MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (40) Akhirnya My Belut Buka Suara


__ADS_3

Treeet... Treeet... Treeet


Aku terbangun dengan suara panggilan dari telepon selulerku.


Pukul 22.23 WIB.


My Belut is calling


Aku segera bangkit dari tempat tidur dan mengangkat panggilan telepon Alifah.


"Hallo?"


...[Gatot! Aku ada di bawah! Bisa kita ketemuan?]...


Sontak aku melonjak kaget.


JANDAKU sedang menungguku di lantai bawah. Ada apa? Mau apa?


Segera aku bergegas keluar kamar. Mengejutkan Ayah dan Ibu yang masih santai menonton televisi di ruang tengah.


"Mau kemana, Tot?" tanya Ayah.


"Sebentar, Yah! Ada Alifah dibawah!"


Aku tak mendengar suara Ibu yang memanggil-manggil namaku. Tubuh ini laksana terbang. Melesat secepat kilat karena Belut ada di bawah.


"Lifah!"


"Gatot!"


Dia berlari ke arahku, dan kami saling... Berpelukan erat tanpa kata di lobi utama gedung apartemenku.


Lipah?!? Lo ga lagi mabok khan? Kyaaa... Seneng benget gue!


Segera kutarik tubuhnya keluar dari sana. Berjalan cepat melipir menuju samping gedung yang lebih sepi.


Bukan apa-apa, aku khawatir si selebgram tengil itu tiba-tiba muncul dan menganiaya Alifah-ku tercinta.


"Gimana kondisi Papa?" tanyaku sembari mengusap lembut anak rambutnya.


"Papa kini jauh lebih baik. Nafasnya mulai teratur dan denyut nadinya juga udah mendekati normal!"


"Kamu kenapa nekad datang kesini, Lipah?" tanyaku cemas sembari mengajaknya duduk di tembok pinggir apartemen.


"Aku belum tenang kalo belum ketemu kamu! Arif yang suruh aku kesini. Dia sekarang lagi jaga Papa sama temannya!"


Aku menelan saliva. Menepuk-nepuk pundaknya lembut seraya menatapnya dengan kekuatan cinta yang luar biasa.


Alifah menunduk. Raut wajahnya sedih sekali. Kedua bola matanya mulai beriak dan berair. Perlahan air matanya jatuh, dengan kepala menyender dibahuku. Seolah meminta perlindungan dariku.


Hiks, Lipah! Maaf... Gue bukan orang kaya yang bisa bantu lo dari segi dana! Ekonomi gue belum stabil. Hiks! Aaarrrggghhh...!

__ADS_1


"Lifah! Maafkan Aku!" ujarku pelan.


"Stop! Aku yang harusnya meminta maaf darimu, Gatot! Aku jahat. Aku selalu menarikmu dalam pusara kesusahan hidupku! Dan aku terkesan memanfaatkan kebaikanmu! Maaf..., hik hiks..."


Dia memelukku lagi.


Tangisnya pecah di bahu. Wajahnya tenggelam di dadaku.


"Gatot! Maaf...! Aku terlalu mencintaimu! Dan aku gak mau sampai kamu terluka! Kumohon, mengertilah keadaanku!"


Pernyataannya, tentu saja membuatku ternganga. Pada akhirnya, My Belut buka suara juga! Ini mimpi bukan sih???


"Aku sangat mengerti, Alifah! Maaf..., kalau aku sempat egois dan menekanmu untuk menceritakan kisah hidupmu yang...,"


"Mama dan Papa mengidap penyakit berat, Tot! Mama, kena kanker rahim lima tahun lalu. Dan Papa ginjalnya bermasalah juga. Kami butuh uang untuk berobat Mama Papa, sampai rumah pun di jual demi kesehatan Mama dan Papa pulih kembali. Hingga,... Mama salah pilih teman."


Kubiarkan Alifah menghela nafas sejenak. Membiarkan peredaran darah di otaknya berjalan lancar, dan dia bisa melanjutkan ceritanya yang mengharukan.


"Mama..., malah memilih pinjam pada Mamanya Bryan yang seorang pengusaha pinjaman online!"


Aku mengusap rambutnya pelan. Berusaha menenangkan hatinya yang kembali dilanda kesedihan. Karena tetesan air matanya meluncur deras kiri dan kanan.


"Mama ditipu teman lamanya, yaitu Mama Tiriku yang sekarang!"


Aih? Rupanya...


"Teman Mama ternyata memang punya rasa sama Papa. Dia yang mengenalkan Mama pada Mamanya Bry! Mama Bryan juga sepertinya kena tipu teman Mama yang sekarang jadi Mama Tiriku, Tot!"


