
Pernikahan adalah bersatunya dua kepala pria dan wanita dalam suatu kesepakatan membangun biduk rumah tangga.
Tak bisa merubah karakter satu dan yang lainnya. Tak boleh mengganti sisi pribadinya agar menjadi lebih condong pada satu sisi. Kecuali diri pribadi salah satunya yang memang punya niat dari hati tulus untuk berubah menjadi condong ke satu pihak.
Karena jika itu dipaksakan, maka siap-siaplah menabung gundukan emosi salah satunya menjadi yang suatu saat siap meledak bagaikan letusan gunung merapi.
Aku bersyukur sekali, bisa mengendalikan ego. Begitupun sebaliknya dengan Alifah.
Setiap malam minggu, kami sengaja menyediakan waktu me time untuk saling membuka komunikasi mengeluarkan unek-unek dihati selama satu minggu ke belakang. Niat awalnya adalah untuk pengingat kami kedepannya dan menjadi patokan apa saja sifat buruk yang harus kami rubah kedepannya.
Tetapi ternyata trik seperti itu justru menjadi batu sandungan bagi perjalanan rumah tangga kami yang baru seumur jagung.
Alih-alih bersedia menerima protesan dan masukan dari pasangan, kami justru berujung dengan diam-diaman. Seperti biasa, marahan dan musuhan dengan muka ditekuk kesal.
"Ish, kamu mah gitu, Yang! Khan aku cuma bilang, ungkapkan apa yang jadi unek-unek kalo kamu itu jorok. Taruh handuk habis mandi selalu lupa dimana aja! Bahkan pernah taruh di atas meja makan. Ambil baju juga asal gobleg. Main tarik, ga pelan-pelan. Alhasil yang bawah ikut terbawa dan baamm jatuh semuanya."
"Iya, iya, maaf! Tapi aku juga suka bantuin kamu cuci pakaian, angkat jemuran, cuci pirin, iya khan?" timpalku sedikit tersinggung pada ucapan istriku yang curhatnya pool banget tanpa disaring tanpa filter dan dipikir dulu, apa tak akan membuat sedih perasaan suami gitu. Hhh...
Hurraaa! Gue egois ga sih? Ga dong ya? Khan gue udah berusaha semaksimal gue jadi suami yang baik. Mau bantu-bantu kerjaan bini! Weew...
............
"Yang!"
"Hm!?"
"Dih, ngambek!"
"Engga'!" jawabku sensi.
__ADS_1
Ga ngambek, cuma sebel aje dikit! Emang laki mah selalu salah. Bini selalu benar. Iya khan? Iya engga'? Iya dong! Emang gitu khan?!
"Serahlah! Mau ngambek terserah! Mau diem-dieman juga terserah! Capek aku!!! Dah lah!!!"
"Nah khan? Sewotnya gitu! Sewotnya bikin illfeel!" protesku membikin Alifah semakin geram.
"Ini yang baperan siapa sih? Aku atau kamu sih, Yang?" tanya Alifah membuatku sadar dan nyaris terkikik lebar. Tapi segera kutahan mengingat harga diriku yang sangat tinggi dan ingin sekali dihargai istri.
"Iya iya, aku sadar! Aku disini cuma numpang! Makanya ga bisa berkutik. Semua kamu yang atur, semua kamu yang paling tau!"
"Nah khan? Mulai lagi! Emangnya kamu mau aku marah-marah di depan Ayah Ibu? Engga' kan? Secara kita harus hargai perasaan orangtua. Andai kita ribut pas di rumah mereka, apa nanti pandangan mereka? Terutama sama aku, istri yang terlihat arogan dan mau menang sendiri!"
"Ya kali', peka juga!"
"Ish! Kamu koq gitu!?"
"Iya maaf, iya. Iya aku baperan! Iya aku salah! Iya, aku perusuh! Selalu bikin kamu kerja jadi dua kali. Benahin handuk, rapihin baju-bajuku di lemari. Ya gimana lagi! Aku juga udah berusaha keras buat berubah. Segini aku udah termasuk jago, mau nyuci baju, mau cuci piring, sapu lantai. Padahal seumur-umur aku ga pernah lakuin itu dirumah sendiri!"
"Maaf, kalo selama ini aku kamu anggap istri yang nyebelin. Cerewet, bawel dan suka ngatur! Maaf, kalo kamu terbebani oleh sikapku yang seolah merasa paling benar, paling hebat. Maaf, aku hanyalah perempuan biasa yang punya banyak kekurangan! Maaf jika kamu merasa menyesal menikahiku!"
Eh? Aih? Nah loh, jadi meleber kemana-mana khan?
Duh! Mulai drama khan jadinya?! Tot, tot! Ga pernah belajar dari pengalaman, deh!
"Bukan. Bukan begitu maksudku, Yang! Bukan bermaksud mendikte kamu! Bukan! Tapi khan ini berawal dari unek-unekmu tentang aku. Dan kamu dengan gamblangnya menceritakan kekuranganku, kelemahanku yang susah untuk dirubah. Sejatinya aku ini sudah sangat berusaha merubah diri seperti harapanmu. Tapi khan aku ga bisa sesempurna seperti yang kamu mau, Yang!"
Aku berusaha meluruskan. Tetapi ujung-ujungnya justru terkesan membela diri sendiri. Egois. Tak mau disalahkan walaupun jelas-jelas salah. Hhh... Maafkan aku duhai Istriku!
Malam ini, Alifah ngambek dengan tidur memunggungi.
__ADS_1
Aku menyesal. Tak bisa menahan keegoisan.
Aku bodoh. Selalu bertingkah kekanak-kanakan padahal sudah bangkotan.
Bagaimana mungkin Tuhan memberi kami anak jika tingkah polah kami masih seperti ini.
Kira-kira, ada yang sama ga sih rumah tangganya kayak gue? Ada manis, asin, sepet kadang pait kek gini? Hiks... Gue kira menikah cerita akan happy ending dan tamat. Ternyata, semakin banyak cerita dan lebih beragam dan variasi suka dukanya. Wadidaw...
"Yang! Maafin aku, Yang!" gumamku di belakang telinganya.
Alifah diam tak bergeming.
"Aku salah. Sangat salah! Maaf, Yang! Aku cuma mengungkapkan unek-unekku juga. Maaf, kalau aku terkesan seperti lelaki cemen yang banyak omong dan nyinyir macam nenek-nenek! Besok-besok, kalo aku bertingkah kek gini lagi, aku pake daster kamu aja deh! Hiks, maaf..."
Alifah tetap diam. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin merendahkan harga diri sebagai suami.
Padahal aku sudah berusaha melucu demi melihat senyuman manisnya.
Lip! Please, forgive me, Lip!
"Yang..."
Tetap diam, tiada respon. Bahkan matanya terpejam rapat. Terdengar dengkuran halus dari lubang hidung bangir Siti Alifah binti almarhum Bapak Mukti.
"Yang...! Jangan diemin aku kayak gini, dong! Please..., tolong maafkan Aku! Aku ga mau dicuekin kamu! Hiks..."
Akhirnya aku pasrah. Mengalah dan mencoba berdoa full, semoga esok hari Alifah kembali pada keceriaannya yang membahagiakan hatiku. Aamiin...
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...