
Seharian kerja, badanku sakit bagaikan seminggu lembur rasanya. Benar-benar kerja keras bagaikan kuda. Dipacu dan didera. asih untung tak disiksa.
Hhh...
Aku baru kembali ke apartemen sekitar pukul delapan malam. Karena masih ada yang harus kukerjakan, yakni memperkenalkan diri pada para centeng dan penguasa keamanan sekitar gudang.
Biasalah, cari muka sedikit. Cocok rokok sana-sini, yang pasti demi keamanan diri sendiri dan juga gudang perusahaan yang kujaga.
Beginilah, kerasnya pekerjaan sisi gelap Ibukota. Salah-salah langkah sedikit, habis sudah dan tamat riwayat.
Uang dua ratus ribu cukup untuk beli rokok, kacang kulit serta minuman bersoda. Setelah itu, barulah hidupku berasa aman.
Senangnya tinggal di apartemen, tak seperti di kostan. Mau mandi air hangat tinggal stel di kran airnya yang sudah otomatis tersambung solar water heater. Ada bathtub juga, buat rendaman badan. Benar-benar termanjakan seperti orang kaya betulan.
Pukul sembilan malam, selesai mandi. Aku teringat pada balkon kecil yang menjorok di depan kamarku.
Gaya ah, macem aktor-aktor korea di drakornya!
Aku membuka pintu kamar yang terdiri dari potongan kaca berukuran tebal. Angin menerpa membelai wajahku (sumpah ini tuh lirik lagu, thor)
Aku mengambil sebatang rokok kretek sisa tadi lesehan dengan para penjaga keamanan.
Oiya, sebagai keterangan tambahan, aku bukanlah penikmat rokok sejati. Hanya sesekali saja menghisapnya karena dadaku kurang tahan menerima hantaman nikotin yang langsung masuk ke rongga paru-paru.
Ini cuma gaya-gayaan saja.
Biar mirip kayak di film-film gitu. Yang pemeran prianya merenung di pagar balkon sambil merokok. Kelihatan gagah keren, gitu!
Heleuh, banyak gaya ya gue?! Hehehe... Peace, keep calm, Okay?
Menghirup udara dari lantai sepuluh apartemenku, memandang view yang cukup indah walau sekeliling bangunan beton saling berlomba meninggikan lantainya. Rasanya, seperti aku menjadi ironmen. Anjim banget!
Beneran berasa naik derajat tiga kali lipat, coy!
Sampai,...
"Aaah..., ah... Yang!"
Slurp slurp...cup cup cup
Setan kober!!! Suara apaan tuh??? Alamak jaaang! Penghuni apartement sebelah rupanya sedang bercinta. Dan pintu balkonnya sengaja dibuka biar ada angin rupanya!
Hadeeuh! Panas telingaku mendengar suara-suara alam ghaib yang membuat bulu ketekku merinding.
Bangk*e ni orang! Ga mikir kali ya? Dikira tetangga kiri kanan ga bakalan dengar apa!?! Ck, bikin gue mengiler aja ah! Suwe!!!
Aku masuk kembali ke kamar. Menutup pintu balkon dan tirainya karena tak tahan mendengar ******* serta lenguhan orang yang sedang main kuda-kudaan.
Tring
Belut chat!!!
Mataku membulat, langsung lompat ke arah ranjang.
Gatot
^^^Belut, p kbr lo^^^
Baik
Aku tahu, jika jawabannya singkat padat seperti itu, artinya dia sedang tidak baik-baik saja.
^^^Gue telepon y?^^^
Seperti biasa, dia lebih dulu menelponku.
"Hallo? Lif?"
Tiada suara jawaban. Aku memasang konsentrasi penuh.
...[Ya, Tot]...
Suaranya serak. Pasti habis menangis.
"Lo kenapa? Lo lagi nangis, ya?"
Tak ada suara. Hanya keheningan yang terasa.
