
"Saya bersedia, Boss!"
"Bagus! Itu baru namanya pemuda gagah harapan bangsa!"
Aku hanya bisa mengulum senyum.
Semalam merenung sendirian tanpa chattan Alifah tersayang.
Telah kubulatkan tekad, aku harus kerja keras. Bekerja dengan benar. Menabung untuk masa depan.
Secara umurku sudah 25 tahun. Alifah pun beberapa bulan lebih muda dariku.Tapi pemikiran kami bukan lagi hanya sekedar cinta-cintaan. Harus berfikir jauh ke depan. Apalagi posisi dan statusku, hanya bayangan si Bryan saja dimata Alifah.
Aku tidak menyalahkannya.
Aku tidak membenci Alifah.
Karena aku sendirilah yang meminta masuk dalam lingkaran hubungan penuh misteri ini.
Justru aku tidak boleh egois. Menanyakan status dan keberadaanku pada JANDAKU itu, pasti justru malah membuat Alifah bertambah kecewa.
Tujuanku adalah jadi tempat curahan hati terakhirnya. Bukan untuk membuat Alifah semakin menderita. Bukan itu!
Aku mencintainya. Tulus, murni tanpa syarat.
Aku menginginkannya. Sangat, teramat sangat. Tapi lebih menginginkan dirinya yang bahagia.
Jika bersama Bryan adalah kebahagiaan nyata untuknya, aku rela.
Tapi jika dia tidak bahagia, aku akan menerimanya dan berusaha membahagiakannya. Itu tujuanku.
Dulu hidupku pernah satu kali menghancurkan hidupnya. Bukan karena aku jahat dan kejam. Tapi keadaan yang membuatku jadi terlihat seperti itu.
Seiring usiaku dewasa, aku masih berfikir terus tentang dia. Alifah dan hanya Alifah saja. Hingga pertemuan yang tak kusangka, menjadi awal kebahagiaanku juga.
Pahit, manis, perih, sedih, kecewa...kutelan bulat-bulat. Demi untuk bisa bersama Alifah.
Dia sudah bertunangan. Sebentar lagi akan menikah. Dan akulah biang keladi yang tiba-tiba muncul mengusik kebahagiaannya. Jadi,... Aku tak berhak untuk menagih tanggung jawabnya pada kehancuran hati ini yang benar-benar fatal.
__ADS_1
Kutelepon Ayah dan Ibuku. Mengabarinya kalau aku kini pindah domisili. Lalu mengirimi mereka foto terakhirku sedang bergaya di dalam kamar apartemenku yang nyaman.
Untuk lebih menenteramkan hati kedua orangtuaku, kami VC an.
Kumohonkan doa mereka berdua untuk kesuksesanku dimasa kini dan masa mendatang.
Ibu senang sampai meneteskan air mata. Yang lebih membuatku bahagia, Ayah mengangguk tersenyum sembari merangkul mesra istrinya. (Istrinya itu, nyokap lo, Dodol)
Ayah..., bahagiakanlah terus Ibu! Tetaplah disampingnya meskipun usia kalian kini telah menjelang senja. Ayah..., doakanlah anakmu ini menjadi pria yang kurang lebih sama sepertimu. Menjadi lelaki gagah perkasa yang punya tanggung jawab tinggi pada anak dan istrinya nanti. Aku ingin seperti dirimu, Ayah!
...........
Hari ini, aku pindah kostan. Pindah kantor. Melipir semakin ke utara wilayah ibukota.
Beberapa teman turut mengantarku dan berjanji akan datang lagi lain waktu. Termasuk Rindu Aji, cowok pengelola tempat kostku yang terdahulu. Ia mengeluh sedikit, agak kebingungan bagaimana nanti pergi dugem sendirian.
Satu persatu dari teman-temanku pamit pulang karena besok harus kerja. Meninggalkanku sendiri dalam kesepian. Mereka berjanji akan datang malam minggu nanti, numpang menginap, penasaran ingin merasakan tidur di apartemen.
