
Rasa yang terlanjur, mungkin ini yang ada dihatiku.
Menyesak rasanya melihat sinaran pancaran yang sama dari dua orang yang dulu pernah saling mencintai.
Tatapan Cak Ubaid, seperti pantulan cermin pula dengan tatapan Eliza Maura kekasihku.
Tiba-tiba Cak Ubaid menarik tangan Eliza dan keluar dari rumah Cak Subekti.
Tentu saja aku juga melesat mengekor mereka.
Kini, kami ada di depan gang. Cukup jauh dari keramaian para tetamu yang hadir di acara syukuran Cak Subekti.
"Akhirnya, aku menemukanmu, Liza!"
Aku tercekat.
Bibirku seperti terkunci rapat. Dan tubuhku laksana kaku membeku. Hanya jadi penonton saja, tapi sayangnya bukan penonton bayaran. Ck ck ck! Kesian deh lo, Tot!
Eliza menepis tangan Ubaid.
"Kamu salah faham! Kamu salah faham, Liza! Dan kamu tahu, statusku memang duda! Duda satu anak! Kamu pura-pura menutupi itu hanya karena sakit hati yang tak beralasan pada suster perawat bernama Noerazzura itu. Dia itu cuma asistenku saja, Eliza!"
"Hubungan kita sudah berakhir!"
"Belum! Tidak ada kejelasan pasti karena kami menghilang pergi! Bahkan tanpa kabar sama sekali! Itu tidak etis buatku!"
"Tunggu!!!" hardikku, akhirnya.
Eliza dan Ubaid kompak menatapku.
"Gatot! Eliza tunanganku!"
"Eliza pacarku! Dan aku udah melamarnya sama pamannya bulan lalu!"
Ini apa? Cinta segitiga? Atau cinta yang tidak pada tempatnya?
Kami bertiga, diam tanpa gerak dan tanpa ucap. Hanya berdiri membentuk segitiga bermuda yang berbahaya dengan tatapan bagaikan kilatan petir.
"Ayo, kita bicarakan secara dewasa!" ucap Cak Ubaid. Dia menuju parkiran motornya di depan teras rumah tetangga Cak Subekti.
Aku mengekor Ubaid masih dengan tangan menuntun Eliza yang tetap menjadi buntutku.
"Gatot? Eliza? Mau kemana?" seru Alifah.
"Jangan ikut! Kami ada urusan dulu, Lif! Sampein salam sama Cak dan Ning, ya?!"
Kudorong motorku. Berjalan keluar gang dan tak ingin terdengar suara ribut yang bisa mengganggu jalannya acara kebahagiaan Cak- Ning.
__ADS_1
Kuikuti motor Ubaid yang berjalan lambat didepan Aerox-ku.
Setelah beberapa menit merayap dijalanan kota, motor Ubaid berhenti di sebuah resto yang cukup sepi dan luas parkirannya.
"Liz! Kamu belum memutuskan secara resmi pertunangan kita dengan kedua orangtuaku di Jakarta!" kata Ubaid sambil kembali menarik tangan Eliza. Sontak aku menariknya kembali hingga terlihat Eliza seperti ada ditengah Aku dan Ubaid yang saling tarik menarik.
"Jangan kasar sama Eliza, Cak!" ancamku dengan tegas untuk mengingatkannya.
"Aku tidak pakai kekerasan, Tot! Tapi ini adalah hentakan kasih sayangku sebagai permohonan pertanggungjawabannya Eliza pada orangtuaku yang digantung kepastian pernikahan kami olehnya!"
Dadaku terasa sesak.
Ternyata Eliza juga memiliki kisah yang belum usai dengan Ubaid Salman Khan, kakak tingkatku yang usianya empat tahun lebih tua itu. Seorang mantri Puskesmas Bukit Intan yang kini atasan Siti Alifah, JANDAKU yang pernah kutitipkan padanya. Hhh...
Ini kenapa jadi berbelit-belit gini sih? Bikin endas tambah mumet aje, deh!!!
"Bang! Kamu ga bisa maksa aku karena ini adalah murni kesalahanmu!"
"Kamu melihat aku sedang apa? Mencium Noerazzura? Begitu fikiran burukmu?"
"Gadis itu pingsan setelah tenggelam beberapa menit dan butuh nafas bantuan! Itu adalah tindakan darurat yang normal dilakukan siapapun. Apalagi posisiku adalah tenaga medis yang wajib menolong asistenku di acara malam inagurasi pada saat itu!"