"Lif...! Cerita sama gue, kalo lo ada masalah! Gue selalu ada buat lo! Buat dengerin semua curhatan lo! Lif..., gue... Sayang elo!"
__ADS_1
Jantung ini bergetar, ketika mengucapkan kalimat kejujuran itu.
Walau hanya via telepon, tapi getarannya kuharap bisa sampai pada sanubarinya Alifah.
...[Tot...]...
"Ya, Lif?" jawabku lembut. Berusaha lembut sekali.
...[Gue... Pengen ketemu elo! Hik hik hiks...]...
"Elo dimana, Lifah?"
...[Gue ada di asrama kampus]...
"Ya udah, gue meluncur. Cuma agak lama. Tempat tinggal gue sekarang di utara ibukota!"
...[Oh... Ya udah, jangan deh Tot! Ini udah malem juga!]...
"Ga pa pa! Demi lo, gue rela lakuin apa aja! Bentar, gue otewe! Lo jangan kemana-mana!"
Klik.
Entah kemana rasa lelah yang tadi mendera.
Kemana perginya kepenatan yang tadi sangat menyengat.
Suara serak Alifah membuat fikiranku langsung tertuju padanya.
Lipah butuh gue! Dan gue kudu standbye disisinya. Gue bakalan menghibur kesedihannya! Please, permudah jalanku, Tuhan!
Motor Yamaha Aero-ku yang setahun lagi lunas itu membelah jalanan ibukota.
Berzigzag menyalib pengendara motor dan mobil lain jika ada kesempatan.
Aku setengah gila mengejar waktu agar segera sampai ke asrama kampus Alifah. Wajahnya seperti ada di depan mata.
Walau begitu aku masih waras. Masih berhati-hati melajukan kendaraan roda duaku. Tak ingin kecelakaan merenggut segalanya dariku. Walau cepat, tetapi aku masih dibatas kecepatan normal.
Pukul sepuluh kurang, aku sampai di depan kampusnya.
Terlihat wajah manisnya menungguku di parkiran.
"Di asrama gak boleh kedatangan tamu lawan jenis! Kena sanksi!" jawabnya membuatku gemas.
Rambut poninya bergerak meliuk-liuk terkena angin yang cukup kencang di malam hari.
"Terus kita mau dimana?"
"Warkop sana yuk? Cari roti bakar!" ajak Alifah.
Aku mengambil helm cadangan dan memasangkannya di kepala Alifah.
Kami menuju warung kopi yang ditunjuk Alifah. Tetapi malah bablas karena posisi Alifah yang pewe menggelendot di bahuku.
Seperti biasa, kepalanya ia sandarkan dipunggungku. Seperti ingin menumpahkan segala bebannya tanpa harus bicara. Biar hati saja yang bergerak menyatukan kami berdua.
Aku tak kuasa mengusiknya. Sengaja dan juga merasa keenakan dipeluk Alifah dari belakang.
Akhirnya motorku hanyalah berputar-putar mengelilingi kawasan rumah sakit dan asrama kampus sampai beberapa kali.
"Tot!? Kapan sampainya kita?" tanyanya setelah tersadar.
"Hahaha...! Sampe lo sadar, kalo ada cogan yang selalu setia menemani lo kemanapun lo mau!"
"Ish, dasar! Hehehe..."
Cubitan kukunya di pinggangku menjadi candu yang adiktif dan bikin aku ingin selalu dan selalu merasakan cubitan itu.
Cubit gue terus. Gue rela, Lipah!
Setelah puas makan angin, akhirnya kami berhenti dan turun di depan warung kopi Mang Acong.
Tempatnya lumayan enak buat kami mojok. Setidaknya, obrolan kami bisa berlanjut sambil makan roti bakar dan minum segelas bajigur.
Ada coklat lumer di ujung bibir Alifah. Membuatku gereget dan segera me-lapnya. Lalu..., menjilat tanganku yang terkena coklat dari bibirnya.
