
Pekerjaanku dengan Eliza bukanlah usaha kantoran normal pada umumnya.
Walaupun di hari Minggu kami menutup jasa pengiriman, tetapi masih ada kerjaan yang mengharuskan kami hadir absen mengurus paket-paket yang belum terkirim dan harus kami sortir alamat tujuannya.
Walaupun terkesan ringan hanya sebagai kurir pengiriman barang, tetapi error sedikit pasti bakalan fatal juga. Dapat teguran dan komplein dari customer yang kadang nge-gas nya melebihi netizen +62. Hiks.
"Gimana sih, khan saya udah minta pengiriman yang terkilat. Tapi malah datangnya sama aja sama paket biasa. Hhh... Saya gagal jadinya khan!"
"Maaf, Mbak. Kami juga ga mau ini terjadi. Tapi kadang alat transportasinya yang bawa paket mengalami touble di perjalanan tanpa bisa kami prediksi. Mohon maaf, Mbak! Kami akan mengganti kerugian ongkos kirim Mbak. Mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Aku menghandle Eliza yang sedang saling lempar argumen.
"Huh, ya sudah! Mau gimana lagi? Yang jadi taruhan ini adalah masa depan saya lho, Mas! Emang Mas mau tanggung jawab sama masa depan saya karena gagal masuk perusahaan bonafid sebab surat lamarannya nyangkut di JNE?"
Waduh?!?
"Moga setelah ini Mbaknya malah dapat tawaran kerja yang lebih bonafid lagi. Aamiin! Semangat, Mbak! Jangan menyerah! Ayo, berjuang lagi!"
Perempuan yang berdiri dihadapanku langsung tersipu malu. Senyumnya tersungging walaupun samar.
Akhirnya permasalahan komplein bisa juga kutangani. Dan Eliza yang kesal hanya bisa menghenyaknya bok*ngnya di atas sofa ruko kantor.
"Huh! Aku paling ga bisa dimaki-maki dan dipelototin orang! Paling ga suka!" dengus pacarku dengan wajah merengut kesal.
"Sabar, Yang! Beginilah realita kerja kita!"
Kuelus anak rambut Eliza yang terlihat kacau semrawut.
Dia tersenyum.
"Bang! Kamu ini pinter ngerayu juga ya?"
"Hah?"
"Itu, Mbak-Mbak tadi... Bisa luluh pas kamu jelasin tadi. Sama aku ngototnya luar binasa itu! Hiks. Matanya kek mo loncat!"
"Hehehe... Ah, aku khan pake jalan lemah lembut, Yang!"
"Kamu... Pasti sering gonta-ganti pacar ya setelah lulus kuliah?"
__ADS_1
"Hadeh! Mulai deh, pertanyaan menjurus ke arah hal-hal yang mustahil!"
"Ya khan cuma tanya, Bang! Jangan sewot gitu dong!"
"Bukan sewot! Tapi gendeg tau ga!? Aku ini bukan penganut aliran suka pacaran! Mana ada mantan di kamus hidupku! Karena ga ada itu pacar-pacaran!"
"Itu, Alifah?"
"Mantan Istri!"
Seketika aku dan Eliza terdiam. Sibuk dengan jalan fikiran masing-masing. Aku gugup, terlampau nge-gas dan Eliza pun seperti punya fikiran yang sama (mungkin).
Satu yang tak terlalu kusuka dari sifat Eliza. Diam berlama-lama ketika dia merasa ada yang salah. Tak banyak bertanya lagi apalagi marah-marah. Sedangkan aku, adalah orang yang tak suka ambil pusing jika sudah berlalu lebih dari satu jam. Dan aku lupa pada kejadian ribut yang sebenarnya masih menggantung.
"Yang! Mau beli ketoprak ga?" tanyaku padanya di jam makan siang. Namun hanya dijawabnya dengan mengangkat bahu lalu menggeleng pelan.
Seperti biasa, aku mulai mengenal pribadi Eliza. Setiap kali dia marah, Eliza akan bersikap cuek seperti itu dan tak mau menatap mataku. Justru terkesan menghindar, acuh tak acuh.
Beneran deh, semua cewek itu sama. Baperan, ngeselin, rada error! Bisa-bisanya dia bilang kaum Adam itu adalah pribadi yang egois dan mau menang sendiri. Tapi ga nyadar, kalo justru kaumnya lah yang bikin kita para lelaki serba salah bahkan mampu melakukan dosa dan kesalahan demi menuruti keinginannya. Hadeh!
