MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (61) Keributan Antara Aku dan Eliza


__ADS_3

Sumpah, ini tuh keadaan yang baru pertama kali terjadi dalam hidupku dan keluarga.


Alifah langsung memeluk tubuh Ibu.


Menangis sesegukan dalam rengkuhan hangat wanita yang telah melahirkanku.


Sementara Eliza terlihat kaku dan kikuk, serba salah, bingung mau bagaimana.


Kami semua diam. Kecuali Alifah yang terus-terusan meraung menangisi keadaan diri.


"Papa udah meninggal, Bu! Dua bulan yang lalu! Arif kembali tinggal di pesantren tempatnya dulu. Aku, makanya aku kesini setelah proses perceraianku sama Gatot selesai ketok palu. Hik hik hiks... Ibuuu, Lifah lega kini! Lifah sudah selesaikan semua yang selama ini jadi beban dan ganjalan! Maaf, Ibuuu... Maaf! Lifah ga berhasil selametin Gatot waktu itu! Hik hik hiks..."


Aku bingung. Bingung sejadi-jadinya.


Tiba-tiba...


"Ayah, Ibu... Eliz pamit mau pulang! Sebentar lagi sore,"


Ibu melepas pelukannya pada Alifah. Lalu meraih tangan Eliza.


"Nak!"


"Eliz ngerti, Bu! Saat ini bukan waktu yang tepat sepertinya untuk kita kembali mengobrol serius!"


Entah mengapa, kalimat yang diucapkan Eliza seperti sesuatu yang mengambang. Membuatku bingung, serba salah dan jadi canggung dihadapan Eliza maupun Alifah.


Aku mengikuti langkah Eliz, namun tiba-tiba tangan Alifah menahanku.


"Gatot!" ucapnya dengan suara parau.


"Aku antar dulu Eliza pulang!"


"Ga usah!" sela Eliza yang justru membuatku makin gelisah serba salah.


"Ga, Lis! Gue yang bawa lo, berarti gue juga yang anter lo pulang!"


"Ga usah, Bang! Baiknya lo beresin dulu masalah lama lo yang kayaknya cukup serius ini! Gue ga akan ganggu elo sampai lo sendiri yang akan datang dan cerita sama gue!"


Ya Tuhan!!! Eliza damage banget omongannya ya? Bikin gue menjedorr langsung slebor dan terkapar. Tetep ikutin langkahnya.


"Ngapain?" tanya Eliza setelah sadar kalau aku terus membuntutinya.


"Antar kamu pulang!" jawabku dengan suara lembut.


Dia pacarku. Eliza adalah perempuan yang sudah kutembak seminggu yang lalu. Kejam rasanya jika aku cuek bebek membiarkannya pulang sendirian hanya karena ada Alifah datang.


Eliza tak melarangku lagi. Tetapi Alifah justru memanggil-manggil namaku.


"Gatot! Siapa perempuan ini? Pacar kamu?"


Aku menatap wajah Alifah, lalu mengangguk sekali. Seketika terlihat Alifah kembali menangis dan memeluk Ibuku.


Hiks. Gue bingung. Tapi gue juga kudu tegas. Karena emang Lilis itu sekarang statusnya adalah pacar gue! Lah... Masa' gue mesti nutupin keadaan yang sebenarnya sama si Lipah di depan si Lilis! Itu ga gentle, namanya!


__ADS_1


Ditengah perjalanan, Lilis diam tak mengucapkan satu patah kata pun.


"Lis!"


"Hm..."


"Lis!"


"Apaan?"


"Lo percaya gue ga?"


"Engga'!"


"Lis...! Kita ini udah dewasa. Bukan anak remaja belasan tahun. Dan, gue... Udah tekad bulat ngajak lo married!"


"Terus? Perempuan itu? Dia sampe rela datang jauh-jauh dari Jakarta. Demi buat samperin elo dan jelasin semua permasalahannya sama keluarga lo. Dan gue juga denger semua omongannya! Dia sampe jaga keperawanannya buat lo seorang, meskipun dia merit sama orang lain! Anjirrr ga tuh!?!"


Aku tahu, Eliza pasti terbakar cemburu yang sangat besar ketika mendengar cerita Alifah tadi.


"Dan lo pikir, gue ini cewek egois yang ga punya perasaan, gitu? Terus..., gue marah lalu maki-maki cewek yang ga jelas asal-usulnya, cerita masa lalunya sama elo! Gue ga ada waktu buat debat sama lo apalagi sama dia!"


