
"Yang! Nanti malem kamis temenin aku yuk?"
"Kenapa ga minta temenin sama JANDA kamu itu?"
Hhh... Ternyata perang dingin ini masih ada part duanya. Hadeuh.
"Please deh, Yang! Ini... Udah dua hari kita perang dingin!"
"Oh!"
Cuma 'oh'. Hhh...
"Aku... Punya orangtua angkat yang sekarang tempat tinggalnya Alifah. Agak gimana gitu, kalo aku datang sendiri. Terus, lebih enak kita berdua. Cak sama Ning juga kepingin kenalan sama kamu, Yang!"
"Hm...! Aku penting juga ya buat kamu?!"
Ya pentinglah, Non! Elo pacar gue. Calon bini. Dan gue ga mau kalo lo terus-terusan di-negatif thinking-in mulu sama elo.
Aku menatap lembut wajah Eliza. Tangan ini mencoba mengelus pelan tetapi dia tepis dengan wajah sinis.
"Masih marah? Masih bete'? Masih ga bisa terima diriku yang duda? Terus..., apa kita bakalan marah-marahan begini?"
Aku mulai emosi.
"Astaghfirullah!" segera kuucapkan kalimat istighfar. Agak khawatir juga jika aku jadi kebablasan. Janjiku pada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jadi lelaki penyabar dan sayang pada wanita pilihannya.
"Aku kesel, kamu masih berhubungan sama perempuan itu. Pake alasan sodara. Pake sok-sokan bilang ga ada rasa. Itu semua bullshiiit! Omong kosong kamu, khan?"
"Eliza! Aku emang salah. Aku ga bisa putuskan hubungan persaudaraan sama Alifah. Karena banyak faktor, Non! Kesatu, dia kesini dan ga punya siapa-siapa lagi selain kami. Kedua, dia juga..."
"Udah, ceramahnya? Udah, ngerasa jadi orang yang paling bijak bestari di dunia?"
Deg.
Aku tersentak, diam.
Percuma aku bersilat lidah mengurai kata. Toh Eliza seperti tak dapat melihatku dengan hati tulusnya. Mata hatinya sedang tertutup emosi labilnya.
Gue emang salah. Gue respon chattan Alifah. Dan kami semakin tenggelam dalam obrolan dunia maya yang menyilaukan.
Tapi..., gue juga merasa bertanggung jawab atas hidup Alifah untuk saat ini. Apa gue salah dalam hal ini? Hhh... Yassalam, gini amat hidup gue ya? Hiks.
"Eliza! Apa... Dimatamu aku ini lelaki hidung belang yang,"
__ADS_1
"Ya. Kamu masuk kriteria itu!"
Deg.
Aku hanya bisa menatap wajah cantiknya dengan perasaan kosong.
Aku tahu, dia kecewa padaku.
Aku tahu, dia juga pernah terluka oleh cinta. Sama sepertiku.
Aku tahu, dia pernah sakit hati karena gagal lanjut sampai ke pelaminan.
"Apa kamu benar-benar lost contac sama Ubaid sampe saat ini?"
Kini dia yang terkejut mendengar pertanyaanku.
Aku juga penasaran pada isi hatinya.
"Iyalah! Putus itu ya putus semuanya. Termasuk ga ada kesempatan berteman apalagi sampe harus jadi sodara!!!"
Oh. Ternyata pemikirannya seperti itu. Ok, fix berarti langkah gue ini beneran amat sangat mengecewakan hatinya. Berarti, kita beda pemikiran dalam hal ini.
"Sekarang gue tanya, gimana perasaan lo kalo gue respon chattan Ubaid? Lo cuma liat foto lama gue aja, sampe kebakaran jenggot khan? Tanya-tanya sepupu gue segala macem, kayak interpol! " tanya Eliza, langsung menyerang.
Ya itu khan karena gue cuma kepengen tau aja soal hubungan lo yang lalu sama Ubaid, Neng! Hhh... Ck! Koq jadi gue banget ini yang salah ya? Duh!!!
"Sekarang gue tanya sama elo! Chattan setiap malam, sama MANTAN yang pernah ada rasa. Terus...fikiran lo pasti ga akan inget pasangan lo yang sekarang khan kalo kalian lagi asik chattingan?"
O-o. Kena gua!!! Anjiiiir hiks!
