MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (65) Pergolakan Batin


__ADS_3

Malam ini, malam tergalau dalam hidupku.


Dikamar sebelah, Alifah tidur lelap di samping Ibu dengan nyenyaknya. Sementara aku,... Justru gelindingan kesana-kemari tak bisa pejamkan mata sama sekali.


Shiiit, sial! Gatot bego! Gatot tolol! Bisa-bisanya lo terlibat lagi kedalam cinta gila, cinta segitiga!


Otak lo kemana, Gatot? Hah?


Fikiran waras lo dimana? Hm?


Lo pernah ngerasain gimana ga enaknya cinta diduakan waktu lo sama Alifah di tengah-tengah si Bryan. Sekarang,... Lo malah terlibat lagi dan kini yang ada ditengah-tengah Eliza sama Alifah? Lo ini saraf ya? Sableng? Gendeng? Atau emang cowok yang suka cintanya dibagi-bagi gitu?


Aaarrrggghhh...


Helaan nafas demi helaan nafas tak mampu membuat otakku jauh lebih enteng. Sekarang malahan jadi makin berat dan makin oleng.


Teringat dahulu, betapa aku sulit mendapatkan hati serta jiwanya Siti Alifah.


Gadis yang selalu kupuja diam-diam dan kudamba hampir setiap malam.


Seiring berjalannya waktu, musibah serta kepahitan hidup dalam mencintainya begitu berat bahkan mampu menghancur leburkan hati serta perasaanku yang tulus dalam padanya, aku... Perlahan berusaha melupakannya.


Ayah Ibu kata, Dia tak berjodoh denganku. Kalau memang kami berjodoh, Tuhan pasti akan mendekatkan kami biar sesulit apapun hubungan ini.


Aku mulai menyadari, sekuat apapun aku berjuang. Sekeras apapun aku berusaha, Tuhan jauh Lebih Berkuasa. Tuhan mungkin tidak menginginkan kami untuk hidup bersama. Menjadi pasangan yang saling mencintai, dengan naungan yang halal bernama rumah tangga.


Aku... Mundur perlahan.


Menerima kekalahan dengan hati penuh kebesaran.


Berharap Alifah bahagia, bersama lelaki pilihannya.


Dan perlahan pula dengan terseok-seok serta langkah berat, berusaha melupakan semua keindahan tentangnya.


Hhh... Tapi setelah semua usahaku yang begitu berat tuk melupakannya mulai membuahkan hasil,... Hiks! Sungguh menjadikan pergolakan batin!


Helaan nafas ini menjadi kesekian kalinya kuhempaskan. Berharap nafasku yang sesak kembali normal tanpa beban. Hingga Aku memilih keluar rumah, pukul sembilan lewat secara diam-diam.


Tempat tujuanku adalah warung jamu remang-remang yang juga menjual tuak nira secara sembunyi karena kini peredarannya telah dilarang, sebab termasuk minuman beralkohol tinggi.


Merenung sendiri sambil menyeruput pelan gelas tuak yang terbuat dari potongan batang bambu. Mencoba mengalihkan perhatian dan menenangkan fikiran, dari kegalauan yang melanda.


Ternyata, justru ketenangan yang kudapat hanya sesaat. Semakin kutenggelam dalam cairan asam dan sedikit pahit itu, aku malah teringat kembali ciuman Alifah siang tadi padaku.


Haish, bangk*e!!!


Kutuang lagi, dan lagi. Berharap ciuman yang membuatku semakin merasa kotor itu hilang dari ingatan, justru...semakin memburuku dengan suara tarikan nafas Alifah yang saling memburu dengan debaran jantungku kala itu.


Shiiit shiiit shiiit!!!


Langkahku agak sempoyongan menuju motor Aeroxku.


Gokil! Baru kali ini gue mabok tuak! Hiks! Please, don't try this at home or anyplace, OK? Soalnya ga banget! Bikin lo beneran kayak orang gila, cengangas cengenges slebor dan gubrak!!!


"Lis! Lilis! Liiis..."

__ADS_1


Aku tak tahu, alam bawah sadarku membawa raga ini jatuh dan menggedor-gedor pintu pagar rumah Eliza di pukul satu malam.


Entah memang pacarku itu adalah orang yang peka', atau memang dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku menjadi orang yang benar, Eliza membukakan pintu rumahnya secepat kilat.


"Bang Gatot?"


"Non Lilis! Hiks."


"Ya Tuhaaan..."


Dalam kondisi setengah sadar, aku merasa tubuhku diseret Eliza masuk ke dalam rumahnya.


Lilis! Tolong gue, please...! Tolong selametin gue dari penderitaan ini! Hiks.


