
Setelah habis satu botol cairan infus, Alifah akhirnya diperbolehkan pulang. Karena kondisi tubuhnya yang sudah mulai pulih.
"Ibu, Ayah pulang naik mobil grab car aja. Biar Alifah sama Gatot naik motor, ya!?"
"Hah?"
"Alifah sama Ibu, dia baru sembuh! Hadeuh,..."
"Bu! Lipah mau Gatot bawa jalan-jalan sebentar! Biar ga mikir aneh-aneh nanti kayak orang stres!"
Ups... Gue keceplosan!!!
"Alifah ikut Gatot ya, Bu?" kata Alifah dengan mendekap Ibu. Wajahnya masih terlihat pucat. Tetapi melihat raut muka mantan menantunya begitu senang akan dibonceng putranya, hati Ibu terenyuh juga sepertinya.
"Ya udah. Tapi hati-hati ya, Tot!"
"Kamu pegangan Gatot yang kuat! Kalo pusing istirahat dulu!" kata Ayah membuatku melirik kepada Alifah.
"Iya, Ayah!"
Seketika Aku teringat jaman muda dulu. Ayah dulu begitu menyayangi Alifah. Bahkan beberapa kali memberi uang jajan pada si Belut dihadapanku. Hhh... Masa lalu yang membagongkan!
"Pegangan!"
"Iya. Sebentar, aku pakai helm dulu!"
Hiks... Kenapa ini seperti kembali mundur pada kisah dimasa lalu? Tuhan... Apakah aku harus kembali rendevous mengingat yang seharusnya kulupakan?
Tubuh Alifah menempel begitu lekat. Kepalanya bersandar di bahu belakangku dengan penuh rasa pasrah. Sedikit jengah meskipun aku suka.
Dulu, hati ini seperti melayang terbang di udara ketika kami tengah berboncengan seperti ini.
Tapi kini..., seperti ada rasa yang mengganjal. Rasa bersalah yang besar, karena secara tidak langsung aku telah menyakiti Eliza.
Koq gue kangen Lilis ya?!?
Pantai Tuing adalah pilihanku melipir mencari udara segar bersama Alifah.
Seperti yang kuprediksi, si Belut sangat menyukai view yang disuguhkan Allah Ta'ala agar kita bersyukur betapa Dia begitu menyayangi semua umat-Nya. Diciptakan-Nya alam indah untuk insan manusia healing ketika kepala sedang pusing.
__ADS_1
Alifah duduk di atas batu karang yang lempar dan datar.
Matanya memandang ombak lautan yang bergulung perlahan.
Kupandangi sekeliling pantai. Begitu indah dan masih sangat alamiah.
Ini bukan hari libur, jadi suasananya hening dan sepi. Hanya ada aku dan Alifah saja. Dan beberapa orang nelayan yang sibuk memancing di lepas pantai.
"Kau tau, betapa Tuhan itu Maha Baik pada kita! Dia memberi kita kehidupan, memberi kita hidung juga oksigen agar kita tetap bernafas melewati hari demi hari yang dipenuhi pelajaran hidup. Ambil semua maknanya, tinggalkan yang buruknya. Itu keinginan Tuhan sampai nanti kita kembali pada-Nya dan ditanya apa saja yang sudah kita lihat serta lewati selama hidup di dunia ini!"
Alifah menunduk malu.
Perlahan airmatanya kembali merembes. Ia menangis lagi.
"Kau lihat tadi, para pasien di rumah sakit yang sakit dengan berbagai macam penyakit. Mereka berjuang untuk kesembuhan mereka, Lipah! Mereka berdoa dengan segala kekuatan yang ada, meminta Tuhan meringankan penyakit yang dideritanya juga memohon agar diperpanjang umurnya. Kamu, seorang praktisi kesehatan. Bertitel bidan, bukan sekolah murah dan sebentar untuk mendapat gelar itu. Tapi pikiranmu dangkal, sampai nekad melakukan hal yang akan jadi penyesalanmu sampai kiamat nanti!"
"Hik hik hiks... Maaf, aku khilaf! Hik hik hiks..."
Kurengkuh bahunya. Memeluknya sebentar, lalu mengusap lelehan airmata di pipinya.
"Jangan tinggalin aku, Tot! Hik hik hiks... Aku takut, aku takut kamu ga lagi cinta aku. Aku ga bisa bayangin hidupku tanpa kamu, Tot!"
Tangisan Alifah membuatku mendes*h. Ada kesal, sebal, tapi bahagia. Kutepiskan angin laut yang membuat jantungku terpacu karena Alifah..., tiba-tiba...
Cup, slurp
Beluuut!!! Lo ngapain bibir gueee??? Huaaa..., tanggung jawab oooiii!!!
Ibuuu... Ayaaah, gimana iniii...!
Aku terbawa suasana.
Kami, kissing dengan air mata menetes di pipi.
Tuhan, maafin aku, please...!
Lilis, maafin aku, Lis! Maaf, beribu-ribu maaf...
Aku dihadapkan pilihan
Antara benar dan salah
__ADS_1
Aku mencintai kamu
Sangat mencintai
^^^Kamu berjalan bersamanya^^^
^^^Selama kamu denganku^^^
^^^Begitu rumitnya dunia^^^
^^^Hanya karena sebuah rasa^^^
^^^Cinta^^^
Jadilah aku, kamu dan dirinya
Berada di dalam dusta yang tercipta
^^^Mengapakah harus kurasa?^^^
^^^Sepenting itukah cintamu?^^^
^^^Kita berawal karena cinta^^^
^^^Biarlah cinta yang mengakhiri^^^
Hhh...
Semilir angin laut di tengah hari menjelang sore. Membawa angan dan jiwaku melambung terbang ke angkasa.
Setelah cukup lama bibir kami saling bertautan. Lembut dan penuh gelora asmara yang terpendam sekian lama. Aku dan Alifah hanya duduk berdempetan di bawah pohon rindang tanpa saling berbincang.
Mata kami menatap lurus ke depan. Pada ujung laut yang tak tahu batasnya. Pada deburan ombak yang menyapu pantai.
"Alifah... Aku sudah resmi berpacaran dengan Eliza! Aku..., aku tidak ingin, tidak ingin menduakan dia, juga tidak ingin mengecewakan kamu!"
Grep.
Lagi-lagi Alifah menerjangku. Menc*um bibirku yang tercekat kaget.
"Jangan katakan apapun! Please! Aku cinta kamu, Gatot Subroto! Aku cinta kamu! Belutmu begitu mencintai Imutnya! Jangan katakan hal lain ketika kita sedang bersama!"
Suara Alifah yang serak dan lirih membuatku seperti kena serangan jantung mendadak.
__ADS_1
Nah loh?!? Piye iki??? Help me, please!!!
...❤BERSAMBUNG❤...