
Malam ini aku dan empat rekan kerjaku terpaksa lembur.
Kami berjibaku melihat CCTV yang ada di sudut gudang ditempat yang dibobol itu.
Ternyata benar dugaanku. Bang Muis adalah otak perencananya.
Beruntung sekali tadi aku bisa bermanuver padanya kalau Boss tak merespon panggilan teleponku. Boss sudah tidur dan hapenya disilent. Jadi percuma menelpon juga.
Kami tak bisa menambal pintu rolling door yang koyak dengan GRC yang ditawarkan karena tak ada tanggapan dari atasan. Begitu kataku pada Bang Muis.
Akhirnya dia pergi dengan wajah datar dan hanya mendapatkan uang saku lima puluh ribu rupiah saja dari sakuku sebagai uang rokok jaga.
Aku tak bisa ambil keputusan sendiri.
Tetapi tanggung jawabku juga penuh dan berat sebagai kepala gudang.
Mau tak mau aku harus bisa menyelesaikan masalahku ini jika tak ingin terus berlanjut.
Aku sudah memiliki bukti kuat. Dan bisa menekan Bang Muis dengan lanjut lapor pihak kepolisian jika ia tak mau diajak kerja sama membantu mengamankan gudang perusahaan.
Secara legal, perusahaanku sudah terdaftar dan juga membayar resmi iuran keamanannya per bulan. Jadi, tidak ada kesalahan maupun ketidak beresan perusahaan. Ini murni adalah kerjaan iseng para cacing kremi macam Bang Muis yang sengaja cari uang tambahan.
Malam itu kami berlima begadang dan tidur bergantian. Menjaga pintu yang jebol agar tak ada orang iseng yang masuk melancong.
Pukul delapan aku sudah mandi dan berpakaian rapi. Tekadku bulat, akan mendatangi kediaman Bang Muis.
Setidaknya dia akan berfikir ulang untuk terus-terusan mengerjaiku karena keberanianku mencari alamat rumahnya yang tak jauh dari kawasan gudang.
Tok tok tok
"Permisi, assalamualaikum! Bang, Bang Muis!"
Aku mengetuk pintu rumahnya dengan alon dan sopan. Bertamu harus punya etika.
Kreeek...
"Waalaikumsalam!"
Seorang anak kecil perempuan sekitar berumur tujuh atau delapan tahun membukakan pintu.
Tapi..., koq pandangannya kayak jauh gitu sih? Kayak..., maaf... Kayak mmm pokonya beda gitu!
"Bang Muis ada?" tanyaku sopan.
"Bapak? Masih tidur." jawabnya lengkap dengan senyuman.
"Siapa, De? Uhuk uhuk!!" tanya suara perempuan dari dalam rumah. Batuknya sangat terdengar nyaring dan terus-terusan. Membuat telingaku juga jadi sedikit ngilu, tak tega mendengarnya.
"Cari Bapak, Bu!" jawab gadis cilik itu memberitahu ibunya.
"Bangunin Bapak, De! Siapa tau penting! Uhuk uhuk uhuk! Suruh masuk, bilang tunggu gitu uhuk uuhuk!!!"
Aku baru tersadar. Ternyata, gadis kecil itu...terganggu penglihatannya.
Ya Tuhan!!!
Hanya bisa menatapnya penuh iba. Tapi tak bisa bersuara.
Aku mengangguk ketika gadis cilik itu bilang, "Tunggu sebentar ya, Pak!"
__ADS_1
Oiya lupa. Kenapa ngangguk? Pasti dia ga bisa liat anggukan kepala gue. Ck, Gatot bodoh!
"Uhuk uhuk uhuk..."
Dari dalam rumah batuk si Ibu terdengar sering bahkan seperti mengeluarkan dahak dan membuangnya ke suatu tempat seperti kaleng atau wadah.
Cukup lama, aku akhirnya melihat sesosok tubuh jangkung kecil keluar dari balik tangga loteng.
Bang Muis!
Mukanya masih terlihat mengantuk. Bahkan mulutnya beberapa kali menguap.
"Ada apaan, Tot?" tanyanya setelah melihat wajahku dan mengetahui kalau tamu spesialnya adalah aku.
"Mau ngobrol, Bang! Hehehe..., maaf nih ngeganggu ya?"
"Baru tidur gue tadi jam empat!"
"Oh gitu ya?!" kataku basa-basi.
"Uhuk uhuk uhuk...!"
Suara batuk terus-terusan terdengar.
"Itu, istri abang lagi sakit?" tanyaku dengan hati-hati, agak sedikit takut untuk berempati. Soalnya yang ditanya adalah gegedug preman.
"Iya. Udah sebulan. Harusnya sih di rawat di RSUD. Tapi gue sekeluarga ga punya BPJS. Otomatis ya kudu cari duit dulu buat biaya jaminan. Ntar kalo udah masuk, baru urusin SKTM!"
"Apaan tuh SKTM?"
"Surat Keterangan Tidak Mampu! Baru bisa diurus gratis dapet keringanan dari pemerintah! Bebas biaya! Tapi namanya dirumah sakit, kadang ada obat yang ga bisa dicover. Kudu beli pake duit. Kudu punya pegangan juga buat di rumah sakit."
"Pak, ini minumnya!"
"Ya ampun, jangan repot-repot, Neng! Aduh... Padahal ga usah!" kataku merasa tak enak hati.
