MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (8) Mari Berjuang


__ADS_3

Menyesakkan itu adalah ketika kau belum sempat mengutarakan maksud hatimu, tetapi waktu tak berpihak padamu.


Hhh...


Seperti saat ini.


Kereta rupanya datang tepat waktu. Sedangkan Aku belum juga mengungkapkan isi hatiku pada Alifah.


Heran deh, biasanya jadwal transfortasi di negeri gue tercinta ini terkenal jam karetnya! Tapi ini bisa-bisanya, tuh kereta nongol sesuai jamnya. Teng jam sembilan tepat. Padahal gue belum 'tembak' Alifah secara jantan. Hadeuh! Mumet otak ini rasanya!


"Bye, Gatot! See you next time!"


Alifah melambaikan tangannya dan melangkah cepat ke arah kereta yang berhenti tepat di hadapan kami.


"Alifah..., Gue,"


Treeet... treeet... treeet


"Bentar, Tot! Temen gue telepon!"


Wanjim banget sih rasanya! Aaarrrggghh!!! Selalu aja ada kendala!


Sabar, Gatot. Sabar! Orang sabar rezekinya lebar. Aamiin!


Hiks, Tuhan...! Aku belum punya kesempatan mengatakan CINTA padanya! Please, please... buat senyumnya yang manis tanpa pemanis buatan itu hanya untukku seorang saja!


"Gatot! Makasih banyak, ya? Nanti gue kabarin kalo dah nyampe kota S, deh!"


Senyumnya yang manis dengan satu lesung pipit samar menghiasi wajah cantiknya.


Ibuuu! Ibuuu, ayo doakan jodoh terbaik untuk anakmu ini, Ibu!


Kereta perlahan mulai bergerak, setelah peluit sang masinis memberi kode dan aba-aba.


Hhh...! Terasa sesak dada ini. Wajah Alifah yang masih menatapku dari balik jendela, lagi-lagi membuatku kecewa.


Kecewa pada diriku sendiri yang lamban bergerak mengungkapkan rasa.


Aku ini bodoh! Kesempatan di depan mata, raib begitu saja.


Hei, Gatot! Woles, broh! Lo kayak cowok expired lo! Yang penting nomor pribadi Alifah udah ada di tangan! Bisa lo pepet dia secara perlahan. Dan lo itu harus bisa lebih ekstra sabar! Kalo lo terlalu grusak-grusuk, yang ada di Belut malah makin licin dan kabur menjauh!


Kalo lo terlalu gempur si Alifah, yang ada dia bakalan illfeel karena lo cowok ga punya otak! Ya kali', cewek punya tunangan tetep lo bilang CINTA. Itu sama aja dengan BUNUH DIRI, Suaeb!


Justru lo tuh harus bermain sehalus mungkin. Lo harus rajin berdoa juga berusaha, itu yang paling utama. Lo pikir CINTA doang cukup! Cinta perlu modal, broh! Ga denger lo ucapan si Alifah semalem? Tunangannya anak boss Papanya! Ha ha..., mikir khan lo?! Punya apa lo buat ngelawan selebram terkenal, ganteng dan kaya raya gitu? Mumet khan lo? Sedang lo cuma punya CINTA TULUS, tapi fulus lo ga setebal kantong anak milenial itu!


Hiks. Cape deh!!!


Sebentar-sebentar tekadku bulat. Tapi mengingat saingan yang sangat-sangat berat, down juga mentalku sesaat.

__ADS_1


Haish!


Tapi jangan patah semangat dulu, Wahai Anak Muda! Jodoh pasti bertemu! Aku yakin itu! Aku yakin. Haqqul yaqiin!


Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi. Tuhan Maha Besar. Tuhan Maha Agung. Buktinya, siapa yang tahu kalau gadis manis cantik itu dahulu adalah ISTRIKU. Karena dia adalah MUSUH BEBUYUTANKU, lalu pernikahan kami hanyalah sekejap saja. Bahkan lebih cepat dari umur kupu-kupu. Sehingga kini statusnya adalah JANDAKU.


Treeet... treeet... treeet...


...[Gatot Subroto! Kau mau dapat Surat Peringatan ya? Hadeeuh ini bocah! Kau ada dimana? Aaarrrggghhh!!!]...


"Siap, siap, Boss! Lagi meluncur ini, otewe! Aku dapat bahan kayu super bagus ini. Cuma masih tahap penawaran! Pemiliknya susah dinego, Boss!"


As*! Lagi-lagi gue bohong! Hiks, sorry Boss!


Pekerjaanku memang adalah yang utama. Bahkan jabatanku ini sangat penting dalam mengejar cinta My Belut.


Ayo, semangat!!!


............


Berjibaku dengan para pekerja keras adalah usahaku kini.


Pria sejati adalah pria yang selalu bekerja dengan hati dan jiwa sekuat baja.


Walaupun cucuran keringat membasahi seluruh tubuh, tetapi hasil jerih payahnya tak akan sia-sia.


Apalagi jika uang halalnya itu disumbangsihkannya untuk keluarga tercinta. Wah, benar-benar luar biasa!


Mimpi dulu ah!


"Bang! Kenapa cengar-cengir sendirian?!"


Suwe bener, ni tukang! Gak boleh liat orang seneng kali, ya?!? Hadeuh!


"Ga kenapa-kenapa, Mas! Hehehe...! Cuma mau nyengir aja!"


