alifah udah di ACC yang Banb 3, trus seminar proposal, masuk bahan skripsi ya, Gatot kasih hadiah spesial!"


...[Apaan hadiahnya? Tiket gratis wahana air?]...


"Terserah, aku akan kabulkan tiga permohonanmu!"


...[Hahaha...! Gatot kek jin botol!]...


"Hahaha, makanya! Keren gak tuh, Aku! Tiga permintaan sekaligus! Tapi,... Jangan yang mewah dan mahal ya? Hehehe harga standar aja. Kantong kuli mohon dimaklum!"


Terdengar tawa Alifah yang renyah begitu menggoda.


Hiks, kangen Lif! Kangen cubit pipi lo! Kangen gelendotan kepala lo dibahu gue! Kangen, pingin suapin lo makan lagi!


"Eh, pasti belom makan khan?"


Alifah terdengar agak tergagap-gagap sambil jawab, "Udah!"


"Bohong! Hayo!!!"

__ADS_1


...[Tadi jam dua siang. Hehehe...!]...


"Ya ampun Alifah! Makan dulu, ga?"


Sentakku sok-sokkan galak.


...[Iya. Aku lagi di rumah Papa! Lagi nunggu tukang bakso lewat!]...


"Oh, gitu. Tapi kenapa bakso? Makan nasi lah, Neng Belut! Itu perut mana kuat bakso doang!?"


...[Baksonya dinasiin ntar! Hehehe...! Aneh, yang kuliah kebidanan itu aku, tapi yang jadi dokter itu koq kamu! Hihihi...!]...


"Karena bu Bidannya bandel! Perlu selalu dipantau kesehatannya sama kang kuli Gatot Subroto. Kayaknya udah kecanduan pengen makan disuapin mulu tuh, Bu Bidannya! Hehehe..."


...[Iiih, ge'er! Siapa yang suruh nyuapin aku! Wew, aku juga ga minta disuapin tuh!]...


"Lipah! Lipaaah, Bryan datang tuh!"


Aku tertegun. Suara seorang perempuan berteriak memanggil nama Pujaanku. Ternyata tunangannya datang.


Malem-malem gini mau ngapain tuh selebgram tengil?


Tiba-tiba fikiranku teringat semalam akan penampakan si Bryan di lift lantai dasar apartemen.


...[Tot! Ntar sambung lagi ya? Eh, jangan chat gue duluan. Okey?]...


"Iya. Love you, My Belut!"


Klik.


Haish! Malah dimatiin tanpa jawaban. Ini sama aja namanya digantung kayak jemuran. Lama-lama jamuran, gue! Hiks...


Seperti biasa, setiap ada si Bryan, Alifah bagaikan berganti kepribadian.


Gadisku itu menjadi super cuek, dingin dan kejam.


Begitulah. Jadi selingkuhan itu rasanya tidak enak. Sangat sangat sangat tidak enak.


Andaikan aku dikasih pilihan, aku akan memilih menyingkirkan tunangannya dan membawanya pergi hanya untukku seorang.


Tapi mengingat itu, down tumbang mentalku.


Bagaimana bisa, manusia biasa bersaing dengan superstar yang banyak uang, tenar dan memiliki segalanya.


Aku, bagaikan serpihan kali pasir yang tertiup angin.


Tak bisa memberi harapan apalagi janji-janji yang bisa membuai dan membumbung tinggi.


Ditambah saat ini aku tak berani ambil langkah karena kuliah Alifah yang tinggal sedikit lagi.


Orangtuanya pasti berjuang keras mencari uang mati-matian demi menyekolahkan dan mengkuliahkan Alifah. Untuk masa depan putrinya yang gemilang.


Aku, si miskin yang hanya pekerja rendahan berpendidikan S1 belum bisa memberikan Alifah apa-apa.


Kalau terjadi pada kuliah Alifah yang tinggal sejengkal lagi, aku tak bisa membantunya dalam hal finansial. Tapi urusan support dan dukungan penuh, aku pasti akan berjuang mati-matian untuknya.


............


Lelah rasanya hari-hari tanpa Alifah.


Apakah begini rasanya cinta? Berbunga-bunga jika selalu ada didekat yang dicinta. Tetapi bagaikan tanaman layu yang tak terkena siraman air dan cahaya matahari.


Aku butuh Alifah.


Aku butuh asupan semangatnya.

__ADS_1


Binaran matanya, senyuman manisnya, seolah ada dipelupuk mata.


Ah, hhh... Bikin kesel!


Menyiasati kegalauan dan kesepian menunggu Alifah, aku menyibukkan diri dengan rajin nge-gym dan berolah raga.


Seperti jadwal yang kuplanning sebelumnya, aku pun mulai intens bangun pagi.


Sehari ini lumayan terjadwal sesuai rencana.


Pulang kerja pukul delapan, aku niat berenang karena cuaca yang cerah dan udara masih panas gerah walaupun hari sudah malam.


Area swimming pool rupanya cukup luas dan hari ini agak banyak yang berfikir sepertiku. Berenang malam hari.


Tadinya aku pikir, hanya akan ada aku seorang yang berenang. Dan aku bisa leluasa menggunakan fasilitas kolam renang yang tersedia di lingkungan apartemen.


Ternyata tebakanku salah.


Sampai aku berpapasan dengan seorang wanita yang sepertinya juga mengenaliku.


"Gatot?"


Aku tertegun, lalu tersenyum. Agak degdegan melihat tubuh setengah terbuka karena balutan swim suit miliknya memperlihatkan bodi mulus nan aduhai. Begitu menggoda.


"Mbak Mirina!"


Hampir gue lupa namanya! Ck, bisa-bisanya nama Mirina gue tulis Merana!


"Kamu tinggal di flat sini juga?" tanyanya ramah.


Aku mengangguk malu.


Dia yang pake baju begitu, kenapa gue yang malu. Ish! Padahal ini khan emang tempatnya orang pake bikini! Secara ini kolam renang, Tot! Ah, norak banget gue!


Aku cepat-cepat pamit dengan alasan ingin menceburkan diri ke kolam padahal jantung ini mengalami panic attack.


Mirina seperti menyadari kalau wajahku memerah dan suhu tubuhku agak memanas karena penampilannya yang super sekali.


Ia tersenyum lalu mengangguk. Kami berpisah. Aku sengaja menjauh dengan memilih kolam berbeda supaya tidak berenang di sekitar Mirina.


Aku tidak suka berada di zona berbahaya. Lebih suka main aman. Lebih higienis dan terjamin kesehatannya.


Ngemeng apaan si lo, Tot!? Lo kira jajan di pinggir jalan! Bahasanya sok terpelajar lo, ah! Hehehe...


Kecipak kecipuk


Byur byur byur


Sekali putaran, setengah putaran. Bersihkan sel kulit mati dan kotoran (hadeeuh, korban iklan lo Thor)


Lumayan membuat otot tubuhku mengeras dan mengencang.


Apaan sih? Ngomongin apaan sih ini? Hiks... Maaf, gajebo!


Tiba-tiba mataku melihat seseorang melintas sepuluh meter dariku.



Si Bryan???


Lah? Itu... Itu khan Mirina???



Ternyata mereka saling kenal. Ada apa dengan mereka? Apa... Mereka punya hubungan? Koq,... Mirina dan Bryan cipika-cipiki? Kayak... Akrab sekali.

__ADS_1


Woow... Seru nih!!!


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2