
"Turunin gue disini, Tot!"
"Hah? Masih jauh, Lifah!"
"Stop, stop disini, Tot!"
Aku akhirnya menurut. Menurunkan Alifah di pinggir jalan yang masih jauh dari gang rumahnya.
"Thanks, ya? Jangan chat gue! Ntar gue yang chat lo duluan!"
"Lif! Gue anter sampe depan rumah bokap lo!"
"Ga usah! Jangan ngeyel deh! Jangan bikin tambah ruwet masalah yang ada!"
Kuraih wajah Alifah dengan tegas. Menatap dua bola matanya yang agak merah karena sapuan angin di perjalanan.
"Kenapa? Lo gak percaya sama gue? Lo takut gue bakalan tambahin masalah lo? Gue akan bertanggung jawab atas semua perbuatan gue sama elo, Lifah!" kataku tegas.
"Bukan gitu maksud gue, Tot!"
Matanya mengerjap. Seperti berpendar kembali, ingin menangis.
"Jangan takut! Gue ada di sini. Selalu dukung lo, selama nafas ini masih dikandung badan!"
"Tot!..."
"Gue tau, lo ragu! Gue tau,... Kapasitas gue ga sebesar kekuatan si Bryan! Tapi gue akan kerahkan tenaga gue, lahir batin demi lo seorang!"
Sa'ik bener!!! Ck ck ck omongan lo, Tot! Gombal gembel ini namanya! Yassalam...
Anehnya, Alifah justru merebahkan kepalanya ke dadaku. Jantungku berdetak lebih kencang. Dug dug dug dug...
Kukecup dahinya.
Entah apa yang terjadi pada kami kini.
Ini sudah membuatku gila! Gila cinta yang sebenarnya!
Aaarrrggghhh...!!!
Aku hanya bisa pandangi tubuh rampingnya yang melesat bersama lambaian tangannya.
Ah, Belut! Kenapa gue jadi berasa kayak cowok simpenan sih? Gue bakalan gentle nganter lo pulang dan temui Papa sama Mama tiri lo, Lif! Gue mau jelasin semuanya. Bukan begini! Bukan! Ini sama artinya gue ngebiarinin elo dalam kungkungan si Bryan terus-terusan! Hubungan kalian ini gak sehat! Hubungan penuh toxic dan ujaran serta makian kebencian, buat apa lo pertahankan? Bilang Lif, bilang sama orangtua lo! Hhh...
Helaan nafas membuatku menunduk dengan bibir bawah digigit.
Hhh...
Aku masih belum beranjak dari tempat Alifah turun. Masih menunggu karena khawatir kalau-kalau Alifah akan muncul dan butuh bantuanku.
Setelah agak lama, sekitar seperempat jam. Aku baru pergi meninggalkan lokasi pinggir jalan yang sunyi.
Hanya suara kodok dan saudara-saudaranya yang berkumpul di tepi selokan hitam berbau segala macam.
..........
__ADS_1
"Tega, lo tinggalin gue!" semprot Rindu Aji yang melihat motorku masuk pelataran kostan dengan wajah masam.
"Lo yang tinggalin gue!" jawabku datar. Tanganku sibuk menuntun barang berhargaku masuk ke dalam garasi dan mengunci stang serta gembok di satu bannya.
"Lo darimana dulu sih?" tanya Aji, tak lagi mempermasalahkan dirinya yang kutinggal. Dia terus mengekorku. Mengikuti langkahku sampai aku masuk kamar kostan.
"Balik kamar lo, Ji! Gue ngantuk, besok gue harus gawe!!!" semprotku membuatnya lompat karena terkejut.
"Mabok pel anjing lo ya?" gerutunya geram. Tapi Rindu Aji tak memperpanjang, karena dia cukup tahu tabiatku yang keras kalau sedang marah.
Langit-langit kamarku dipenuhi wajah sendu Alifah. Teringat lelehan airmatanya yang meluruhkan rasa iba di jiwa, aku hanya bisa mengusap raut wajah sendiri dengan helaan nafas pendek.
Alifah, andaikan aku anak orang kaya... Aku akan bayar semua uang yang sudah bajingan itu keluarkan selama ini kepadamu. Hiks!
Aku benci diriku yang lemah tak berdaya ini.
Aku ingin bertemu dengan Bryan. Berhadapan face to face, bertanya dengan tegak, apa maunya. Dan aku rela tarung one by one demi mendapatkan kembali JANDAKU dari tangan si badboy yang labil dan emosian itu.
Berguling ke kanan, balik lagi gelinding ke kiri. Tengkurap, celentang... Mataku tetap sulit terpejam.