Uhuk, seumur-umur ini adegan yang paling gue pengen lakuin! Thanks God, akhirnya kesampaian. Walaupun dapat pelototan yang menakutkan dari dua bola mata Alifah. Hihihi...! Gagal romantis. Hiks.
"Udah makan nasi?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Belom!"
"Hadeuh! Buat apa lo belajar ilmu kebidanan, soal gizi, kesehatan bla bla bla, tapi lo sendiri ga bisa jaga kesehatan!" semprotku seperti bapak-bapak yang lagi memarahi anaknya.
Alifah hanya tersenyum menyeringai. Dia tak berani berdebat denganku ketika tahu dirinya salah.
"Mang Acong, nasi uduknya satu porsi ya?" pesanku pada penjualnya.
"Siap, Mas!" jawab salah satu pelayannya.
"Sok kenal, panggil nama Mang Acong! Emang lo tau, yang mana mang Acong?" bisik Alifah membuatku tertawa.
"Yang nyaut, itu Mang Acong! Jangan difikirin. Ya khan nama warung kopinya warung kopi Mang Acong!" timpalku juga dengan suara berbisik.
Hadeuh! Berasa kayak emak-emak lagi ghibah kalo pake bisik-bisik begini, Lipah!
Alifah tertawa lebar. Ia mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya padaku.
"Eh, Tot! Lo inget si Marwan gak?"
"Marwan? Yang mana? Emang di kelas kita ada yang namanya Marwan?"
"Ada, Zainuddin! Otak lo lemot deh, faktor U tuh!"
"Yang mana, Marpu'ah? Zainuddin lupa! Tolong jelaskan ciri-ciri dan karakter orangnya!"
"Hahaha..., dasar Zainuddin bin Abdul Qorun! Itu yang duduk paling depan itu! Inget ga?"
Aku masih belum mengingatnya. Masih ra mudeng.
"Nih, ini orangnya...!"
Alifah memperlihatkan gambarnya lewat ponselnya.
"Oh ini! Iya, iya...! Yang pendiem itu anaknya ya? Kenapa emangnya?" tanyaku setelah mengingat wajah si Marwan. Teman sekelas kami.
"Dia mau nikah dua minggu lagi. Minta tolong gue buat jadi bridesmaid dan elo jadi groomsmen! Mau gak?"
"Hah? Apaan sih itu?"
"Ish, norak banget deh lo, Tot!"
"Jadi ban serep gitu?"
"Koq ban serep?"
"Eh salah ding, merk ban namanya bridgestone ya! Hahaha... Sori sori, kurang gaul gue! Hahaha..."
Aku sengaja ingin membuat Alifah tertawa. Karena dengan tertawa, wajahnya menjadi semakin indah dipandang mata. Dan aku berhasil. Yesss!!!
Tapi, satu pertanyaanku...
Ngapa dia malah ngajak gue buat jadi pasangan bridesmaid-nya? Kenapa bukan si selebgram tengil itu?
"Lo,... Beneran ngajak gue jadi pendamping lo jadi pengiring pengantin, Lif? Beneran ini?"
"Ya khan kita se-almamater, oncom! Si Marwan minta temen-temen satu sekolahnya dulu. Dan seragamnya itu seragam putih abu-abu!"
"Oh, ngono toh! Gue kira...!"
Alifah tertawa. Pipinya bersemu merah.
"Terus kalo lo nanti planning nikahan lo gimana? Ada bridesmaids juga?"
Alifah menunduk.
"Bisa ga jangan ngomongin nikahan gue?" ucapnya pelan.
"Ya khan lo nikahnya sama gue, nanti! Jadi harus diplanningin dulu! Ya khan, ya ga?"
Puk (tangannya memukul bahuku pelan)
"Dasar kang ngayal! Hehehe..."
Gue emang kang khayal, khayalin lo seorang, Alifah sayang! Ngayalin kapan kita nikahan, adain resepsi out door ala-ala pesta kebun. Ga perlu high budget, tapi sakral dan istimewa. Aamiin ya Allah!
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1