MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (86) Agak Mistis Jadinya Part 2


__ADS_3

Aku akhirnya menunggu cerita Arif sampai selesai.


Alurnya ceritanya memang agak lambat. Karena Arif bercerita penuh dengan kehati-hatian. Ternyata, anak ini sangat dewasa dan memilah kata yang ingin ia ucap agar tak terdengar sarkas apalagi jadi fitnah dunia. Begitu beberapa kali ia tekankan diakhir cerita.


"Kenapa, bisa ada orang punya pemikiran sedangkal itu?" tanyaku kesal, tak habis fikir.


Inayah konon kabarnya cinta Aku. Tapi aku sendiri tidak mengetahui itu. Apalagi, aku dan dia jarang sekali jumpa.


Bahkan ketika aku jadi suaminya Alifah, dan seminggu tinggal di sana pun sama sekali tak pernah bertemu juga berpapasan walau satu kali pun.


Oiya aku ingat. Kita pernah saling lempar pandangan sepintas. Waktu itu kita sama-sama keluar dari rumah dan bersamaan memakai sepatu sekolah.


Itu pun bahkan cuma begitu saja. Tiada tegur sapa, karena tak saling kenal juga.


Tapi ternyata, Inayah diam-diam menyimpan rasa mendalam padaku. Dan semuanya tertulis lengkap di buku diary Inayah yang dibaca bu Rukiyah sampai akhir.


Yang jadi pikiran, aku dan Inayah tak saling kenal. Bahkan putri sulung bu Rukiyah itu bersekolah di sekolah asrama putri yang mengedepankan attitude, sopan santun serta tata krama seorang wanita anggun layaknya putri raja.


Lha ini, tiba-tiba terdeteksi naksir dan cinta berat sama gue?! Bukan salah gue khan? Juga mana gue tau, sampe akhir pun gue ga akan tau kalo ga Arif yang ceritain.


"Apa... Itu sebabnya..., jodohku... Jadi jauh?!?"


Alamak?!? Waduh?!? Terus, gimana nih? Masa iya, gue percaya tahayul jodoh jauh gegara celdam gue sengaja ikut dikubur bu Rukiyah di liang lahat Inayah? Masa iya? Wajib percaya ga? Tapi... Emang iya juga sih, koq jodoh gue agak berat ya? Walah? Kumaha iyeu?


Arif tercenung.


Ia tak mau lagi berkata panjang. Selain memikirkan ucapanku yang mulai ragu dan termakan omongan pemuda tanggung itu.


"Terus, Abang harus ziarah gitu, Rif?"


Akhirnya, aku memberanikan diri bertanya pendapatnya yang tadi jelas-jelas kupatahkan.


"Saran Arif sih gitu!"


"Apa kita harus bongkar makam Inayah, Rif?" tanyaku merinding.

__ADS_1


"Ga perlu se-ekstrim itu juga sih, Bang! Cuma, datangi aja makamnya. Berdoa khusu untuk ketenangan almarhumah. Abang juga berdoa untuk diri abang sendiri. Dan jodoh Abang juga. Itu aja sih saranku, Bang!"


"Jadi..., aku harus ke Jakarta, Rif?"


"Ya khan makamnya di Jakarta, Bang!"


"Hhh... Iya juga sih! Hhh...!!!"


Begitu rumit. Begitu sulit disambungkan dengan akal sehat.


Tapi ngeri-ngeri sedap mengingat celdamku ada dalam satu liang lahat. Hiks. Beneran horror dan mistis beud ini!


"Rif!"


"Perbanyak ibadah yuk, Bang!? Abang bersyukur, punya orangtua yang kompak dan selalu doain Abang di setiap sujud mereka. Itu jadi benteng terkokoh Abang selama ini!"


Bener banget! Andai ga ada Ayah, Ibu... Entah gimana diri ini kedepannya. Hhh...


"Kamu... Bisa tau banyak, emang di pesantren belajar apa aja?" tanyaku makin kepo sekaligus tertarik mendengar cerita spiritualnya.


"Aku tertarik buat dalami ilmu pengobatan kebatinan, Bang! Tujuan utamaku, membantu orang yang membutuhkan. Bukan buat gaya-gayaan, Bang! Tapi kak Alifah justru melarangku. Dan minta aku pulang dari pesantren, ikut numpang tinggal sama Ayah Ibu juga Abang di sini!"


Aku berdecak dan menangguk dengan satu tangan diangkat. Memintanya untuk lanjutkan cerita.


"Jujur aku malu, Bang! Malu... Ikut nyusahin semuanya di sini padahal ga ada hubungan darah diantara kita sama sekali. Apalagi, yang aku tahu... Kak Alifah bahkan dulu pernah nyakitin perasaan Abang soal percintaan terlarang kalian! Hhh..."


