MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (68) Perlahan Membaik


__ADS_3

Aku membawa Alifah ke Bukit Intan. Mengunjungi Cak Subekti dan Ning Imah yang memancarkan raut wajah penuh cahaya kebahagiaan.


"Putra kita pulang, Ning!" kata Cak pada istri setianya.


Ya Tuhan! Jujurly, gue mengiri. Pingin sekali menjadi pasangan sampai tua sama-sama kayak Cak-Ning, Ayah-Ibu. Setia pada satu cinta sampai rambut memutih dan tubuh meringkih. Hiks... Aamiin!


"Cak, Ning... Apa kabarnya?" pelukku penuh kehangatan pada keduanya.


Aku senang, mereka berdua adalah jiwa-jiwa yang tulus dalam hidup. Tidak munafik dan suka menolong orang tanpa pamrih.


Aku mengenalkan Alifah sebagai saudara sepupuku. Dan berniat menitipkannya di rumah Cak-Ning sebagai seorang anak kost putri di kamar rumahnya yang lebih dari satu itu.


"Boleh ya Cak? Alifah ini lulusan fakultas kebidanan. Gatot juga mau minta tolong Cak Ubaid yang saat ini jadi mantri di Puskesmas sini."


Cak Ubaid adalah salah satu kenalanku dimasa kuliah. Beliau juga seorang praktisi kesehatan yang bekerja dari puskesmas ke puskesmas. Di grup perkuliahan, aku mendapatkan kembali nomor kontaknya. Dari kabar teman-teman, Cak Ubaid sekarang sedang mengabdi di Puskesmas wilayah Bukit Intan. Setidaknya, aku bisa menitipkan Alifah walau hanya sebagai tenaga honorer disana. Semoga saja Lifah betah kerja di sana.


"Tentu saja kami senang! Jangan kuatir, Tot! Alifah akan tinggal bersama kami disini. Kami akan anggap cah ayu seperti anak kami juga. Hehehe..."


Aku senang. Harapanku sesuai rencana.


Kini langkahku adalah mengenalkan Alifah dengan Cak Ubaid.


"Hallo, Cak! Aku udah ada di depan puskesmas nih!" kataku di panggilan telepon. Sengaja menghubunginya setelah janjian kami beberapa jam lalu disetujui olehnya.


Oala, itu orangnya! Ternyata gue teleponan malah kaga jauh dari orang yang gue telpon. Hm.



"Cak!"


"Oi, Gatot! Hehehe..., sori-sori. Dah berapa tahun ya kita ga ketemu! Pa kabar?"


"Hehehe, baik Cak! Sekitar tiga tahunan ya? Setelah wisuda aku langsung kerja di Jakarta."


"O iya ya. Waktu berjalan begitu cepat ya?"


"Cak, kenalin... Sepupuku. Siti Alifah namanya. Seusia denganku, tapi dia ni gelarnya bidan."


"Wah, masih muda tapi keren titelnya! Oiya, aku Ubaid Salman Khan. Tapi bukan orang India ya? Hahaha... Makku penggemar klan Khan terutama Salman Khan. Makanya namanya agak-agak norak gitu deh!"


"Hehehe... Gak koq Mas, namanya bagus. Sesuai sama orangnya!"



Yassalam, ucapan gombalan receh Alifah bikin gue cengengesan. Beneran receh parah, Lip! Hehehe..., belut, belut! Hadeuh, nyengir ajalah gua mah!


Tapi tidak dengan Ubaid.


Kakak tingkatku yang membelot dari ilmu ekonomi ke jurusan keperawatan itu justru terlihat begitu terpukau.


Oiya, gue baru inget. Ubaid udah nikah!


"Cak, kabar kak Shafira gimana?"

__ADS_1


"Sha-Shafira?..."


Seketika Ubaid terlihat nge-blank.


"Cak?"


"Kamu ga tau ya, Tot, kalau istriku itu sudah almarhumah! Shafira meninggal dunia setelah empat puluh hari melahirkan putri kami Shinta."


"Hah?"


Sontak aku terkejut sekali. Sama sekali tak mengetahui keadaan rumah tangga Cak Ubaid yang usianya empat tahun lebih tua dari aku.


"Terus, sekarang kamu udah nikah lagi, Cak? Secara... Putri kalian butuh kasih sayang orangtua lengkap!"


"Hehehe...! Ga semudah itu, Fergusso! Anakku sekarang dirawat orangtuanya Shafira. Setiap seminggu sekali, aku berkunjung kesana."


Aku hanya bisa menelan saliva.


Kehidupan, nasib dan takdir seseorang, hanya Tuhanlah yang Maha Tahu. Hhh...


............


Aku, Cak Ubaid dan Alifah mengobrol di sebuah warung dekat wilayah Puskesmas Bukit Intan.


"Aku akan bawa Alifah ke dinas kesehatan setempat asalkan CVnya lengkap, sepertinya bisa langsung ditempatkan dan diperbantukan oleh kepala dinas."


