
Aku benar-benar panas menatap wajahnya yang sok kecakepan.
Ck ck ck..., beneran badboy! Ga salah tebakan gue khan! Hadeeuh... Lip, Lip! Bisa-bisanya lo kena jebakan badman! Hhh...
Sangat ingin melihat reaksi si Bryan tatkala wajah kami papasan.
Dan...
Terlihat roman wajahnya memang nampak berubah.
"Ada perlu apa?" tanyanya dingin, sedingin balokan es digudang freezer.
Ck ck ck... Lo kira gue bakalan takut sama elo, bocah pargoy! Hayo lah, kuy... Tentuin segera ring mana yang mau lo pilih? Gue rasa dia lupa, wajah gantengnya sempat kena bogem mentah gue deh! Hm... Minta tambah nih keknya! Ketagihan lo ya!?! Boleh juga, mumpung tangan gue lagi gatel pengen jotos muka orang tengil model lo gini!
"Gue mau kembalikan nampan milik bini lo! Kenapa? Jangan curiga dulu, Boss! Woles dikit jadi orang, Boss! Santui-santui aja kita, sesama tetangga!"
Matanya memerah. Tapi aku tahu, dia goyah juga karena terlihat jakunnya turun naik. Tanda dia merasa kaget juga dengan keberanian serta ucapanku yang ringan tadi.
"Mas...! Please, jangan ada keributan!"
Mbak Mirina menggandeng tungkai lengannya erat. Wajahnya pucat pias. Seperti sudah memperkirakan sesuatu yang buruk bakalan terjadi.
"Masuk! Aku ada urusan dulu!"
"Bry, please!"
"Dengerin kata aku! Masuk!!!"
Ulala! Gue kira, cuma sama si Belut aja nih orang suka bentak-bentak kasar! Ternyata, sama bininya juga suka koar-koar rupanya. Ck ck ck...
Kini netra kami saling bertatapan tajam.
Aku tentu saja tak mau menyerah apalagi mengaku kalah. Karena saat ini kartu matinya ada ditanganku. Hm.
Dia menyender di dinding dekat pintu kamar apartemennya. Posisi kami kini tak lagi saling berhadapan. Namun aku tetap dalam posisi siaga, walaupun musuh terlihat melemah.
Mirina telah masuk beberapa menit yang lalu.
Bryan mengambil kotak rokok elektriknya. Dia menghisapnya pelan. Mengulum asapnya dalam mulut, lalu mengepul dan membumbung diudara.
Aku tak terintimidasi oleh tindakannya yang justru terlihat seolah sedang menenangkan diri.
"Aku sudah tahu siapa kau!" katanya setelah cukup lama diam.
Tau gue? Hm? Emang gue siapa? Gatot kaca? Angling Dharma? Atau... Rahwana? Hadeuh!
Aku diam, tak meladeni ucapannya.
Masih terus memantau. Apa yang akan dia lakukan dan ucapkan lagi.
__ADS_1
"Kau adalah... Mantan suaminya tunanganku khan?"
Uhuk.
Aku berusaha tidak terpengaruh pada perkataannya.
"Jejak digital tak bisa menyembunyikan hubungan masa lalu kalian!"
Aku tersenyum menyeringai.
Ngeh* ni orang! Setelah ketauan belangnya, dia malah berusaha menekan gue! Hehehe... Sori, ga ngefek, Cuy! Gue bukan aktor pemain drama kayak lo! Hm... Enaknya lo tuh gue buat apa ya? Sate Madura? Lontong ulek? Tahu gejrot?
Dia menatap mataku.
Hayo! Gue ga takut sama elo, Bryan Anggara! Biarpun followers lo segambreng, fans panatik lo bejibun,... Gue tetep kaga takut! Apalagi kini posisi lo itu jelas-jelas salah! Salah besar udah mainin perasaan dan jiwa kekasih hati gue. Yang lo kata, MANTAN ISTRI gue. Seenaknya lo nipu cewek sana-sini! Apa si Mirina juga tau kelakuan bejad lo? Apa ga bikin tuh cewek jungkir balik, salto, kayang bolak-balik kalo tau lo punya tunangan lain dan bakalan married sekitar sembilan-delapan bulan lagi? Ck ck ck...
"Jangan kasih tahu Alifah! Aku hanya ingin bahagiakan kedua orangtuaku, bro!"