"Lo pasti akan terus dan terus memupuk rasa lo untuk makin dekat lagi khan? Ga ada pertemanan murni antara cowok sama cewek. Gue percaya itu! Kalo engga' salah satunya masih mengharap, atau salah satunya punya keinginan balik lagi. Iya khan? Apalagi JANDA lo itu sampe saat ini masih sendiri. Dan dia bilang, hidupnya tergantung sama lo. Bahkan sama kedua orang tua lo. Dengan alasan datang jauh-jauh dan tinggal di kota kecil ini tanpa ada satu sodara pun! Apa kabar sama gue? Hm..., miris banget hidup gue! Dan sekarang pacar gue sendiri justru lebih sayang bahkan lebih perhatian sama MANTANnya yang KATANYA hidup sendirian! Ya udah. Kalo elo berat hati ninggalin dia, go ahead!"
Deg.
Hhh...
Kata-kata yang teramat pedas. Tapi kuakui semuanya benar.
"Gimana kalo seandainya JANDA gue sekarang ada hubungan sama MANTAN TUNANGAN lo!?"
Nah lo, kena mental khan?
Wajah Eliza memerah.
__ADS_1
Aku langsung berbalik badan. Bukan bermaksud kembali menggantung keributan dan tak ada niat menyelesaikannya secara tuntas.
Tapi aku laki-laki.
Ketika amarah sudah ada di ubun-ubunku, aku harus melarikan diri demi mencari pelampiasan emosi.
Jujurly, tanganku gatal. Rasanya belum puas kalau belum menjotos mengeluarkan kekesalan di dada. Dan...
Brug!!!
Tembok disamping pintu depan jadi pelampiasan. Hingga terdengar pekikan serta teriakan Eliza yang melesat menarik belakang bajuku.
"Kalo mau pukul gue, pukul aja nih!!! Jangan tembok yang lo hajar!!!" teriaknya kencang membuatku tersadar kalau tindakanku memang berlebihan.
Astaghfirullahal'adziim... Ya Allah ya Tuhanku!
"Segini kita belom nikah, tapi lo udah berani mukul-mukul benda!!! Kalo kita dah nikah, lo pasti berani hajar gue khan? Lelaki egois! Lelaki mau menang sendiri!"
Aku tergagap. Kikuk seraya menoleh pada para karyawan serta ada beberapa pelanggan yang sedang berada di ruang pelayanan.
"Silent, please, Nona! Kita ga boleh ribut kek gini!" bisikku pelan di telinga kanannya setelah berhasil merangkul tubuh mungilnya yang berkelit hebat menampikku.
"Gue ga peduli! Lo udah nyakitin perasaan gue!!! Gue ga terima!!!" pekiknya. Pecah tangis Eliza. Dia berlari menuju anak tangga dan bergegas naik ke atasnya.
Tinggallah aku yang termenung sendiri. Menatap ruas-ruas buku tanganku yang mulai terasa nyeri dan memerah bengkak.
Entah siapa yang salah, ku tak tahu...
Hhh...
"Hhh, haish! Tot, Tot! Hubungan kalian koq malah jadi kayak gini sih! Ck! Hadeuh! Kamu kalo mau dapetin hati Eliza harus bisa jadi pribadi yang baik. Sabar, Tot! Menghadapi perempuan itu bukan dengan kekerasan. Ga guna, tau! Justru kita malah dianggap pecundang! Kita dibilang lelaki yang suka main tangan! Tapi kalo kamu pake jalan lembut, aku yakin lo bisa hadapi Eliza!"
Ucapan bang Bima membuatku semakin menyesal.
Ngapa sih, gue harus pake otot ketika ribut gede sama Eliza!?! Hiks... Malah makin kacau khan urusannya! Hhh... Gue, setipe adat jeleknya sama Eliza. Kita ini mirip satu sama lain. Kita memegang prinsip teguh kalau apa yang kita yakini itu benar! Hhh... Tapi, gue jengkel juga. Harusnya Eliza ga narik baju gue dan terus ngeyel teriak menghardik gue. Dia perempuan. Harusnya untuk saat ini dia diam. Jangan malah kayak orang ngajak baku hantam. Seharusnya dia jadi pendingin gue! Bukan malah sama-sama meledak emosi kek gini! Ini akan terus dan terus berlanjut kalo kita sama-sama dalam kondisi panas tinggi.
Yeee, Gatot Dodol! Lo yang harusnya mengalah! Lo itu laki-laki! Pengayom perempuan! Pelindung perempuan! Perempuan itu adalah makhluk paling lembut yang ga suka dikasarin! Perempuan itu luluh sama kelembutan! Bukan dengan kekerasan!
Ah... Mumet endas gue! Ya lelaki juga sama! Lelaki juga kepengen dikasih kelembutan! Udah tau lelaki itu jiwa yang keras dan kasar. Janganlah dipancing buat makin kasar! Masih untung ga kena jotos, banyak lelaki yang akhirnya gelap mata sampe berani melukai wanita yang padahal begitu dicintainya.
Hhh... Ini ribut besar!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1