
Setelah beberapa hari aku tinggal di rumah Cak Subekti, Ayah dan Ibu datang berkunjung dengan diantar Harlan serta istri juga buah hatinya.
Suasana hangat penuh kekeluargaan. Ada tawa canda berikut obrolan ringan yang ngalor ngidul diantara kami semua.
Tiba-tiba...
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Seperti hari-hari yang lalu, Iyam datang dengan senyuman manisnya.
Dia menyalami Ayah, Ibu dan Harlan serta istrinya tanpa banyak kata. Lalu duduk disampingku juga tak bersuara.
Hari ini Iyam cuma jadi pendengar saja! Benar-benar tak melontarkan satu patah kata pun. Entah kenapa anak ini!
"Perut kamu sakit?" tanyaku lembut pada Iyam. Setelah mengenalnya dan sering disambangi perempuan hamil itu setiap hari, aku jadi lebih welcome juga ada perhatian padanya.
Iyam menggeleng pelan. Lalu berbisik padaku, "Takut mertua!"
Oala... Rupanya dia trauma sama hubungan buruknya dengan keluarga sang suami. Ada kemungkinan si Iyam ini ditinggal suami karena pihak keluarga Fahri engga' suka sama dia! Ck...
Ayah dan Ibu memperhatikan interaksi antara aku dengan Iyam. Bahkan Harlan juga kaget melihat Iyam menggenggam erat jemariku.
Membuat Iyam semakin tak nyaman dan berbisik lagi, "Abang! Aku tunggu di luar aja, ya?"
Dia menyalami lagi Ayah serta Ibuku. Lalu keluar dengan tubuh membungkuk hormat.
Aku melihat Ayah menghela nafas.
"Bagaimana keadaan kakimu, Tot?" tanya beliau dengan suara lembut.
"Agak mending, Yah! Beneran ini kaki Gatot udah mulai bisa jalan tanpa bantuan kruk. Cuma masih ada nyeri dan harus pelan-pelan. Padahal baru empat hari disini."
Ibuku tersenyum senang.
__ADS_1
"Alhamdulillah!"
"Cak Sub, apa putraku bisa kubawa pulang sekarang?" tanya Ayah. Tentu saja aku jadi berdebar-debar. Belom juga seminggu, tapi koq?
"Saran saya sih sekitar semingguan lagi, Gatot bisa jalan normal! Ya namanya pengobatan itu harus rutin. Setiap malam dibalur ramuan khusus racikan saya, Mas! Supaya tulang yang rusak bisa segera pulih. Secara, usia juga menentukan cepatnya pengobatan. Gatot masih muda. Masih bisa diobati dan pulih normal kembali. Ada koq yang usianya 40 tahunan, bisa normal lagi patah tulangnya sembuh total. Tapi, ya harus rutin. Kunci utamanya itu, harus sabar."
"Tapi kami juga masih rindu putra kami ini, Cak! Hehehe... Maklum, sudah lama tinggal di ibukota. Sekalinya pulang malah kena musibah. Makanya, kami takut terjadi sesuatu lagi sama Gatot, Cak! Masalahnya putraku ini terlalu baik sama perempuan. Dia lemah urusan percintaan. Jadi, ya gini deh keadaannya sekarang!"
Sontak aku hanya bisa menelan air ludah sendiri.
Hiks. Koq Ayah lama-lama pinter bet jelekin anak sendiri! Kagak lah, Yah! Aku juga punya prinsip ekonomi sendiri, Yah! Teteplah urusan jodoh, urusan percintaan, gimana hati ini yang Tuhan gerakkan. Hhh...
"Hehehe ternyata begitu ya? Artinya anak bujangmu ini hatinya bersih, tulus dan baik!"
Nah tuh, denger Yah! Hihihi... (Gatot mode on kepala membesar; Gede Rasa)
"Itu..., anak perempuan Cak?"
Hm. Ternyata bokap gue takut kalo gue kepincut si Iyam! Pantesan, omongannya tadi agak...
"Itu anak tetangga, Mas! Dia sudah menikah, tapi suaminya tak kunjung pulang setelah memutuskan pergi merantau ke Ibukota. Mas gak perlu khawatir, Iyam memang agak sedikit terganggu kejiwaannya. Tapi Gatot bisa memposisikan Iyam sebagai sahabat saja. Saya dan kedua orangtuanya juga sudah melihat cara Gatot memperlakukan Iyam."