"Entah gimana ceritanya, sampe Mama dan Mamanya Bryan sepakat buat menyatukan kami setelah Tante Yulia datang diantara kami. Mama terus berobat diantar Tante Yulia, tapi kesehatan beliau justru semakin memburuk dari hari ke hari! Dan..., Mama meninggal dunia. Lima bulan kemudian Papa menikah lagi dengan Tante Yulia. Ternyata kesepakatan Mama kini diteruskan Papa. Papa mengingat amanah Mama yang pernah memimpikan aku jadi Bidan! Papa ingin aku kuliah jurusan kebidanan dengan bantuan Mama Bryan lewat Tante Yulia! Hhh..."


Aku hanya bisa menunduk. Mendengarkan cerita pilu Alifah.


Kuraih kedua jemarinya. Menatap lekat kedua bola matanya.


Aku tak tahu harus berkata apa.


Berjanji, aku tak bisa.


Membantunya, lebih tak bisa lagi.


Hanya tatapanku yang penuh harap, agar Belutku selalu kuat dan semangat.


"Jika kamu butuh aku, aku akan selalu ada untukmu. Kamu harus semangat! Papa, Arif... Menggantungkan harapan besar sama kamu. Hhh... Andaikan aku ini anak orang kaya, aku pasti akan membantumu dari segi finansial! Maaf, Lifah! Aku..., aku hanya bisa,"


"Ssst...! Kamu itu, segalanya bagiku! Jangan bilang begitu. Ketemu kamu lagi itu seperti..., mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga, tau!"


Yang bener, Lip?!? Sumpe lo??? Huaaa... Boleh gak guling-guling gelindingan nyemilin trotoar? Haaa... Ayaaah, Ibuuu, anakmu ini ternyata juga dicintai si Buntelan Kentut sampe segitunyaaa!!! Aaa... Makasih ya Allah!!!


"Tapi aku, justru bukannya meringankan bebanmu! Malah bikin kamu susah,"


Aku tercekat.

__ADS_1


Bibir Alifah tiba-tiba menempel di ujung bibir ini sangat cepat. Sampai aku lupa rasanya itu seperti apa.


Bisa ulang ga, Lip? Please...! Yang tadi ga kerasa!


Aku menatapnya tak percaya.


"Besok aku sidang. Tolong doain supaya aku cepet lulus, ya Tot!"


"Pasti, Lif! Aku selalu doain kamu!"


"Yang rajin dong ibadahnya! Jangan turun naik kayak baju viral itu!"


"Hehehe...! Iya!"


"Aku sekarang pulang ya?"


"Tunggu, kuantar!"


"Ga usah, aku naik ojek online aja!"


"Jangan! Ini udah malem. Udah jam setengah dua belas!"


Aku bersikeras. Khawatir jika melepasnya dengan kendaraan umum karena wilayah tempatku tinggal tak seramah yang orang bayangkan. Banyak kekerasan dan tindak kejahatan yang sering terjadi disini pada malam hari.


Alifah memeluk erat pinggangku.


Semakin membuatku nyaman dan berkhayal penuh harap.


Hiks... Andai saja gue selevel si selebgram itu, Lif! Lo ga akan ngerasain gegana seperti sekarang ini! Lo bakal selalu gue,


Stop stop! Ngemeng mulu lo! Tapi kenyataan nol besar! Udah, udah! Jangan janji-janji palsu kayak para bakal calon anggota DPR dan para pejabat tinggi yang ngomongnya tinggi selangit bilang bakal ini bakal itu, pret lah! Kentut lo bau busuk!


Keep silent ajalah! Sekiranya lo bisa bantu si Lipah ya bantu, sekiranya ga bisa jangan umbar kata doang! Lelaki model apaan lo, kalo kek gitu! Emang lo sales panci keliling yang ngomong ke barat ke timur cari konsumen! Dih, masih lebih baik mereka daripada lo ngobral kata cinta tapi nihil tindakan! Bullshiiit lo!


Hhh... Maaf!


Aku sepertinya hanya akan jadi pecundang. Yang tak berani berdiri tegak melawan ketidakadilan yang Bryan dan keluarganya lakukan. Aku bahkan hanya menunduk pergi, ketika Mamanya si Bryan menghardikku saat itu.


"Aaarrrggghhh!!!"


"Tot?!?"


"Maaf, gue kesel sama diri gue sendiri, Lip! Ah, ga enak banget hati ini ga bisa berbuat apa-apa untuk bantu elo!"


"Hehehe..., santai aja! Eh, jangan hubungin gue dulu ya? Seperti biasa, gue yang chat lo dulu! Biar gue yang cari cara biar kita bisa ketemuan!"


Sungguh hati ini serasa melayang di awan. Seperti terbang tinggi di langit biru nan indah. Dilambungkan oleh cinta Alifah yang sangat mempesona. Benar-benar hilang kini kewarasanku.


Kami tertawa di jalanan dengan tubuh saling berhimpitan.


Tuhan! Tolong satukanlah cinta kami, Tuhan! Karena semakin kami ditentang, semakin tinggi rasa penasaran dan juga keinginan kami untuk takhlukan dunia.

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2