MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (94) Menuju Bahagia


__ADS_3

Aku dan Alifah sengaja mengumpulkan tiga orang yang paling kusayang dalam hidupku.


Sengaja mengatur kesempatan berbincang serius dengan mereka setelah makan malam.


"Tumben, Gatot makannya cepat dan ga banyak omong!" ledek Ibu seperti biasa.


"Sakit gigi kali', Bu!" tukas Ayah juga setengah meledek.


"Lagi PMS apa ya, Bu?" timpal Arif makin tak jelas.


Aku tersipu sambil melirik sesekali ke arah Alifah yang hanya senyum kalem.


"Hm... Nanti abis makan, duduk dulu ya di sofa?! Ada yang mau Gatot sampein sama kalian! Dan ada sesuatu yang mau diomongin serius!"


Seketika Ayah, Ibu dan Arif terdiam.


Kayaknya mereka mikirnya nethings deh! Soal'e pada gugup tertunduk gitu. Hm...


Selesai makan bersama.


Alifah masih membantu Ibu mencuci piring bekas kami makan.


"Udah dulu, Lif! Bu... Sini dong duduk, ada yang mau Gatot obrolin!" kataku tak sabar.


Semua menurut. Duduk di sofa panjang dengan wajah penasaran.


"Yah, Bu..., Arif..."


Semua fokus pada wajahku.


"Gatot... Ingin nikah sama Alifah. Alifah juga udah jawab. Kami... Minta doa restu dan izin semua."


"Alhamdulillaaah!!!"


Ayah, Ibu juga Arif kompak mengucapkan kalimat hamdalah. Wajah-wajah yang tadi terlihat bingung dan tegang kini berganti aura kebahagiaan.


Arif langsung merangkulku.


Ia menangis dibahuku. Tersedu sampai basah kemeja bagian atas kiriku terkena air mata kebahagiaannya.


"Kapan kira-kira waktu yang pas?"


"Sekitaran sebulan lebih, Bu! Sampai urusan kepolisian selesai, dan Alifah juga harus urus ulang kontrak kerjanya dulu ke kedutaan Saudi Arabia. Lifah dapat tawaran lanjutkan kontrak, tapi ga diperpanjang."


"Iya. Ayah setuju!"


"Ibu juga setuju!"

__ADS_1


"Arif yang bakalan jadi wali nikah kak Lifah!"


"Alhamdulillah!" Kini aku dan Alifah yang kompak berdua.


Ingin rasanya menggenggam jemari JANDAKU yang tersipu disampingku ini. Tapi... Aku harus bisa menahan diri. Sampai kami benar-benar halal dan Dia resmi jadi istriku. Belahan hidupku hingga akhir hayat ini.


Entah mengapa, bibir ini tak bisa berhenti menyungging. Bahkan tersenyum terus, walaupun obrolan kami mulai menjurus ke arah serius. Tentang tata cara pelaksanaan akad nikah yang biasa dilakukan di kampung ini.


"Tot, jangan nyengir mulu! Gigi kering, Tot!" kata Ibu. Sontak semua tertawa.


"Ibu mah, ga boleh liat Gatot seneng!"


"Hahaha..."


Malam yang bahagia.


Untuk beberapa hari Alifah tidur bersama Ibu.


Ia masih sering mengigau dan kadang teriak ketakutan di tengah malam. Katanya mimpi orang-orang yang mengisenginya masih sering datang mengganggu.


Tentu saja aku sedih sekaligus terenyuh. Terbayang pada perempuan-perempuan lain diluar sana yang pernah dan sedang mendapatkan kekerasan, pelecehan serta penganiayaan yang lebih serius lagi. Ck!


Jangan anggap masalah selesai meskipun korban sudah mendapatkan keadilan.


Trauma fisik maupun psikisnya masih akan terus berlanjut bahkan lama sekali pulih mentalnya.


Seperti Alifah.


Aku bahkan membawanya ke psikiatri di kota Jakarta sekalian mengurus kontrak kerjanya yang berakhir di kedutaan Arab Saudi.


Alifah mengalami gangguan kejiwaan yang lazim disebut anxiety disorder PTSD (post traumatic stres disorder).


Butuh beberapa kali pertemuan psikoterapi dan konseling guna memulihkan kembali kondisi mental Alifah seperti sedia kala.


Kami memutuskan untuk menginap beberapa hari di Jakarta. Tepatnya di penginapan dekat rumah sakit.


"Alifah! Gatot!"


Aku dan Lifah menengok berbarengan.


Mbak Mirina? Bryan?


Jantungku hampir meledak melihat Mirina dan Bryan. Kedua pasutri itu berjalan beriringan tepat beberapa meter dibelakang kami.


Wajah Alifah juga pucat pasi.


Aduh, Gusti!! Kenapa ada pertemuan ini lagi?! Please, please lindungi Alifah ya Allah!

__ADS_1


"Kalian?!..." sapaku agak bingung.


"Kalian sedang apa di ruangan khusus syaraf ini?" tanya Mirina. Kepo.


"Ga. Cuma niat nyambangi teman yang kebetulan jadi psikiater di RS ini. Ya khan, Lif?" jawabku sembari menggenggam jemari Alifah yang dingin dan basah. (Tentu saja bohong)Gue cuma ingin menyalurkan semangat sama si Belut yang terlihat pucat dan cemas.


"Kalian sendiri?" tambahku.


"Kami memang sudah lama jadi pasien. Sekitar dua tahunan. Tapi bukan berarti kami gila lho ya!? Hehehe..."


Aku tertawa kecil. Menimpali tawa Mirina dan seringaian Bryan Anggara.


"Lifah, maafin aku dan Bry ya?"


Aku tertegun. Mirina mencoba berinteraksi dengan Alifah yang sedari tadi diam saja.


"Terutama Aku. Aku juga mewakili Papa Mamaku yang telah banyak salah sama keluargamu!"


Aku memeluk bahu Alifah. Membantu menyalurkan hawa hangat agar dia tak lagi merasa takut. Ada aku disampingnya.


"Sama-sama!" jawab Alifah pada akhirnya.


Mirina terlihat sibuk melihat jam tangan rolexnya yang couple dengan Bryan.


"Ayo, kita ditunggu dokter Hana diruangannya!" kata Mirina pada suaminya.


"Semoga kalian selalu bahagia. Maaf..., maafkan atas semua kesalahanku dahulu!" ucap Bryan lagi.


"Terima kasih, Bry!"


Kini kurasakan jemari Alifah yang dingin jauh lebih hangat aliran darahnya. Syukurlah!


Kami saling berjabatan tangan. Saling memaafkan kejadian demi kejadian di masa lalu. Dan tersenyum sembari mengucapkan kalimat 'sampai jumpa lagi'.


Hhh...


Jodoh Bryan memang adalah Mirina. Pernikahan mereka ternyata masih bertahan sampai saat ini.


Begitulah hidup seseorang. Tak bisa ditebak, tak dapat diprediksi.


Hanya si Empunya Kehidupan-lah yang bisa membolak-balikkan hati manusia, insan ciptaan-Nya.


Kurengkuh bahu Alifah. Siap melangkah ke depan menyongsong masa depan.


Satu persatu urusan berhasil kami selesaikan. Bersiap menuju hari bahagia, penyatuan cinta suci kami berdua di pelaminan. Aamiin...


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2