Aku mengangguk-angguk, mengiyakan perkataan Ubaid.


"Kalau gitu, kemungkinan besok deh Mas! Biar Alifah rapikan dulu berkas-berkasnya. Nanti bisa tak, Lifah hubungi Mas Ubaid via What'sApp?"


"Uhuk!"


"Apaan sih,Tot, hehehe...!" Alifah tersipu sambil mencubit lenganku.


Kami tertawa bertiga. Terkekeh dengan hati riang tanpa beban.


Begitulah hidup. Jika kita terlalu membebani, maka berat pula terasa dirasa.


Tapi bila kita berpasrah dan terima nasib serta keadaan apapun yang Tuhan beri, semua akan indah pada waktunya.


Seperti Gatot, juga Alifah.


Sore hari mereka pulang ke rumah.


Alifah pamitan pada Ayah dan Ibu, untuk pindah ke Bukit Intan besok pagi. Alifah sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Cak Subekti dan Ning Imah. Ia juga akan mencoba peruntungannya bekerja di puskesmas tempat Ubaid bekerja.


"Gatot!"


"Hm?


"Makasih ya, kini hati gue jauh lebih tenang. Berkat elo, Ayah juga Ibu. Gue..."


"Ssstt...! Kita ini sodaraan. Jangan terlalu sungkan, Lipah! Lo sama gue, adek kakak! Kita, selamanya SAUDARA!"

__ADS_1


"Gue minta maaf, karena ngehancurin hubungan lo sama Eliza! Maaf, Tot! Apa gue perlu datengin rumah Eliz buat jelasin semuanya?"


"Ga, Lip! Ini masalah gue, gue juga yang harus beresin semua. Kalo emang Eliz jodoh gue, ga kan lagi gunung dikejar. Tapi kalo bukan, ya... Mau dikata apalagi. Hm, mungkin dia juga bukan jodoh gue! Hhh..."


"Tot!"


"Pertemuan gue kembali dengan Cak Ubaid dan obrolan kita tadi membikin hati gue tambah yakin, ridho Tuhan adalah segalanya."


"Maksud lo?"


"Cak Ubaid itu dulu bucin banget sama Kak Shafira. Mereka kating gue bahkan keduanya memiliki chamistry yang bisa gue bilang couple soulmate terdabest. Cantik, tampan. Sama-sama anggota BEM dengan kesibukan bejibun. Walaupun Cak Ubaid pindah fakultas karena keluarganya meminta dia masuk jurusan keperawatan, keduanya tetep tak terpisahkan. Sampe akhirnya mereka menikah. Tapi,... Jodoh umur siapa yang tau. Iya khan? Kayak kita gini. Nikah siri cuma sepuluh hari. Ketemu lagi, elo udah jadi tunangan Bryan Anggara. Hmm... Hehehe, cerita kita begitu naik turun bagai sebuah roller coaster. Iya khan?"



"Iya. Betul banget, brother! Hehehe..."


Aku menjentikkan dahinya, pelan. Becanda doang! Hehehe...


"Tidur! Besok kita anterin lo pindahan ke rumah Cak Sub-Ning Imah!"


"Lo, libur kerja lagi?"


"Gue harus selesain masalah sama lo sampe tuntas dulu. Baru gue bakalan tenang buat ketemu Eliza!"


"Dih? Emang lo sama gue ada masalah?" jawab Alifah tiba-tiba meledek.


"Lah? Kaga nyadar! Lo pembawa masalah! Hehehe..."


"Berarti gue ini beban dunia, dong? Hihihi..."


"Yap, betul! Hehehe..., lo beban keluarga!"


"Ibuuu... Gatot niiih rese'! Coret ya Bu dari Kartu Keluarga! Ya ampun, lupa! Belum rapihin berkas-berkas lamaran kerja yang mas Ubaid pinta!"


"Uhhuy, Mas Ubaid ni yeee...! Bu, Yah... Bentar lagi kalian nikahin Alifah nih sama duren butin!"


"Apaan tuh duren butin?"


"Duda keren bukit Intan! Hahaha..."


Ayah Ibu ikut tertawa.


"Maunya Ibu sih, nikahin Gatot dulu, Lif!" sela Ibu membuat Alifah mengangguk senang.


"Tah eta! Hehehe...! Ayo cepetan lamar Eliz, Tot!"


Ucapan dari mulut Alifah membuatku menunduk malu. Tak berani berandai-andai. Langsung down melemah, khawatir si Nona Lilis itu tak terima lamaranku dan menendangku jauh-jauh.


Hhh...


Gatot lemah! Menyebalkan! Memuakkan!


Oh tidak sodara-sodara! Tahan, tahan... ini ujian! Gatot akan berjuang untuk mendapatkan hati Nona Lilis lagi, setelah urusan janji dan hutang selesai.

__ADS_1


Mohon dukungannya! Jangan skip kisah Gatot, please... Hehehe...! Peace!


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2