
"Jangan ganggu, Gatot ya, Yam? Hehehe... Nanti dia gak betah, terus minta pulang!" rayu Ning pada Mbak Iyam.
"Bukan Bang Fahri?"
"Bukan, Yam! Abang ini namanya Gatot. Tinggal sementara disini karena kakinya lagi sakit!"
"Oh gitu! Kakinya kenapa, Bang?"
Aku ternganga. Wajah Iyam dekat sekali ke wajahku.
Cantik! Walaupun agak oleng!
"Kecelakaan, Mbak!" jawabku agak terbata-bata.
"Oo...! Moga cepat sembuh ya, Bang!"
"Terima kasih, Mbak!"
"Bang, lihat suamiku engga'? Ini fotonya! Coba Abang lihat dulu!"
Lagi-lagi Iyam mengambil foto suaminya dari balik br*nya. Yassalam!!! Hiks...
"Yam! Iyam pulang, ya? Ini sudah malam. Gatot capek, mau istirahat! Besok saja ya, kemari lagi!"
Ning Imah mencoba memberi Iyam pengertian. Perempuan itu seperti tak bergeming dan tetap duduk kuat-kuat di sofa yang ada di ruang tamu rumah.
"Abang boleh menginap di sini, berarti Iyam juga boleh menginap juga khan Ning?" ujarnya penuh kepolosan.
Ya Tuhan...! Ternyata cinta yang berlebih itu sangat berbahaya ya? Benar-benar fatal dan mampu membuat kewarasan serta akal sehat jadi hilang dari fikiran.
"Mbak Iyam belum mengantuk?" tanyaku mencoba mengajaknya mengobrol santai.
"Panggil Iyam aja, Bang! Seperti biasa Abang panggil!"
Waduh?!?
"Berapa umur Iyam?" tanyaku lagi.
"Dua puluh lima, Bang!"
"Ternyata kita seumuran! Hoaaam...! (aku pura-pura menguap) Abang ngantuk, Yam! Mau tidur, Iyam juga tidur ya?" bujukku penuh rayuan.
__ADS_1
"Tidur sama Abang?"
Wadidaw... Jangan, Yam! Bahaya!!! Aih? Koq 'Yam'? Dia bukan ayam, bray! Hiks, I am sorry.
"Bukan dong! Tidur sama suaminya Iyam! Nanti kalo Iyam tidur sama Abang, bisa-bisa suaminya cemburu. Tidak boleh, itu! Dosa, Yam! Bukan muhrim!"
"Oh iya ya? Abang ni bukan Bang Fahri ya?"
"Ya bukan. Abang ini namanya Gatot. Gatot Subroto. Jadi, mendingan Iyam sekarang pulang. Tidur di rumah, tunggu Bang Fahri pulang. Nanti kalo Iyam kelamaan di sini, bang Fahri marah!"
"O iya ya?! Ya udah, Iyam pulang dulu ya Bang?! Cak, Ning... Iyam pamit! Assalamualaikum!"
Uuufffhhh!!! Aman.
Ning segera mengunci pintu rumahnya setelah Iyam pulang.
Jujur aku miris melihat perempuan yang usianya sebaya denganku itu. Masih muda, cantik pula. Juga sedang mengandung anak pertama. Tapi nasibnya tragis. Suaminya yang tampan entah kemana. Hhh...
Begitu banyak kisah sedih dari percintaan yang dramatis.
Seperti Iyam. Seperti Mirina, juga seperti Alifah.
Apakah ini memang perbuatan biadab kaum laki-laki? Ataukah ada campur tangan kaum wanitanya yang terlalu piki-piki dalam urusan jodoh serta percintaan?
Sebagian orang bilang kalau aku lumayan manis, sedikit tampan rupawan. Tapi ternyata, dalam urusan percintaan, aku justru selalu kalah padahal aku tak pernah mempermainkan perasaan wanita.
Bahkan aku tetap setia mendamba Alifah. Sejak masih SMA bahkan sampai kuliah.
