
"Alifah?"
Lagi-lagi kerongkonganku terasa tersekat.
Kenapa dua hari rutin berobat di RS khusus syaraf ini gue sama Alifah malah ketemu sama orang-orang yang sebenernya sangat ingin kami hindari?
"Pak Imron? Bu Rukiyah?" sapa Alifah dengan raut wajah kaget.
Bu Rukiyah duduk di atas kursi roda. Sementara sang suami berjalan tertatih sambil mendorong pelan.
"Apa kabar?" tanya pak Imron ramah. Beliau menyalami kami.
Mataku tentu saja tertuju pada sosok wanita yang ada di kursi roda. Mukanya... Agak aneh. Terlihat tidak sinkron. Sebelah wajahnya tampak turun sebelah.
"Bu Rukiyah kenapa?" tanya Alifah pada pak Imron.
"Stroke, Lif! Udah dua tahun ini. Beginilah keadaannya! Kami sebenernya juga udah lelah. Tapi Iqbal terus ngasih support sama uang biaya pengobatannya! Kalo bapak mah, mana sanggup. Udah ga kerja juga. Untung biaya hidup sehari-hari masih ada uang pensiun tiap bulan!"
Pak Imron memang karyawan PNS di salah satu kantor Kecamatan. Kini beliau sudah pensiun dan kegiatan sehari-hari hanyalah mengurus istri yang sakit.
Obrolan kami berlanjut sampai jadwal pemeriksaan bu Rukiyah tiba.
"Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Lifah, Gatot!" kata pak Imron.
Tapi tiba-tiba bu Rukiyah memegang tanganku. Ia menangis seperti anak kecil. Berkata-kata yang tak kumengerti sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Ibu minta maaf, katanya!" Sang suami menjadi penterjemah ucapan bu Rukiyah membuatku mengangguk sambil berkata, "Sama-sama, Bu! Semoga cepat sembuh dan sehat kembali ya Bu!"
Aku dan Alifah hanya bisa mengangguk pelan. Menatap kedua pasangan separuh baya itu berjalan masuk ruang pemeriksaan dokter syaraf. Lalu menghela nafas perlahan.
"Kasihan ya, mereka?" gumam Alifah membuatku hanya mengangguk sambil mengapit lengannya agar berjalan lebih cepat keluar dari Rumah Sakit.
Urusan kami telah selesai. Begitu pula konseling yang Alifah lakukan serta urusan di kedutaan besar Arab Saudi.
Kami pun kembali pulang ke kota PP.
.............
Waktu pernikahan kami semakin dekat. Tinggal satu minggu lagi tepatnya.
Urusan surat-surat dokumen pun sudah terurus lengkap. Termasuk MUA, katering dan lain sebagainya.
Di tempat kami ada sesepuh yang biasa mengurus acara kawinan. Mamak Siti Ropi'ah namanya. Orangnya lucu dan suka latah. Sehingga seringkali kami mendengar celotehannya yang ngasal membuat para warga yang turut sibuk membantu hari istimewaku dengan Alifah ikut riuh tertawa.
"Alhamdulillah, bujangnya Ayah Ibu sekarang sudah mau lepas lajang. Jodoh itu memang lucu ya? Disandingkan perempuan sana-sini, malah berakhirnya sama sepupu sendiri!" katanya membuat Aku dan Ibu tersenyum geli.
Mereka ga tau, kalo Alifah itu adalah mantan istri gue! Wkwkwk... Hiks.
"Sepupu jauh berarti bisa nikah ya, Mak!?"
"Bisa. Tak ada larangan juga selagi tak sedarah. Kalau Gatot sama Lifah itu bagaimana silsilahnya bu Salma?"
"Eh? Hmmm... Bapak saya sama Ibunya Ibu Alifah itu sepupuan!" jawab Ibu gugup. Aku yang mendengarnya di ruang tengah cuma bisa cengar-cengir sendirian.
"Oh, berarti sodara jauh itu. Jauh banget malah!"
"Iya." Jawab Ibu membuatku tertawa ngakak.
__ADS_1
Jauh, Bu! Jauh banget! Naek ojek juga masih jauh lagi, itu! Hehehe...
Dalam hidup seseorang, pasti ada satu dua kisah yang terpaksa dirahasiakan demi kestabilan negara. Betul apa betul?
Suka-suka kaulah, Tot!
Hehehe... Peace!
...........
Hari yang kutunggu pun tiba. Tanggal sebelas Januari. Hari bersejarah dalam hidup Aku dan Alifah.
Bukan sok-sokan ngikutin kang Arman Maulana sama teh Gita Gutawa ya! Salah, salaaah!!! Woooi salah! (Ralat : Arman Maulana sama Dewi Gita, ding) Please... Keep calm sodara-sodara!
