
Aku sedih. Aku kecewa. Tapi tak bisa berkata-kata untuk menegur Alifah.
Aku sedih. Aku kecewa. Alifah seperti memunggungiku untuk hal-hal yang kuanggap krusial dan penting dalam hubungan suami istri. Komunikasi kami ternyata tak seterbuka yang kubayangkan.
Alih-alih berusaha ingin segera mendapatkan momongan, ternyata Alifah seolah menikungku dengan mengkonsumsi pil penahan kehamilan.
"Yang, tidur Yang! Udah malam!" kata Alifah mengingatkanku untuk segera pergi tidur.
Kulirik jam di dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Tapi aku masih asyik dengan gadget ku.
Hhh...
Alifah seperti merasa, sementara sikapku agak lain dari biasa.
"Kenapa, Yang? Koq banyak diam? Agak kurang enak badan kah?"
Seperti biasa, Dia begitu perhatian. Jemarinya memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkannya di atas dahi.
"Ga, Yang!" jawabku singkat.
Alifah mengecup pipiku. Mengucapkan kata I Love You dan kujawab Love You Too, tapi sedikit dingin serta tanpa jawilan jahil seperti biasa di bagian gunung kembarnya.
Ah, gue ingin, tapi lagi marah! Gimana dong?! Kalo gue kegatelan colak-colek dia, koq kesannya sebagai suami ga ada harga dirinya sama sekali! Ck.
Alifah memelukku, lagi-lagi seperti biasa.
Kami memang selalu tidur dengan tubuh saling berhadapan dan berpelukan satu sama sekali. Walaupun nanti malam posisi berubah kadang saling memunggungi kadang saling menindihi. Begitulah.
Tetapi sikap dinginku tak berubah dan tak bisa hangat seperti biasanya.
Beneran deh, ketika lo memendam suatu kekecewaan dan belom lo beresin permasalahannya, itu semua bikin kepala lo pusing tujuh keliling. Ga bisa tidur nyenyak, cuma gelindingan ke kiri ke kanan, puter posisi bolak-balikin bantal. Ada yang sama? Itu karena hati yang mangkel.
Kulirik sekilas Alifah yang tertidur pulas.
Enak bener tidurnya! Kek orang ga punya salah! Gerutuku dalam hati.
Aku hanya bisa mengusap wajah, ber-istighfar menyebut asma Allah.
Sholat keknya lebih baik deh!
Sholat sunnah dua rakaat, membuatku jauh lebih tenang dan pasrah dengan Kehendak Illahi. Hanya berdoa, semoga Tuhan membuka mata hati Alifah. Memberinya hidayah dan ingat pada tujuan awal mereka menikah.
...........
Pukul lima Alifah membangunkanku dengan kecupan kecil di pipi.
"Bangun, Yang! Subuh!" katanya dengan suara lembut berbisik.
Seperti biasa, aku bangun dan langsung bergegas ke kamar mandi. Untungnya saat ini kami sedang berada di rumah Alifah. Jadi aku tak perlu berpura-pura demi menjaga perasaan Ayah Ibu karena di rumah ini cuma ada Aku, Alifah dan Arif saja.
Selesai sholat Subuh di Masjid tak jauh dari rumah, Istriku menyambut di teras depan pintu dengan senyuman manisnya.
Dia mencium punggung tanganku. Dan aku mencium pucuk kepalanya. Penuh doa-doa beruntai namanya. Moga Alifah menghentikan konsumsi obat KB, aamiin...
Dia sudah menyediakan sepiring nasi goreng dan segelas susu sapi segar di meja makan.
Untuk masalah pelayanan dan dedikasi seorang istri, Alifah adalah istri ter-the best dan luar biasa. Baik itu urusan ranjang juga urusan perut serta pengaturan keuangan, Alifah adalah istri terbaik dari yang terbaik. Aku tak pernah punya keluhan walau sedikit pun. Intinya rumah tangga kami terdeteksi bahagia. Hanya baru kali ini saja aku kecewa. Kecewa pada keputusannya yang seperti ingin menunda kehamilan tanpa kompromi lebih dulu.
"Yang?!"
Aku terkejut, Alifah membangunkanku dari lamunan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya lembut.
"Ga ada apa-apa!"
"Koq jawabnya datar begitu?"
"Ga ah, biasa aja!"
Aku tak ingin banyak bicara. Ingin segera pergi kerja, menghilangkan rasa pusing campur kesal di dada.
"Yang, nanti kamu berangkat ngampus sendiri gak papa khan?" kataku mencoba bernegosiasi.
"Oh iya. Emang kenapa, Yang?"
"Aku mau berangkat lebih pagi. Ada yang harus diurus!"
"Oh. Ya udah, ga apa-apa!"
Senang campur tenang. Aku bergegas mandi dan pergi kerja tanpa harus mengantar Alifah. Hiks, gini amat sih sifat jelek gue kalo lagi ngambek? Tapi yang diambekin malah kaga peka sama sekali. Hadeeuh...
Kerja tak tenang, makan pun tak kenyang.
Dunia terasa gelap redup tanpa cahaya.
Aku lebih banyak melamun daripada bekerja.
Bahkan layar laptop kutatap lama tanpa secuil laporan yang kuisi di kolom pembukuan.
Hhh...
Pulang kerja tak bersemangat seperti hari-hari lalu. Bahkan Aku seolah memperlambat langkahku untuk kembali pulang ke rumah.
"Assalamualaikum!"
