MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (77) PUTUS...


__ADS_3

Hidup adalah perjalanan. Hidup juga bisa diartikan sebagai pilihan. Tapi sejatinya hidup, adalah suatu pelajaran. Pembelajaran yang wajib kita ambil hikmah serta nilainya dalam setiap keadaan.


Hari ini, esok atau lusa, semua akan terus dan terus ujian. Semakin bertambah besar, ujian serta tantangan pun semakin berat pula. Begitulah hidup.


Yang kuat, dialah yang bertahan. Yang lemah, dia harus terima kekalahan. Hhh... Iyakah?


Aku menang dalam pertarungan semalam. Tapi nyatanya, yang menang belum tentu berhasil pula. Justru keadaan berbalik buruk padaku.


Hubungan kami untuk sementara waktu kembali goyang bahkan agak goncang nyaris kehilangan pegangan.


Aku mencintai Eliza. Bahkan sudah berikrar dalam hati. Berkoar di depan orangtua dan berucap dihadapan keluarga besarnya.


Masih kurang puas?


Tapi nyatanya, keberanian serta pengorbananku jauh lebih sedikit dibanding Ubaid.


Mereka memang belum satu tahun berhubungan. Tetapi sudah berani mengambil keputusan hebat dengan pesta pertunangan resmi yang melibatkan banyak pihak dari keluarga masing-masing. Bahkan tanggal cantik pun telah mereka persiapkan, yang seharusnya terjadi sebulan lalu.


Tapi ternyata kesalahfahaman membuat hubungan mereka putus menyakitkan.


Aku pun tak terlalu menjudge Ubaid. Setelah banyaknya langkah yang telah ia ambil untuk mendapatkan Eliza, rasanya tak salah juga jika dia mencari dan mengejar Eliza untuk sebuah kepastian.


Tetapi disini aku adalah yang menjadi korban.


"Nona! Sebaiknya kita akhiri dulu hubungan ini. Karena aku juga ga mau seperti duri dalam daging. Dan aku juga ga mau hubungan kita kedepannya justru jadi cerita sesal karena ada yang belum tuntas, yaitu hubunganmu dengan Ubaid!"


"Aku juga punya pemikiran seperti itu, Bang! Aku memang harus mengembalikan uang mahar juga cincin serta memutuskan secara resmi hubunganku dengan Mas Ubaid dan keluarganya. Aku... Ingin kita break dulu! Seperti dulu kamu memutuskan hubungan ketika Alifah tiba-tiba datang disaat kita sedang bahagia."


"Please, kumohon jangan bawa-bawa dan menyalahkan orang lain disaat kita sedang ada silang pendapat!"


Aku kesal, Eliza mengatakan hal yang memancing emosiku lebih meninggi.


"Maaf!" katanya pelan. Membuatku ikut merasa bersalah, lalu merangkulnya erat dari belakang.


Kami menangis sesegukan.


Betapa cinta ini kejam, dan tak berperasaan.


Kukira kita jodoh. Tapi ternyata... Seperti lirik lagu penyanyi Tulus,


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira inikan mudah

__ADS_1


Kau aku jadi kita


^^^Kau melanjutkan perjalananmu^^^


^^^Ku melanjutkan perjalananku^^^


Ternyata...oh ternyata.


Hubungan kami kandas setelah merekah sempurna dibulan ke-empat ikatan cinta yang begitu indah.


Aku dan Eliza memutuskan berpisah secara baik-baik.


Yang aku syukuri, perpisahan ini terjadi sebelum kami mengikat janji suci.


Terbayang rasa sedih dan sakitnya berpisah andaikan kami sudah berumah tangga.


Hiks.


Entah apakah ini memang jalan yang harus kuterima, kutempuh dan kulewati. Ujian cinta ini membawaku pada kepahitan.


Kuputuskan untuk menyingkir dari arena percintaan yang lagi-lagi harus kandas ditengah jalan.


Sekali lagi, bukan jodoh. Itu saja yang bisa gue yakini. Hiks huaaa...


Aku juga melepas Eliza secara keseluruhan termasuk bisnis usaha bersama yang sebetulnya bukan usaha bersama juga, karena semua murni keuangan Eliza sepenuhnya. Aku hanyalah rekan partner kerjanya saja. Ada untungnya, karena jika kita membangun usaha secara patungan atau fifty-fifty, pasti akan lebih sulit membagi hasilnya nanti.


Bukan aku tega membiarkan Eliza mengurus usahanya sendiri. Bukan aku lepas tangan pada tanggung jawab usaha yang kami rintis bersama.


Ada Bang Bima, Diki dan rekan-rekan lainnya yang sudah bisa kuberi kepercayaan membantu Eliza. Tapi ada hal lain yang lumayan mendongkrak karier kerjaku kedepannya selain bersama Eliza Maura.