Bro, lo kata? Kapan kita sodaraan, Mad Pe'i?
"Kenapa? Takut gagal nikah sama si Lipah?" Akhirnya aku mengeluarkan kalimat balasan juga dari bibir ini.
"Orangtua kami menginginkan pernikahan kami!" jawabnya pelan.
"Bini lo tau, kalo lo tunangan sama Alifah?"
Bryan menunduk.
Aku ikutan menghela nafas.
Lip! Nasib lo, Lip! Bisa-bisanya lo masuk dalam lingkaran keluarga sarang dosa begini!
"Tapi lo ga bisa begini, Bry! Lo harus tegas! Pilih salah satu atau lo..."
"Poligami diperbolehkan koq! Apalagi istri gue juga pada akhirnya nerima juga!"
Bangs*t juga ni orang!
Bug.
Aku langsung mendaratkan kepalan tinjuku di wajahnya. Agak sedikit meleset, karena dia rupanya telah membaca gerakan tanganku yang sedikit lambat. Hingga kepalan ini hanya mengenai telapak tangannya yang menjaga wajah tampannya.
"Tapi disini yang paling dirugikan itu Alifah, Beg*! Lo sama Mirina bisa terima, tapi gimana sama Alifah? Apa lo ga mikirin gimana perasaannya? Alifah pasti hancur karena lo sama keluarga lo udah bohongin dia!"
"Dia juga diuntungkan!!! Dia bisa jadi bidan itu atas biaya full Mama gue!!!"
"Anj*ng!!! Lo kira duit lo segitu berharganya sampe bisa beli Alifah?!?"
Bug.
__ADS_1
Kali ini tinjuku tepat sasaran.
Perutnya langsung shock menerima bogemku dan dia langsung tersungkur jatuh ke lantai.
Ah cemen lo! Baru sekali jotos langsung ambruk! Ga seru ah! Ulang lagi ah!
Kutarik kerah kemejanya. Tubuh tegap Bryan seperti anak kucing yang bisa kujinjing.
Berkat kemarahanku yang memikirkan perasaan serta hati Alifah, kekuatan tanganku berlipat ganda. Dan...
Bug bug bug
Perutnya kembali kuhajar beberapa kali.
Kalo wajah, pasti ni orang jaga! Maklum, secara wajah itu asset kekayaannya. Pasti tangannya bakalan siaga menangis bagian berharganya itu! Sengaja kupilih perut, karena dia pasti lengah. Dan benar saja!
"Gatooot!!!"
Istrinya keburu keluar. Memekik keras memanggil namaku dan menubruk suami bangs*tnya.
Ah, kurang seru! Tanpa perlawanan! Hiks...
Kulihat Bryan muntah-muntah semaput di lantai pintu apartemennya.
"Urus laki lo dengan baik, Mbak! Bilangin, jangan macem-macem sama gue! Karena, gue pasti bakalan habisin dia kalo sampe berani macem-macem!" kataku pada Mbak Mirina. Sesekali mata ini melirik kesal pada lelaki tak tahu diri yang tertunduk di lantai dengan isi perut terburai.
Makan tuh, pencarian!!!
Aku masuk ke apartemenku. Meninggalkan pasutri yang terdengar sibuk dan ribut sendiri.
Bodo amat! Selamat menikmati ya, Mas Bro Selebgram Sayang!
Ah..., aku lupa... Nomor ponsel Alifah sudah tak ada dikontakku. Sudah kuhapus berikut semua chattan kami yang lalu-lalu.
Hhh...
Bagaimana ya, caraku memberitahukan Alifah soal ini?
Kira-kira..., apa dia bakalan percaya apa yang aku ceritakan nanti?
Apa, Alifah akan menerima masukan dariku?
Atau,... Tetap mengikuti aturan karena hutang budi sama Mamanya si Bryan?
Haish!!!
Brak!!!
Kuhajar tembok demi melampiaskan amarahku yang belum puas tersalurkan. Berdarah seketika ruas buku jari jemariku.
__ADS_1
Beg* lo Tot! Kenapa tadi mukanya si Bryan ga lo jotos? Ga perlu lo hajar tembok apartemen yang ga punya salah! Yang ada tangan lo tuh yang sakit! Bego, bego! Hiks... (Menyesal sangat!]
...๐TO BE CONTINUE...