
Pernikahan kami berjalan tanpa terasa. Ternyata sudah tahun kedua kami anniversary. Rasanya, semakin tak mau berpisah jauh dari anak istri.
Hubungan relation ship pernikahanku dengan Alifah juga semakin lancar jaya. Miss com yang sempat terjadi beberapa kali di tahun pertama pernikahan pun perlahan mulai mengecil value intensitas pertengkaran-nya. Alhamdulillah.
Abiem juga semakin pintar, lucu dan juga menggemaskan. Putraku sudah pandai berjalan dan berceloteh apa saja yang ia ketahui.
Kami masih menempati rumah Alifah. Dan sesekali menginap di rumah Ayah Ibu yang letaknya di seberang rumah Alifah.
Rumah yang kubeli di Pantai Pasir Padi ditempati Arif. Secara kantornya di depan perumahan itu. Jadi, dia lebih nyaman dan santai tinggal disana. Walau seminggu sekali tetap pulang dan menginap bersama kami.
Aku sebenarnya ingin memboyong Alifah pindah ke sana. Tapi Ayah dan Ibu masih tak mampu melepasku jauh. Terlebih ada Alifah dan Abiem kini yang makin membuat mereka sangat sayang.
Abiem bahkan lebih sering bermain di rumah Ibu karena Alifah kadang sibuk dengan pasien.
Kami juga tenang. Karena kini memiliki dua orang asisten dan seorang suster untuk menjaga Abiem.
.......
Kini pekerjaanku juga semakin banyak. Boss kami semakin melebarkan sayap perbisnisannya di bidang properti. Otomatis kegiatanku dan Arif semakin bertambah dan bertumpuk.
Kami kadang harus terbang bolak-balik Jakarta-BaBel. Kadang BaBel-Bali, Babel-Samarinda, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Selalu ada seminar dan pembicaraan terbuka dalam urusan diskusi tertutup para pengusaha properti, real estate dan juga hunian baik usaha perorangan ataupun usaha joint venture antar swasta dan pemerintah.
Kali ini aku kedatangan seorang tamu dari Kota P. Pak Beno namanya. Beliau membawa serta seorang gadis bernama Tiara Andini, yang ternyata adalah sepupunya.
Tiara Andini, gadis berusia 24 tahun itu adalah seorang Sarjana Arsitektur. Dia rupanya akan menjadi partnerku dalam urusan memilih material bangunan yang akan kami gunakan dalam project baru kali ini.
Sebuah hunian perumahan baru di daerah baru. Dan semua memakai konsep back to the future. Proyek ini digadang-gadang sebagai proyek terbesar yang perusahaan CEO Ardi pegang. Tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri juga bagiku yang adalah kaki tangan kepercayaan beliau sampai saat ini.
Kini partner arsitektur-ku adalah seorang perempuan. Muda, bertalenta. Otomatis aku juga harus bisa membawa diri untuk mengimbanginya. Tengsin dong, kalo gue kalah sama cewek! Hiks.
Cuma ada sedikit permasalahan, Tiara seperti canggung sekali saat kita berkenalan pertama kali (mungkin ini biasa di awal kerjasama).
"Gatot Subroto!"
"Tiara Andini!"
__ADS_1
Aku seperti biasa, berusaha ramah dan welcome pada siapa saja. Termasuk dengan pak Beno dan Tiara tentunya.
Kami langsung membahas hal-hal serius setelah berbasa-basi tentang identitas termasuk status keluarga di awal pembicaraan. Dan itu adalah hal lumrah menurutku.
Aku tak mau orang menyangkaku masih bujangan. Makanya aku selalu memperkenalkan diriku sebagai Ayah Satu Anak. Setidaknya orang akan tahu kalau aku ini bukan pria lajang.
Obrolan panjang ini terus merambah langsung ke titik lokasi hunian baru proyek kami tak jauh dari Hutan Pelawan.
Mengambil konsep Back To The Future, tanpa merusak alam sekitar bahkan berusaha menjaga kelestariannya, kami mulai satukan visi dan misi.
Aku dan Tiara dengan cepat bisa beradaptasi walau baru kenal dalam beberapa jam saja.
Sesekali aku memergoki Tiara seperti sedang termangu menatap wajahku.
Apa...muka gue jelek ya? Ada apaan sih di muka ini? Ada noda? Ada tompel? Apa ada... Sesuatu yang nempel?
