
"Lif!"
Aku memanggil singkat potongan namanya.
Hari ini hari minggu pukul 7 pagi.
Kami janji ketemuan di depan halte busway Harmoni, karena Alifah menginap di rumah Papanya yang tak jauh dari halte. Kami siap meluncur ke kediaman Marwan di daerah Kampung Rambutan, untuk menjadi pengiring hari bahagianya pukul sembilan nanti.
Motorku telah mendapat penumpang cantik. Walau belum memakai make up untuk kondangan, Alifah tetap terlihat mempesona lengkap dengan senyum yang menawan.
Kami harus berkumpul dahulu di kostan Marwan bersama teman yang lain sebelum berangkat menuju kediaman mempelai wanita.
Hiks, Tuhan! Ngeliat Marwan yang wajahnya B aja tapi jodohnya cantik dan berhasil disuntingnya membuat gue sangat mengiri.
Kapan ya, hari bahagia itu ada buat gue? Hiks... Mengsedih, mengingat Ayah Ibu yang sepertinya mendamba hari bahagia itu tiba. Mereka ingin cepet punya cucu, pastinya. Pingin punya keturunan yang banyak. Gue pernah denger obrolan Ayah Ibu beberapa waktu lalu. Apalagi kini umur gue udah cukup untuk menikah. Pekerjaan pun menurut mereka sudah cukup lumayan dengan gaji lima juta berikut lemburan untuk menghidupi anak orang. Hhh...
Sesekali mataku melirik Alifah yang kini telah berganti kostum.
Rencana awal pengantin memakai seragam SMA, ternyata pihak keluarga Marwan kurang suka. Akhirnya kami mengikuti keinginan keluarga. Kami memakai pakaian seragam ala pagar ayu dan pagar bagus.
"Lif! Boleh foto berdua ga?"
"Hahaha..., sok sopan amat si lo, Tot!? Sini, gue fotoin kalian berdua! Kapan lagi lo bisa ada kesempatan foto bareng JANDA lo!" seloroh Raden, membuat wajahku juga Alifah memerah seketika.
Rasanya, ini bakalan jadi foto terakhir dan kebersamaan yang terakhir. Feelling gue gitu! Hhh...
Aku berdiri berdekatan dengan Alifah, tapi hati ini kini seperti berjarak. Seolah ada tembok tebal yang menghalangi kami.
Baik aku maupun Alifah kini terlihat canggung. Kami sama-sama menyadari kalau kedekatan ini mengandung resiko yang cukup besar nantinya.
Hiks... Tuhan! Gue ngerasa hidup ini makin berat cobaannya. Satu sisi, gue selalu pengen deket si Belut. Di sisi lain, gue juga ga rela terus-terusan ngerendahin harga diri gue sendiri demi cinta. Jujur gue bingung sama diri sendiri!
Pernikahan Marwan melambungkan anganku tentang masa depan. Terlebih ketika teman sekelasku itu mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan nafas, lalu pak penghulu dan para saksi mengatakan sah. Rasanya..., seolah aku yang menjadi pasangan yang berbahagia itu. Hiks...
Andai saja Alifah belum punya pasangan, ingin rasanya kutembak lagi dirinya di depan teman-teman semasa SMA.
Sayang seribu sayang, semua kini hanya tinggal kenangan.
Acara demi acara berjalan lancar. Membuat kami para pengisi acara pun ikut senang karena salah satu teman kini telah resmi menyandang status sebagai suami.
Kalo gue kapan?
Meneketehe...
May.
Maybe next month maybe next year...
Aamiin (Please, aminin keras-keras)
Ah, kebanyakan ngehalu lo ah, Tot!
Apalagi nyaris semua teman mencoba kembali menjodoh-jodohkan aku dan Alifah. Hingga wajah ini bersemu merah merona karena malu.
Tiba-tiba, suasana diluar tenda pelaminan yang memang digelar di teras rumah terdengar ramai.
__ADS_1
Suara riuh tepukan dan jeritan kecil para cewek muda terdengar jelas sampai pelaminan yang dipenuhi kami, teman seangkatan sang mempelai pria.
"Ada Bryan Anggara diluar!!!"
Semua orang menoleh ke luar.
Deg.
Orang ganteng itu dimana-mana selalu jadi pusat perhatian. Tapi, gue juga salah satu orang ganteng! Kata Ibu gue! Cuma, kelas kelayakan sama tingkatan kastanya aja yang beda. Si Bryan anak pengusaha, gue...anak karyawan biasa! Dia selebgram, orang kaya, orang terkenal. Nah gue, orang biasa, juga standar aja. Satu lagi perbedaan kita, sama-sama beda keberuntungan. Itu doang sih kayaknya mah!
