MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (87) Terhorror...


__ADS_3

Ada yang membuatku senang, Arif perlahan mulai membuka diri. Mulai mau mengakrabkan diri dengan Ayah Ibu terlebih lagi denganku.


Seminggu setelah obrolan serius yang cukup mencekam bagiku, Aku dan Arif terbang ke Jakarta. Tujuan utamanya adalah ziarah kubur.


Sempat geregetan, karena Arif memintaku untuk langsung kunjungi area pemakaman tempat kuburan Inayah di daerah TPU Karet Bivak padahal hari sudah mulai sore yakni pukul lima.


Kedatangan kami ke Jakarta memang terkendala delay kedatangan pesawat sampai tiga jam karena cuaca buruk di awal bulan Oktober ini.


Akhirnya, kami menjejakkan kaki tiba di bandara Soetta pukul empat kurang.


Sempat terjebak macet di jalanan pusat Ibukota yang memang sudah jadi cerita harian para penghuninya. Apalagi di jam sibuk, jam pulang kerja dan aktivitas para warga Ibukota.


Cuma bisa pasrah, coz mau gimana lagi?! Ya beginilah keadaan kampung halaman gue. Welcome to the Jakarta. Semua rasa, semua bau, semua situasi bercampur aduk jadi satu. Ya beginilah! Hehehe...


Sengaja ambil perjalanan dihari kerja untuk mengurangi budget tiket pesawat yang lebih murah sedikit dibanding hari libur.


Dan imbasnya, tempat pemakaman umum pun terasa keangkerannya karena sunyi sepi apalagi menjelang senja begini.


Duh horror beud ini deh!!!


Entah apa karena sudah terkontaminasi cerita-cerita mistis yang Arif sempat bilang padaku, rasanya lutut ini lebih lemas dari biasanya.


Ziper campur degdeg plas. Antara rasa takut juga rasa setengah percaya pada hal goib yang memang ada, aku berjalan menyusuri trotoar TPU semakin lambat.


Sampai,


"Abang..., aku tunggu di sini boleh ya?"


E busyet?!? Dodol Garut ni bocah! Gue mau dia suruh ziarah sendirian ke makam Inayah? Serius nih??? Alamak!?!


"Emang kamu kenapa?" tanyaku dengan suara tinggi. Kesal hati ini sebenarnya.


"Aku di sini aja! Ga pa pa khan?"


"Ga papa juga sih! Cuman... Khan yang nyuruh Abang ziarah itu kamu, Rif! Koq malah ditinggalin gitu aja di pemakaman!?"


"Jangan takut, Bang! Aku dampingin Abang dari sini!"


Dih?! Ni bocil, mulai songong! Dia bilang jangan takut! Emang gue ini sepenakut itu apa? Lha? Gue udah pernah liat poci anclok-aclokan dulu pas kemping di gunung Salak. Gue juga udah pernah diketawain tante kunkun waktu pulang kemaleman ke PP naik biskota. Gue tau, Allah ciptain makhluk lain yang tak kasat mata. Tapi... Ini lain cerita. Seolah gue datang ziarah cuma demi minta kembali cangcut sama almarhumah Inayah. Hiks. Huaaa...


Aku ogah dong dibilang penakut.


Apalagi ini masih siang terang benderang pula. Jam di tangan menunjukkan angka lima lewat sebelas menit.

__ADS_1


Ya ampuuun... Masih sore dong! Mana ada setan keluar kandang jam segini khan?!? Kalo pun ada, itu setan kayaknya kesiangan. Atau setannya ga punya jam jadi ga tau waktu sampe keluar di sore hari gini, khan!?


Keayunkan langkah, terus berjalan menyusuri trotoar sekitar TPU. Akhirnya gerbang pintu pagar nampak terlihat. Dan masih ada beberapa lapak pedagang kembang serta air mawar yang buka di kiri kanannya.


Aman koq, aman!


Setelah membeli sekantung kelopak aneka bunga segar dan sebotol air mawar, aku mantap lanjutkan langkah menuju makam Inayah.


Setelah bertanya pada salah seorang pengurus pemakaman dimana letak Blok K, aku kembali bergegas. Bahkan kini lebih cepat agar segera terbebas dari beban moral yang menggelayut di hati ini.


Inayah, Inayah... Dimana sih, kuburannya?


