MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (91) Hati Yang Berbunga


__ADS_3

Hah??? Apaaa???


No no no! Ga akan gue izinin Lipah berangkat lagi ke Jeddah!


"Lip! Masuk dulu ke rumah Ibu yuk? Kamu ga kangen sama Ayah Ibu?"


"Kangen lah! Hehehe..."


"Barang bawaanmu mana? Koq ga bawa koper?"


"Oiya, barangku lewat paket. Jadi ga ribet, Tot!"


"Hm. Gitu ya? Yuk, ke rumah?!"


"Senangnya,... Kamu beneran udah sukses sekarang! Selamat ya?"


"Kamu juga. Udah jadi sultini dibidang kesehatan di negeri orang. Kayaknya, bentar lagi..." Jangan ngemeng yang bikin Alifah tersinggung marah, Ali Gatot oncom goreng!


Hiks. Untung gue langsung rem ni mulut mode on kaleng rombeng. Bisa amsyong nih gagalin lanjut kontraknya si Belut kalo dia udah kesinggung sama ucapan gue!


"Bentar lagi apaan, Tot?" tanyanya penasaran.


"Bentar lagi jadi konglomerat pejuang riyal, hehehe...! Secara mata uang sana khan riyal ya?"


Alifah tersenyum. Manis sekali. Membuat jakunku hanya turun naik karena menelan ludah sendiri.


"Sama orang mana sekarang?"


Pertanyaannya membuatku gemas. Ingin sekali meraih jemarinya yang kini tertutup pakaian panjang.


Beneran udah hijrah nih, Neng Geulis! Jangan pegang-pegang Alifah, bukan muhrim! Bahaya kalo entar si Belut marah!


"Assalamualaikuum..."


"Ibu, Ayah... Coba tebak siapa tamu kita malam ini?"


Aku berteriak gembira memanggil Ayah Ibu.


"Ibuu..."


"Iya, sebentar Nak! Ibu lagi kerokin Ayah!"


Terdengar suara Ibu dari dalam kamar juga berteriak.


"Ayah kenapa? Ayah sakit? Kenapa dikerok terus? Bahaya, Bu! Nih ada ahlinya, biar Ayah langsung diperiksa!" tuturku lagi.


"Ibu, Ayah...!"


Tok tok tok...


Alifah mengetuk pintu kamar Ayah Ibuku.


"Masuk, Tot! Ga dikunci koq!"


"Taraaa..."


Ayah dan Ibu memandang ke arah kami berdua. Mereka kompak melonjak bangkit dari duduk.


"Alifah?!?"


"Alifaaah!!!"


Ibuku girang sekali.

__ADS_1


Beliau langsung menghambur dan keduanya berpelukan erat.


Hhh... Tuhan! Izinkan kebahagiaan ini untuk selamanya! Please...


Ayah tersenyum menyeringai.


"Kenapa ga bilang pulang sekarang? Padahal baru kita bahas kepulanganmu bulan depan sama Arif!"


"Sengaja, Yah! Buat surprise! Hehehe..."


"Beneran bikin surprise. Arif juga ga tau?" tanyaku pada Alifah.


Dia menggeleng cepat. Seketika jemariku respek mengusap pucuk kepalanya yang tertutup hijab.


Hhh... Ingin kucium keningmu, Alifah! Dosakah aku jika mengkhayalkan betapa nikmatnya bibirmu yang merah merona itu? Haish!!! Hus hus hus... Pergilah, kau setan! Jangan ganggu imajinasiku yang melambung tinggi!!! Hyaaa... (aku refleks melakukan gerakan karate pasang kuda-kuda)


"Gatot???"


"Hahaha...!"


"Ya ampun, deh!"


Merona wajahku seketika. Tawa renyah Alifah bersama Ayah Ibu membuatku tersenyum bahagia.


MUSUH BEBUYUTANKU telah kembali. JANDAKU telah pulang dari berjuang mencari uang di negri sebrang.


Alhamdulillah!


Dan janjiku dalam hati, akan kutahan kepergian Alifah untuk yang kedua kali.


Tidak akan kulepas. Tidak kuizinkan dia kembali terbang ke negeri orang. Tidak!


Aku bertekad akan mengutarakan keinginannya melamar Alifah besok pagi dihadapan Arif, Ayah serta Ibu. Bertekad mengungkapkan rasa sayangku padanya yang tertahan sekian lama.


Kalaupun dia punya kekasih di sana, selama tak perlu kembali ke negeri minyak itu, pasti hubungan jarak jauhnya akan merenggang dan putus. Semoga kekasih itu tidak ada.


Malam ini kami bersenda gurau di kamar Ayah Ibu. Berempat duduk lesehan di atas ranjang kasur kedua orangtuaku.