Alifah menyambut kepulanganku dengan segelas susu coklat panas, minuman favoritku. Tapi... Kali ini sungguh lain rasanya. Seperti hambar tiada rasa.
"Yang?!..."
"Hm..."
"Kayaknya ada sesuatu yang bikin kamu jadi gini deh!?" Tebaknya membuatku mendengus tanpa sadar.
"Tuh khan!"
"Apa? Apa yang buatku kesal dari semalam? Ngerasa ga?"
Bagaikan pecah telor, aku senang dia memancingku lebih dahulu. Tentu saja setelah itu bola matanya membelalak. Seperti mau loncat.
"Kalo ada masalah kenapa ga bilang terus terang?" ucapnya makin membuat naik emosiku.
"Ya kali' yang buat masalah harusnya lebih peka'!"
"Yang buat masalah? Itu aku?" tanya Alifah bingung.
"Ya siapa lagi orang yang bisa bikin aku kecewa gini, kalo bukan kamu!" gumamku menggerutu.
"Apaan sih? Ada apa? Bilang aja jangan sindir-sindir gitu kali'! Khan bisa dibicarakan baik-baik ga harus diem-dieman apalagi sindir sampir gitu!"
Nah lo, koq dia malah lebih nge-gas?!? Hiks.
Bruk.
__ADS_1
Tuh khan? Hiks, susah bener jadi lelaki. Serba salah, karena perempuan selalu benar! Kalo kita main keras, langsung dituduh lelaki yang ngga punya perasaan dan kasar. Kalo kita diam, di gimanain juga tetap diam, disebut lelaki susis alias sieun istri. Kalo kita macem-macem, dia malah punya seribu macem. Amsyong bener khan!
Dia yang salah, dia yang banting pintu lemari.
Tentu saja sebagai seorang suami aku harus jauh lebih dewasa. Harus jauh lebih sabar dan bersikap gentlement menunggu amarahnya reda.
Tebolak. Harusnya gue yang ngadat, napa jadi die... Hik huaaa...!!!
"Ngomong kalo ada masalah! Jangan diam terus pasang muka asem! Emangnya istrinya itu paranormal yang bisa baca isi hati suaminya!" omelannya kini makin kencang.
"Itu semalam pil KB siapa?" tanyaku langsung to the point.
"Pil KB?"
"Iya. Kata kamu itu pil KB kamu. Kenapa minum pil KB padahal kita khan ga punya program nunda kehamilan? Malah kepengen banget punya anak. Tapi malah minum pil KB!"
Wajah Alifah menegang.
"Aih? Aku belum cerita ya Yang?" tanyanya seperti lupa kalau tadi dia sedang marah.
"Nah khan? Sekarang malah pura-pura amnesia!" tuturku berani kesal.
"Oala... Hehehe...! Yang, aku lupa bilang, pil KB juga berfungsi untuk merangsang hormon reproduksi wanita, Yang!"
"Terus?"
"Aku minum pil itu hanya untuk memperlancar menstruasiku dan kita bisa kembali mengikuti program kehamilan! Cuma sekali dua kali aja koq minum pil KB nya. Ga rutin tiap malam! Cuma buat pancingan!"
Pancingan? Oh iya ya, bini gue khan bidan ya? Otomatis urusan beginian dia pasti lebih faham. Hadeeuh, bego bener dah gue nih! Hiks... Maafkan kesalahfahaman ini, Sayang!
"Aku juga ingin sekali punya anak, Yang! Usiaku sudah lumayan dewasa saat ini. Aku juga ingin memberikan kebahagiaan sekaligus kebanggaan sama kamu, Ayah juga Ibu. Hiks hiks...!"
Aku segera memeluk tubuhnya erat.
Maaf... Maaf, Sayang!
"Maaf, Yang!"
"Hik hiks...! Aku juga takut, Yang! Aku belum bisa memberimu kabar gembira padahal kita udah tiga bulan menikah. Aku diam-diam searching semua cara yang bisa bikin aku cepat hamil. Aku malu, Yang! Malu belum bisa mempersembahkan janin calon anak kita. Hik hik hiks... Tapi apa daya, semua kuasa Allah Ta'ala!"
Kupeluk erat tubuhnya.
Kuciumi wajahnya bertubi-tubi. Sebagai balasan rasa bersalahku yang telah salah faham memandang dirinya.
Kupangku Alifah yang menangis terisak.
Membawanya ala bridal menuju kamar dan langsung membawanya ke surga dunia.
"Sayang, maafkan Aku! Please... Maafkan kesalahanku meragukanmu! Maaf... Maaf ya?"
"Yang..."
"Hm?..." kuserang Alifah dengan senjata pamungkas yang langsung membuatnya tak berkutik. Matanya terpejam, bibirnya merapat. Sesekali des*hannya justru semakin membuatku menggila.
Tapi tidak jadi sodara-sodara. Coz istriku sedang datang bulan. Jadi tidak boleh lakukan hubungan intim kecuali hanya cumbu-cumbu saja. Cukup gelitik mesra pakai sentuhan kasih sayang. Sambil nahan nafsu birah* biar tak jadi dosa. Hehehe... Peace!
Aku gila.
Aku jatuh cinta.
Aku tergila-gila dan jatuh cinta pada Siti Alifah. MUSUH BEBUYUTANKU yang sempat jadi Istri kemudian jadi JANDAKU dan kini kembali jadi ISTRIKU lagi. Puyeng puyeng deh tuh pembaca! Wkwkwk... Peace! Hehehe...
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...