MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU ISTRIKU (8) Kejadian Yang Tak Di Prediksi


__ADS_3

Alifah hari ini mengikuti seminar para Bidan se-Pangkal Pinang ke Kuala Lumpur. Rencananya Ia akan berada di sana selama tiga hari.


Abiem memang belum genap satu tahun usianya, tetapi kami punya stok susu ASI karena Alifah mendapat predikat sebagai Bidan Duta ASI di kota wilayah kami tinggal.


Tadinya Alifah bersikeras ingin mengajak Abiem turut serta dengannya ke Malaysia karena acaranya lebih dari satu hari. Tetapi Ayah Ibu melarang karena kondisi cuaca serta usia Abiem yang belum genap satu tahun jadi kecemasan beliau berdua.


Kalau aku sih orang yang enjoy saja. Suami yang keep cal**m dan tak suka ribet dengan urusan apapun itu. Alifah membawa putra kami pasti juga sudah dengan pertimbangan yang matang. Jadi aku tak terlalu pusingkan itu. Apalagi istriku adalah seorang tenaga medis. Otomatis dia lebih tahu dan faham cara meminimalisir resiko serta efek samping dalam membawa bayi di bawah satu tahun untuk bepergian naik pesawat terbang.


Tetapi kembali lagi, akhirnya keputusan kedua orang tuaku yang jadi pilihan terakhir kami dalam menentukan. Hm.


Abiem terpaksa Alifah tinggal bersama suster perawat di rumah Ayah Ibu.


"Yang! Aku titip Abiem ya?" katanya membuatku tersenyum lebar.


"Yaelah, Yang! Abiem itu anakku juga, Yang! Pasti akan aku jaga. Ga perlu kamu terlalu risaukan Abiem. Ada suster, ada Ibu, Ayah. Juga ada aku, pastinya!"


Kuelus pucuk jilbabnya. Ini perjalanan pertama Alifah ke luar kota sendirian setelah menikah dan punya anak. Tentu saja aku cukup tahu bagaimana perasaannya.


Pelukan hangat ini seolah semakin memberatkan langkahnya pergi ke Negri Sebrang.


"Hehehe...! Kamu ini, Yang! Padahal sebelum nikah sama aku, kamu adalah wanita pejuang devisa negara. Sekarang malah ziper, padahal cuma tiga hari aja koq tinggalin rumah. Jangan gitu ah! Khan ini untuk kemajuan karier kamu juga kedepannya. Aku ga akan menahan apalagi membatasi ruang gerakmu hanya karena terlalu cinta. Ini kesempatan kamu buat berkembang!"


Alifah memeluk erat pinggangku.


Dia mengusap titik air mata yang hampir jatuh dari kelopaknya.


Sementara Abiem tertidur pulas digendongan Ibu. Kami memang mengantarkan Alifah sampai bandara.


"Hiks. Semakin berat ninggalin kalian semua!" celoteh Alifah dengan bibir mencucutnya.


Woooi...! Kondisikan bibirmu, Belut! Tar gue sosor ngamuk-ngamuk lo di bandara. Alasannya, malu diliat orang. Hehehe...


Cup.


Hanya kecupan kilat di keningnya yang glow up karena make up. Istriku cantik sekali. Dan dia tersipu, manis sekali.



"Udah, ayo berangkat! Yang laen udah mulai masuk pintu keberangkatan, noh!"


"Love you very much, Suamiku!"


"I love you too. More more and more, my Sweet Wife!"


Wajah Alifah bersemu merah jambu.


Jangan pernah ragukan kepintaran gue dalam ngegombalin elo, Lip! Gue adalah pemilik hati lo. Ingat itu selalu! Jadi..., dimanapun, kemanapun elo pergi, gue akan selalu doain elo, Siti Alifah binti almarhum Bapak Mukti. Jadi,... Tetap jaga hati lo buat gue! Okay?


............


Sehari tanpa Alifah, ternyata adalah ujian terberat yang saat ini baru kurasa.


Setiap hari, setiap saat selalu melihat wajah manisnya yang berubah-ubah mimik serta auranya. Tapi baru 1x24 jam saja tanpa dia, hidupku nelangsa. Sumpah, beneran merana! Apalagi Alifah belum menghubungiku karena satu dan lain hal, sibuk dengan seminarnya serta terkendala sinyal error.


"Pak Gatot!? Ini... Kenapa laporan yang ini yang Bapak kirim ke email saya?"

__ADS_1


Hah?!?


Aku terkejut, Tiara Andini tiba-tiba memasuki ruanganku dan berdiri tepat di depan mukaku.


"Lain kali ketuk pintu dulu, Nona!" tukasku agak kurang suka dengan attitude nya.


"Saya sudah ketuk pintu berkali-kali, Pak! Tapi Bapak tak dengar. Padahal pintunya juga tidak tertutup rapat dan saya lihat ada bapak duduk di ruang kerja!" Tiara seperti tak terima dengan teguranku. Ini membuatku jadi tak enak hati dan langsung berdiri dengan senyuman permintaan maaf.


"Oala. Berarti aku yang error ya, Tiara! Maaf, maaf! Maaf, ya?"


Dia tersenyum tipis. Lalu menyodorkan berkas laporan yang kadung di-printnya dan pergi meninggalkanku tanpa kata-kata.


"Tiara!"