Jawaban yang ngasal! Emang kalo gue cengar-cengir sendirian, masbuloh buat lo?! (masbuloh : masalah buat elo)


Tapi memang entah kenapa, hariku jadi jauh lebih ringan. Senyumanku jadi lebih murah. Mungkinkah ini efek bertemu kembali Siti Alifah?


Dan satu hal yang patut kusyukuri. Pekerjaanku berjalan lancar. Boss senang dengan barang yang kudapatkan, juga dengan hasil negosiasi yang kulancarkan.


Untung khan lo Boss, punya Supply Chain Manager kayak gue?! Biarpun gue ini lo anggap anak muda slenge'an, tapi untuk urusan tanggung jawab dan dedikasi loyalitas pada perusahaan... gue bisa diandalkan! Hehehe... (Gatot tengilnya kumat)


Hari ini pekerjaanku di hutan selesai sebelum adzan maghrib berkumandang.


Tubuh lumayan penat dan sakit badan baru kurasakan setelah selesai mandi.


Kuhamparkan sajadah panjang yang Ibu berikan padaku tiga tahun sebelum merantau, kembali ke Ibukota.

__ADS_1


Maaf Tuhanku Yang Maha Agung! Aku belum bisa menjadi insan yang pandai bersyukur kecuali dalam keadaan darurat dan waktu-waktu tertentu!


Sajadah tipis. Bukan berarti aku tak punya duit untuk membeli yang baru. Tetapi sajadah ini mengingatkanku betapa Ibuku selalu menginginkanku jadi manusia terbaik yang selalu ingat akan Kebesaran Tuhannya. Makanya aku selalu pakai alas sholat itu setiap saat aku memiliki keinginan berdoa.


Dalam agamaku seharusnya wajib melaksanakan ibadah lima kali sehari.


Tapi aku masih jadi bagian manusia jahiliyah. Masih sangat susah untuk fokus dan beribadah.


Namun Tuhanku Begitu Baik padaku. Tak pernah memilah-milah untuk memberiku rezeki yang tak terhingga sampai hari ini.


Aku selalu bersyukur, Tuhan memberiku keluarga yang utuh. Ayah yang bertanggung jawab pada istri dan anak, Ibu yang selalu setia dan mendoakan suami serta putranya. Apalagi yang harus kukeluhkan pada Penciptaku Yang Maha Agung, selain berterima kasih atas semua keberkahan-Nya pada hidupku ini.


Banyak temanku yang mengeluh soal keluarga. Tentang kedua orangtuanya yang memilih divorce padahal usia sudah tak lagi muda. Tentang hubungan kekeluargaannya yang tak harmonis dan terlalu egois.


Sejujurnya dulu pun aku memiliki perasaan yang buruk pada Ayah.


Aku merasa Ayah tidak menyayangiku seperti halnya Ibu.


Tapi ternyata fikiranku salah selama ini.


Ayah justru jauh lebih memikirkan hidupku di masa depan.


Ayah mendidikku keras, karena aku adalah anak laki-laki. Anak cowok tidak boleh lemah, lembek dan selalu berada diketiak orangtuanya.


Karena kata Ayah, hidup ini keras. Sangat keras. Dan seorang pria punya tanggung jawab dua kali lipat lebih besar dari wanita. Terlebih jika pria itu telah dewasa dan memiliki keluarga.


Sikap Ibu yang secara tidak sadar selalu menganak-emaskan diriku yang anak tunggal, membuat Ayah gemas.


Ayah takut aku jadi pria yang selalu mudah meminta bantuan ketika dirinya terjatuh dan rapuh.


Apalagi ketika aku secara tidak langsung seperti menaruh pucuk tah* kerbau di wajahnya, Ayah murka dan kecewa tak bisa terima.


Lambat laun, aku mulai mengerti sikap Ayah. Terlebih ketika di awal kepindahan kami ke kota PP. Ada kejadian lumayan membuatku berfikir ulang untuk membenci beliau lagi.


Saat itu aku sedang bermain dengan teman-temanku di halaman kampus setelah kelas usai. Tiba-tiba terjadi musibah, pohon mahoni yang tinggi besar dan sudah ada sejak puluhan tahun itu tumbang kena lapuk dimakan usia.


Ayah yang kala itu kantornya tepat berada di samping kampus, panik melihatku yang turut jadi salah satu korban dan tergeletak tak berdaya dengan tubuh tertelungkup dan dahi bercucuran darah segar.


Ayah menggendongku dengan kekuatannya yang luar biasa.


Beliau berlari mencari kendaraan sambil berteriak minta tolong dan memohon pada beberapa pengemudi yang lewat agar sudi membawa kami segera ke rumah sakit.


Akhirnya aku sadar, Ayah menyayangiku dengan caranya.


Walau beliau sulit sekali mengekspresikan rasa sayangnya, tapi satu hal yang akhirnya aku ketahui. Karakter diriku yang cenderung lebih mirip Ayah. Sulit mengungkapkan isi hati dan rasa cinta serta sayang pada orang yang selalu ada dihatinya.


Seperti perasaanku pada Alifah. Bertahun-tahun terpendam begitu saja. Tak bisa kukeluarkan sembarang demi untuk mendapatkan cinta balasan. Karena terlalu takut hasil akhirnya mengecewakan.


Hhh...

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2