Hujan turun sejak dini hari, tapi semangatku justru terpacu semakin berkobar.
Hiks... Hari bersejarah nih!
Lucu tapi nyata. Besanan cuma lima langkah. Mengalahkan lagu 'Pacarku Lima Langkah'.
Karena Alifah dan Arif anak yatim piatu yang tak punya keluarga serta sanak saudara lain selain kami, maka Ayah Ibu mengutus Keluarga Pak Kamil Sang Ketua RT yang mengurusnya.
Setidaknya, Alifah dan Arif tidak merasa sedih harus mengurus sendiri hari besar keluarga inti mereka.
Rumah kami berseberangan. Terkadang sesekali pak Kamil berteriak bergurau, "Besaan...! Sudah siap?"
"Siap, Besaaan! Kami meluncur dalam perjalanan!" jawab Ayah setengah berterisk sembari tertawa.
"Terkendala hujan ya?"
"Hahaha..."
Semua warga yang hadir tertawa riuh. Semua bergembira, semua bersuka cita.
Para muda-mudi juga turut andil meramaikan pernikahanku dengan Alifah atas prakarsa Arif yang didapuk jadi wakil ketua Karang Taruna di lingkungan kami.
Ini adalah momen paling bersejarah di kampung kami.
Kata mereka, arjunanya kampung Wisata berkurang satu. Dan aku dilabeli sebagai Arjuna Nomor Satu. Keren khan? Hehehe...
Pak penghulu desa telah datang lengkap dengan ajudan serta beberapa pamong praja yang akan mengawal jalannya ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Siti Alifah binti Almarhum Bapak Mukti dengan mas kawin perhiasan kalung emas murni 24 karat total seberat dua puluh delapan gram dibayar tunai!"
"Sah?"
"Saaah!!!"
"Alhamdulillah!"
Wajah Alifah memerah. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar tatkala jemarinya menggenggam tanganku dan diciumnya perlahan.
Kukecup pucuk dahinya. Penuh doa dan harapan. Semoga Tuhan memberikan kami keberkahan dalam rumah tangga ini. Sakinah, mawaddah, warrohmah. Itu harapanku dan Alifah.
Hujan gerimis tak menghalangi para tamu untuk datang menghadiri hari bahagia kami. Mereka datang silih berganti dan tamu yang datang berduyun-duyun memberikan ucapan selamat berbahagia. Suatu keberkahan pastinya buat kami.
Alhamdulillah.
__ADS_1
"Lif..."
"Hm?"
"Alhamdulillah ya?! Akhirnya... Hehehe..."
Alifah turut mengikutiku mengucap hamdalah.
Entah aku bingung buat memulai belah durennya.
Yang pasti malam penuh keberkahan yang terus-terusan di guyur hujan gerimis sampai pukul sembilan malam ini menjadi malam pertama kami sebagai pasangan suami istri.
"Hm... Kayaknya, ga etis deh kalo aku masih panggil kamu Gatot dan kamu panggil Aku Alifah. Panggilannya ganti apa ya?" tanya Alifah tiba-tiba sembari menatapku serius.
Iya juga ya? Aku langsung teringat Herlan dan Desi yang panggil Mumi-Pupi. Ayah Ibu juga panggilannya Ayah-Ibu. Lha kita? Khan belum punya anak juga. Panggilannya apa ya?
"Abang Adek?" ujarku diiringi tawa renyah Alifah.
"Masa' Abang Adek?!"
"Terus apa dong?"
"Inisiatif dong!"
"Hm... Belut Imut?!?"
"Kyaaa...!"
"Hahaha..."
Aku diserang Alifah jemari tangan Alifah yang indah berwarna lukisan inai.
Kutangkap jemarinya itu. Mendekapnya erat di dada ini. Dengan mata lekat menatap legam bola matanya yang indah.
Mata indah bola ping pong
Masih kah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungmu yang aduhai...
Hiks. Lagunya bang Iwan Fals tetiba terbersit di otak ini.
Kubelai hidungnya yang imut mungil dan mancung itu pelan sekali.
"Akhirnya... Allah menjadikanmu sebagai ISTRIKU LAGI wahai JANDAKU!"
Alifah tersipu.
"Sini, Istriku. Bolehkah aku membantumu membukakan asesoris yang menghiasi hijab kepalamu?"
"Boleh, Suamiku!"
Ciye ciyeee...ISTRIKU-SUAMIKU ni yeee!!! Misi pertama : membuka mahkota dan pernak-pernik aksesoris di kepala Alifah. Misi kedua : hm... Buka hijabnya dong ya?!? Terus? Misi ketiga? : TERSERAH ANDA. (Wkwkwk... Please para pembaca, lanjut ga nih adegan berikutnya?)
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1