
Pulang ke rumah, pukul delapan malam. Setelah aku dan Eliza sholat Isya berjama'ah di rumahnya.
Syukur alhamdulillah, permasalahan gue sama si Nona Eliza akhirnya bisa diberesin juga setelah gue mengungkapkan semua jati diri ini. Dimulai dari awal, kenapa sampe gue nikah sama si Alifah. Hhh... Lumayan berat awalnya, karena Eliza agak keras kepala juga. Tapi... Dalam membangun suatu hubungan, gue menyadari, kejujuran dan komunikasi adalah kunci yang utama.
Kami sholat Isya berdua. Dan aku yang mengimaminya.
Berharap hatiku dikuatkan Allah Ta'ala ketika mata ini kembali menatap wajah Siti Alifah. Jandaku yang dulu adalah MUSUH BEBUYUTANKU TETAPI MENIKAH.
"Tot! Baru pulang?"
Seketika mataku seperti terhipnotis pada kecantikan Siti Alifah yang baru selesai sholat dan masih memakai mukenanya.
Ya Allah gusti! Cantik nian ciptaan-Mu ini!
Tot, Gatot! Sabar, Tot! Ini ujian!!!
Hiks...
"Mari kita duduk dan diskusikan permasalahan ini dengan kepala dingin!" kataku. Lagi-lagi dengan gaya sok tua. Beuh! Si Gatot ontohod! Gaya lo, ga kuat!!!
Ayah dan Ibu juga turut kupanggil untuk berdiskusi serius bersama. Setidaknya, ada kedua orangtuaku yang memantau dan mengingatkan kami jika terbawa emosi terlalu tinggi.
"Apa yang kamu inginkan sekarang ini, Lif?" tanyaku setelah berfikir cukup lama. Kalimat pembuka apa yang akan kukeluarkan untuk Alifah.
"Kamu ganti nomor kontak tanpa memberitahuku!" jawabnya dengan wajah menunduk dan suara bernada kekecewaan.
Selow Tot! Selow!... Jangan langsung kepancing emosi, Tot!
"Lalu, bagaimana denganmu sendiri, wahai Siti Alifah? Kau juga bertindak tanpa mengkonfirmasi terlebih dulu padaku! Kamu nikah sama si Banci itu, bahkan dengan pesta yang diposting di laman instagram juga akun tik tok si Bryan. Itu apa? Mana konfirmasi lo?"
"Gatot, please ... denger dulu penjelasanku!"
__ADS_1
"Apa kamu juga tau, apa yang terjadi sama aku? Hah? Apa kamu tau, berapa lama aku dirawat karena luka parah digebukin suami seleb-mu itu? Sepuluh hari! Dan kamu, apa kamu tau keadaan diriku setelah kejadian itu?"
"Hik hik hiks... Tot! Hik hik hiks... Aku punya pemikiran sendiri. Aku sudah punya rencana membuka kedok Mama Papanya, baru aku bisa bebas dari anaknya. Hik hik hiks..."
"Tapi apa elo ada cerita sama gue? Ada ga? Bilang jujur sama gue soal rencana lo? Pernah ga? Bahkan sampe akhirnya gue tau lo merit sama tu banci pun lewat postingan suami tercinta lo itu yang ng-tag nama lo di IG dan FB nya!!!"
Brak!!!
Seketika emosiku meledak.
Meja ruang tamu jadi sasaran gebrakanku yang lumayan mengagetkan Ayah, Ibu juga Alifah.
"Papa udah meninggal, Tot! Huaaa hik hiks, aku sekarang cuma berdua sama Arif, Tot!"
Hhh...
Alifah tersungkur di pangkuanku. Lagi-lagi menangis histeris dengan kesedihannya yang berlapis-lapis. Membuatku juga kedua orangtuaku bingung, harus berbuat apa.
"Terus lo sekarang gimana, Lipah?"
Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini, Tuhan!
Disaat aku sudah menemukan jalan menuju kebahagiaan, tiba-tiba si Belut malah datang dan seolah menjegal langkahku yang nyaris sedikit lagi.
Apa salah dan dosaku, Tuhan? Apa???
Mengapa Kau beri aku cobaan seberat ini? Mengapa, Tuhan???
Ayah dan Ibuku sendiri sampai tak bisa berkata apa-apa. Bibir mereka bungkam. Bingung, galau, gelisah juga resah pada apa yang kini terjadi pada hidupku.
Dulu aku begitu mendamba Alifah. Bahkan dalam setiap sujudku, selalu kusebut namanya.
Siti Alifah Binti Bapak Mukti.
Selalu dan selalu kuucap disetiap doa-doaku.
__ADS_1
Betapa aku menginginkan hidup bersamanya.
Tapi itu dulu. Dulu.
Ketika dia belum menikah dengan si Bryan Anggara. Dan ketika bunga cintaku sedang merekah mewangi karena Alifah.
Tapi itu dulu.
Setelah apa yang terjadi padaku.
Kehancuran, juga luka hati, jiwa dan raga, aku... Perlahan meninggalkannya.
Bukan, bukan! Bukan gue yang meninggalkannya. Tapi dia yang ninggalin gue duluan! Dia... Tersenyum manis di foto yang diambil disaat hari pernikahannya duduk bersanding dengan Bryan Anggara. Dia! Dia sendiri penyebabnya sampe gue berusaha ngelupain dirinya!!!
"Andai kau jadi aku, bagaimana perasaanmu, Alifah? Bagaimana?... Betapa hancur hatiku saat melihat foto pernikahanmu yang begitu terkonsep. Kalian,... Pakai dodot dan duduk tenang dengan wajah sumringah senang dihadapan penghulu. Lalu juga foto kalian kompak memegang buku nikah. Tidakkah kau memikirkan perasaanku saat itu???"
Pecah amarahku, berubah menjadi kekecewaan yang teramat dalam. Hingga sampai menggelosor turun kelantai dengan raungan kepiluan serta tangis kesedihan.
Bodo amat tetangga denger! Ora urus!!! Coz gue emang lagi galau gegana tingkat dewa!
Tapi, masa' iya... Gue, Ayah juga Ibu tega buat ngusir dia dari sini sedangkan dia udah segitu pasrahnya nyerahin diri sama kita! Huaaa... Mumet ga tuh endas lo, Bro! Hik hiks...
"Udah yuk nangis-nangisannya!? Ibu sama Eliz tadi dah masak enak! Kita makan dulu! Alifah juga pasti lapar. Dari pagi kemungkinan belum makan!"
Ibu menuntun Alifah yang bersimpuh di kakiku. Lama-lama beliau risih juga melihat putranya disembah seorang perempuan yang banjir airmata meminta dan mengiba.
Khawatir juga kalau ada tetangga lewat dan melihat keadaan kami.
Malam ini, kami makan berempat dipukul sembilan kurang. Dengan suasana dingin, kaku dan senyap.
Hhh...
Moga besok semua keadaan yang carut marut ini bisa teratasi. Dan fikiran kalut gue juga bisa kembali normal hingga bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Aamiin...
...❤BERSAMA❤...
__ADS_1