MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (38) Kebahagiaan Atau Kesedihan


__ADS_3

Rasanya seperti mimpi. Menyuapi Alifah yang sesekali melirik netraku dengan binaran indah bola matanya.


Sebenarnya kepala ini dipenuhi banyak pertanyaan. Tapi melihat sikap Alifah yang sangat bertolak belakang dari biasanya membuatku tersilap lupa.


Apakah semua perempuan itu seperti ini? Pandai bersandiwara dan suka mempermainkan perasaan kaum pria? Hiks..., benar-benar membingungkan. Dan aku telah terhanyut dalam pusaran cinta yang semakin besar.


Bibir imut Alifah sesekali terbuka menerima hantaran suapanku. Terlihat sangat menggoda untuk kulum*t kekenyalannya yang menggiurkan hati dan mata.


"Tot! Kenapa sih elo baik banget sama gue?"


Pertanyaan yang mudah, tapi sulit kujawab.


Itu karena gue cinta elo, Siti Alifah Binti Bapak Mukti!!! Ish! Kenapa masih pura-pura bego sih sama perasaan gue?


Aku gemas. Geregetan juga kesal mendongkol. Kenapa Alifah seperti sedang menggodaku, tarik ulur cintaku dan menghempaskannya jauh ke dasar jurang yang dalam.


Kutatap nanar bola matanya.


Andai saja ini bukan ditempat umum, sudah kucuri ciuman bibir merah jambunya yang basah.


Ah Lipah, My Belut, My Musuh Bebuyutan, My Janda! Kenapa kau selalu menari-nari berputar indah diotak dan fikiranku? Bahkan tak pernah sedetik pun membiarkanku sehari saja untuk tidak memikirkanmu? (Keren bahasa lo, Tot)


"Lo udah foto prewed khan sama si Bryan? Dan lo tau kalo cewek tadi adalah bininya tunangan senga' lo itu khan?"


Kuberondong dia dengan dua pertanyaan. Langsung pada pertanyaan pamungkas, yang sudah pasti membuat wajahnya seketika pucat pias.


"Sepenting itukah jawabanku bagimu, Tot?"


"Iyalah! Gue pengen tau isi hati lo, Siti Alifah! Kenapa otak lo beku, hati lo dingin, dan darah lo sama sekali ga panas padahal gue udah berkali-kali mencoba membuka fikiran lo! Sumpah ye, sikap lo ini tuh beneran bikin gue makin jengkel!"


"Hhh..."


Hanya helaan nafas yang keluar dari bibirnya. Lalu,


"A'!"


Aku mengalah. Pada akhirnya bertingkah seperti bapak-bapak yang sedang menyuapi anaknya yang ngeyel dan suka melawan.


Hadeh!!!


"Maaf, Gatot! Gue belum bisa cerita semua. Belum waktunya! Maaf..."


Katanya setelah menerima suapanku dan mengunyahnya pelan dengan mata seolah menusuk hatiku dalam.


Ah Lifah! Lagi-lagi gue harus jadi orang bego bin dongo karena tingkah laku lo yang ambigu!


Ngapa sih? Tinggal bilang, tinggal cerita. Apa susahnya? Gue juga selalu ngertiin elo. Gue pasti akan selalu dukung elo! Apapun itu pilihan lo, pasti udah lo pikir matang-matang dan ga serampangan khan! Hhh...


"Berapa lama gue harus nunggu cerita yang sebenarnya dari lo? Atau... Gue harus korek-korek cerita dari Mirina supaya tau kenyataannya?"


Alifah menatapku lagi. Kini dia sedikit terluka karena ucapanku menyebut nama 'Madunya'.


"Terus gue ini lo anggap apa? Sekedar teman? Tempat pelarian? Atau..."


Alifah menaruh sebongkah harumanis kedalam mulutku yang terus berkicau menanyainya.


"Suwe!"

__ADS_1


"Berisik! Ngoceh mulu kayak emak-emak kurang belanja!" sindirnya mengajakku bercanda.


Tapi aku sedang mode on serius.


Gurauannya justru membuatku kecewa karena Alifah masih menganggap sikapku seperti emak-emak dower bibir kaleng rombeng.


Padahal aku ingin kejelasan.


Dan lagi-lagi aku salah.


Aku lupa posisiku.


Aku lupa pada masalahnya yang sepertinya cukup pelik dan telah memblunder bagaikan gelindingan bola salju yang makin membesar.


Aku kembali jadi pria yang egois.


Yang menanyakan posisiku dimata Alifah.


Karena aku butuh kepastian.


Butuh pernyataan CINTA YANG TULUS dari dirinya.


