
Menderitanya hidup tanpa cinta.
Tapi lebih menderita hidup menanggung beban cinta.
Ibu dan Ayahku juga sedang melancarkan aksi mogok ngobrol. Mereka hanya berdehem ketika kutanya. Dan mengangkat bahu saat kuajak bicara.
Mungkinkah ini imbas dari kelakuanku yang ngeyel tak menghiraukan perkataan beliau? Hiks... Aku sedih, bingung juga lelah sebenarnya.
Tapi saat ini aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Berharap Alifah segera lulus kuliah, wisuda. Papanya sehat, dan Arif tamat SMA juga.
Setidaknya jika ketiga permasalahan itu terselesaikan, aku bisa lebih berani mengambil tindakan.
Mau sekeras apapun Bryan dan keluarganya bertingkah, masa depan serta kehidupan Alifah telah terselesaikan. Aku bisa mengambilnya dengan paksa dari si Bryan. (Kira-kira gue jahat banget ga sih? Tapi gue rasa sebanding sama kejahatan si Bryan yang mainin perasaan Mirina juga Alifah. Belom lagi kata-kata toxic-nya yang seringkali terlontar tanpa disaring!)
Hhh...
"Bu? Mau kemana? Koq... Beres-beres bawa kardus gitu?"
"Ayah sama Ibu mau pulang ke kampung! Percuma disini juga! Cuma bisa nyusahin Gatot saja khan!?"
"Apaan sih, Bu!? Koq ngomongnya gitu! Jangan gitu, Bu!"
Aku merasa sangat bersalah.
Ayah hanya duduk dengan tangan sibuk mengikat kardus bekas mie instan berisi barang bawaan.
"Yah! Bu!"
Aku berjongkok. Menatap keduanya dengan bergantian. Memohon dengan wajah memelas dan suara mengiba.
"Jangan dulu pulang, ya?"
"Kebun Ayah gak ada yang jaga!" kata Ayah pelan.
Aku tahu, Ayah kecewa pada pilihanku dan tak menghiraukannya saat beliau ingin mengenalkan putri temannya di kota PP yang katanya baru saja lulus Madrasah Aliyah Negeri di sana.
"Ayah..."
"Kamu sudah besar! Kamu berhak memilih jalan yang kamu inginkan. Ayah Ibu percaya, kamu sudah tahu resiko serta konsekuensinya. Jadi, kami kini tak akan lagi mengusik kebahagiaanmu, Nak!"
Jujur, jantungku serasa mau copot tatkala Ayah berkata seperti itu. Rasanya sakit nyelekit di ulu hati. Seolah berasa didepak dari Kartu Keluarga. Seketika aku nyuksrug dipangkuan Ibu dan menggenggam jemari Ayah.
"Bu, Yah! Maafin Gatot! Maaf...! Hik hiks..."
Aku sejujurnya juga lelah dengan semua yang kulakukan ini.
Tapi aku ingin berjuang sampai tetes darah penghabisan.
__ADS_1
Aku ingin bahagia sampai akhir hayat bersama orang yang kucinta seperti mereka.
Aku sangat mengagumi kekuatan cinta Ayah dan Ibu. Itu sebabnya aku bersikukuh akan bahagia pada waktunya nanti bersama Alifah.
Hanya Alifah seorang, perempuan yang bisa mwmbuatku gelindingan seperti ini.
Aku menangis terisak dengan kepala menelungkup ke pangkuan Ibuku tercinta.
Menyesal teramat sangat, karena telah membuat beliau berdua kecewa.
Aku tak mau jadi anak durhaka. Aku tak ingin menjadi manusia yang menyedihkan karena menyakiti perasaan kedua orangtua yang salah dalam pandangan.
Aku hanya ingin dimengerti, betapa hati ini sangat berat jika harus meninggalkan Alifah seperti permintaan Ayah Ibu beberapa hari lalu.
"Ayah...! Alifah sedang butuh Gatot! Papanya sakit parah, Mamanya juga udah meninggal dunia. Emang benar, Alifah udah tunangan. Dan...tunangannya itu adalah suaminya Mirina!"
"HAH?!?"
Akhirnya aku menceritakan kisah Alifah pada Ayah Ibu.
"Jadi, Alifah itu bakalan jadi madunya Mirina? Kalo mereka nikah, Alifah jadi istri muda? Begitu, Tot?"
Aku mengangguk lesu. Jemari Ayah sedikit menghangat. Tetapi tetap raut wajahnya tegang.
"Tapi itu sudah jadi komitmen keluarga Alifah. Apalagi itu amanah almarhumah Mamanya, khan?"
Ayah menatap netraku fokus.