"Itu sebabnya kamu terlihat berusaha mengerjakan semua, ga mau cerita apapun tentang kesusahan kamu juga untuk adaptasi di sini?"


"Salah satunya iya. Tapi... Itu juga udah jadi kebiasaan di ponpes buat mandiri, ngurus diri sendiri, Bang!"


"Kenapa kamu tertarik sama ilmu gaib? Apa kamu punya indera keenam?"


"Sebenernya engga', Bang! Tapi di pondok, kami semua pernah dibuka mata batinnya. Tujuannya adalah untuk melatih kepekaan serta empati para santri. Cuma efeknya ya gitu, ternyata banyak dari kami yang hidupnya malah koleps gara-gara bisa liat makhluk lain selain manusia."


Aku semakin serius mendengar cerita Arif. Makin menegangkan juga soalnya. Seru campur deg degan ini mah, urusannya!

__ADS_1


"Kamu emang ga takut, Rif?"


"Ya terang, takutlah, Bang! Apalagi, aku masuk pesantren niat awalnya bukan cari ilmu agama. Tapi ada niat terselubung, yaitu supaya ga ikut tinggal sama Papa yang nikah lagi. Aku... Kesal Papa nikah lagi! Tapi aku juga ga punya kekuatan buat ngelarang Papa, karena keluarga kami memiliki masalah finansial. Papa yakin kalo tante Yulia bisa ngatasin semua permasalahan yang terlanjur ada. Tapi nyatanya, feelingku tepat."


Hm... Konflik yang lumayan rumit. Dan gue salut sama Arif yang masih bisa berfikir jernih karena lebih memilih menyingkir ketimbang bikin onar serta kegaduhan.


"Mama meninggal dunia, dokter bilang kanker rahim. Papa juga divonis dokter, ginjalnya sudah rusak cukup berat. Hhh... Kak Alifah akhirnya yang jadi tumbal demi kembali tegaknya perekonomian keluarga kami yang terjerat banyak hutang dengan keluarga Bang Bry."


Aku senang. Arif bercerita sangat lancar. Bahkan begitu antusiasnya, seolah kepribadian Arif yang dahulu humble kini telah kembali lagi.


"Kembali ke cerita ilmu yang kamu mau, itu... Dikasih pilihan gitu?" tanyaku penasaran.


"Iya. Akang yang bilang, kita boleh memilih jalan kita sendiri. Tentunya dengan berani mengambil resiko dari pilihan masing-masing, Bang!"


"Hm...!?"


"Di ponpes ada pelajaran ilmu pengetahuan alam, ilmu kanuragan, ilmu kebatinan. Kalo diibaratkan sekolah, itu semua pelajaran ekstrakurikuler. Untuk bekal tambahan para santri selepas dari pondok."


Keren. Ternyata ya?!? Kukira mondok cuma mengaji dan mengkaji ayat-ayat Suci Al-Qur'an saja. Kupikir cuma menghafal Al-Qur'an, hadist, fikih dan tajwidnya saja. Ternyata fikiranku sedangkal itu! Hm... Please forgive me!


"Kamu emang udah pelajari ilmu itu, Rif?"


"Baru sedikit, Bang! Keburu ke gep kak Lipah. Aku keceplosan bilang sama dia waktu teleponan! Katanya, jangan dilanjut. Takut jadi gila gegara ilmunya ga ketaekan (ga lulus). Hehehe..."


Aku tertawa, menyeringai.


Entah mengapa, mengobrol dengan Arif seperti berkaca pada sifatku sendiri. Arif masih menuruti perkataan kakaknya. Seperti aku yang berusaha menuruti perkataan Ayah Ibu.


Biar bagaimanapun, keluarga adalah tempat terbaik berkeluh kesah dan dimintai pendapat.


Good job, Rif! Gue suka gaya lo! Adek ipar yang baik! Eh? A_adik ipar? Hiks... Aminin dong, please! Yang bilang 'aamiin' bakalan sukses dunia dan akhirat. Aamiin... Hehehe, peace!


"Kapan Abang mau nyekar ke Jakarta? Jangan sendiri. Biar aku yang temenin, soalnya agak bahaya!"


Aih? Iya juga ya? Hm... Kapan ya? Kapan dong waktu yang pas dan tepatnya? Kayaknya gue kudu nemuin si Jamal dulu nih, minta anter ke rumah madam Noer! Biar dikasih jampi pengasih dan jampi penangkal kiriman santet, guna-guna juga pelet! Hm.(Gatot mode on menghalu masuk ke dalam novelnya author Tompealla Kriwiell'TK yang judulnya Menjadi Petani Sukses (Sistem Bertani))

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2