
Diantara beribu bintang
Hanya kaulah yang paling terang
Diantara beribu cinta
Pilihanku hanya kau sayang
Tak kan ada selain kamu
Dalam segala keadaanku
Cuma kamu ya hanya kamu
Yang selalu ada untukku
"Kenapa diem aja lo, Tot!"
"Ga papa, Mas Aji! Lagi sakit gigi!"
Jawaban singkatku membuat Mas Aji berceloteh panjang lebar, memberikan deretan nama-nama obat sakit gigi yang fenomenal.
Aku, dengan sikap dinginku hanya mengangguk-angguk bagaikan kerbau dicucuk.
Pusing kepalaku, bukan karena alasan sakit gigi. Tapi sakit hati, melihat sikap Alifah yang seperti tadi di mall kota.
Hiks! Baka, baka, baka! Udah tau dia itu punya tunangan. Mau nikah, Gatot! Ya pastilah bonyoknya si Bryan pasti udah kenal sama si Belut kesayangan lo itu! Tapi lo ga mau sadar-sadar juga! Dimana otak lo, Gatot!!!
Aku memang gila. Gila karena cinta.
Tak sedikitpun terpikir untuk menyingkir.
Tak ingin sesaat pun menyerah.
Aku ingin fighting sampai tetes darah penghabisan.
Lo gila, ya? Lo ga mikir? Pada akhirnya, yang paling terluka itu siapa? Lo sendiri, Gatot! Lo mencintai si Alifah, tapi dia akan menikah dengan orang lain. Lantas elo, mau gimana? Mencintai bayangannya terus menerus walaupun nanti dia jadi istri orang? Lo mau kayak gitu? Terus-terusan nungguin Alifah, seperti mengharap bintang jatuh dari langit. Tol*l! Bego! Dong*!!!
Aku tak tahu. Apa yang salah dari pemikiranku ini.
Berkali dan berkali berusaha sadar, tetapi pesona serta sihir Siti Alifah seolah sudah membius seluruh urat nadi persendian tubuh juga perasaanku.
Aku sudah mengikrarkan diri, cintaku cinta mati pada Alifah. Tak ada gadis lain yang mempesonakan bagiku selain dia. MUSUH BEBUYUTANKU yang kini adalah JANDAKU.
Mas Aji kuturunkan di gudang perusahaan. Dia memang nge-kost tak jauh dari gudang. Bersama Mas Rasdi dan Diki. Sedangkan Mas Firman sudah berkeluarga. Mereka tinggal di wilayah pusat Ibukota. Jadi pulang pergi setiap hari.
Aku kembali ke apartemen pukul setengah dua belas malam.
Langkahku gontai menelusuri aula basement menuju tangga lantai dasar dan kotak elevator. Baru saja aku akan masuk ke lift yang pintunya telah terbuka, satu lift disampingnya pun terbuka dan seseorang berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Bryan Anggara!!!
Walau pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan topi snapback, tetapi aku kadung mengenali semua stylenya lewat instagram dan medsos Bryan yang lain.
Cowok itu melangkah keluar menuju basement. Kunci mobil ditangannya telah siap.
__ADS_1
Ngapain itu orang berseliweran terus dimari?
Fikiranku kembali menerawang.
Tadi, dia bareng Mbak Mirina.
Eh? Koq kuingat-ingat kostumnya sekarang beda lagi? Tadi waktu di kolam renang bajunya bukan itu. Kenapa sekarang ganti lagi? Apa..., apa mungkin dia punya flat di apartemen ini juga? Atau, main di apartemen Mbak Mirina?
Duh, aku lupa tadi tak menanyakan flatnya Mbak Mirina. Apa satu gedung denganku atau beda. Hhh...
Kasian, kau belut! Tunanganmu sering sekali keluar rumah sampe tengah malam begini. Andaikan kau pilih aku, aku tak kan pernah tinggalkan kamu. Bahkan untuk sedetik pun itu kecuali tujuan mulia, mencari nafkah untuk menghidupimu.
Sotoy, lo Tot! Bisa aja si Bryan lagi kerja. Dia khan selebgram. Jadwal kerjanya ga menentu. Bukan kayak elo yang masuk pagi pulang sore. Gaji kecil cuma terima di awal bulan. Beda sama si Bryan. Kerjaannya ga ada batas waktu. Bayarannya juga bisa sampe dua digit sekali transferan. Gue? Bisa dua digit tapi kalo gajinya ditahan sampe tiga bulan kedepan. Bisa juga empat bulan kalo kasbon ke kantor mengurangi transferan gaji sampe separuhnya. Hiks!
Apalah daya, sendok kayu dibandingkan sendok emas. Ya kalah jauh lah!
Hatiku sedang melow.
Obatnya adalah curhat dengan Ibu.
Ibuku adalah segalanya bagiku. Sudah seperti sahabat juga. Bahkan ketika kami masih satu rumah, setiap hatiku mengsedih seperti ini...pasti pangkuan beliau jadi tempat ternyaman untuk menenggelamkan wajahku yang sendu.
"Hallo, Ibu..."
...[Gatot! Belum tidur?]...
Ah gue lupa. Ini udah mau tengah malam, tapi gue malah nelepon nyokap demi mau curhat isi hatiku yang berat.
"Maaf, Ibu! Gatot lagi kangen! Pingin ngobrol sama Ibu. Ibu udah tidur?" tanyaku merasa kasihan karena mengganggu istirahat malamnya.