Disuruh makan buah khulbi pun gue rela deh, asalkan ni Nona kembali tersenyum seperti biasa. Hiks. Mana buah khulbinya?
"Non! Nih!..."
"Makasih!"
Jawabannya tetap saja membuatku mengelus dada.
Sabar, Tot, sabar! Cewek tuh emang gitu! Lo sama Alifah dulu juga gitu. Ya khan? Udah, jangan dimasukin ke hati. Telen aja lewat tembolok. Hiks... (gini amat ya jadi cowok!? Sedangkan gue ga ngerti dimana kesalahan gue!)
Pukul lima sore, Eliz masih setia menekuk raut wajahnya.
Untung cantik. Jadi cemberut setiap waktupun tetap cantik. Andai jelek, ...tapi kutetap cinta koq! Hehehe...
"Sayang! Mau pulang sekarang?" tanyaku setelah menyiapkan kembali mental dan senyum ****. Sebel khan lo, udah nanya sopan pake senyum manis, responnya cuma anggukan, gelengan. Duh! Kalo aja ni cewek adalah boneka barbie, udah gue taroh di kotak kaca. Simpan di atas almari kamar, buat pajangan!
"Chat dulu aja tuh, mantan istrimu! Pulang jam berapa? Mau diantar ga?"
__ADS_1
"Hah?!?"
Alamak jang! Gue lupa hapus chattan gue semalam sama si Belut! Ya amplooop!!! Secara dia bisa buka kode kunci ponsel gue. Modar kowe modar, Gatot!!! (Thor pleaselah thor, help me!) Ternyata pacaran itu ga seindah khayalan juga ya?!
"Non!"
"Dahlah! Awas! Gue bisa pulang naik ojek!!!"
Nah tuh! Kalo dia udah ngambek gini, keluar deh elo guenya. Hiks.
"Yuk, kuantar!"
"Ga mau! Sana, chat JANDAMU itu! Masih belom move on juga khan!?"
"Bukannya gitu juga! Kamu bisa liat koq chattan aku sama dia ga da manis-manisnya khan? Ada ga rayu merayu pulau kelapa? Ga ada khan?" Aku mencoba menjelaskannya.
"Hilih! Akal bulus lelaki! Awalnya chattan gajebo. Lama-lama obrolan makin menjurus. Pasti mulai mengenang masa lalu yang indah. Cinta Lama Belom Kelar. Terus mikir, lanjutin ah... Biar makin sempurna! Pret lah!!!"
Oala. Pacar gue mode on : cemburu parah ini. Hehehe...
Ada senang, tapi sedih juga.
Semua argumen dan tebakan Eliza ga semuanya tepat. Tak semuanya benar.
Aku sudah memilihnya.
Aku sudah menunjuknya jadi calon Ratu dihati ini. Tiada yang lain lagi. Termasuk Siti Alifah binti Bapak Mukti. Duh! Inget lagi nama lengkap si Belut, khan jadinya!
"Please, Non! Aku sama Alifah ga ada hubungan apa-apa selain tali persaudaraan doang! Beneran!"
Eliza tak pedulikan aku. Ia malah naik ojek online pesanannya yang baru saja datang.
"Ayo, Bang, jalan!"
"Non, Nona!!!"
Hiks. Gini amat ya punya pacar itu? Berarti, kalo jadi bini lebih ribet lagi ga sih? Secara suami istri itu akan hidup bersama sehari 24 jam. Siap dengan sifat buruk pasangan, sikap jelek pasangan, dan juga amarah serta emosionalnya yang tak pernah tahu dimasa pacaran. Fix, bikin gue insecure maju mundur buat kepingin cepet-cepet nikah!
Duh, Tot! Ga gitu konsepnya. Liat Ayah Ibu, adem ayem aja tuh sampe menua bersama. Tengok si Harlan Desi. Mesra-mesra aja tuh walau Harlan kadang curhat pendapatan bengkel lagi merosot tajam coz banyak saingan. Please, jangan racunin pikiran muda-mudi yang bergairah punya niatan nikah. Karena nikah itu suatu berkah dan sunnah hukumnya daripada berzinah.
__ADS_1
Tapi..., nasib percintaan gue sama Lilis koq gini amat yak? Apakah bisa gue kayak Ayah Ibu, Harlan Desi? Tuhan, tolong berilah aku jodoh terbaik menurutmu! Aamiin...
...❤BERSAMBUNG❤...