
"Mana sih tunangan lo? Seganteng apa sih tu orang sampe bisa dapetin hati MUSUH BEBUYUTAN gue yang rese' ini?" ledekku setelah bisa meredam gejolak rasa dihati.
Alifah lagi-lagi hanya tersenyum.
Dia lalu mengambil handphonenya yang tergeletak di atas nakas.
Menscroll sebentar, lalu... (taraaa...)
Aku diam sesaat mengamati foto cowok di layar ponsel yang Alifah sodorkan.
"Ini cowok lo, Lif?"
Darahku berdesir. Jantungku melemah.
Tuhan! Cowoknya sekeren ini! Dan kayaknya, gue ngerasa familiar liat ni orang wara-wiri di ponsel gue deh!?!
"Selebgram!" gumamnya dengan suara terdengar sangat merdu.
"Wow, pantesan! Gue koq ngerasa kenal, gitu! Hehehe...! Tapi tampang-tampang badboy nih!"
"Ya. Tapi ga se-badboy elo, IMUT!"
Aih? Alifah panggil gue IMUT???
"Hahaha...dasar, BELUT! Makin licin dan lihai cari pacar rupanya!"
"Iya dong! Hahaha...! Ish, Bryan Hanggara itu anaknya boss Papa!" ujarnya membuatku teringat kembali pada Papa Mamanya.
"Oiya, gimana keadaan Papa Mama? Masih tinggal di perumahan Sweet Garden khan kalian?"
Alifah menatapku dengan pandangan misterius. Membuatku mengangkat bahu, tak faham pada tingkahnya.
"Mama udah meninggal dunia lima tahun lalu. Papa menikah lagi, lalu berhenti kerja. Sekarang jadi supir pribadinya Papinya Bryan!"
Aku menelan saliva. Menatapnya balik tanpa berkedip.
"Mama... udah meninggal?" ucapku tak percaya.
Alifah menunduk. Ia menyibak rambutnya yang panjang terurai. Seketika harum aroma shampo yang ia pakai membuatku menyedot kenikmatan wanginya dengan mata terpejam.
"Kita udah pindah rumah, Tot!"
"Arif sekarang gimana? Kelas berapa sekarang adikmu itu?"
__ADS_1
"Arif tinggal di kota S. Dia di pesantren sekarang! Itu permintaannya! Sehingga dia gak tinggal sama Mama tiri!"
Aku merangkul bahunya. Alifah nampak tegar. Bahkan tiada air mata setetes pun jatuh di pipi.
Tanganku justru yang dingin dan basah. Kaget dengan cerita kisah hidupnya kini.
Dan justru aku yang diam tak bisa berkata-kata.
"Udah ah, cerita sedihnya! Hehehe...! Kisah lo gimana? Cerita dong! Terus keadaan Ayah Ibu gimana? Kalian pindah kemana?"
Aku tahu, pertanyaannya yang banyak adalah suatu pengalihan agar hatinya yang sedih segera kembali ceria.
"Kita tinggal di kota PP! Mau telepon Ibu gak? Bentar, bentar...! Aku VC Ibu deh!"
Aku mencoba Video Call Ibuku di kota PP.
Wajah Ibu terlihat lelah dan bersiap pergi tidur sepertinya.
"Ibu...! Ibu lihat, Bu! Siapa gadis cantik yang ada di sebelahku ini? Tebak, Bu!"
...[Hallo? Gatot? Siapa itu? Cantiknya! Pacarmu, Nak? Alhamdulillah... akhirnya putraku mengenalkan kekasihnya sama kita, Yah!]...
"Haish! Ibu lihat dulu nih!"
"Hallo, Assalamualaikum! Ibu! Ibuuu, ini Alifah, Bu! Ibu Ayah apa kabar semuanya?"
Aku tersenyum tipis. Seperti biasa, ibuku selalu berlinang airmata jika mengingat masa-masa keributan keluarga kita.
"Iya Ibu! Alhamdulillah, Alifah senang lihat Ibu sama Ayah sehat-sehat! Ibu, mohon doanya ya... moga Alifah bisa jadi lulus dan bidan akhir tahun ini!"
...[Aamiin, aamiin ya Allah! Alifah lagi kuliah Perbidanan ya? Salam ya sama Mama sama Papa!]...
"Hehehe iya! InshaaAllah nanti salamnya Alifah sampaikan ke Papa. Mama udah ga ada, Bu! Mama Lifah udah meninggal dunia!"
Luluh lantah air mata Ibu terlihat. Bahkan kini kekuatan yang Alifah bangun dihadapanku pun ambruk seketika.
Alifah dan Ibuku menangis.
Aku, hanya bisa jadi orang ketiga yang kebingungan dan serba salah menanggapi kesedihan ini.
"Bu! Ibu! Udah dulu ya! Nanti kapan-kapan disambung lagi VC nya!"
Aku hanya bisa menatap wajah Alifah yang kini basah, banjir airmata.
Kudekati dia. Kuusap lembut bulir-bulir air mata di pipinya. Tanpa ucapan kata terangkai. Hanya tatapan mata dari hati, dan berharap Alifah mengerti.
__ADS_1
Kaget aku, Alifah memelukku erat.
Tangisnya pecah dibahuku.
Lama, dan lirih. Terdengar begitu menyayat hati.
Aku hanya diam membiarkannya larut dalam kesedihan dan tenggelam dalam linangan. Berharap setelah itu, hatinya akan lebih lega. Dan jiwanya kembali kuat menjalani hari-hari kedepannya.
Jemariku mengusap lembut bahunya pelan.
Lamat-lamat suara tangisannya perlahan berhenti. Namun aku masih terus mengelus bahunya dengan kekuatan batinku. Berharap Alifah tenang dan kembali bahagia.
"Tidurlah... Selamat malam..Lupakan sajalah, aku. Mimpilah, dalam tidurmu. Bersama bintang..."
Aku bersenandung pelan. Menyanyikan lagu Anji Drive yang judulnya "Bersama Bintang".
Menina-bobokannya dipangkuanku. Dan Alifah menurut. Menggelosorkan kepalanya di atas pahaku. Dengan tubuh menyamping sehingga aku dengan mudahnya memperhatikan bulu matanya yang panjang lentik karena matanya terpejam indah.
Sesungguhnya aku tak bisa
Jalani hidup tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka
Tidurlah... Selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah... dalam tidurmu
Bersama bintang
Hujan di luar perlahan berhenti. Menyisakan keheningan malam yang terusik suara-suara jangkrik yang mengerik.
Malam ini, aku tidur seranjang lagi bersama JANDAKU. Tanganku terus menyelusur. Mengusap lembut anak rambutnya yang tumbuh cantik di atas keningnya.
Agak susah, tapi aku berusaha memberinya kecupan. Bibirku berkata pelan, berharap semoga Alifah dengar.
"Selamat malam Sayangku! Mimpi indahlah, besok pagi bangun dengan segar dan kembali ceria!"
Merona wajahku. Antara malu tapi sangat bahagia.
Tuhan! Andai kuboleh meminta, aku hanya minta...jadikanlah Alifah jodohku lagi! Aamiin...
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...