
Pekerjaan membuatku lupa pada fikiranku yang biasanya penuh dengan Alifah.
Bahkan ponselku sering berdering hanya untuk urusan pekerjaan.
Panggilan telepon dari PT ini, dari CV itu. Benar-benar hari yang melelahkan.
Peluh bercucuran di dahi. Keringat turun membasahi tubuh. Sungguh kerja yang luar biasa.
Wahai para wanita, hargailah keringat pria-mu tercinta walau hanya setetes saja. Karena mereka rela menukarnya demi untuk sebuah senyuman manis darimu yang puas pada pendapatannya! Ck, sotoy lo Tot! Emang lo udah nikah, apa?! Sok-sokan ngasih nasehat! Hehehe..., peace bro! Cuma asal nasehat, kali'-kali' aje nyampe dihati semua, gitu loh! Ahhay deh...
Sampai pukul sebelas siang lewat, aku baru sadar kalau sudah waktunya istirahat.
Treeet... Treeet... Treeet
"Hallo Sayang,"
...[Assalamualaikum...!]...
"Alaikumsalam! Hehehe..."
...[Dah makan belom, Yang?]...
"Belom, Ayank! Hiks, sibuk parah ini! Banyak kerjaan!"
...[Makan siang bareng yok? Mumpung aku lagi ada diposisi dekat tanjung p]...
"Hah? Kamu ada di Tanjung P? Dimananya? Ya udah, aku otewe!"
Hahaha... Allah bener-bener Maha Hebat! Doa sholat tahajud dan istikharah gue langsung terjawab! Yeaaa... Yiha!
Aku keluar kantor gudang pukul dua belas kurang.
Langsung meluncur ke alamat yang Alifah kirimkan via japrian.
"Gatot!"
Bibirku menyeringai, Alifah keluar dari sebuah caffee dengan melambaikan tangan ke arahku.
Ternyata gini ye, senangnya disambut pacar tercintrong! Uhuk, bangganya luar biasa. Apalagi ada beberapa orang yang juga ikut menoleh ke arah gue! Hm... (kepala langsung membesar!)
"Dari tadi, Yang?" tanyaku ingin beromantis ria. Kurengkuh bahunya dengan agak genit hingga mendapatkan cubitan kecil dipinggang.
"Aduh, lagi dong! Hehehe..."
Entah karena rasa senang yang membludak. Atau mungkin rasa kangen yang menyeruak, aku bertingkah sedikit berlebihan. Lebih tepatnya sih kami, aku dan Alifah.
Kami seperti lupa pada status dan keadaan yang mengharuskan kami untuk jaga tindakan.
Tapi siang ini kami justru kebablasan.
Cinta memang membagongkan!
Alih-alih melepas rindu, kami malah asik lesehan dan selfian di caffee bahkan sampai kuposting kebahagiaan ini di status WA. Hiks... Gatot tolol lo keblinger!!!
Niatnya hanyalah untuk foto kenang-kenangan. Tapi imbasnya, hhh... Benar-benar jadi kenyataan, hanya untuk kenang-kenangan.
Ditengah jalan motorku di hadang sebuah mobil mewah.
Dan... Ternyata yang turun adalah Tuan Bryan si selebgram tengil.
"Woow! Pasangan Romi dan Yuli, Galih dan Ratna, Dilan dan Milea! Hehehe... Surpriseee...! Anda terciduk rupanya! Hehehe, kereeen..."
Gila! Damagenya separoh artis itu membuat nyaliku agak menciut juga!
"Bry! Kami cuma ketemu ga sengaja!" tutur Alifah berusaha menenangkan sang tunangan. Dia mendekati Bryan. Tentu saja hatiku langsung panas.
Duh, Neng! Jangan gitu juga lah di depan mata gue! Itu namanya 'nyolok', Lip!
__ADS_1
Plak!
Anjing!!! Cewek gue langsung dia tempeleng!!!
Aku langsung naik darah, emosi jiwa. Dan menerjangnya hingga kami bergumul di aspal jalanan.
Bisa-bisanya dia menampar pipi Alifah di depan mataku. Benar-benar lelaki sakit!
Jedug jedug jedug
Tiga kali cukup puas aku menjotos rahang mulutnya bahkan sampai terdengar suara,
Krak!
Mampus lo, bangs*t! Makan tuh jotosan gua!!!
"Aaarrrgggghhh!!!" teriaknya keras.
Lima orang cecunguk si Bryan langsung merangsekku.
Ulala! Kalian pikir, gue takut, gitu? No no no! Justru semakin terpancing buat gue memperlihatkan kebolehan gue sedikit lah! Hm... (Gatot mode on sombong)
Prak. Desigh...
Plash plak plak plak
Hehehe, mayan... Pedes khan tuh congor lo!
Dua orang tepar, tapi aku lengah karena menoleh ke arah Alifah.
