MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU ISTRIKU (6) Kejadian Lucu


__ADS_3

Untuk mengurangi rasa bersalah, akhirnya aku berinisiatif mendatangi rumah Bang Derren tetanggaku itu di hari Minggu pagi.


"Assalamualaikum!"


"Wa...alaikumsalam!"


Wajahnya sedikit tegang melihatku berdiri di pintu pagar rumahnya. Tentu saja aku segera menyunggingkan senyuman.


"Ada...apa ya, Tot?" tanyanya dengan suara pelan.


Sangat disayangkan, suasana jalan raya entah kenapa jadi ramai. Ternyata ada mamang tukang sayur yang baru saja berhenti tepat di jalan depan pintu pagar Bang Derren.


Dan beberapa ibu-ibu tetangga lainnya yang berdatangan pun mulai kasak-kusuk. Padahal awalnya mungkin ingin membeli sayuran di gerobak mang Arfan. Tapi melihatku yang berdiri di depan rumah bang Derren, mereka mulai menghalu berfikir terlalu jauh.


"Eh... Itu bang Gatot! Jangan-jangan masih dendam sama bang Derren gegara tempo hari!"


"Iya deh kayaknya!" bisik yang seorang lagi.


"Aduuuh... Kukira orangnya baik, ternyata pendendam ya?" tambah satu orang lagi.


"Duuuh...! Bu Bidan tau ga sih, itu suaminya ngajak duel tetangga? Aduuuh... Jangan sampai ada huru-hara di kampung kita ini!"


"Iya. Eh, Bu...apa gak sebaiknya kita kasih tau bu Salma ya? Biar bu Salma yang tenangin anaknya. Jangan sampe ribut gitu lho! Malu lah. Masa' berkelahi sama tetangga sendiri!"


"Apa sebaiknya gitu ya?"


"Ga usah lah! Nanti kita disebut tetangga usilan. Itu khan urusan mereka. Mau ribut juga masalah mereka. Bukan urusan kita!"


"Iya juga sih!"


"Mang, mang! Geser sedikit gerobakmu ke sebelah sana! Kalau sampai bang Gatot berkelahi sama bang Derren, gerobakmu bisa hancur kena sasaran!"


"Waduh?!? Memangnya kenapa abang-abang itu mau berkelahi?" tanya mang Arfan mulai kepo.

__ADS_1


"Biasalah! Urusan membela anak!" bisik bu Saori dengan mimik yang menggemaskan. Hiks... Yassalam. Salah faham semuanya, ini!


"Lha? Khan anak mereka masih pada bayi? Memangnya anak bayi bisa berkelahi parah gitu? Hah?!" tanya mang Arfan lagi.


Du dudu... Makin meleber permasalahan ini mah! Mana bang Derren juga terkesan ogah nyamperin gue ke pintu pagar rumahnya.


"Bang Derren, sini bang, sebentar!" ucapku sembari memaksa masuk pagar rumahnya yang terkunci.


Lama-lama malu juga jadi pusat perhatian orang yang makin banyak berkumpul di gerobak mang Arfan.


Ish... Hadeuh!


Kutangkap tubuh bang Derren yang wajahnya makin pias.


"Ish, jangan salah faham, Bang! Aku cuma mau minta maaf soal yang kemarin itu. Demi Allah, aku ga maksud buat keonaran! Kemaren aku lebay, berlebihan dalam menanggapi komentar Abang soal Abiem!" kataku segera.


Tetapi tiba-tiba,...


Alifah berlari ke arahku dengan tergopoh-gopoh.


Waduh?!? Alifah malah makin bikin orang-orang bertambah banyak yang nonton!


"Gatooot! Gatooot! Pulang yuk, pulang! Maaf ya Nak Derren, mohon dimaklumi temperamen putra Ibu. Hehehe...! Maklum, ini baru anak pertama. Jadi antusiasnya luar biasa. Anak boleh kepengen. Makanya Gatot jadi over protektif banget! Hehehe..."


