MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (28) Ternyata Tetanggaku Itu Adalah...


__ADS_3

Hari-hariku yang datar membuat waktu terasa lambat.


Bahkan setelah makan siang di jam istirahat pun, staminaku malah agak menurun.


Tiba-tiba, Firman mengatakan kalau hape yang ku carge di meja kantor gudang berdering beberapa kali.


Sengaja aku menjauhkan diri dari handphone. Tujuannya agar mata ini tak terus terfokus menatap wajah cantik Alifah di foto profil WA nya.


"Biarinin aja lah! Palingan orang bank!" kataku malas-malasan.


Sampai berdering beberapa kali, aku masih tetap bertahan nongkrong di depan gudang. Kumpul ngobrol dengan teman-teman.


Sampai jam istirahat habis, dan kami kembali pada pekerjaan masing-masing.


Setelah beres membuat surat jalan untuk pengiriman barang ekspress dan siap diantar ke pelabuhan dengan kapal laut yang telah ditentukan tujuannya.


Kuperiksa ponselku, agak terkejut ternyata Alifah misscall beberapa kali. Ada juga chattannya yang menanyakan keadaanku. Dia juga minta maaf karena semalam bersikap seperti itu padaku.


Hm... Ga apa, Lifah! Gue ngerti perasaan lo!


Aku berusaha menahan diri untuk tak menchatnya. Tak boleh membalas chattannya karena berimbas makin panjang hubungan kami yang tak jelas juntrungan.


Hubungan kami adalah hubungan terlarang. Aku harus tegas pada diriku sendiri. Karena semua ini juga bisa merugikan Alifah juga di masa mendatang.


Khawatir hubungan kami makin dekat dan ketahuan calon mertua serta tunangan Alifah. Aku tak ingin mereka menganggap Alifah adalah perempuan yang tak baik. Untuk itu aku harus bisa menahan segala rasa yang berkecambuk. Walaupun rasanya sangat tersiksa.


Tuhan! Tolong kuatkan imanku!


Aku hanya bisa berserah dan berpasrah. Tak kuasa menahan segala cobaan yang berat bagiku ini.


Sangat berat rasanya menjauh dari Alifah.


Bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja. Bagaimana dengan kesehatannya, karena Alifah sering lupa makan. Alifah tak lagi mempunyai Mama. Kalaupun ada, namanya Mama Tiri tak sepengertian dan perhatian seperti Mama Kandung.


Papanya juga terlihat kurang dekat dengannya.


Lalu, pada siapa Alifah nanti berkeluh kesah.


Tuk tuk (ketuk dahi) Sadar woy, sadar! Siapa elo, buat apa juga elo terlalu peduliin si Belut itu? Dia itu punya tunangan. Sudah seharusnya curhatnya itu sama tunangannya. Bukan sama elo! Elo fikirin juga perasaan tunangannya, karena kekasihnya lebih sering chattan sama elo ketimbang dia. Gimana rasanya kalo lo jadi tunangannya!


Tapi,... Tunangannya galak. Bahasanya sarkatis dan penuh toxic padanya. Gue beneran ngerasa tunangannya itu freak banget. Bikin insecure walaupun wajahnya tampan rupawan.


Itu bukan urusan lo, Tot! Bukan urusan lo!


Hiks...


Lelah juga ternyata ribut dengan diri sendiri. Memilih dan memilah langkah dengan berperang dengan sisi baik dan sisi jahat diriku sendiri.


Antara ingin membalas menelpon Alifah, tetapi keinginan kuat untuk menghentikan kisah yang tak berujung ini.


Antara lelah ingin menyerah, tetapi hati penasaran dan tetap ingin bertahan.


Sampai tiba-tiba,


Treeet... Treeet... Treeet

__ADS_1


"Hallo, ya Lifah!?"


Hiks. Akhirnya aku mengangkat juga sambungan teleponnya yang tadi tak terjawab beberapa kali.


...[Gatot?! Ketemuan dimana kita nanti hari minggu, Tot?]...


"Kemana, Lifah?"


...[Ish, nikahannya Marwan, Gatot! Khan kita udah sepakat jadi bridesmaid sama groomsmen!]...


"Oh iya. Maaf, gue lupa Lifah!"


...[Jam berapa kita janjian datangnya?]...