Seminggu pertama, dunia seperti hancur lebur. Bagaikan hidup ditengah pusaran debu yang menyesakkan dada. Letih, lelah dan merana. Hidup hampa tanpa cinta. Lebih banyak diam dan melamun dalam kesendirian.


Aku melarikan diri menenangkan fikiran ke tempat-tempat yang mengagungkan ciptaan Sang Khaliq. Seperti bukit-bukit serta pesisir pantai.


Setiap hari, dan pulang kembali ke rumah di malam hari. Sengaja menutup diri dan akses bertemu Ayah Ibu yang kemungkinan bisa membaca kegalauanku lewat sikap serta tatapanku. Aku tak mau mereka tahu.


Bahkan aku selalu berpura-pura tidur mendengkur dibalik selimut dengan lampu kamar dimatikan demi menghindar pertanyaan Ayah terutama Ibu.



Putus cinta memang sebaiknya jangan terlalu dipikirkan terlalu mendalam. Tapi ternyata juga tidak semudah itu untuk langsung melupakanya. Butuh waktu serta proses panjang selama perjalanannya.


Hingga suatu ketika,


Treeet... Treeet... Treeet...


Sebuah sambungan telepon dari nomor tak dikenal masuk ke nomor pribadiku.


Tadinya aku enggan mengangkatnya, karena hati yang sedang gegana.

__ADS_1


Just info, Ayah Ibu juga Alifah tidak mengetahui kalau hubunganku dengan Eliza telah berakhir. Kami berdua, bertiga lebih tepatnya dengan Cak Ubaid berjanji merahasiakannya dari mereka.


"Hallo? Ya siapa ini?"


...[Gatot! Semprul!!! Kemana aja kau! Ganti nomor ga bilang-bilang! Hadeuh! Berasa ngartis lo?]...


"Boss?? Boss Edan?"


...[Bocah gebleg! Hei, kembali ke Jakarta! Aku ada kerjaan, Tot! Please, butuh dirimu!]...


"Hehehe...! Aku kayaknya ga tau nih, Boss! Kasian orangtuaku yang udah seneng banget liat aku tinggal bersama mereka, Boss!"


...[Ck! Eh, kamu dekat lokasi pantai ga Tot?]...


"Lumayan, Boss! Kenapa memangnya?"


...[Ada proyek kakak sepupuku nih! Cari lahan luas disekitaran pantai! Rencana mau buat villa dan resto! Bisa ga kamu handle, Tot?]...


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mungkin ini rezeki gue!


"Boleh, Boss! Aku hunting dulu. Asyiap, nanti kalo dah ada kukabari, Boss!"


...[Heh, Tot... No rek-mu masih yang dulu khan ya?]...


"Iya, Boss! Masih yang itu, ga ada yang lain!"


...[Besok kutransfer lima juta buat bensin!]...


Ulala! Wah, mantaf betul itu!


"Wah, thanks Boss! Makasih banyak! Besok aku otewe cari lokasi yang pas!"


...[Woke! Heh! Kalo kau ada masalah, langsung kabari aku!]...


"Siap. Pasti, Boss!"


Mungkinkah ini rezeki yang Tuhan berikan ditengah keterpurukanku? Entahlah.


Yang pasti setelah kandasnya jalinan kasihku dengan Eliza, juga ditengah status pengangguran yang kusandang setelah berhenti ditengah kerjasama, ada Boss Edan yang memberiku pekerjaan.


Seperti mendapat hawa segar, Aku kembali bangkit dan berjalan walau perlahan.


Menyusuri kawasan pesisir pantai. Menanyakan penduduk setempat yang bersedia lahannya kutawar sesuai harga yang Boss inginkan.


Aku belajar menjadi broker/makelar tanah, setelah Bossku memberi mandat untuk mencari lokasi yang bagus untuk usaha properti keluarga besarnya. Bukan untuk tipu menipu pemilik asli, tapi niatku memberikan harga yang sesuai dan disepakati kedua belah pihak.


Ternyata ada beberapa warga yang justru memang berniat menjual lahannya, namun terkendala minimnya akses wawasan jual beli serta lingkungan pemasaran yang sangat terbatas sehingga sulit sekali cepat terjual.


Lumayan jadi batu loncatan menjadi tenaga broker dadakan, selama itu tidak merugikan salah satu pihak. Melainkan atas kesepakatan kedua pihak pembeli dan penjual suka sama suka. Juga berkah pula untukku dengan komisi 2,5%.

__ADS_1


Niatku memberangkatkan umroh Ayah Ibu sepertinya akan dapat terwujud jika usahaku dalam bisnis kali ini berhasil beberapa kali. Aamiin!


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2