
Tok tok tok
"Gatot, Subuh dulu, Tot!"
Samar-samar suara Alifah memanggil membangunkanku di pukul lima pagi.
Azan Subuh baru saja terdengar selesai berkumandang. Menenangkan hati dan adem sekali.
Dulu, aku selalu mimpikan hal yang indah.
Bangun pagi, mendengar suara Alifah. Wajah pertama kali yang dilihat ketika bangun pagi adalah wajah Alifah.
Kini, semua Tuhan ijabah. Tapi..., kenapa sekarang hatiku malah begitu resah.
Kubuka pintu kamar, tampak Alifah berdiri dengan lengkap pakaian sholat. Ia menyodorkan aku seperangkat sarung serta kopeahku agar segera bersiap-siap untuk ibadah.
"Taruh saja di situ, Lip! Aku mau ke kamar mandi dulu!" ujarku dengan agak bermalas-malasan.
Kulirik Alifah yang tersenyum. Maniiis sekali. Sampai aku hanya bisa menelan air ludah. Lalu segera masuk kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Juga berwudhu buat lanjut sholat Subuh.
Betapa terkejutnya aku setelah selesai sholat. Ternyata Alifah berdiri khusu' dibelakangku. Dia... Jadi makmumku!!!
Untuk pertama kalinya aku menangis dengan wajah tersungkur ke bumi. Menempelkan muka jelekku yang tersedu sedan karena betapa Tuhan sangat menyayangiku. Dalam waktu kurang dari 24 jam, dua perempuan cantik kini jadi makmumku. Dan menganggap aku ini adalah imam yang tepat.
Hiks huaaa...
Alifah memelukku erat dari belakang. Kami menangis sesegukan berduaan, sampai Ibu dan Ayah masuk kamarku dan memisahkan kami berdua yang menangis seperti bocil.
.......
.......
Rasanya seperti mimpi.
Alifah melayaniku di meja makan.
Dia berperan seperti layaknya istri melayani suami.
"Alifah! Jangan perlakukan gue terus terusan seperti ini!" bentakku dengan suara keras.
Ayah Ibu hanya bisa menghela nafas sambil menatapku dengan tatapan serba salah.
"Gatot harus makan banyak. Biar kerjanya semangat! Hehehe..."
Perempuan itu seolah tak pedulikan amarahku. Bahkan tingkahnya lebih manis lagi.
Alifah, melap bibirku yang berminyak dengan tissue yang tersedia di meja makan.
"Alifah! Gue udah punya pacar! Dengar! Gue sama Eliz mau segera nikah. Jadi gue mohon, hentikan tingkah lo yang bikin gue muak ini!"
Aku bangkit dari dudukku.
Mencium punggung tangan Ayah juga Ibu. Dan pamit dengan ucapan salam yang tertahan.
__ADS_1
"Gatot! Hati-hati di jalan! Bawa motornya jangan ngebut ya?"
Yassalam...
Lip!... Bisa-bisanya lo kayak gini sama gue! Lo harusnya marah. Tersinggung, lalu benci dan pergi ninggalin gue!!! Ini malah,
Hhh... Tapi si Belut kalo marah, pergi... Dia mau pergi kemana? Secara dia ga punya uang, ga punya keluarga lain di kota ini. Mau kemana? Dan ga mungkin juga Ayah Ibu tega buat ngusir dia! Karena gue juga ga setega itu!
............
"Morning, Nona!"
Aku menyapa genit gadisku yang tersenyum manis tatkala mata ini saling bertatapan.
Lagi-lagi teringat kissan semalam. Ihik! Non, minta lagi, boleh?!?
"Nona, semakin hari semakin cantik!" bisikku di daun telinganya. Langsung terlihat semburat merah jambu menjalari seluruh wajah mulusnya.
"Ish, pagi-pagi udah dapet gombalan Abang!" cucut Eliza yang justru semakin membuatku gemas mendengar panggilan manisnya.
"Bang disini aje, Bang! Ogah ah disane aje. Bang disini aje, Bang! Ogah ah disane aje!"
Aku spontan bernyanyi lagu yang jadul banget. Lagu kebangsaannya orang Betawi yang pernah jaya pada masanya waktu dinyanyikan engkong Benyamin suaeb.
Hiks. Al-Fatihah untuk almarhum Engkong; Benyamin Suaeb yang punya wilayah kandang macan Kemayoran.
"Hahaha...! Ya ampuun, Gatot pinter nyanyi rupanya! Kapan-kapan nyanyiin aku ya, kalo pas malmingan!"
"Siap, Bu Boss! Request-annya sudah saya catat di kepala dan di hati. Hehehe..."
