
Pernikahan itu ibarat perlayaran di tengah lautan. Di awal berangkat selalu antusias. Diiringi doa-doa ucapan hangat dari keluarga dan sanak saudara.
Kapal jalan berlayar, dengan bendera rumah tangga berkibar gagah membentang.
Perlahan angin sepoy menyejukkan datang, senyum manis dan tawa hangat menguatkan kapten yang ditemani nahkoda luar biasa.
Kapal kian berjalan. Sesekali melambat, sesekali melesat. Ada waktunya berhenti. Menaikkan dahulu jaring yang mulai penuh terisi. Kemudian kapten dan nahkoda kembali berlayar, menyebrangi samudera luas yang mentang dihadapan.
Angin malam, dingin, sunyi senyap. Terkadang kapten dan nahkoda tak saling bicara. Terhanyut oleh kesibukan sendiri-sendiri.
Angin besar datang, Kapten dan nahkoda kembali rapatkan kekuatan. Harus saling kerja sama, bekerja gotong royong menjaga kapal jangan sampai oleng.
Begitulah ibarat rumah tangga.
Aku dan Alifah, kini ada difase sibuk dengan dunia sendiri-sendiri.
Pernikahan kami kini sudah masuk bulan keenam. Kadang sangat mesra dan hangat. Tak jarang pula dingin dan saling mendiamkan satu sama lain.
Walaupun begitu, kami tetap terfokus satu sama lain. Tetap saling mencinta dan sedang berusaha menerima keadaan masing-masing.
Kami hanya kaget. Terkejut dengan semua yang terpampang nyata di depan mata.
Kami rasa semua pasangan akan mengalami hal yang sama diawal pernikahan.
Ketika masa penjajakan atau saat masih pacaran, semua yang nampak indah semua.
Pasangan yang luar biasa, manis, baik dan begitu sempurna. Tapi setelah menikah, terlihat semua bahkan keburukan-keburukannya.
Si jorok, si pemalas, si pendengkur, si tukang kentut, si pelupa, si bawel, si rese', si over,... Semua jadi julukan untuk pasangan saking terkejutnya.
Padahal sebutan itu bisa jadi batu sandungan yang menjadi pemikiran jelek dan merasa kalau pasangan tak bisa menerima kita apa adanya. Begitulah diriku kini.
Alifah, sebenarnya baik. Dia juga manis dan istri yang tak banyak menuntut apa-apa. Cuma, terkadang kenapa setelah menikah perempuan cenderung lebih bawel dan beneran emak-emak banget.
Aku, lelaki yang cuek. Yang tak punya planning macam-macam kecuali masalah keuangan rumah tangga.
Untuk hal-hal yang kuanggap kecil, justru dipandang Alifah seolah aku menyepelekan suatu urusan. Mumet ndas!
Seperti hari ini. Dia ngambek lagi karena aku lupa belanja bulanan di supermarket dekat kantor yang memang sudah menjadi tugasku setiap tanggal satu.
Aku lupa. Beneran lupa dan Alifah juga tak mengirimi pesan sebelumnya.
Dia manyun mendapatiku pulang tanpa bawa jinjingan. Bahkan menyindir kita tak perlu makan malam karena tak ada bahan yang bisa dimasak. Kulkas kosong melompong. Bahkan sebutir telur pun tak ada. Ck.
Oiya, jangan dulu menghujat istriku. Ini kesepakatan kami. Dan belanja bulanan memang tugasku karena Alifah kini sudah membuka klinik bersalin di rumah sendiri.
Berhubung tempat kami masih wilayah kabupaten, otomatis bidan jadi andalan para warga berobat jika sedang sakit. Jadi, pasien istriku lumayan banyak setiap hari bahkam setiap jamnya. Dan tidak melulu mengurus ibu hamil, menyusui serta yang mau suntik KB serta melahirkan.
Arif sendiri sudah pindah ke rumah yang kubeli setahun lalu itu.
"Ya udah, bentar aku ke rumah Ibu dulu. Minta telor dua butir!"
__ADS_1
"Ish, jangan! Kamu mah bikin malu aku namanya itu! Jangan suka laporan sama Ibu kalo kita ga punya apa-apa di rumah!"
"Bukan laporan, Yang! Cuma pinjam telur dua, ga akan jadi masalah. Nanti aku beliin sekilo kalo pulang kerja lewat agen warung Mas Sugeng!" kataku mencoba memberi pengertian.
"Jangan. Malu aku, Yang!" tukas Alifah merengek.
Ya sudah, mau tak mau aku pun mengalah. Kembali keluar rumah untuk pergi ke agen warung yang letaknya sekitar satu kilometer.
"Hehehe..." Alifah tertawa kecil sambil memelukku sebentar. Dia sedang menunggui seorang pasien yang akan melahirkan. Katanya sih baru pembukaan lima.
Aku mengeluarkan motor NMax kesayanganku. Menyalakan mesinnya dan berjalan menyusuri aspal desa menuju pasar raya.
Berbelanja sudah jadi kebiasaanku. Mulai dari sayuran segar, daging sampai ikan basah dan bumbu-bumbu. Kemudian menitipkan belanjaan ke tempat penitipan barang karena aku masuk ke supermarket membeli kebutuhan pokok lainnya seperti sabun, pasta gigi, sabun cuci dan lain sebagainya.