"Hehehe..., maaf! Gatot ga bisa tidur, Bu! Baru pulang juga anter temen ke mall!"
...[Kamu baik-baik aja khan?]...
"Baik, Bu! Cuma lagi sedih aja nih. Ga tau kenapa hati ini sedih! Hehehe..., kangen Ibu. Pingin pulang tapi belom bisa. Gatot baru seminggu dipindahin tempat kerjanya! Jadi masih berusaha adaptasi dulu sama lingkungan baru!"
...[Kamu baik-baik aja khan disana? Gimana suasananya? Teman-teman barunya? Bismillah, tetap humble jangan banyak gaya apalagi tingkah di tempat baru. Jaga kesopanan dan jangan sampai menyakiti hati orang! Ya, Nak?]...
"Iya, Bu!"
Senang rasanya, nasehat Ibu menenangkan hatiku walaupun jarak jauh via ponsel saja.
...[Bagaimana keadaan percintaan kamu, Nak?]...
Waduh? Hiks, nanyanya... Bagian paling sensitif itu, Bu!
"Hehehe...! Belom ada cinta, Bu! Belom ada yang bikin Gatot pingin cepet berumah tangga! Doain dong, Bu! Biar anak Ibu yang paling ganteng sedunia ini ada yang mencintai sepenuh hati! Hehehe..."
...[Alifah gimana kabarnya? Kalian ketemuan lagi khan? Pasti lagi sibuk ya sama kuliahnya?]...
Ya elah, Ibu! Pertanyaannya langsung menancap ke sanubari ini!
"Iya, Bu!" jawabku lemas.
...[Kenapa? Kalian pasti ribut lagi, ya? Kenapa sih kalian gak bisa akur satu sama lain? Selalu bagaikan anjing dan kucing, ribut terus padahal waktu telah berlalu begitu lama!]...
__ADS_1
Hhh... Ibu selalu bisa membuat gue terpojok.
"Kami gak lagi ribut, Bu!"
...[Nah, terus... Itu kamu koq suara sama nada bicaranya kayak yang lagi kesel sama si Alifah gitu?!]...
"Alifah... Sebentar lagi mau nikah, Bu!"
...[Lah? Khan masih kuliah? Semester akhir ya sekarang? Lagi susun skripsi khan? Terus, nikahnya sama siapa?]...
Ah Ibu, nanya mulu! Maunya sih nikahnya sama aku lah, anak gantengmu ini! Tapi... Ternyata, hhh...
"Ya sama pacarnya lah! Mana mau dia sama aku, Bu!"
Terdengar suara helaan nafas Ibuku di seberang.
...[Kamu pasti masih cinta Alifah ya?...]...
Pertanyaan Ibu tak dapat kujawab. Aku diam.
...[Gatot, Anak Ganteng!... Kamu masih muda koq! Masih ada banyak kesempatan buat kamu mengenal dunia dan juga cinta! Ibu tahu kamu sedih. Kamu sulit terima, Alifah memilih orang lain dibanding kamu. Lepaskanlah, Nak! Itu tandanya Tuhan memang menginginkan kamu untuk move on, Nak! Mungkin jodohmu bukan Alifah. Mungkin jodohmu ada di tempat lain. Menunggu kamu siap dengan cinta yang baru!]...
Hiks...
Perkataan Ibu membuat airmataku menitik.
Ibu. Aku pun ingin sekali legowo menerima semua Ketetapan Tuhan padaku. Tapi kenapa hati ini seolah berat untuk melepas Alifah. Apalagi setelah aku tahu, calon suaminya dan bagaimana kelakuan serta temperamennya. Aku kasihan sama Alifah, Bu! Hiks...
Aku tak berani berkata terus terang pada Ibu. Selain mengiyakan nasehatnya.
...[Nak! Jangan lupa kewajibanmu, bersyukur pada Tuhan! Sholat jangan ditinggalkan. Karena dengan mengingat Tuhan, kamu akan dapatkan petunjuk yang baik untuk langkahmu selanjutnya kedepannya. Ya, Gatot Sayang?]...
"Iya, Bu! Makasih banyak, Bu! Udah mau jam satu, Ibu tidur ya, istirahat. Salam sama Ayah. InshaaAllah Gatot akan pulang akhir bulan ini!"
...[Iya, Anakku Sayang. Ayah Ibu selalu mendoakan kebaikan untukmu. Jangan lupa, jaga kesehatan. Jangan terlalu bebas bergaul ya, Nak?! Assalamualaikum...]...
"Waalaikumsalam!"
Klik.
Ah Ibu! Nasehatmu menenangkan hatiku. Geganaku berkurang. Ibu benar-benar membuatku lebih lega kini.
Malam ini aku tidur tanpa mengingat Alifah dan wajah cantiknya. Kata-kata Ibu menjernihkan fikiranku.
Aku harus move on. Alifah sudah memiliki kehidupan lain. Sebentar lagi dia akan menikah. Dan hubungan kami yang dipaksakan ini pada akhirnya akan tetap kandas. Sudah pasti aku pun akan lebih sakit lagi karena cinta yang makin jauh dan dalam tertancap.
Itu akan lebih menyakitkan.
Dan aku tidak ingin kewarasanku goncang.
Hhh... Mengsedih memang. Tapi ya beginilah keadaannya. Fighting!
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1