"Dengar, Tot! Ayah mengerti perasaanmu! Ayah faham. Tapi hubungan kalian salah. Hubungan kalian dipandang nista dan terlarang! Biarkan dulu Alifah menyelesaikan masalahnya dengan suaminya Mbak Mirina itu! Kalau sudah selesai, baru kalian boleh bersama. Malah kalo kamu benar-benar cinta Alifah, cukup doakan kebahagiaannya saja. Biar urusan lain, Allah yang Maha Mengatur."
"Yah!... Gatot butuh dukungan Ayah Ibu! Gatot mohon! Kasian Alifah. Kasian Papanya juga Arif adiknya!"
"Mereka hidup baik-baik saja khan? Mengapa kamu harus resah?" tanya Ibu setelah sekian lama bungkam.
"Alifah juga cinta Gatot! Alifah minta Gatot tetap berada disampingnya, Bu!"
"Cinta kalian itu bukan cinta tulus yang hadir dari hati yang suci!"
Aih? Ibu? Ini cinta suci, Bu! Cinta mati malah! Hiks...
"Sholat istikharah-lah malam ini, Nak! Minta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Ibu yakin, kamu akan mendapat pencerahan esok hari! Kalo kalian memang berjodoh, Allah pasti akan memudahkan semuanya. Percayalah!"
Ibu benar! Petunjuknya hanya ada pada Allah saja. Selama ini gue sibuk sama urusan duniawi doang! Tapi urusan spiritual, malah nol kosong. Hhh...! Gue udah lama gak ngadu ke Allah. Hidup gue terlalu sibuk mikirin sama ngurusin percintaan, sampe gue lupa pada kebesaran-Nya yang menganugerahkan cinta Alifah yang begitu indah. Fix, tar malem gue mau tahajud terus istikharah. Minta petunjuk Illahi. Bukan ajab Illahi, tapi!
............
Alarm hapeku berdering pukul dua dini hari.
__ADS_1
Aku tersadar pada niatku yang bulat minta petunjuk dari Sang Kholiq.
Malam terasa dingin. Lebih dingin dari malam-malam yang lalu. Suasana malam juga tampak jauh lebih hening. Membuat bulu kudukku meremang.
Segera kutepis segala fikiran takut yang menghambat.
Aku butuh pencerahan.
Aku butuh saran dan petunjuk, jalan mana yang kuambil untuk memuluskan hubungan antara aku dengan Alifah.
Tuhan adalah tempat sebaik-baik tempat meminta. Tiada Tuhan selain Allah. Aku sangat meyakini itu.
Dua rakaat niat tahajud dan dua rakaat sunnah istikharah membuat batinku kini lebih tenang.
Sebenarnya rada aneh juga, melakukan ibadah sunnah namun meninggalkan yang wajib. Aku tidak maghriban dan Isya'an. Tapi pulang pukul sembilan malam dari gudang karena ambil lemburan.
Hadeeuh! Bener-bener hidup gue ga teratur! Sholat mencla-mencle. Bolong-bolong kadang lupa sampe berhari-hari! Giliran butuh kekuatan dan keinginan yang terpendam, langsung sujud minta-minta supaya Allah segera kabulkan. Dasar manusia durjana kau Gatot Subroto!
Aku kembali lanjutkan tidur pukul tiga menjelang pagi. Mata sepet masih sangat mengantuk.
Baru tersadar karena betisku sakit seperti kena sabetan sesuatu.
Cepret!
Sebatang sapu lidi menjadi alat yang Ibu gunakan untuk membangunkanku.
"Gatooot!!! Ini udah jam tujuuuh!!!"
"Hah? Hah???"
"Bu, jangan tereak! Ini apartemen Jakarta bukan di kebon kita di Pangkal Pinang!" tegur Ayah sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibir.
Sontak Ibuku mendekap mulut beliau.
"Lupa, Yah!" bisik Ibu malu hati.
Yassalam! Ck ck ck... Beneran fatal banget sih gue ini! Hiks huaaa... Aaarrrggghhh! Sholat Subuh juga lewat. Malah bangun kesiangan sampe jam tujuh!
Aku segera masuk kamar mandi. Mandi cowboy, langsung berangkat pergi.
"Yah, Bu, Gatot berangkat. Assalamualaikum!" pamitku dengan tergesa-gesa tapi masih sempat cium tangan Ayah dan Ibu.
Hanya Ibu yang memandangku dengan senyum kesal dan kepala geleng-geleng.
"Waalaikumsalam!"
Hehehe...! Maaf, Yah, Bu! Beginilah anakmu ini! Slebor, slenge'an, serampangan, juga sembarangan. Tapi, urusan hati, cinta dan perasaan. Kesetiaan anakmu ini boleh diadu dengan cowok manapun di dunia ini! Ayah boleh bangga, anakmu ini hanya mampu memuja satu wanita. Seperti dirimu yang hanya bisa menatap Ibu seorang saja. Hehehe... Peace, Ayah!
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...