Hari ini banyak sekali paket yang harus kami kirimkan. Bahkan sampai tiga kali lipat dari hari kemarin. Alhamdulillah.
Aku dan Eliza kembali berkutat dengan tugas masing-masing di kantor yang kami sewa untuk buka usaha bersama.
Kami telah sepakat, memiliki tugas dan kewajiban yang sama dalam hal urusan pekerjaan.
Dari hari ke hari, karyawan kami kian bertambah. Seiring bertambah banyaknya orderan dan kiriman paket yang harus kami antarkan ke tempat para customer.
Pukul sebelas siang, handponeku berdering beberapa kali. Ketika di kantor, aku memang lebih santai dan menaruh ponsel di atas meja saja.
"Bang, hapemu, Bang!" teriak Eliza memanggilku dari ruang tengah kantor.
"Tolong diangkat dulu, Non! Maaf, aku lagi tanggung ini!"
Aku tidak punya rahasia-rahasiaan dengan Eliza. Dia tahu pasword hapeku begitupun sebaliknya. Karena aku telah berjanji dalam hati, ingin membangun hubungan diatas kejujuran. Baik manis maupun pahit, harus bisa saling terbuka satu sama lain. Dan mencoba meluruskan lewat komunikasi dua arah yang lancar jaya.
Itu cita-cita dan harapanku bersama Eliza Maura. Si Cantik pacarku juga Bossku.
"Abang! Cepat pulang!!! Ibu telepon, Alifah katanya minum obat warung enam butir!!!"
"Hah???"
Aku menatap wajah pias Eliza.
__ADS_1
Dia menyodorkan ponselku dan menyuruhku bergegas pulang.
Gustiii! Cobaan apalagi ini Gustiii!!!
"Sayang, aku pulang dulu ya?" pamitku pada Eliz setelah mencoba menelpon balik Ibu tapi tak diangkat-angkat.
"Iya. Pulang cepetan!!!"
"Maaf, Non! Maafin aku!"
"Cepet! Sana!!! Ada nyawa seseorang yang sedang bertaruh!" ujarnya seraya mendorong tubuhku keluar ruko kantor.
Cup.
"Aku berangkat dulu!"
"Tiati di jalan, Bang! Jangan ngebut ya?"
Hiks. Beruntungnya gue!
Kusempatkan mengecup kening Eliza sebelum beranjak menuju motor Aerox-ku dan menstarter mesinnya segera.
Beluuut!!! Ngapain sih kelakuan lo jadi gitu!!!
Lo ga pernah nekad sampe mau bunuh diri! Lo itu udah kebal sama masalah! Lo udah jadi wanita kuat yang tangguh! Dan lo itu adalah seorang petugas kesehatan juga! Ngapain berbuat sebego ituuu!!!
Kesal hatiku sekesal-kesalnya.
Rumah orangtuaku ramai, ada beberapa tetangga yang duduk di teras rumahku.
"Sepupumu sudah di bawa Ayah sama Ibu ke RSUD, Tot!" kata pak Sapri, tetangga depan rumah.
"Keadaannya Alifah bagaimana, Pak?"
"Sudah muntah dan sudah sadar! Cepat kesana!"
"Iya. Makasih banyak, Pak!"
Aku kembali berangkat menuju RSUD tempat Alifah dibawa Ayah dan Ibu.
"Hhh...! Lip, Lip!... Kenapa sih meski ngambil tindakan sebodoh itu?!" kataku lemas ketika melihat wajah perempuan yang dulu begitu kucintai, bahkan rela mati demi Alifah tersayang.
Kupeluk tubuhnya yang masih lemah karena kelakuannya yang engga' banget itu.
Kujitak jidatnya sambil berkata, "Bego! Bego! Bego!!!"
Hik hik hiks...
Tangis kami pecah kembali. Tapi kali ini dengan suara yang ditahan. Berusaha sepelan mungkin agar tak mengganggu pasien lain.
"Maaf, Tot! Maaf... Hik hik hiks... Aku lelah, aku capek, aku sudah ikhlas pergi menyusul Mama Papa! Hik hik hiks..."
"Bego tuh jangan dipiara. Tapi diberantas!!! Kambing lo piara, beranak pinak lo jadi peternak! Dasar cewek gila!!! Hik hiks..."
__ADS_1
Ibu merangkul kami berdua.
Ibu, huaaa...! Boleh ga aku rangkul Ibu aja? Ibuuu...! Ini gimana nasib Gatot, Buuu!!! Buuu...! Masa Gatot kudu terima cinta Eliza juga Alifah? Huaaa... Ini gimana nih gaesss!?! Hik hik hiks