"Lif! Pergi!"
Pak! Bug.
Perutku kena tendangan dari salah satu. Membuatku sedikit terhuyung.
"Gatot!!!"
Aku menghajar balik orang yang sudah menendang perutku tadi.
Desigh. Prak
"Aaa... Aaa, sakit! Hiyaaa... Aaa!!!" teriaknya karena tangannya kupelintir setelah dadanya terhantam kena sikuku.
Mangga' mamam!
Alifah masih celingukan cemas dan sesekali berteriak minta pertolongan.
"Lipaaah, pergi! Pergi, Lip!!!" teriakku lagi yang akhirnya dia turuti juga.
Mana ada orang yang mau bantu. Apalagi melihat pertarungan yang makin beringas begini.
Ini sungguh bukan pertandingan. Tetapi sebuah aksi pengeroyokan.
Tubuhku beberapa kali kena gebog hingga tersungkur di atas trotoar yang panas menyengat.
Aku sedikit lega. Alifah telah pergi dengan naik ojek setempat. Setidaknya dia aman dari tindak kekerasan yang dilakukan si selebgram banci yang suka menyiksa perempuan.
Aku cukup percaya diri dengan ilmu bela diriku sampai saat ini.
Bryan yang kembali turut gabung di arena pun lagi-lagi kena kepretan tanganku hingga ia berteriak keras sekali.
Tapi bukan Bryan namanya kalau tak bisa mengerahkan massa. Secara dia adalah pesohor yang punya banyak uang untuk menyewa preman bayaran.
Sepuluh orang ikut masuk merangsekku sampai benar-benar terpojok.
Aku terkejut, ada yang membawa senjata tajam pula. Ternyata kali ini pertarungan semakin tidak seimbang.
Bayangkan satu lawan enam belas. Ck! Jago banget khan gue?
Plak plak plak. Pak pak pak
__ADS_1
Mantaf jiwa! Hahaha... Tamparan maut dan pukulan mematikan ala Gatot Subroto mampu menjatuhkan tiga lawan sekaligus.
Erangan demi erangan semakin membuat si Bryan geram dan garang.
"Lawan, beg*!!! Masa cuma sama cecunguk cingkrang model begini, kalian bisa kalah!"
Entah mungkin karena aku kelelahan sampai menjadi lengah, atau kesal pada orang-orang yang lalu lalang tapi hanya diam tak ada yang mau teriak dan bubarkan perkelahian ini.
Tiba-tiba...
Prak prak prak
Seseorang menimpaku dengan sesuatu alat berat ke arah punggung membuatku langsung muntah darah dan...
Bryan benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dia memukul kakiku dengan tongkat besi yang dilemparkan anak buahnya dan...
Bug bug bug bag bug bag bug
"Anj*iing!!! Bangs*aaat!!! Aaarrrggghhh!!!"
Jleb!
Aku melotot ketika salah seorang menikam dadaku dan...
Gubrak!!!
Aku pingsan tak sadarkan diri.
Seperti biasa di negeri Konoha. Aparat Kepolisian setempat baru turun ke lapangan setelah ada korban jatuh. Hhh... Speechless!
.............
.............
"Hik hik hiks...! Gatot! Bangun, Nak! Bangun! Hik hiks!"
Samar-samar kudengar tangisan Ibu yang sudah serak suaranya. Pasti beliau menangisiku lama sekali.
Lalu kudengar pula suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang didawamkan Ayah.
"Bu..."
"Gatot!!! Ayah, Gatot sudah sadar!" pekik Ibu membuat suasana sekeliling menjadi riuh.
"Tot! Gatot?!?" panggil Ayah memastikan kesadaranku karena mataku masih terpejam.
"Hm..., Ayaaah!"
"Alhamdulillaaah...akhirnya kamu siuman juga!"
Aku memicingkan mata. Cahaya biasan matahari yang masuk lewat kisi-kisi lubang angin rumah sakit membuatku silau.
"Gatot! Mau minum, Nak?" tawar Ibu dengan suara lembutnya yang khas.
Ayah langsung sigap mengambilkan minum dan memberiku sedotan agar lebih mudah meminumnya.
Seteguk air menghilangkan rasa haus yang menyerang tenggorokanku.
"Aduh!" rintihku kesakitan ketika menekuk sedikit tubuhku ke arah gelas yang Ibu sodorkan.
"Pelan-pelan!" kata Ayah sembari membantu menahan kepala bagian belakangku.
"Ayah, Ibu... Gatot ada di mana ini?"
"Ada di ICU Rumah Sakit Melania, Tot! Kamu pingsan tak sadarkan diri selama empat hari!"
Aih? Pingsan empat hari?
Aku menatap sekeliling. Kakiku di gips, dadaku diperban. Ternyata, lukaku cukup parah dan mengkhawatirkan. Hiks.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...