Dia menoleh ketika kupanggil namanya.


"Maaf, ya? Nanti kukirim segera laporan yang kamu pinta!"


Dia mengangguk.


"Terima kasih, Boss!"


Ck. Bego banget sih lo Tot! Kerjaan lo jadi kacau gegara lo kebanyakan ngelamun. Hiks.


Jam istirahat kerja telah tiba.


Aku tanpa terencana bertemu muka dengan Tiara di pintu masjid Agung yang tak jauh dari gedung perkantoran kami.


Rupanya dia juga mau sholat dzuhur.


Tiara menggeleng pelan. Hari ini kulihat wajahnya jauh lebih murung dari hari-hari kemarin. Apa karena tadi kena tegor gue ya? Semoga aja bukan karena itu, ya?!


Ada rasa bersalah terselip di sanubari. Dan aku ingin menebusnya.


"Eh, makan siang sama-sama, yuk?" ajakku berinisiatif untuk memperbaiki ketidak nyamanan diantara kami karena kejadian tadi.


Dia diam sebentar. Tetapi kemudian mengangguk mengiyakan.


Kami ketemuan lagi setelah selesai menunaikan kewajiban.


Makan pecel ayam di anjungan food courd dekat pasar raya adalah pilihan yang tepat di siang panas menyengat.


Dengan mengendarai mobil dinas yang kusetir sendiri. Aku dan Tiara duduk berdampingan di kursi depan. Meluncur menuju resto pecel ayam.


Tiba-tiba,


Treeet... Treeet... Treeet...


Ibu menelponku.


"Ibu, hallo, assalamualaikum!"


...[Waalaikum salam! Tot, pulang dulu! Abiem jatuh dari kursi! Darah keluar banyak dari bibirnya! Ibu takut Abiem kenapa-napa, Tot!]...


Anakku!!!

__ADS_1


"Bu, ibu! Bawa langsung Abiem ke RS! Sekarang, Bu!!!" pekikku keras. Dengan suara berteriak dan mengagetkan Tiara yang duduk di sampingku.


...[Ga ada Ayah di rumah. Ga ada yang bisa setir mobil juga kendarai sepeda motor, Tot!]...


"Oke, oke! Gatot pulang sekarang!"


Aku langsung putar balik.


"Pak?"


"Hm... Tiara, kamu bisa pulang ke kantor sendiri khan ya? Aku mau pulang dulu. Anakku jatuh dari kursi. Maaf, makan siang kita terpaksa batal!" ujarku dengan suara terbata-bata.


Ini menyangkut nyawa putraku, Abiem. Apalagi istriku sedang tak ada di rumah. Hiks. Bahaya!


"Saya belum tau jalan, Pak! Ya udah, saya ikut bapak aja, boleh?"


Hadeeuh ni cewek!


"Ya udah, tapi maaf kalo saya gak ajak ngobrol kamu karena mendahulukan urusan keluarga, ya?"


"Iya, Pak! Tak apa. Saya mengerti!"


Syukur deh, kalo dia ngerti!


"Bu!!!"


"Ga apa-apa, Tot! Hehehe... Abiem cuma luka bibirnya aja kena gigi susunya!"


Hhh... Alhamdulillah. Syukurlah. Terima kasih, ya Allah!


"Ayo ke Rumah Sakit!" kataku pada Ibu.


"Ga perlu kata mbak Santi. Itu cuma pendarahan wajar. Abiem jatuh di jam peredaran darah sedang lancar-lancarnya. Jadi darah segar yang keluar dari bibir lumayan bikin kaget Ibu."


"Tapi mending ke Dokter, deh!"


"Abiemnya lagi tidur, Tot! Ga apa-apa. Aman koq sekarang! Hehehe... Kamu bisa lanjut kerja lagi! Maaf ya, Ibu panik tadi. Jadinya langsung telepon kamu padahal di rumahmu ada Mbak Santi!"


"Ya ga apa-apa juga, Bu! Gatot khan Papa-nya Abiem! Ya harus jadi yang nomor satu diberi tahu kalo ada apa-apa."


"Hehehe..."


Aku lega. Melihat Abiem yang tengah tertidur pulas. Bibirnya merah dan terluka karena jatuh dari kursi duduknya.


Maklumlah. Putra kami sedang belajar segala hal. Terkadang reaksinya diluar espektasi kami sebagai orangtua. Meskipun dipantau 24 jam dan dijaga di depan mata, terkadang tetap saja tak luput dari yang namanya celaka. Hhh...


Palingan ntar gue kena semprot Emaknya kalo udah pulang dari seminar! Siap-siap aja kuping meleber kepanasan dengar omelan Alifah dan bilang aku teledor! Dia ga akan berani ngomelin Ibu. Ujung-ujungnya, gue lah yang jadi perwakilannya. Wkwkwk... Nasiiib nasib!


"Itu siapa, Tot? Perempuan yang duduk manis di dalam mobil kantormu? Kamu itu, ya?! Istrimu pergi cuma beberapa hari aja, udah berani bawa-bawa perempuan lain! Gimana kalo Alifah ikut ikatan dinas keluar kota selama seminggu apalagi sebulan!" tegur Ibu tiba-tiba.


Ya ampun!!! Gue lupa sama si Tiara! Hiks... Ibu gue malah salah faham!



...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2