Aku menghela nafas, duduk di ruang kamar sendirian.
Hawa yang berbeda, sedikit membuatku agak tersiksa juga.
Beruntung aku mendapatkan kamar apartemen di lantai sepuluh. Jadi hawa jendela ketika kubuka jauh lebih lega dihirupnya.
Apartemen dua bed room, konon kabarnya sewa perbulan 2 juta bersih berikut uang sampah, keamanan dan lain-lain dan sebagainya. Untungnya semua dihandle Boss-ku. Hm..., aman!
Agak girang juga, karena merasa naik kelas. Pencapaian karierku menanjak.
Tapi ternyata, espektasi tak seindah realita.
Hiks. Kerjaanku berat dan banyak.
Mengurus gudang perusahaan, melayani freight forwader, bongkar muat barang, juga mengawasi peralatan berat penunjang fasilitas perusahaan.
Ini mah beneran kerja berat banting tulang, cuy! Hiks... Gini amat yak jadi kuli!
__ADS_1
Tugasku benar-benar berat. Waktuku berleha-leha, nyaris tak ada. Bahkan hari libur pun kadang ada kerjaan juga. Hadeuh!
Kuy lah buat para emak yang punya anak perawan berkualitas, pilihlah Gatot sebagai calon mantu. Gatot pekerja keras, pantang pulang sebelum kaya. Wkwkwk... Semprul!!!
Mau bagaimana lagi, terima nasib sajalah.
Tiga hari, Aku dan Alifah tak saling menghubungi.
Sepertinya dia pun sama sepertiku. Sedang berusaha menahan diri untuk tidak menchat duluan.
Entah memang karena kesibukan, atau memang gengsian. Yang pasti kami sama-sama bertahan dengan keadaan.
Jujur hatiku merindu candaannya. Ocehannya, omelannya. Semua begitu terngiang-ngiang di telinga.
Japriannya yang ngasal. Kicauannya yang sompral. Ah..., setiap kusebut namanya di hati ini, seketika mrebes mili. Kagak nangis gue!!! Itu di warteg mas Koming hanyalah kejadian luar biasa yang baru sekali saja dalam hidup gue! Gegara lagu yang diputarnya lagu melow yang pas banget, ngena' di jiwa. Ya bikin gue gelindingan nangis kejer! Hiks.
Buat apa tinggal gaya di apartemen kalau aku tidak memanfaatkan fasilitasnya.
Gaya dikit biar ada kesan mirip orang kaya, boleh dong! Asalkan gak pake tipu-tipu Nona Belanda anak Tuan Tanah Kaya Raya! Ahhey...
Sekarang aku belajar memanag waktu.
Alarm hape dan jam bekker kupasang pukul 04.30 WIB. Sengaja untuk membangunkan tidurku tepat menjelang azan Subuh.
Tertulis di jadwal dengan rapi. Bangun. Sholat Subuh, jogging lari pagi minimal 15 menit setelah pemanasan.
Mandi, sarapan, berangkat kerja.
Pulang kerja pukul enam teng, mandi, maghriban, go to gym. Atau kalau engga', renang di kolam yang tersedia di lantai dasar apartemen.
Sok-sokan pake jadwal, ternyata pas waktunya... Semua amburadul. Kocar-kacir karena alarm hape dan jam bekker sampai bisa tak terdengar setelah minum dua tablet obat herbal LELAP demi mengobati insomniaku beberapa hari ini tanpa chattan Alifah.
Aku berlari mengejar waktu. Mendorong motorku dari garasi khusus kendaraan roda dua di lantai dasar basement.
Jangan sampai terlambat kerja di hari pertama. Itu sangatlah memalukan. Seperti masa awal masuk SMA bersama Siti Alifah.
__ADS_1
Hhh... Lagi-lagi gue ingat si Lifah!
...❤BERSAMBUNG❤...