"Entar deh, ya... Gue chat! Maaf, sekarang gue masih banyak kerjaan!"


Klik.


Lemas seluruh otot persendianku. Berdebar kencang dadaku. Berdesir cepat darah di urat nadiku.


Tuhan! Apakah aku salah karena bersikap dingin pada Alifah?


Tuhan! Aku tak tahu harus bagaimana menyikapinya yang terlihat begitu mempesona dan menggemaskan.


Hiks. Rasa dilema ini membunuhku.


Tring.


...Maafin aku ya Tot! Please, aku koq merasa sangat bersalah karena telah membuatmu terluka...


Ini benar-benar ujian yang maha berat. Aku sangat tidak mampu menahan rasa ini lebih lama lagi.


...Bentar ya? Aku masih ada kerjaan. Ntar kutelepon...


Hanya jawaban itu yang bisa kuketik untuk menenangkan perasaannya.


Alifah sepertinya mulai mengerti kalau aku sedang lelah. Lelah menghadapi dirinya yang tak bisa memberi harapan padaku. Lelah pada keadaan kami yang tak ada harapan bersama. Lelah pada kenyataan kalau aku harus tinggalkan dia.


Ah, Alifah... Mengapa kau tak mau mengerti akan diriku ini, Lifah Sayang!


Seharian aku menyibukkan diri. Mengerjakan semua tugas tanpa menoleh pada hape.


Sungguh otak ini ingin rehat sejenak dari kegalauan yang tak kunjung usai.


Makanya aku tak mau memikirkan terlalu banyak tentang Alifah sampai jam kerjaku usai.


Pulang ke apartemen pukul tujuh malam. Aku berjalan santai menyusuri koridor apartemen lantai satu hendak menuju kotak elevator.


Namun bertemu seseorang yang sempat menjadi rekan konsumen bisnis pekerjaanku.


"Mbak Mirina!"


"Gatot?! Eh kamu juga tinggal di gedung ini?"


"Iya!"

__ADS_1


"Lantai berapa?"


"Sepuluh, Mbak! Blok 2B nomor 112. Mbak dimana flatnya?"


"Lha? Kita tetanggaan?"


Apa???


Aku terkejut mendengar keterangan Mbak Mirina.



"Mbak tinggal di kamar berapa?" tanyaku gugup.


Sepertinya Mirina mulai menyadari suatu hal.


"Gatot,... kamu..., yang stel musik keras-keras kemarin malam ya?"


Waduh??? Apa...


"Mbak yang...,"


Sedikit terlihat perubahan wajah dan sikapnya padaku.


Lift membawa kami ke lantai sepuluh. Berjalan ke lorong B2 112. Ternyata feelingku tepat sekali.


Hiks, yassalam... Ternyata Mirina ini tetangga gue yang suka bercinta dengan pintu balkon dan jendela dalam keadaan terbuka. Mampus gue!!!


"Maaf ya, Tot! Suamiku itu orangnya agak keras temperamennya. Suka sedikit kasar, tapi hatinya sebenarnya baik, koq!"


Aku tersenyum kecut. Kembali teringat hardikan dan teriakan keras suaminya Mirina. Cukup memancingku pula untuk berkata kasar.


"Aku juga minta maaf, Mbak! Kalian jadi terganggu karena suara musik yang kunyalakan! Itu karena sikap kalian juga! Hehehe..."


"Hehehe... Iya! Maaf ya?'


"Hehehe ... Iya! Sama-sama, Mbak!"


Kami tertawa dan saling berpandangan sebelum masuk kamar apartemen masing-masing.


"Betewe kamu sudah berkeluarga, Gat?"


"Belum, Mbak! Hehehe..."


"Oh, bujangan toh! Aku dan suamiku sudah menikah lima bulan. Pindah ke apartemen ini baru tiga bulan yang lalu!"


"Ternyata hanya beda dua bulan setengah ya?!"


"Kamu juga baru di sini, Gat?"


"Baru tiga minggu kurang, Mbak! Oiya, aku masuk dulu ya, Mbak!?" pamitku agak kurang enak hati juga karena peristiwa keributan antara aku dan suaminya kemarin malam.


Moga aja tuh lakinya gak lagi segarang tempo hari! Dan gue juga harus bisa nahan diri, demi menghargai suaminya yang luar biasa itu! Ck...


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2