"Hhh...! Kita harus selesain masalah ini!"


"Kita? Masalah Kita kata lo? Bukan, Bang! Tapi masa lo sama dia! Kecuali,... Lo emang niat mau putus sama gue! Baru itu jadi masalah kita!"


Brak!


Pacarku membuka pintu gerbang rumahnya dengan emosi jiwa. Bahkan terdengar suara keras karena Eliza membukanya pakai kekuatan super besarnya.


"Ngapain?" tanyanya melihatku masuk ke dalam pagar rumahnya dan mendorong motorku ke garasi.


Aku berusaha bertindak tegas.


Masalah ini bukan lagi masalah ringan. Tetapi sudah jadi masalah perasaan.


Aku duduk di sofa ruang tamunya. Menatap ke arah pintu ruang tengah. Memastikan kalau tak ada bi Karti, ART nya yang setia keluar dari sana.


"Duduk dulu, Lis!" kataku lembut.


"Denger, Non! Gue... cinta sama elo, Eliza Maura! Dan gue harap, Elo percaya sama gue!"


"Hhh...! Elo jamin, elo ga bakalan balik lagi sama mantan lo itu? Dan... Gue rasa masalah lo sama dia belum kelar sampe sekarang. Dia pede banget datengin rumah lo, berkoar-koar di depan Ayah, Ibu, juga gue sama lo! Kalo dia ga punya sangkutan lagi sama lo, gue yakin... Dia ga akan seberani itu!"


"Itulah, Non! Ada kesalah fahaman diantara kami!"


"Dan gue rasa, lo juga nyaman koq tadi ada dalam pelukan cewek cantik itu!"


"Lis! Please, give me a trusted!"


"Jangan sok nginggris, deh! Gue ga faham!"


"Hilih, pinteran elo juga bahasa Inggrisnya dibanding gue! Nilai Lo malah cumlaude! Gue, clumkelaut!"


"Apaan sih, ga jelas!"

__ADS_1



"Non Lilis!... Gue...sayang elo!"


"Gombal!"


Aku tahu, hati pacarku ini seputih salju, sebening embun dan seindah mutiara.


Senyuman yang nampak tertahan di bibirnya membuatku bisa menilai dirinya sampai ke dasar hati.


Lis! Gue beneran sayang dan cinta sama elo! Andaikan boleh gue nginep di sini, gue lebih memilih nginep daripada balik ke rumah. Ngeliat lagi wajah si Belut yang bikin gue kembali nostalgia ke masa lalu. Gue ga mau sampai itu terjadi, Lis!


Kupeluk tubuh Lilis yang diam saja.


Lis, boleh ga... Gue... Cium bibir merah jambu lo yang basah? Lis... Gueee... Mmm... Duh, Gatot bego! Lo masa' kalah sama bocah belasan model si Rudi yang jago *******?! Hiks... Malu-maluin lo, ah! Umur bangkotan tapi ternyata urusan cetek begitu malah ga punya pengalaman!


Cup.


"Ga Gatot?"


"Maaf...! Gue... Pengen cium lo, Nona Eliza Maura!"


Cup cup cup... Slurp slurp...


Yesss! Berhasil! Lanjutkan perjuanganmu, Anak Muda! Tapi ingat, jangan ampe bablas! Ingat, jangan berbuat kelewat batas! Cukup sebatas bibir saja. Jangan minta lebih! Karena masa depan anak orang bakalan jadi tanggung jawab lo dunia akhirat kalo sampe lo lupa diri.


"Tot!... Kapan pulang?"


Yaelah, Non! Baru juga gue belajar *******, udah diingetin nanya pulang!


"Nginep boleh?"


"Boleh! Tapi nginepnya di teras KUA. Mau?"


"Hiks."


"Hihihi...!"


"Masih ada si Belut di rumah, Non!"


"Belut? Cewek tadi?"


"Ho'oh! Dia itu JANDAKU!"


"Hah??? Gatot? Lo ga lagi becandain gue khan?"


"Serius!"


"Jadi, lo...itu..., DUDA?"


"Iya!"


Bug bug bug bug.


Alhasil menjelang maghrib aku habis dimaki, dipukuli dan diinterogasi oleh Nona Eliza Maura, pacarku tersayang.

__ADS_1


Hiks... Yassalam...


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2