
Kulirik wajah Iyam yang cantik jelita. Kini pikirannya telah kembali normal. Sungguh aku ikut senang.
"Iyam akan mengunjungi rumah mertua di kota B, besok! Mohon doanya ya Bang!?"
"Pasti, Yam! Aku doakan semoga kamu bisa bersama suamimu lagi!"
"Aamiin... Makasih doanya, Bang! Makasih juga, abang baik banget udah nyadarin Iyam dari tingkah yang salah. Iyam sekarang harus datangi keluarga Bang Fahri. Dua bulan lagi, Iyam akan melahirkan anak Bang Fahri. Moga aja mereka bisa mengerti dan menerima Iyam dan bakal anak Iyam nanti!"
"Iyam ke kota Bengkulu sama siapa?"
"Sama Ibu juga Bapak! Iyam masih ingat rumah mereka!"
"Iyam, dengar! Kalaupun nanti kamu mendapati perlakuan buruk mereka, terimalah dengan lapang dada. Yang penting kamu sudah menemui dan beritahu mereka keadaanmu yang sebenarnya. Ya?"
"Iya, Bang! Iyam sudah putuskan. Kalaupun mereka ga mau terima, Iyam tetap akan rawat anak ini biarpun sendiri. Iyam bisa kerja ke Batam. Biar anak diurus Ibu Bapak."
"Nah, gitu! Walaupun kita hancur, anak jangan sampai ikut hancur. Anakmu adalah masa depanmu, Yam! Kamu syukuri itu, kamu diberi Allah kepercayaan untuk masa depanmu nanti! Yang rugi ya si kehed suamimu. Tinggalin anak bini, suatu saat nanti dia pasti nyesel. Percaya deh!"
"Hehehe... Iya, Bang!"
Aku senang wanita itu kini sudah fight untuk berjuang. Setidaknya, cinta boleh menghancurkan mental. Tapi tidak akan merusak masa depan calon anak Iyam.
Dunia terus berputar. Waktu terus berjalan. Semua akan berubah seiring jaman. Karma perbuatan serta derita dimasa lalu, yakinlah akan Tuhan ganti yang lebih baik lagi.
Masalahnya, aku pun kini mulai kembali berjuang. Berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan. Aamiin...
.............
Aku pamitan pada Cak dan Ning yang berwajah sendu seperti awan dimusim penghujan.
"Jangan lupakan kami ya, Tot!"
"Tak akan, Cak! Gatot bakalan sering-sering kemari kalau waktu senggang."
Kuciumi tangan Cak dan Ning bergantian. Sedih, karena aku harus meninggalkan mereka untuk kembali ke rumah Ayah Ibu.
Setelah sepuluh hari aku menjadi pasien yang paling kencang teriakannya di rumah ini, aku meninggalkan dengan perasaan campur aduk.
Pulang ke rumah tanpa bilang Ayah Ibu. Menjadi kejutan kalau anaknya pulang dan sudah bisa jalan tanpa tongkat penyangga lagi.
"Gatot!?!"
__ADS_1
Ibu memelukku dengan wajah gembira.
"Kamu, pulang sendiri?"
"Tadinya mau bawa calon mantu buat Ibu. Ga jadi. Gatot lupa, Ayah Ibu udah siapin calonnya satu khan buat Gatot!"
"Ish nakal! Ya satu lah, emangnya mau berapa?!" kata Ibu sambil memukul pinggulku pelan. Kami tertawa bersama.
"Ayah mana, Bu?"
"Ke kebun! Ya udah, kamu istirahat dulu. Mau Ibu buatin teh manis?"
"Boleh deh, Bu! Makasih ya, hehehe..."
Aku duduk di sofa ruang tamu. Menghela nafas sambil mengedarkan pandangan.
Kuambil tas ranselku. Kukeluarkan kotak berwarna dasar putih yang tadi kubeli di konter pasar BB.
"Punya hape baru nih!?" goda Ibu meledekku.
"Android, Bu! Yang penting bisa chattan sama video callan. Hehehe..."
"Sama siapa? Emangnya Utami udah ngasih nomor pribadinya?"
"Belom, Bu! Siapa tau besok lusa, dapet. Khan seru! Ada temen chat!" jawabku setengah mencandai Ibu.
"Canda, Bu! Gurau je! Hehehe..."
"Beneran pun tak apa!"
"Hehehe..., Ibu terdabest!"