Mataku memang terpejam. Tapi masih punya sedikit kesadaran. Dan indera perasa yang cukup peka, ketika jemari pacarku yang halus lembut me-lap seluruh wajah ini dengan handuk tangan basah.


Lilis! Kawinin gue sekarang, Lis! Hiks.


Aku menarik tubuh pacarku masuk kedalam pelukan yang ngasal. Semakin membuatku beringas, karena Eliza tak menolak apalagi melawan.


"Lis...! Eliza Maura,... Gue... Cinta elo! Maukah elo...jadi bini gue?" bisikku lirih ditelinga Eliza.


"Bang...! Mari kita nikah, Bang!" jawabnya pelan. Suaranya lembut sekali, sangat lembut. Membuatku mengantuk setelah tangan dan bibir dari manusia laknat yang hilang akal ini menggrepe-***** Eliza.


Zzzz... Zzzz... Zzzz...


.......


Kukuruyuuuk


Kukuruyuuuk


Aku tersadar, seraut wajah cantik manis tengah duduk menatapku dengan wajah agak serius meski di bibirnya tersungging senyuman tipis.



Waduh?!? Gue... Gue baru sadar!!!


"Nona...Eliza!?!"


"Ayo, bangun! Mandi!!! Hari ini kita banyak kerjaan!" hardiknya dengan suara agak keras.


"Aku..., koq... Bisa ada di sini ya?" tanyaku pura-pura amnesia.


"Aku tau, kamu lagi ada masalah! Tapi... Untuk saat ini, udah waktunya kita ke kantor! Kita omongin nanti, sambil sarapan!"


Eliza memberikanku selembar handuk. Dengan malu-malu aku bergegas menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.


Hhh...


Gatot, Gatot! Ck... Mo ngomong ape lagi ye?!? Speechless!!!


.....


.....

__ADS_1


Ternyata keluar dari kamar mandi, diatas ranjang Eliza telah tersedia pakaian baru untukku. Lengkap dengan daleman juga. Bahkan ditambah blazer hitam yang catchy abis.


Dan setelah kucoba pakai,... ukurannya sangat pas di badan.



"Ini... Aku pakai, Non!"


"Tampan!" gumam Eliza dengan mata berbinar. Tetapi, binarnya seketika meredup. Lalu menambah kosakatanya menjadi, "Tampan...tapi kang mabok!"


Deg.


Aku hanya bisa menelan ludah.


Ucapan Eliza sedikit, tapi nyelekit.


Tentu saja sebagai seorang laki-laki yang merasa kalau kastanya satu level di atas perempuan, harga diriku langsung mencuat.


Hiks, ternyata pacar gue orangnya asal jeplak juga kalo ngemeng! Hufh... Bikin mangkel bin dongkol!


Sepanjang sarapan di meja makan rumahnya, kutekuk wajah ini dan tak keluarkan sepatah katapun. Biar tau rasa, dia!


Sesekali Eliza melirikku, tetapi tak berani memulai pembicaraan. Takut ni ye!?!


"Naik mobilku aja, Bang! Kamu masih agak oleng kalo bawa motor!"


Eala... Koq ngomongnya makin ga difilter!?!


"Lo mau bawa mobil? Silakan! Gue... naik motor gue sendiri!"


Entah kenapa, emosi ini jadi begitu sulit terkendali.


Aku... Malah membentak Eliza, yang termangu bengong karena responku yang dluar dugaannya.


"Bang! Bukan gitu maksudku! Kamu salah faham!"


"Halah! Semua perempuan emang sama! Egois! Mau menang sendiri! Ngerasa dirinya paling benar, paling sempurna! Dan gue sadar koq, gue ini...cuman kacung lo doang!"


Waduh?!? Kebablasan gua! Hiks...


"Bang! Bukan maksud aku ngajak ribut ya? Tapi buat keselamatan jiwa kamu juga aku! Naik mobil jauh sedikit lebih aman, kalo motor, oleng dikit, jatuh kita!"


"Ck! Dahlah jangan banyak ngemeng!"


Aku... Masih dengan jiwa emosional yang super tinggi. Marah dan langsung pergi dengan kendaraan bermotorku sendiri. Pergi menuju kantor perusahaan yang kami bangun bersama.


Hhh...


Eliza kuakui kedewasaannya. Dia pergi ke kantot dengan mengendarai mobil Honda Jazz-nya sendirian. Eliza bahkan mencoba melupakan ucapan-ucapanku yang kasar. Mungkin dia anggap, perkataan gue tadi adalah perkataan orang mabuk. Yang ga perlu di dengerin apalagi diambil hati.


Pekerjaan kami memang lumayan menumpuk. Membuatku dan Eliza tak sempat memikirkan hal-hal yang tak guna, yang bisa kembali memicu pertengkaran kami lagi.


Lis! Maafin gue, Lis!...


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2