
Mata kami saling bertatapan. Lalu tersenyum berbarengan.
"Kamu capek, ya?" bisikku seraya membelai wajah cantiknya yang indah karena pantulan cahaya lampu temaram.
"Capek, tapi bahagia!" jawab Alifah, terdengar suaranya bagai mendes*h.
Hiks. Bangun khan tuh, jadinya! Haish! Tahan, tahan... Bentar ya adek kecil! Jangan geragas, jangan nge-gas, jangan juga terlalu panas.
Secara malam ini beneran malam pertama gue, Bor! Hiks. Usia emang udah tua, 28 tahun coy! Kemampuan teori juga udah maksimal. Tinggal prakteknya aja ini! Konon kata orang, teori itu beda jauh sama praktek. Biarpun gue rajin gosokmenggosok, tetep beda kalo masuk sama pasangannya. Ibarat mur sama baut, gitu! Harus pas khan? Ya khan ya? Iya ga? Waddauwww...
Rendahkan dulu speed, tambahkan lagi kemudian setelah memuncak dan mau mencapai klim*ks. Gitu khan? Hm... Masa' iya gue kudu nyontek buku LKS Pelajaran Membuat Adonan Anak.
Betewe ngemeng-ngemeng, jadi ingat mimpi waktu awal nikah dulu sama si Belut. Mimpi punya anak empat. Hiks! Rajin bercocok tanam sepertinya ya?! Hhh...
Kubuka hijabnya perlahan.
Laksana melihat kilauan emas yang indah mempesona. Mataku tak ingin berkedip meskipun hanya sedetik.
Rambut hitam panjangnya berkilauan terkena sinaran lampu temaram. Kukecup keningnya sekali. Lalu naik ke pucuk rambutnya, mesra sekali.
Aku dan Dia, dua insan yang sama-sama sudah dewasa. Usia kami sudah 28 tahun. Aku dan Alifah berselisih umur hanya beberapa bulan saja. Aku lebih tua dua bulan darinya. Tetapi untuk urusan bertempur diatas ranjang, kami sama-sama belum berpengalaman. Jadi, sama-sama belajar memulai dan saling memahami kondisi.
"Hm... Pelan-pelan ya, Suamiku!"
Yaela... Belom juga apa-apa, udah dikasih warning supaya pelan-pelan. Hiks!
"Iya, Istriku. Mohon maaf kalo Suamimu ini agak Bego, cenderung Tol*l untuk urusan begituan! Hiks. Maklumlah, Suamimu ini pria baik-baik dan belom pernah kerja menggarap sawah walaupun Ayah punya lahan luas!"
"Hihihi...! Sekarang Suamiku sudah punya sawah sendiri ya?"
"Hehehe... Iya. Sawahnya becek, masih perawan belum ditandur!"
Puk.
"Aduh? Hihihi... Maaf!"
Seketika kami terkikik, menahan tawa.
Ish, gini amat ya nikah sama MUSUH BEBUYUTAN. Ga ada romantis-romantisnya.
Kami kemudian sama-sama terdiam.
Aku... Mulai panas. Tanganku yang sedari tadi hanya hanya bergelayut di pundaknya kini perlahan mulai berselancar turun ke bawah.
Bibirku juga bergerilya menyusuri lekukan demi lekukan pahatan sempurna Yang Maha Kuasa. Tubuh molek Istriku seolah pasrah siap disantap.
Tuhan, izinkan aku menggauli Istriku Tercinta.
__ADS_1
Bismillah...
Nafas Alifah yang turun naik membuat libidoku turut terbawa suasana.
Pukul sepuluh malam lebih, Aku berhasil membobol gawang lawan dua kosong tanpa perlawanan.
Ada bercak darah di atas sprei ranjang pengantin kami. Aku semakin bahagia dan puas sekali rasanya. Istriku benar-benar masih perawan. Dan akulah pria pertama yang berhasil menggagahinya secara halal.
Makin malam suasana makin panas suhu badan kami yang saling merapat erat.
Ternyata, nikah itu enak wahai sodara-sodara! Apalagi nikahnya full restu dari kedua orang tua, sanak saudara dan handai taulan.
Penuh doa dan keberkahan yang semakin menumpukkan rasa syukur kebahagiaan.
Malam ini, Aku bekerja keras membajak sawah.
Hujan gerimis seperti sengaja menjadi musik pengiring perpaduan cinta kami menjadi malam sunnah yang nikmat dan syahdu.
Tutup tirai dulu ya!?! Peace... Hehehe...
............
Aku dan Alifah kini resmi pasangan suami istri. Bukan nikah siri seperti jaman SMA dulu. Tapi nikah resmi dan tercatat di catatan sipil negara.