Mataku hanya bisa menatap pada Alifah yang tersenyum manis tatkala netranya bertumpu pada pandangan tunangannya. Mereka saling mendekat, membuat hampir semua teman bersorak. Kecuali aku.
"Perkenalkan, saya tunangannya Alifah!" katanya dengan sopan. Semakin membuat semua orang yang ada disitu terpukau dengan keramah tamahan serta senyumnya yang memukau.
Anjirrr! Calon pemain sinetron nih! Bisaan lo aktingnya, boy!
Aku hanya bisa menelan saliva.
Mereka berdua sangat serasi. Bahkan Marwan menobatkan keduanya, tamu istimewa tercouple.
Haish! Begitulah teman selewat doang tuh! Tadi manis-manis sama gue, bilang siapa tau jodoh sama Alifah. Sekarang di depan Bryan juga bilang pasangan ter-couple di pesta pernikahannya. Kan Anj*ng, temen ngeh* kayak gitu!
Aku perlahan mundur. Melipir sedikit menjauh, pura-pura mengambil camilan siomay padahal baru saja habis satu porsi.
Kecewa? Sudah pasti.
Sedih? Jangan ditanya.
Menderita? Ya, ogah gue!
Suara Alifah membuat telingaku sedikit gatal dan menoleh padanya. Rupanya dia tak melupakanku begitu saja. Dia mendatangiku. Mengenalkanku pada tunangannya itu.
"Ini saudaraku, Bry! Namanya Gatot!" katanya. Aku berdiri tegak. Menerima uluran tangan Bryan yang tersenyum mengangguk padaku.
"Sepertinya kita pernah ketemu ya?" katanya dengan senyuman.
"Ya, beberapa kali!" jawabku, juga tersenyum tak mau kalah.
Ini orang gue kira pura-pura gak kenal gue!Ternyata, sok imut juga. Padahal asli sifatnya itu amit-amit!
Sedih, tapi aku pura-pura kuat.
Alifah pergi bersama tunangannya setelah berpamitan pada Marwan dan istri. Juga pada kami, teman-teman sekolahnya.
Raden mendekatiku.
Tangannya menepuk-nepuk pundakku. Hanya tindakan tanpa suara. Tapi aku lebih nyaman seperti ini, daripada ada tambahan kata yang lebay membuatku muak. Seperti Marwan, yang mengucapkan kata, "Yang sabar ya, Tot!" ketika aku pamit pulang setengah jam kemudian.
Ck! Pantes dulu gue kaga bisa deket pas jaman sekolah. Ya gitu deh, sifat si Marwan! Dan gue makin mengerti karakter dari banyak orang.
Motorku berjalan alon. Menyesuaikan kondisi perasaanku yang menggalau. Seolah melayang, mengingat kami yang tadi datang barengan dengan berboncengan. Lalu kedua tangannya memeluk erat pinggangku walaupun tubuh kami tidak sampai merapat.
Ck...
Ke gurun engkau ikut
__ADS_1
Ke kutub engkau turut
Bersama sehidup semati
Demikian kau ucapkan janji
Menangis kita berdua
Tertawa bersama
^^^Tapi kini apa yang terjadi^^^
^^^Segalanya kau tak perduli lagi^^^
^^^Dan yang lebih menghancurkan kalbu^^^
^^^Kau bercumbu didepanku^^^
Ya Tuhan tunjukkanlah
Dosa dan salahku
Mudahnya dia buat janji
Semudah dia ingkari janji
Alangkah kejamnya cinta
Alangkah pedihnya
Lirik lagu jadul yang dinyanyikan ulang Rossa membuatku merasa sangat pas dihati ini.
Tapi, tak ada yang salah juga dengan perbuatan Alifah padaku. Toh dia tidak membalas cintaku yang menggebu-gebu.
Alifah bahkan cenderung selalu mengingatkanku.
Bahkan terdengar tadi kalimatnya pada Bryan Anggara tatkala mengenalkan diriku padanya. Aku sudah dianggap saudara olehnya. Bukan teman, bukan pula sahabat. Melainkan saudara. Sama seperti Papanya yang juga pernah mengenalkanku pada Bryan.
Hhh...
Berarti, disini yang salah adalah Aku.
Disini Akulah tersangka utamanya.
Aku baperan.
Gede Rasa dan menyangka Alifah masih cinta. Padahal...
Ck ck ck, kesiaan deh lo!
Dandananku yang keren abis, lengkap dengan celana serta sepatu baru yang kudapat dari berburu di mall waktu itu tak membuatku bersinar indah memukau hati Alifah.
Tidak.
Karena Bryan Anggara jauh lebih segalanya.
Hm...!
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...