Obrolan santai, hangat dan mengalir bagaikan air. Bercerita tentang keadaan serta keseharian kerja Alifah yang jadi topik utamanya.


Waktu berjalan sangatlah cepat jika kita menikmatinya.


Ternyata jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Ayah, Ibu... Lifah pamit dulu ke rumah ya? Besok pagi, obrolan kita sambung lagi!" ujar Alifah membuatku melemah.


"Nginep aja di sini! Arif malam ini ke Pantai Pasir Putih. Dia giliran ronda malam jaga basecamp."


Alifah terlihat agak ragu. Mata kami saling bertabrakan tetapi Dia terlihat lebih pemalu.


"Sebaiknya aku tidur di rumah aja deh! Sekalian liat-liat rumah yang dibangun Arif juga. Lagipula cuma seberangan doang khan? Hehehe..."


"Iya juga sih! Ya udah, ayo kuantar. Serep kunci rumah Arif dimana, Bu?"


"Itu, di laci, Tot!"


"Gatot antar Lipah dulu, Yah, Bu!"


"Iya. Malam ini agak sepi deh, ga ada temen-temennya Arif maen. Biasanya rame suara motor di depan pagar."


Aku mengambil tas sedang milik Alifah. Membantu membawanya sampai keluar rumah.


"Seperti mimpi. Sekarang rumah kita bersebrangan ya Tot!?!" kata Alifah dengan suara lembut.

__ADS_1


Senyumanku mengembang. Mengiyakan ucapan Alifah.


"Kita ini ibarat wayang, yang diatur kehidupannya oleh Sang Dalang! Tapi aku tak pernah bosan meminta pada Tuhan, semoga kau dan aku hidup bahagia. Selamanya!"


"Aamiin..."


Alifah menunduk. Kami berjalan beriringan. Menyebrangi jalan raya sepi yang menjadi pembatas rumah kami saling yang berhadapan.


Aku membukakan kunci rumah Arif dengan kunci serep yang biasa dipegang Ibu.


Harum aroma bukhur semerbak menyeruak.


Rupanya sebelum berangkat kerja, anak itu membakar dulu wewangian khas Timur Tengah di setiap ruangan rumahnya.


Mirip rumah dukun (uppsss...) ni anak rupanya udah kecanduan menghirup aroma bukhur yang justru tidak kusuka wanginya. (balik lagi, selera orang berbeda-beda) Arif terbiasa membakarnya sejak tinggal di pesantren.


"Hhh... Rupanya si Arif masih bandel ga peduliin omonganku!" gerutu Alifah seperti sudah dapat menebak pemikiran adiknya yang kadang masih berhubungan dengan hal-hal gaib.


Aku tersenyum kecut.


"Mau kutemani disini?" tanyaku berharap Alifah mengiyakannya.


Semoga si bidan cantik ini masih penakut seperti dulu.


"Eh, besok kamu khan masuk kerja ya? Ga usah, Tot! Aku ga apa-apa koq di sini sendirian. Biar nanti kujapri si Arif. Jadi ga kaget kalo pas pulang tiba-tiba ada aku tidur dikamarnya."


Hiks. Ditolak mentah-mentah!


"Ga takut emangnya?" godaku membuatnya langsung mencocol lenganku.


"Ish! Jangan ditakut-takutin! Tapi aku sekarang ga sepenakut dulu koq!"


"Hahaha... Ya kali bidan penakut, bahaya, Non!"


"Ish, Non... Pasti kamu inget Nona Lilis ya?"


"Nona Lilis udah married. Sekarang malah baru habis lahiran deh kayaknya!"


"Udah tau, hihihi..."


"Idih?! Udah tau nanya!"


Alifah tertawa. Tawanya mengalihkan duniaku. Dan ada yang bangun ditengah malam buta begini.


Hiks.


"Hm... Baiknya aku pamit deh. Kamu pasti capek, mau istirahat!"


"Makasih ya Tot! Makasih udah baik banget sama aku juga Arif!"


Aku menatap kedua bola mata Alifah yang hitam legam. Manik indahnya berpendar bak kilauan mutiara di dasar lautan dalam.


"Jangan sedih begitu... Kamu adalah segalanya bagiku!"


Aku tersekat. Ucapan yang meluncur dari bibir ini adalah murni dari dalam hatiku. Dan Alifah tersenyum kecil.


"Pulanglah! Istirahat, besok kerja!"


Seperti bocah, aku mengangguk. Melangkahkan kaki ke arah pintu rumah Arif, berjalan keluar dengan hati ser-seran.


Alifah...! Semoga perasaanku ini tersampaikan ke hati sanubarimu. Aku... Cinta Padamu.


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


............


__ADS_2