"Anak gue ini!"
"Bungsu, Bang?"
"Satu-satunya! Harusnya sih anak gue ada tujuh. Tapi pada mati sedari bayi. Yang nyangkut satu, cuman ini!"
"Oh, gitu Bang? Koq bisa, cuma nyangkut ini? Hehehe... Maaf, banyak tanya saya Bang!"
"Gue punya tanda lahir putih. Ga bisa punya keturunan, selalu kena musibah. Katanya tanda lahir gue yang makan anak gue! Ga tau lah ga ngerti gue juga! Omongan orang tua jaman dulu, begitu!"
"Oooh?!?" Aku terdiam.
Miris juga ya ceritanya Bang Muis!
"Tapi,... Maaf itu anaknya ga bisa,..."
"Tadinya katarak kata bidan puskesmas. Gue kaga percaya, masa anak balita katarak. Gue cuma obatin sama obat mata tetes. Tiap hari biar matanya normal lagi. Ga taunya,.. Taulah Tot! Gue juga bingung! Hhh... Ginilah, jadi orang susah, Tot! Ck! Eh betewe lo mau ngapain kemari? Ada apa? Mau pesen rolling door yang gue tawarin?"
Aku menelan saliva.
Niat menekannya dan membongkar kedoknya jadi mundur serta melemah. Mengingat keadaan Bang Muis yang didepan mata.
Tapi gue kudu tegas juga!
__ADS_1
"Abang! Abang butuh duit banget bukan?" tanyaku tiba-tiba membuatnya ternganga.
"Lo kayak yang ngeremehin gue banget lo? Emang tampang gue kayak pengemis yang minta-minta gitu ya? Setan lo!"
Aku kaget. Ternyata dia meradang dan mengelak.
"Maaf, Bang! Bukan gitu. Maaf kalo saya lancang! Tapi CCTV merekam semua bukti kejahatan yang abang lakukan!"
Bang Muis melotot. Menatapku tak berkedip. Tapi aku tak boleh melemah. Demi hari-hariku kedepannya. Kalau aku melemah dan kalah, aku akan selalu ada ditelunjuknya nanti.
"Bang! Saya... Punya uang simpanan tiga juta. Sekiranya abang mau terima, bisa buat bawa istri abang ke RSUD. Abang bisa pake, ga usah mikirin ganti. Mohon doain aja kerjaan saya lancar, gaji saya ngalir. Itu aja, Bang!"
Aku kaget. Bang Muis semakin melotot. Bahkan urat-urat di wajah dan kepalanya seolah membesar hendak meloncat menerkamku.
Namun tiba-tiba,...
Grep
Kedua telapak angannya merengkuh bahuku. Agar kasar membuatku langsung mengkeret, takut juga.
"Gatot! Elo...beneran ini, Tot? Elo ga lagi becandain gue khan, Tot?"
Matanya memerah. Ada sedikit genangan tapi hanya riak kecil saja.
"Saya serius, Bang!... Kalo masalah rolling door, GRC saya ga bisa ikut campur. Karena itu urusan perusahaan. Tapi kalo urusan abang butuh duit buat bawa istri ke RSUD, saya beneran niat bantu bang. Cuman sedikit, tabungan saya cuma tiga juta. Ga ada lagi."
Grep.
Bang Muis memelukku erat.
"Naniii, lo siap-siap. Siang ntar kita ke RSUD! Baju-baju yang perlu lo bawa, rapihin sekarang! Sama surat-surat KTP, Kartu Keluarga semua lo rapihin!"
Aku tersenyum. Terharu melihat Bang Muis yang raut wajahnya langsung cerah.
"Koq lo tau, gue... Sebenernya butuh duit buat bawa bini gue berobat! Padahal gue ga pernah cerita sama orang-orang! Gengsi gue, Tot!"
"Saya tau, Bang! Orang kuat biasanya malu cerita soal kesusahannya. Abang khan kuat banget, dalam fisik juga mentalitas! Sama kayak Ayah saya!"
"Ayah lo preman juga, Tot?"
"Bukan Bang! Hehehe...! Cuma kuat mental sama fisik, jadi gengsinya tinggi! Ga mau orang tau kalo dia lagi ada masalah. Apalagi soal keuangan. Gengsi parah Ayah saya. Biarpun ga punya duit seperak, mana mau dia bilang! Lapar cukup ditelan sendiri. Yang penting anak istri tercukupi!"
Bang Muis tersenyum menyeringai. Ia malu, karakternya dibuka semua olehku. Pemuda yang dianggapnya bocah tengil karena masih muda tapi sudah diangkat jadi kepala gudang. Pikirnya, pasti ini bocah sembarang yang bisa ia kerjai pula dalam urusan kerjaan.
Tapi tidak, aku bukan selemah dan sebodoh itu.
Boss menarikku ke tempat ini pun pasti sudah tahu kapasitas kinerjaku. Aku memang baru 25 tahun kemarin. Tapi kehidupan keras yang aku serta keluarga jalani membuat mataku terbuka lebar.
Bahwa hidup ini keras, kawan!
Yang lemah akan selalu jadi sasaran empuk yang kuat!
Yang baik pasti selalu diinjak-injak harga diri dan kesabarannya oleh yang jahat.
Begitulah dunia.
Sudah seperti itu sejak dahulu kala.
Bahkan sudah terjadi sebelum bumi hancur dan negeri Atlantis menghilang.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...