Meski dalam status keterangannya, aku bujang dan Alifah janda. Tak mengapa. Tak mengurangi rasa bahagia kami berdua.
Seperti kembali rendevous ke masa lalu. Aku dan Alifah tinggal bergantian seminggu sekali. Minggu pertama di rumah Ayah Ibu, Minggu berikutnya di rumah Alifah dan Arif. Mirip jaman sekolah dulu.
Aku sebenarnya punya rencana mengambil satu unit hunian di bilangan Pantai Pasir Padi type 45 cluster. Bahkan sudah ku DP separuh harga rumahnya jauh sebelum menikah, tinggal bayar cicilannya perbulan yang hanya kuambil waktu cicilan tiga tahun saja.
Tetapi Ayah Ibu menolak kepergianku hengkang dari rumah mereka.
Putra mereka hanya semata wayang, aku saja seorang. Mereka tidak terima jika aku pergi meninggalkan rumah yang terlalu luas bagi mereka.
Mau tak mau, Aku dan Alifah mengalah. Jadilah kami membagi waktu seminggu sekali tinggal bergantian seperti masa menikah dulu.
Istriku juga mengikuti kuliah tambahan lagi selama satu tahun, untuk mendapatkan sertifikat SIPB (Surat Izin Praktik Bidan) agar bisa membuka klinik persalinan di rumah sendiri.
Kami sudah berkomitmen, untuk tetap sama-sama bekerja walaupun sudah menikah dan nanti di karuniai anak.
Ibu serta Ayah juga mendukung keputusan kami ini. Setidaknya, mereka akan terus aktif mengurus cucu. Tak perlu risau kesepian di hari tua nanti.
Setiap pagi aku mengantar dulu Alifah ke kampus yang tak jauh dari RSUD kota kami tercinta. Baru setelah itu pergi ngantor seperti biasa.
Alifah juga mulai belajar mengendarai motor matic untuk membantu transportasinya nanti bolak-balik rumah sakit tempatnya kerja.
Aku bahagia.
__ADS_1
Seperti yang kubayangkan sebelumnya, pulang ke rumah diurus Istri Tercinta. Mulai dari makan, kebutuhan sandang, bahkan suplemen vitamin tak luput dari pantauan Alifah.
Seperti kali ini, aku minum pil penambah vitalitas yang sudah disiapkan oleh Alifah sebelum pergi tidur.
"Sayang, kamu salah minum vitamin!" tukas Alifah membuatku bengong.
"Itu emang vitamin apa?" tanyaku agak cemas.
"Itu pil KB punyaku, Suamiku!"
Hah? Pil KB? Kenapa Istri gue minum pil KB? Bukannya Pil KB itu gunanya buat menunda anak? Aih??? Koq???
Aku termangu. Tak menyangka Alifah mengkonsumsi obat penunda kehamilan tanpa diskusi denganku dahulu. Padahal Dia tahu, baik Aku maupun Ayah Ibu sangat menginginkan segera punya momongan.
Kenapa Alifah sampai berbuat begitu dibelakangku?
Ini sudah bulan ketiga kami menikah.
Selama ini tidak pernah ada masalah.
Selama ini komunikasi lancar jaya bahkan tak ada yang disembunyikan apalagi dirahasiakan.
Hiks. Lipah. Apaan sih maksud lo minum pil KB? Khan lo tau, gue udah ngebet pengen punya anak!
Teringat bulan pertama kami menjadi pasangan suami istri. Alifah menangis sesegukan di kamar mandi. Waktu itu pukul lima sore, dan aku baru saja pulang dari kantor.
"Kenapa, Sayang?" tanyaku lembut. Deg- degan melihat Istriku Tercinta menangis tersedu sendirian.
"Ini..."
"Apa?"
"Hik hiks... Halangan!" gumamnya dengan nada kecewa.
Hhh... Aku menghela nafas, tapi masih menyunggingkan senyuman. Mau bagaimana lagi? Belum rezeki.
"Sabar ya Sayang! Baru juga sebulan. Tenang aja, masih banyak waktu koq!" ujarku berusaha menguatkan kembali mentalnya yang down.
Alifah memeluk tubuhku erat.
"Maaf ya Sayang?!" bisiknya lirih kepadaku.
"Bukan salahmu, Yang! Mari kita makin kuat berdoa meminta anak! Moga Allah beri secepatnya! Jangan patah semangat!"
"Aamiin... Hik hiks!"
Itu kejadian dua bulan yang lalu.
__ADS_1
Tapi mengapa kini Alifah justru mengkonsumsi pil KB? Mengapa Alifah Sayang?
...❤BERSAMBUNG❤...