Sampai setiap hari, fikiranku hanya terus berputar-putar dengan halusinasi tentang Siti Alifah.
Mungkinkah karena rasa bersalah yang besar telah menceraikannya begitu saja? Atau mungkin rasa bersalah akibat kejahatan diam-diamku yang telsh mencuri diary milik Alifah?
Bisakah kisahku ini disamakan dengan kisah Jaka Tarub yang mencuri selendang Dewi Nawang Wulan?
Lalu menikahinya dan terus menerus memendam rasa ketakutan dari rasa bersalah yang besar. Sehingga sangat sulit rasanya untuk move on dan membuka kisah percintaan baru dengan gadis yang lain.
Hhh...
Mungkin psikologis-ku juga sakit. Sedikit banyak keadaan Iyam membuat hatiku tertohok.
Sekejam itu rupanya akibat cinta yang tak berpihak. Cinta yang sebelah pihak. Cinta palsu, Cinta yang hanya memandang luarnya saja tanpa mencinta sepenuh hati.
Karena jika cinta tulus, sepenuh hati dan tanpa pamrih, pastinya akan berjuang sampai tetes darah penghabisan.
__ADS_1
Bukan malah menyerah kalah sebelum perang. Itu hanyalah perbuatan para pecundang. Bukan yang dilakukan oleh para pejuang sejati. Yang bahkan rela berkorban sampai mati.
Bullshiiit lo ah! Cinta ta*i kucing! Makan tuh, kotoran bau asem, kecut, prengus! Lo aja yang bego! Sampe mau lakuin segala cara buat dapetin cinta! Pret lah!!!
Apa cinta tulus, cinta mati, cinta sejati yang lo gaungkan bisa jamin lo bahagia? Terus mati masuk surga sama-sama? Kagak!
Kenapa? Noh lo liat, orang-orang berbondong-bondong ngajuin noktah perceraian. Apa mereka awalnya dinikahkan secara paksa? Dijodohin terus berupaya bahagia tapi pada akhirnya menderita? Jadi pada cerai, begitu?
Mana itu yang katanya cinta sehidup semati? Gue hidup, elo yang mati. Mana itu cinta yang katanya se-iya se-kata? Gue iya, elo engga'. Pret kutu kupret!
Cinta itu hanyalah sarana doang! Cuma media yang menyatukan dua hati, tapi gak jamin lo bersatu terus selamanya, bro! Contohnya gue!!!
Liat si Belut! Dia udah ungkapin rasa cintanya sama gue. Dia bilang tulus mencinta bahkan dari sebelum gue jatuh cinta sama dia. Tapi toh nyatanya, dia tetep nikah juga sama si Banci Bryan. Padahal dia tau, si Bryan udah nikah sama si Mirina. Terus, itu artinya apa? Cinta tulus kah sama gue? Kagak! Intinya ya begono lah! Hadeuh, males gue ribut sama diri gue sendiri yang oleng kadang bela Alifah tapi kadang juga benci dia.
Begitulah. Cinta dan Benci itu bedanya sangat tipis.
Malam ini aku tidur dengan fikiran gelisah karena hati yang berkecambuk.
Doaku pada Tuhan, semoga kewarasanku tetap terjaga. Tidak oleng karena cinta, seperti Iyam anak tetangga Ning Imah yang menyedihkan.
Aku, memang tetap tak bisa membenci Alifah. Tapi aku juga ingin bahagia. Seperti lagu Judika yang saat ini sedang kudengarkan lewat headset aplikasi musik di handphone Ibuku.
Betewe gue emang belom beli hape baru. Selain belom butuh juga, hati ini masih sakit mengingat peristiwa yang membuat tubuh luka dan kaki ini masih pincang.
Kau pergi
Tinggalkanku...
^^^Tak pernahkah kau sadari^^^
^^^Akulah yang kau sakiti^^^
^^^Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari^^^
Oh Tuhan tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
Ooo... Woo uu yeeaa
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1