MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
MBTM (Keributan Part 4)


__ADS_3

"Mana Alifah?"


Aku hanya bisa menunduk. Pura-pura sibuk membuka tali sepatu.


Puk


"Ditanya pura-pura budeg!"


Seperti biasa, Ibuku memukul pahaku dengan baju yang sedang dilipatnya.


"Mau pulang dulu katanya!"


"Pulang? Ke rumahnya? Lha khan sekarang jatahnya tinggal di sini?"


Pertanyaan Ibu yang bertubi-tubi membuatku makin diam membisu. Bingung mau jawab apa.


"Lagi ga enak perut katanya, Buuu!" jawabku setelah cukup lama berfikir keras.


"Apa..., lagi PMS mungkin ya?! Eh, Ibu mau tanya. Jawab yang jujur! Kalian sudah berbuat apa saja?"


"Berbuat apaan si Bu? Hadeuh! Pertanyaan emak-emak banget sih? Nyinyir, kepo dan usilan!"


"Gatot!!! Ibu nanya serius! Berapa lama hubungan kalian? Dan apa saja yang sudah,"


"Stop Ibu! Ibu itu sedang menuduh Gatot yang bukan-bukan! Ibu gak percaya sama anak sendiri? Ibu fikir selama ini Gatot bohongin Ibu dan bilang kalo Gatot sama Alifah itu ga ada hubungan apa-apa? Ibu juga nyangka Alifah juga bohong? Ibu lebih percaya orang-orang itu yang katanya lihat Gatot sama Alifah berbuat mesum?"


Aku marah besar.


Ibuku sendiri sampai tidak percaya kalau aku ini belum pernah berbuat yang menyimpang apalagi yang dilarang agama, baik itu dengan si Alifah ataupun dengan cewek lain.


Bagaimana bisa ibuku menanyaiku perihal kegiatan apa saja yang sudah kami lakukan.


Betul memang, kami sudah menikah dan kini tinggal satu kamar. Iya juga, kami memang tidur satu ranjang.


Tetapi bukan berarti Ibu bisa menuduhku kalau kami sudah melakukan sesuatu juga.


Aku tahu batasan-batasannya.


Sungguh, Bu!


Hhh...

__ADS_1


Ibuku kini terdiam mendengar ocehanku yang panjang kali lebar penuh amarah sampai tak sadar berkata kasar.


"Apa..., kamu bilang sama Alifah kalau mau cerai?"


Ibu membuatku speechless.


Tetapi pertanyaanku mengingatkan pada keinginanku mengakhiri pernikahan ini beberapa hari lalu.


Apakah jiwa mudaku masih begitu labil? Kadang keinginan pisah ini sangat menggebu-gebu. Namun sesaat kemudian aku juga ingin sekali bertahan melanjutkan pernikahan yang kalau dipikir-pikir seperti mainan ini.


Entah.


Yang pasti kini hati ini bingung dan kadang selalu memikirkan si belut buntelan kentut. Apalagi disaat dia jauh seperti sekarang ini.


"Ish, ditanya malah bengong!" semprot Ibu membuatku kembali tersadar.


"Gatot belum bilang mau cerai, Bu!" jawabku pelan.


"Gatot! Pernikahan itu bukan untuk mainan. Menikah, lalu putuskan pisah. Tidak bisa semudah itu. Apalagi kalian bahkan belum sebulan jadi suami istri. Dengar! Ibu Ayah menasehati kalian untuk belajar dewasa. Meredam semua keegoisan supaya tidak ada penyesalan diantara kalian. Tetapi untuk saat ini, tolong fokuslah pada sekolah dulu. Begitu maksud Ibu! Tetapi bukan mendukung kalian mengambil keputusan cerai semudah itu!"


"Iya Bu, iya!"


"Kita ini masih bertetangga. Hanya beda RT saja. Dan kalau terjadi sesuatu pada kalian, gosip-gosip bakalan makin melebar dan imbasnya itu adalah masa depan kalian! Walaupun kalian menikah siri dan belum tercatat resmi di KUA, tetapi orang-orang sekitar kita mengetahui semuanya. Jangan sampai kita jadi bahan ghibahan para tetangga, Nak! Ngerti khan maksud Ibu?"


Aku mengerti arah pembicaraan Ibu. Dan aku faham serta menyetujui ucapan beliau.


Betul, harga diri dan masa depan kita semua benar-benar dipertaruhkan.


Aku yang melakukan kesalahan karena kecerobohan dan sembrono melakukan tindakan, tetapi Ayah Ibu juga tercoreng wajahnya menjadi aib yang berkepanjangan.


Iya juga sih!


Hhh...


.............


Malam ini, tidur sendiri. Tapi koq rasanya aneh ya!? Seperti ada yang ganjal. Ada yang hilang, tapi gak ngerti apa itu.


Kumpul-kumpul bareng anak-anak pun rasanya hambar. Seperti kurang semangat. Entahlah!


Petikan gitar Bang Joe yang biasanya bisa buat kubertahan menyanyi sampai dini hari pun seperti kurang powel full.

__ADS_1


Tapi ada satu lagu yang akhirnya bisa kulantunkan penuh penjiwaan dari petikan gitar di lapak tongkrongan bang Joe, ketua pemuda di lingkunganku.


Lagunya Republik. Entah kenapa syairnya justru membuatku tiba-tiba kangen Alifah.


Kutelah miliki


Rasa indahnya perihku


Rasa hancurnya harapku


Kau lepas cintamu


Rasakan abadi


Sekalipun kau mengerti


Sekalipun kau fahami


Kupikir kusalah mengertimu


Ho wo aku... hanya ingin kau tahu


Besarnya cintaku


Tingginya khayalku bersamamu


Tuk lalui waktu yang tersisa kini


Di setiap hariku


Di sisa akhir nafas hidupku


Ho wooo... hohoo... ho ho houwo


Kucoba menchat Alifah. Berharap segera dapat balasan dan chattan kami menjadi panjang. Ternyata, diread juga engga'. Hhh... Buat hatiku mengsedih saja.


Gelinding kesana gelinding kesini.


Ternyata begini ya, hidup pasangan yang ditinggal sendirian! Biasanya ada teman berantem. Teman debat sampai temen ribut, sekarang berasa sekali kesepian!


Aku mencoba memejamkan mata. Memeluk bantal yang sempat ditiduri Alifah hingga tercium aroma rambutnya dari shampo favoritnya.

__ADS_1


Hiks, belut...! Apa lo gak kangen gue?


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2