Hhh... Alifah! Baru kita berpisah setengah jam yang lalu, tapi rasa rindu ini sudah membludak di kalbu. Hiks... Inikah namanya CINTA, oh inikah CINTA!!! Duh, Tot! Ngamen di tengah malem buta, situ sehat, Tot?!?
Kucoba menengok ponsel dan membuka apk What'sApp. Pukul 2 menjelang pagi.
Eh? Nomor si Lipah juga online!
...Lif......
Hiks! Gue lupa!!! Harusnya gue ga chat dia!!! Ughh...!!! Gimana kalo sampe si Lifah dapet lagi masalah!?!
...Tidur, Tot! Gue ga apa-apa! Gue baik-baik aja. Alhamdulillah...
...Alhamdulillah...
Chatku langsung diread Alifah.
...Tidur. Besok masuk kerja khan?...
...Iya. Boleh ga gue telepon lo?...
...Jangan! Ada mata-mata di kamar sebelah. Gini aja, chattan...
...O.K...
Aku menelan saliva. Lalu kembali mengetik kata-kata.
...Pipi lo masih sakit ga?...
...Udah lebih baik, Tot! Tidur, tidur! Ish, bandel banget si ni orang!!! Dasar...
...Hehehe... Peace (emoji dua jari telunjuk dan jari tengah)...
...Bo-Bo Bo-Bo...
...Baby...
__ADS_1
...Kuya (emoji tertawa miring tiga biji)...
Aku tergelak.
...Have anice dream, baby...
Aku tersenyum. Chatku dibaca Alifah dan langsung dibalas emoji hati berderet lima biji.
...Udah ya, jangan chat lagi. Met bobo' , Imut. Sampai jumpa lagi...
Ah, belum puas rasanya! Aku masih kangen. Masih ingin chattan denganmu, Siti Alifah.
Tapi ada sedikit kelegaan di hati ini. Alifah baik-baik saja. Semoga si Bryan memperlakukannya dengan baik pula. Itu doa dan harapanku selalu untuk Alifah.
Tuhan! Jagakanlah JANDAKU tersayang dari segala musibah dan marabahaya. Aamiin...!
............
Beginilah jika terlalu banyak begadang. Muka pucat pasi dan darah berkurang. Jika sering kena angin malam, segala penyakit akan mudah datang.
Hadeuh! Kagak kreatif lo, thor! Copas lagu bang haji oma tuh! (Peace)
Mataku berkantung, mirip anak panda.
"Kenapa lo, Tot? Makin kesini kelakuan lo makin ga bener keliatannya!" tegur Pratama. Dia memang rekan paling bawel dan rival yang paling senang melihatku dalam keadaan frustasi apalagi kalau menyangkut kerjaan.
"Ck!"
Hanya decak kekesalanku karena selalu dikomen negatif oleh teman kerja satu teamku itu.
Diantara kami memang seperti ada dinding penghalang. Ada aura persaingan yang sengit karena BOSS EDAN lebih progres pada hasil kerjaku dibandingkan dia.
Ide-ide yang kusuguhkan dalam hal packaging dan inovasi kemasan lebih bervariasi dari ide si Pratama yang lebih lama kerja setahun dariku.
Aku juga dinilai lebih rapi dalam bekerja. Baik ketika mengemas barang, maupun pekerjaan mencatat laporan-laporan. Itu sebabnya Boss memilihku menjadi SCM di perusahaan cabang.
Tentu saja ada rasa iri dan ketidaksukaannya pada kenaikan jabatanku yang dianggapnya penuh intrik dan tipu daya muslihat.
Dia sering sindir gue pake ilmu pelet pengasihan biar dapat perhatian dari Boss! Lah? Ilmu pelet dari mana? Boro-boro pelet, cu', cacing, sama jorannya aja gue kaga punya! Ish... Kerja gue murni pake otak dan tenaga! Ga ada tuh yang namanya pengasihan, minta ajian bulu perindu biar disayang atasan. Malah andaikan ada yang bisa gantiin gue dari jabatan SCM, gue rela turun tahta karena menjabat jadi orang penting itu kerjaannya juga gak mudah!
"Tot! Sini!"
"Ya, Boss!"
Aku dipanggil Boss keruangannya.
"Mau ga, lo gue pindahin di gudang penerimaan di pelabuhan?"
Aku menggaruk-garuk kepala, agak bingung juga.
"Gaji lo, gue tambah dua kali lipat!"
"Tapi konsekuensinya, Boss!"
"Ya sebanding khan? Fasilitas, gue kasih apartemen muara buat rumah dinas. Kalo kinerja lo bagus selama tiga tahun berturut-turut, mobil dinas juga bakalan lo pegang!"
__ADS_1
O-o...! Tawaran menarik, tuh!
...❤BERSAMBUNG❤...