"Ah, itu cuma alasan kamu! Kamu ga berfikir kalo si Noer itu cuma akting pura-pura pingsan!? Kalaupun iya, khan bisa pake alat bantu pernafasan yang aman kayak tabung gas oksigen!"
"Ya Allah, Liz! Aku ini walau hanya mantri, tapi cukup tau kondisi tekanan darah, detak jantung orang normal sama orang yang kondisinya butuh penanganan segera. Noerazzura itu ga bisa berenang! Dan itu kondisinya darurat, nunggu alat bantuan lain kelamaan! Nyawanya jadi taruhan!!!"
Aku terdiam. Hanya bisa terdiam semakin dalam.
Dan Eliza adalah salah satu ciwi penganut faham 'Melihat Dengan Mata Kepala Sendiri' tapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sehingga yang ada hanyalah salah faham, salah tangkap dan salah persepsi.
Eliza berdiri mematung dengan airmata berlinang.
Aku menuntunnya ke dalam resto.
Mencari tempat duduk paling pojok dan meminta tiga gelas es teh manis.
"Cak! Eliza adalah kekasihku."
"Tapi Eliza itu tunanganku! Dia seperti sengaja melarikan diri dari aku! Bahkan setelah aku susah payah mengejarnya ketika Farah Shafira sepupunya acara lamaran, aku terlambat menemuinya karena ada acara seminar di Bandung."
"Itu adalah saat Aku melamarnya juga pada Pak Basuki, pamannya!" tukasku dengan tegas.
Eliza masih diam, dengan wajah bingung dan datar. Membuatku ikut bingung juga menyikapi permasalahannya yang cukup pelik ini.
"Cak! Sebaiknya berlapang dada-lah! Eliza kini telah jadi milikku! Allah mungkin tidak menjadikan kalian menjadi pasangan suami istri. Tetapi Akulah jodohnya Eliza! Kuharap kamu menerima kenyataan ini."
"Kurasa kamulah yang harusnya legowo menerima keadaan yang sebenarnya!"
__ADS_1
"Apa maksudmu, Cak?"
"Eliza masih tunanganku!"
"Hei, hehe... Ga bisa gitu dong! Hubunganku sama Eliza udah diketahui keluarga besarnya juga!"
"Kami malah udah tunangan, tukeran cincin dan tentukan hari baik!"
"Tapi kalian tak bisa secepatnya menikah juga. Farah akan lebih dulu menikah, dan Eliza baru akan dinikahkan satu tahun kemudian! Karena pernikahan kami pun ditolak pak Basuki Hidayat jika dilaksanakan dalam waktu dekat!"
"Liz! Liza! Sekarang kami menunggu keputusanmu!" tanya Ubaid membuatku naik darah. Aku tahu, Eliza menggalau. Gadisku itu juga agak plin-plan. Mudah terprovokasi, juga gampang terhasut omongan orang.
Aku tentu saja khawatir Nona Lilis akan mengambil tindakan yang cukup mengenaskan buatku.
"Eliz gak perlu memilih! Dia jelas-jelas adalah pacarku sekarang!" ujarku tegas.
Namun...
Byurrr...
Segelas es teh manis seperti siraman air panas yang menggelegak di hatiku. Ubaid mwngguyur tubuhku.
Aku berdiri dengan amarah tingkat tinggi.
Bruak!
Sialan ni orang! Jangan mentang-mentang umur lo lebih tua dari gue, lantas cari mati berurusan sama gue!
Gue ini orang Betawi asli. Lo jual, gue beli! Sini lo, kalo berani!
Gubrak!
Meja resto langsung terguling dengan sekali tendang.
Mengingat aku akan dapat tuntutan ganti rugi lebih besar lagi kalau sampai merusak properti resto lebih banyak, akhirnya kudorong tubuh Ubaid keluar resto.
Kami, baku hantam di halaman parkirnya yang luas.
Saling jotos, saling layangkan tinjuan.
Pantesan si kunyuk berani guyur gue pake aer es teh manis! Ternyata dia punya ilmu beladiri taekwondo dari gerakan kuda-kudanya. Hhh...
Bug bag bug
Plaash!
Plak plak plak!
__ADS_1
Desigh, gubrak.
...❤BERSAMBUNG❤...