Aku inginkan ucapan CINTAnya yang bisa menguatkan hati dan jiwaku hingga terus sanggup bertahan menerima keadaanku yang menyedihkan ini.


Apakah ada kesempatan untuk kita dimasa depan? Ataukah hubungan ini hanya sebuah permainan dan selingan?


Adakah cintanya untukku seperti masa remaja dahulu?


Adakah sayangnya padaku bagaikan cerita tulisan diary-nya dimasa lalu?


Aku ingin pengungkapan itu, Alifah!


Tapi, sekesal apapun aku padanya... Tetap saja hati ini terlalu lemah oleh kecintaanku.


Alifah menerima panggilan video dari teman-teman grup WA SMA kami.


"Gatot! Gatot liat!"


Wajah kami kini tersorot di depan beberapa teman yang pastinya juga kukenal.


...[Hei, Lifah, Gatot! Sini, sini! Kita ada di resto XXX nih! Si Kevin ulang tahun, nraktir kita! Mau ikutan ga klean?]...


"Wah, seru tuh! Makan besar! Kuy, kita meluncur!"


Akhirnya aku dan Alifah ikut bergabung bersama mereka.


Bersama banyak lebih baik dari pada berdua tetapi tak terikat. Apaan sih, kagak jelas deh?!?


Ya. Gue masih digantung si Belut. Tapi gue rela. Gue rela karena gue cinta. Puas? Puas???



Senyuman Alifah di kamera ponselku membuat jantungku berdebar.


Lif... Tinggal bilang, "Gue juga cinta elo! Tunggu gue tamat kuliah dan wisuda! Kita bisa bersama, selamanya. Please tunggu gue, Tot!"... Apa susahnya, Lipah? Karena elo itu pasti cinta matinya sama gue, khan? Andai lo cinta si Bocah Pargoy itu, lo pasti bakalan marah besar sama Mbak Mirina tadi siang. Bukannya diem-dieman gitu doang! Iya khan? Hiks... Rumitnya cinta gue!


Aku faham sifatnya Alifah.

__ADS_1


Aku cukup mengerti karena tiga tahun dia jadi MUSUH BEBUYUTANKU di sekolah.


Bahkan kini kami dengan santuinya bergabung bersama teman-teman lama, bernostalgia menceritakan masa SMA. Saling sindir dan saling ledek seperti masa tujuh tahun yang lalu.


Seperti tidak sedang menyimpan kesedihan tentang rudetnya percintaan kita kini.


Hiks...


Hingga tiba-tiba, ponselnya berdering.


Dan wajah Alifah pucat pasi dengan mulut menganga.


"Apa??? Papa..., Papa!!! Papaaa!!!" pekiknya membuat kami yang ada di ruangan itu ikut terkejut kaget.


Alifah menghambur ke pelukanku.


"Gatot! Anterin gue ke RSPAD! Papa, Tot! Papa!!!"


"Kenapa Papa?"


"Papa pingsan di rumah Bryan!!!"


Aku langsung menarik tangannya. Mengambil tas pinggangku dan mencomot kunci motor segera.


"Ayo!!!"


"Maaf gaess, kita pamit dulu!"


"Semoga Papa lo kondisinya baik-baik saja ya, Lif!?"


"Aamiin!"


"Tiati, Tot! Kabarin kita kalo lo butuh bantuan. Atau, gimana kalo kita ikut jenguk juga?"


"Ntar aja! Gue mau liat kondisi bokap gue dulu!"


"Oke! Kabarin kalo lo butuh kita-kita!"


...........


Motorku melesat membelah jalan raya.


Tangan Alifah terlihat gemetar sambil memeluk pinggangku erat.


Kucoba menenangkannya dengan mengusap lembut jemarinya yang menempel sembari berkata, "Papa pasti baik-baik saja! Papa akan sehat kembali, Alifah! Yakinlah, Tuhan pasti bakalan nyembuhin Papa!"


Terdengar suara isak tangis Alifah.


Kini kepalanya disenderkannya ke bahu belakangku. Semakin terlihat kecemasan serta kegalauannya.


"Yang sabar, Yang!... Yang kuat, Yang!"


"Hik hik hiks...! Gatot,... Aku takut!" bisiknya terdengar jelas di telinga.


"Ada aku, Lif! Jangan takut!" jawabku dengan tangan kanan menggenggam tangan Alifah sebentar. Lalu kulepas lagi demi untuk menjaga kestabilan lajunya motor dengan memegang stangnya kembali.


Lifah...! Aku akan selalu menemanimu. Menjagamu, dan melindungimu. Percayalah padaku! Please...

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2