Aku tahu, Ayah cemas dengan diriku. Dengan hatiku yang sedang merapuh. Dan Ayah takut aku salah langkah lagi. Lalu asal pilih perempuan, yang penting ada dan mau kudekati.
Duh, Yah! Anakmu gak segragas itu kali'! Hiks...
...........
"Tot, jaga dirimu baik-baik, Nak! Dan jangan terlalu dekat dengan perempuan hamil itu! Beresiko tinggi! Dan Ayah ga mau kamu sampai terjebak lagi sama para perempuan yang kurang jelas. Faham khan maksud Ayah?"
Aku mengangguk.
Ayah benar. Aku terlalu lemah dengan perempuan. Aku seringkali terjebak dalam rasa suka yang kemudian kuanggap cinta. Sampai jadi cinta buta.
Tapi aku juga tak sebodoh itu, Ayah!
Iyam hanyalah salah satu korban cinta buta. Seperti aku juga. Tapi hatiku lebih kuat, jiwaku lebih tegar. Karena aku ini anak laki-lakimu yang kalian support dan dukung penuh kasih sayang.
__ADS_1
Beda dengan Iyam. Dia perempuan, rapuh dan lemah. Satu lagi, dia juga tak punya tempat curhat yang bisa membuat dirinya menerima kenyataan kalau cinta telah hilang darinya dan tak mau berpihak padanya.
Itulah kekejaman cinta, Ayah.
Ada banyak manusia di dunia ini yang tidak seberuntung Ayah. Menikah, adem ayem bersama pasangan. Punya anak baik, soleh dan penurut kata orang tua (yang bener!!? Wkwkwk... Jan buka kartu nape thor!)
"Ayah Ibu sudah sepakat mau jodohin kamu sama Utami Habibah, Tot! Cantik, masih muda. Kamu juga suka khan sama dia? Mau ya?"
"Gatot sih mau, tapi Taminya mau engga'? Jangan main jodoh-jodohin anak orang segitunya, Yah! Tanya dulu yang bersangkutan. Gatot ga mau ntar dibilang suami terpaksa. Harga diri Gatot bisa jatuh drastis, Yah!"
Ibu memukul tanganku. Tawanya terdengar pelan.
"Udah, pokonya kamu tinggal duduk manis. Semua Ayah sama Ibu yang atur!" kata Ibu membuatku tersipu.
Bu! Sebenarnya aku kurang sreg sama pilihan kalian! Entah. Bukan aku gak suka Utami Habibah. Bukan. Gadis itu sangat cantik dan begitu muda. Tapi, aku tidak mendapatkan chamistry ketika berdua dengannya. Aku merasa, sifat dan karakter kami tidak cocok. Tapi..., baiklah. Demi membuat kalian bahagia, aku rela. Karena aku pernah mengecewakan kalian dalam hal pilihan percintaanku yang lalu itu. Bersama... My Belut. Hiks...
Kedua orang tuaku kembali pulang ke PP dengan hati tenang. Mereka juga lega karena sudah melihat sendiri kebaikan Cak Subekti dan Ning Imah yang sudah menganggapku anak sendiri.
Berkali-kali Ayah dan Ibu memelukku serta mengatakan 'Titip Gatot' pada pasutri yang kini adalah orangtua angkatku.
Ah, senangnya. Ternyata membahagiakan orangtua itu bukan hanya lewat kiriman materi saja. Menuruti kata-kata beliau dan memberi beliau harapan kebahagiaan pun sama senangnya ketika dulu aku bisa mengirimi kalung emas di momen pernikahan perak mereka.
Tuhanku Yang Maha Agung, jagalah selalu Ayah dan Ibuku! Sehatkanlah mereka sampai aku bisa menemukan cinta sejati dan jadi pasangan abadi seperti mereka. Aamiin...
.............
Kata orang cinta pertama tak kan pernah bisa mati.
Betul.
Aku merasakan sendiri, betapa hati ini masih sesekali merindu Alifah.
Waktu berlalu tanpa terasa. Entah kini bagaimana keadaannya.
Kuharap JANDAKU itu dalam keadaan baik-baik saja. Dan semoga cecunguk selebgram banci itu menyayanginya setulus hati. Itu doaku pada Alifah.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...