Saking bingungnya karena beberapa kali Tiara ke-gep, aku sampai izin ke toilet hanya untuk memeriksa wajahku. Khawatir kalau-kalau memang ada gajah sebesar belek. Uppsss maaf, tebolak kata-katanya. ada belek sebesar gajah maksudnya. Khan malu juga!
Miring ke kanan, miring ke kiri,... Hm... Ga ada noda apa-apa deh?!?
Periksa lubang hidung dengan mendekatkan wajah ke kaca cermin. Khawatir ada bulu hidung yang menjalar keluar. Tapi,... Ga ada juga. Semua masih terlihat aman-aman saja.
Aku kembali ke ruangan kantor dimana masih ada Pak Beno dan Tiara.
Samar-samar kudengar keduanya bercakap-cakap pelan.
"Beneran mirip Hari Wijaya khan?" Aku dengar suara tanya pak Beno.
"Iya. Beneran mirip, Om! Aku... Sampai tak bisa berkata-kata!" Terdengar suara jawaban Tiara.
Hari Wijaya? Siapa itu Hari Wijaya?
Aku memasuki ruangan dan keduanya kembali terdiam. Hanya menyunggingkan senyuman.
"Ini udah sore, kami pamit pulang Pak Gatot! Kami masih harus beberes barang-barang kami yang baru tiba dari Palembang. Besok kami mulai kerja sesuai jadwal!" ujar pak Beno langsung bangkit dan menyalamiku.
"Oh iya Pak! Harusnya hari ini Bapak belum wajib membicarakan planning kerja kita karena masih jetleg. Upss.. Maaf, Pak! Obrolan kita tadi terlalu semangat soal pekerjaan. Hehehe..."
__ADS_1
"Hahaha... Don't worry! Saya justru sangat suka dengan anak muda yang penuh semangat kerja! God job!"
"Hehehe...! Saya bukan lagi anak muda, Pak! 29 tahun usianya. Sudah jadi bapak pula. Yang muda itu Tiara, Arif, dan rekan-rekan lain yang usianya dibawah 25 tahunan. Saya, sudah matang Pak! Hehehe..."
"Matang di pohon ya, Pak Gatot! Hehehe... Lebih manis dan lebih legit malah itu!"
"Hahaha... Bisa aja, Bapak Beno ini!"
"Oiya! Pak Gatot ini mirip almarhum tunangannya Tiara. Hari Wijaya namanya. Makanya tadi kami sempat bincang-bincang sedikit bawa-bawa pak Gatot!"
Oo... I see! Begitu rupanya. Eh, almarhum tunangan? Berarti... Udah meninggal dong??? Yassalam...
"Saya turut berduka cita, Tiara!" ujarku berempati pada Tiara.
Gadis itu langsung tersenyum lebar sembari mengangkat kedua belah tangannya.
"Oh ndak apa-apa, Pak! Itu sudah setahun lalu, koq! Hehehe..."
"Sudah move on sekarang Tiara! Sudah dapat gantinya juga. Hehehe..." tambah pak Beno membuatku ikut tertawa.
"Syukurlah, alhamdulillah! Hehehe..."
Hhh...
"Oiya, kalian sementara ini tinggal dimana? Di kasih mess di sebelah mana oleh CEO Ardi?"
"Kami tinggal di blok C. Tak jauh dari kantor pusat, koq! Tapi, bukan kami sih! Lebih tepatnya hanya Tiara saja. Saya pulang pergi ke kota Palembang. Jadi, sekalian saya juga mau titip kemenakan saya sama Pak Gatot. Mohon bimbingannya juga!"
"Aduh... Saya jadi tersanjung sekali ini, Pak! Saya tinggal di desa Wisata. Tak jauh dari kantor pusat. Next time saya undang Bapak dan Tiara makan siang bersama istri dan anak saya di rumah sederhana kami!"
"Wah, senang sekali. Terima kasih, Pak Gatot!"
"Sama-sama, Pak Beno!"
"Apa kita kembali ke kantor pusat berbarengan?" tanya pak Beno langsung kujawab anggukan.
"Iya, Pak! Saya juga masih ada kerjaan di kantor pusat. Sebaiknya kita kembali sama-sama lagi!"
"Baiklah! Tiara, kamu duduk di jok belakang saja. Biar Om duduk di jok depan dengan pak Toha!"
__ADS_1
Aduh?!?... Hehehe... Seraya jadi 'OBOSS' duduk di jok belakang. Padahal tadi pas berangkat itu, gue yang duduk di jok depan. Hiks...
...❤BERSAMBUNG❤...