Enam bulan berumah tangga, cukup memberiku banyak ilmu perihal sembilan bahan pokok.
Beras, minyak sayur, telur, gula pasir, tepung terigu juga teh dan kopi, biasanya Alifah pesan via online di agen warung. Tetapi untuk persabunan dan yang lebih spesifik seperti pembalut, aku suka membelinya di supermarket disatukan dengan belanjaan kebutuhanku seperti pomade, sabun cukur dan alat cukur, shampo juga parfum serta sabun pencuci muka.
"Suamiku terbaik di seluruh dunia!"
Alifah selalu memujiku setiap kali Aku pulang belanja. Hiks.
Dia menghujaniku dengan ciuman mesra bertubi-tubi hingga hilang rasa mangkelku yang sebenarnya malu belanja bulanan seperti perempuan saja.
Aku selalu ingat obrolan santai dengan para suami yang lebih senior seperti Herlan, Tomi dan Ikram.
Kata mereka, untuk kenyamanan dan keamanan berumah tangga, ikutilah selalu perintah serta permintaan istrimu. Begitu mereka kata. Setelah cukup lama, kamu akan terbiasa dan istrimu juga pastinya akan lebih sayang serta memanjakanmu dalam hal lain. Kalau pun ada yang membuatmu mangkel, jangan melawan. Tapi ikuti saja alurnya.
Benar saja. Ketika aku sudah melakukan hal-hal yang disenangi istri, maka imbalan kebaikan Alifah sampai bertubi-tubi.
Setelah tugasnya sebagai bidan selesai, dan Alifah sudah menyelamatkan kelahiran insan baru ke dunia, malamnya istriku memasak makanan istimewa. Memanjakanku dengan rendaman air hangat untuk massage kakiku. Bahkan ia juga memijatnya dengan membalur minyak khusus yang harumnya menenangkan.
"Waah... Makasih banyak, Istriku!"
Tentu saja aku senang. Bahkan aku sudah membayangkan kalau setelah ini pasti Alifah akan memberiku hadiah istimewa yang lain lagi.
"Hm... Kayaknya, ntar malem kita naik ring, nih Yang!" godaku memberi kode.
Alifah tersipu malu. Dia masih fokus pada kedua kakiku. Melap dan sesekali memijat. Hingga tiba-tiba...
"Hoek! Hoek! Hooeekk!!!"
Alifah menutup mulut dan hidungnya.
Ia terlihat pucat pias sembari bangkit dari duduknya di lantai, lantas setengah berlari ke kamar mandi.
"Hoek... Hoek!"
Samar suaranya seperti mau muntah terdengar kembali membuatku cemas.
"Yang! Yang!!!"
__ADS_1
Kupijat pelan tengkuknya. Melumurinya dengan minyak kayu putih supaya jauh lebih lega dadanya.
"Masuk angin ya? Kemarin sibuk jaga pasien yang mau lahiran. Kamu pasti lupa makan teratur. Ya khan?" ucapku lembut pada Alifah.
"Kemungkinan gitu deh, Yang!"
"Hm...! Ya udah, istirahat dulu. Rebahan dulu, deh!"
"Aku..., mmm... Aku tidur duluan deh ya, Yang?" ujar Alifah setelah minum segelas air hangat yang kuberikan.
"Iya, Yang! Yuk, aku juga udah ngantuk!"
"Maaf ya, aku ga bisa kasih hadiah yang lain dulu. Perutku agak ga enak!" tutur Alifah membuatku segera merangkul dan menuntunnya naik ke atas ranjang.
Cup.
"Selamat tidur, Istriku Sayang! Istirahatlah biar besok bangun lebih segar!"
"Terima kasih, Yang!"
"Jangan dulu fikirin pasien, biar Mbak Santi yang urus mereka sampai pulang! Kesehatan kamu juga penting!" tukasku dijawab anggukan Alifah. Mbak Santi adalah asisten Alifah yang seorang lulusan D3 Keperawatan. Mereka awal kenal ketika Alifah melanjutkan kuliah Kebidanannya di RSUD beberapa bulan lalu.
.............
"Gatooot, itu ada burung bagus banget!" teriak Ibu membuatku ikut menoleh.
Wah, burung yang indah. Bulu-bulunya berwarna hitam legam, tetapi surainya seperti jambul berwarna hijau tosca. Bagus sekali.
"Tangkap, Tot!" kata Ayah yang ikut terpukau pada burung hutan yang bertubuh mungil itu.
Aku berhasil menangkapnya. Ayah dan Ibu bersorak senang.
"Bagus banget!" pekik Ibu terpesona pada burung yang kini ada digenggamanku. Aku tersenyum bangga.
"Yang! Yang!!! Subuh, Yang!"
Samar-samar kudengar suara lembut Alifah memanggilku.
Ternyata bibirnya ada di ujung telingaku.
"Yang?!" jawabku dengan suara parau.
"Bangun, adzan Subuh!"
"Hah? Yang burungku mana?"
"Burung? Burung apaan? Ish, masih dikurung koq itu. Aman! Hihihi..."
Yassalam... Cuma mimpi! Jiah, subuh-subuh malah dapet ledekan Alifah! Hiks.
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1