
Koq bisa ya, Alifah yang hamil, tapi aku yang mengidam. Hiks. Aneh tapi nyata.
Badanku selalu lemas, lesu, letih dan pusing kepala. Bahkan sampai mual muntah-muntah tapi tak ada kotoran yang keluar dari mulut. Rasanya sakit dan pahit. Usus bagaikan ketarik keluar. Dan bikin semaput seperti mau pingsan.
Semua itu baru akan sedikit menghilang kalau sudah menikmati rujak uleg buah yang ada di perempatan pasar kota PP. Hiks.
Padahal dulu aku sama sekali tak suka rujak.
Bahkan buah-buahan juga tak kusuka semua kecuali satu dua macam saja. Sedari kecil jarang makan buah selain buah durian dan buah anggur saja.
Tapi kini, setiap hari harus stok buah. Terutama buah yang asam dan segar rasanya.
Alifah bahkan seringkali mecandaiku dengan ledekan isengnya. Karena justru dia sama sekali tak mengalami ngidam sejak kejadian pingsannya tempo hari.
Kini aku harus estra sabar, menahan rasa yang tak enak ini sampai empat bulan ke depan.
Dokter bilang, masa mengidam akan berangsur-angsur hilang setelah lewat minggu ke delapan. Semoga. Karena ternyata rasanya sangat tidak enak dan sangat menyakitkan.
Aku benar-benar tersiksa lahir batin hingga setiap hari aku selalu menyambangi rumah Ibu. Aku mencuci kakinya setiap pagi. Mencium tangannya seraya mengucapkan kata maaf karena selalu menyusahkan beliau selama hidup.
Ternyata benar, untuk bisa memahami orang tua, kita harus menjadi orang tua.
Dan aku... Kini sebentar lagi akan jadi orang tua.
Alifah sedang mengandung anak kami. Hasil dari kerjasamaku dengannya dalam melakukan hubungan bilateral antar sel sperm*ku dengan sel indung telurnya. Hingga berkembang dan menetap dirahimku selama sembilan bulan lebih.
............
Istriku melahirkan seorang bayi laki-laki. Tampan dan sangat menggemaskan.
Sujud syukurku tak pernah putus pada Allah Ta'ala.
Aku sangat, sangat bahagia.
__ADS_1
Sempat salah dan terkecoh oleh hasil USG yang mengatakan kalau calon bayi kami adalah anak perempuan.
Alifah sampai membeli perlengkapan bayi dan pakaiannya dengan warna-warna pastel identik anak perempuan.
Ternyata teknologi yang canggih tetap tak mampu mengalahkan Kebesaran Illahi Robbi.
Ketika anakku lahir, justru bayi laki-laki gagah perkasa dengan tunas menjulang ke atas bahkan kabarnya alat kelam*n bayiku ukurannya di atas rata-rata.
Wadidaw ga tuh! Wkwkwk... Anak siape dulu! Anak Gatot Subroto laaah! Bakalan terpuaskan lah nanti pasangannya! Hahaha... Alay bener bapaknya ya!?!... Hadeuh, tar anak gue illfeel sama ke-alay-an bapaknya yang teramat tinggi.
Punya anak, rumah tangga makin bahagia.
Betul.
Tetapi otak liyeur juga makin bertambah pula.
Cari duit ekstra semangat. Karena akan ada satu manusia baru lagi yang wajib diempani. Wajib dirawat, diurus dan dikasih sayang dengan bantuan uang.
Aku dan Alifah bahagia. Usia yang sudah cukup dewasa, yakni 29 tahun dengan pekerjaan lumayan bisa dibilang mapan. Apalagi Alifah juga turut serta memajukan perekonomian rumah tangga kami dari hasil pekerjaannya menjadi bidan desa.
Alhamdulillah.
Putra pertama kami bernama Muhammad Abiem Subroto. Entah... Aku teringat mimpi dua belas tahun lalu, ketika seorang balita laki-laki menyemprotkan pistolan air ke wajahku sambil berteriak, "Abiem semprot nih, Papa! Abiem semprot nih! Hahaha..."
Nama Abiem, nama yang bagus dan terkesan imut. Apalagi putraku sangat tampan rupawan.
Hampir semua orang yang melihat putra kami, pasti memekik bahagia seraya berkata, "Amboooi, tampan sekaliii!!!"
Abiem memang memiliki kulit dan raut wajah yang mirip dengan Alifah. Aku bersyukur sekali. Karena jika mirip aku, kulit hitam dan rambut jabrik ikal, susah diatur, duh...kasihan sekali nasib anakku nanti. Untung semuanya numplek duplikatnya Alifah. Hingga semua orang bersuka cita, terutama Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Tetapi ternyata bayi juga berubah-rubah setiap waktu.
Satu-dua bulan, Abiem masih terlihat sangat tampan. Tetapi menjelang bulan ketiga dan lanjut empat bulan, tubuhnya melesat pertumbuhannya.
Putraku jadi super chubby dan bertubuh gembul.
Ada tetangga laki-laki dewasa yang memiliki sifat yang kurang kusukai. Dia terlalu jujur dan gamblang dalam mengomentari keadaan putraku.
"Waktu lahir Abiem ganteng banget, eh koq sekarang jadi semblem banget! Hidung mancungnya jadi meleksek ke dalem!"
Bangk*e ni orang! Ngajak gelud sama gue, berani rendahin anak gue bilang semblem banget!
"Maksudnya apa, Bang?!" tanyaku mulai naik darah.
"Ga ada maksud apa-apa, Tot! Hehehe..."
"Koq berani banget ngomong gitu sama anakku? Kalo situ sebel sama bapak emaknya, jangan bully anaknya. Sini, langsung ajak tanding aja, one by one!"
"Yang! Ish, apaan sih? Jangan gitu dong ah!" lerai Alifah mengingatkanku. Dia emang paling takut kalau aku sudah keluar tanduk dan berubah jadi T- Rex.
Semua orangtua, pasti akan pasang badan untuk membela anaknya. Walaupun nyawa taruhan. Betul apa betul?
"Lain kali jangan gitu lah, Bang! Aku tersinggung kalo abang bilang anakku jelek. Lain kali, hina aku aja jelek, jangan hina anakku!"
"Maaf, Tot! Sumpah, ga da maksud begitu koq! Hehehe..."
"Iya. Cuma lain kali hati-hati bicara ya Bang! Please, aku ngerasa sakit kalo anakku dibilang jelek!"
............
Ya kali', biar kata anak lo jelek, kalo ada yang bilang anak lo jelek, pasti sensi khan? Ya khan? Ya dong! Masa engga'?
"Hahaha... Parah kau, Tot! Ish! Janganlah sensian! Lo terlalu nge-gas itu namanya! Tar anak lo malah lebih susah hidupnya nanti. Gimana kalo orang ntar malah jauhin si Abiem, terus bilang gini ..., "Jangan maen sama si Abiem! Bapaknya sensian. Emosional tinggi! Tar lo dimakan sama Bapaknya si Abiem! Emang kau mau anakmu nanti lebih susah lagi ga ada yang mau temani! Hahaha..." ledek Herlan ketika berkunjung main ke rumah kami bersama anak istrinya.
__ADS_1
Iya juga ya? Hiks... Huaa...
...❤BERSAMBUNG❤...