"Ibu Salma, Bidan Alifah... Gatot cuma mau minta maaf koq sama Saya!"


Alhamdulillah! Untungnya bang Derren peka'. Kalo engga',... Mampus gue makin dipandang buruk sama orang-orang sekitar. Huaaa...!!!


"Aku kesini justru mau minta maaf! Bukan mau cari ribuuut. Huaaa... Tapi ternyata momennya kurang tepat! Sekarang jadwalnya mang Arfan datang dagang sayuran! Hiks... Jadi tontonan Ibu-Ibu yang belanja sayuran!"


"Nah lo mang Arfan!!! Sekarang kamu yang jadi sasaran!" timpal bu Saori kasak-kusuk lagi.


Woooii bu Saori Saus Tiram! Bukan begitu maksud gueee!!!

__ADS_1


Mang Arfan seperti terkonek dengan ucapan bu Saori. Dia segera mendorong gerobaknya lebih maju ke depan teras rumah sampingnya lagi.


Semua orang mulai menghubungkan kembali kejadian dua tahun yang lalu ketika aku menghajar para begundal teman-temannya Arif yang ingin berbuat jahat pada Alifah sampai babak belur. Hadeuh...


"Ayaaang...! Kenapa jadi salah faham semua iniii!!!" teriakku kesal membuat Alifah tertawa ngakak.


"Ibu-ibu... Ibu-ibuu..., suami saya bukan orang yang seperti Ibu-ibu sangka koq! Suami saya orang yang baik. Ga suka kekerasan dan ga pernah main tangan! Justru suami saya datang ke rumah bang Derren niatnya mau minta maaf. Suami saya merasa bersalah karena kejadian kemarin dengan bang Derren!"


Hiks Alifah! Entah mengapa di mataku kau bagaikan malaikat tak bersayap. Cantik, manis, peka' dan faham situasi yang sedang menjepitku ini. Makasih istriku sayang!


"Iya. Bang Gatot justru mau minta maaf sama saya! Dan saya juga minta maaf sama bang Gatot, ya?! Ucapan saya kemarin bikin hati abang terluka. Saya salah, asal bicara. Maklum, namanya juga netizen hehehe... Suka asal ngomong, asal komentar. Padahal kata-kata itu lebih tajam dari sebilah pedang. Saya juga menyesal ngomong asal jeplak kemarin!"


"Engga' koq Bang! Saya yang salah. Saya baperan. Saya terlalu berlebihan nanggapi candaan Abang sama Abiem. Maaf ya Bang? Maafin saya. Kita bertetangga, sudah lama juga. Saya ga mau hubungan persaudaraan sesama tetangga jadi ga asyik gara-gara masalah sepele! Maaf... Lain kali saya bakalan lebih santai bercandanya. Maaf!" ucapku membuat para Ibu tersipu. Ada yang langsung koor dan berkata, "Oalaaa... Alamak Jang! Salah, kita!"


"Hehehe..."


"Masalah sekarang sudah selesai khan? Hari ini, saya buat bubur sumsum sama bubur kacang ijo. Yuk ibu-ibu, yang mau bubur silakan ke rumah kami!" kata Alifah membuat mataku berkaca-kaca.


Makasih, Sayang! Kamu yang paling mengerti aku!


Aku menggenggam jabatan tangan bang Derren.


"Maafin aku ya Bang?!" ucapku lagi.


"Hehehe... Maafin abang juga ya Tot!"


Lega rasanya. Kini aku dan Bang Derren duduk di teras rumah Alifah. Menikmati semangkuk bubur kacang hijau yang nikmat buatan Alifah tercinta.


Dan para ibu yang masih sibuk belanja sayuran di mang Arfan pun ikutan senang. Mendapat se-cup gelas plastik bubur sumsum atau kacang hijau sambil tetap bergossip ria.


Yassalam...


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2