"Aduh, rayuannya!"
Aku senang, Ibu tampak begitu bahagia.
Teringat dua minggu lalu, wajah Ibu dan Ayah yang risau serta penuh gurat kecemasan. Melihat tubuhku tergolek lemah tanpa daya di rumah sakit kena hajar si Bryan cs.
Ayah maupun Ibu memintaku buka suara. Kenapa aku dipukuli orang tanpa perasaan. Dan siapa orang yang tega melakukannya. Sampai kini, semua hanya jadi rahasiaku saja.
Aku hanya menggeleng. Mengatakan tidak tahu dan menerka ada gerombolan orang sedang tawuran di tengah jalan.
Hhh...
__ADS_1
Aku deg-gegan sekali. Ragu-ragu untuk memakai SIM Card ku lagi dari hape yang sudah rusak.
Akhirnya aku memberanikan diri melangkah. Menyimpan semua kenangan bersama Alifah di kartu GSM yang lama. Lalu membuka lembaran baru dengan memasang SIM Card baru dengan identitas yang baru.
Hati ini masih belum pulih lukanya walau tubuh dan kakiku telah sembuh seperti sedia kala.
Maafkan aku, Alifah! Aku belum bisa move on dari kamu. Jika kembali kupakai SIM Card dan memori lamaku, tamat sudah riwayat. Aku akan kembali menstalkingmu dan... Itu tidak baik untuk kesehatan jantungku.
Jadi, maaf! Gue belom seperkasa itu untuk saat ini!
Nomor kontak Ayah, Ibu lalu Harlan dan beberapa temanku yang kusave saat ini.
Oiya, kartu namanya Eliza!
Aku kembali teringat pada selembar kartu kecil bertuliskan nama ELIZA MAURA lengkap dengan alamat rumah, alamat kantor dan nomor pribadi yang bisa dihubungi.
Hm... Coba gue kepoin dulu. Liat poto profilnya dulu. Siapa tau memori ingetan gue tentang perempuan ini kembali.
Waduh?!? Cewek setengah mateng ini rupanya?!? Si Lilis? Hah? Si cewek sengklek yang dulu ngejar-ngejar gue pas di semester empat! Hahaha... Ini mah gue inget, Coy! Tapi sekarang koq, cantik banget ya? Ini... Beneran si Lilis khan??? Koq beda ya???
Seketika ingatanku pada lima tahun silam kembali terputar.
"Gatooot oo Gatot! Gatooot! Tungguin gue dooong!"
Seorang perempuan sinting, gila, miring dan lincah bak bola bekel yang gelinding sana gelinding sini, statusnya sama sepertiku.
Pindahan dari Ibukota dan lanjutkan studi di kota kecil ini karena orangtuanya yang seorang konselor dipindahtugaskan ke kota penghasil timah terbesar di Indonesia. Mereka bekerja di sebuah perusahaan asing tambang timah yang terkenal di kota PP.
Lilis, sama sepertiku. Anak tunggal tetapi tingkahnya amat bergajulan. Dia waktu kuliah sangat tomboy dengan rambut potongan anak punk. Benar-benar bukan tipeku banget. Dan beneran bikin aku jijik hilang rasa dengan semua gayanya.
Sering keluar masuk ruang BK karena tingkah nyelenehnya itu.
Ya gimana ga dibilang orang aneh, cewek gila, dari tampilan potongan rambut, dandanan pakaian yang sering pake wearpack ala-ala anak STM. Beneran bikin kebanyakan orang di kampus illfeel lihat dia.
Seperti yang Harlan ceritakan beberapa waktu lalu, Eliza memang pernah menembakku.
Bahkan dengan momen yang menurutkan sangat memalukan dan selalu ingin kulupa.
Dia sengaja mengucapkan kata cinta lewat pengeras suara yang ada di ruang FM kampus. Dengan kepedeannya yang luar biasa super gila, seluruh mahasiswa dan mahasiswi dibuat geger dengan kelakuannya.
Eliza menembakku dan menunggu jawaban secepatnya apa aku menerimanya atau menolak.
__ADS_1
Ya ela! Terang aje gue tolak! Biarpun gue pernah dikasih lebel 'ITEM MUTLAK' sama si Belut, tapi ditembak cewek jadi-jadian yang setengah mateng model gitu? Oh no! Maaf... Mending gue milih jomblo selama ngampus! Hiks...
...❤BERSAMBUNG❤...