Ternyata setiap blok lahannya luas juga. Ada beberapa makam berjejer rapi dengan aneka warna tembok dan keramik yang menjadi hiasan setiap mata yang memandang.


Inayah binti Asep Hidayatullah.


Nah, ini! Iya benar...! Ini makamnya Inayah.


Aku menghela nafas, menelan ludah. Lalu perlahan menatap batu nisannya yang tertulis dengan jelas nama lengkap dan tanggal lahir serta tanggal 'kepergian'nya.


Sudah tiga tahun yang lalu, gadis ini dijemput Sang Pemilik-Nya.


Aku berjongkok. Merapatkan kaki mencari tempat untuk menjejakkan diri di samping pusaranya yang bersih dan rapi.


Aku tak pandai mengaji. Aku juga tak jago berdoa. Hanya satu balik membaca surat Al-Fatihah setelah tujuh kali beristighfar, lalu baca doa ziarah kubur singkat yang pernah kupelajari waktu jaman SMA dengan menyebutkan nama Inayah lengkap bintinya.


Setelah selesai dengan jantung berdebar, aku menaburkan kelopak bunga sekantung plastik di atas pusaranya. Kemudian menyiramkan air mawar yang kubuka dengan menyebut basmalah.


Perlahan... Dadaku berdesir. Angin semilir menerpa wajah depanku seperti mendapat belaian lembut tangan halus menerpa kulitku.


Gatot bego! Jangan berhalusinasi! Ini bulan oktober. Anginnya ya emang kayak gitu. Bikin semriwing kalo ketabok angin! Hadeuh...! Ayo kuy, putar balik!


"Inayah...! Semoga Allah melapangkan jalanmu, menerangi kuburanmu, mengampuni segala dosa-dosamu selama di dunia. Aamiin..."


Aku beranjak bangkit berdiri dari dudukku. Tiba-tiba...


Kreek... Prak


Sebatang dahan kering terhempas jatuh tepat dihadapanku.


"Astaghfirullahal'adzim!"


Spontanitas aku terpekik berteriak. Nyaris lompat kabur kocar-kacir kalau saja di area itu tidak ada seorang bapak yang sepertinya salah satu tukang gali kubur.

__ADS_1


Pucat pias wajahku tatkala melihat wajahnya yang ternyata rusak separuh bagian kanannya.


Ya Allah Gustiii...!!! Ini beneran bikin gue jantungan. Wooi...!!! Ini bukan novel horror deh! Tapi ngapa bikin alur ceritanya jadi bikin MC ada di situasi mencekam menakutkan gini, Thor? Huaaa...


"Mas ziarah dari pusara atas nama Inayah ya?" tanya bapak yang sempat membuatku nyaris semaput ketika pertama kali melihat wajahnya.


"I iya, Pak!"


"Alhamdulillah. Moga mulai hari ini almarhumah bisa beristirahat dengan tenang dan tak lagi gentayangan penasaran!"


Deg deg deg deg


Aku tak berani bertanya macam-macam. Selain menunduk sambil menjawab kata 'aamiin'.


"Saya pamit, permisi, Pak!" kataku dengan bibir agak gemetar.


Ambil langkah seribu. Kabuuurrr!!!


...........


Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya sampai juga aku di tempat Arif duduk selonjoran di trotoar jalan.



Njiiir ni bocil enak banget duduk lesehan di sini udah mirip foto model sementara gue kayak dikejar-kejar setan demit!


Hanya bisa menggerutu dalam hati. Dan berusaha menenangkan diri sendiri, akhirnya aku ikutan duduk di samping Arif tanpa banyak bicara.


Arif menatapku serius. Dia juga tak menyapa apalagi menanyakan keadaanku di pekuburan sana.


Sementara hari mulai gelap karena senja mulai menguasai alam raya. Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib berkumandang dari masjid-masjid sekitar.


"Alhamdulillah, udah Maghrib, Bang! Cari masjid yuk?!"


Aku mengekor Arif. Berjalan tergesa-gesa agar bisa sejajar dengan langkahnya.


"Abang baik-baik aja khan?" tanyanya terdengar seperti gumaman.


"Hah? Apaan?"


"Abang baik-baik aja khan?" ulangnya lagi, membuatku tersenyum tipis.


Hhh... Pake ditanya! Dasar deh! Andai lo adek kandung gue sendiri, udah gue jitak jidat lo Rif! Hiks... Tadi itu bagian terhorror dalam hidup gue, tau ga lo!?!

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2