MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (93) AKHIRNYA...


__ADS_3

Hari ini, Alifah tinggal di rumah Ayah Ibu.


Ternyata kejadian mengerikan dini hari menjelang pagi itu berdampak sangat besar pada dirinya.


Jangan remehkan trauma yang dirasakan para korban tindak kekerasan dan pelecehan.


Jangan anggap itu adalah suatu tindakan berlebihan, apalagi sampai dikatai lebay.


Alifah yang seorang perempuan dewasa dan berpendidikan tinggi bahkan seorang bidan pun masih belum sanggup menghilangkan rasa ketakutannya ditinggal sendirian.


Kami bergantian menjaga Alifah agar tetap merasa nyaman dan tak lagi teringat akan kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut kesuciannya.


Untung saja tiga cecunguk bangs*t itu baru saja membuka blus atasan dan rok panjang Alifah. Belum berbuat lebih jauh lagi.


Andai itu terjadi, kupastikan mereka bertiga harus get out angkat kaki dari dunia ini. Akan kubunuh ketiganya. Aku serius dengan ucapanku.


Untungnya Alifah tak putus-putus berdoa dan berhasil menjaga kesuciannya.


Kesuciannya? Bu_bukannya si Belut masih suci ya? Gue pernah denger, kalo dia menjaga dirinya dari si Bryan demi gue. Demi gue!!!


"Lif!..."


Aku memasuki kamar tamu rumah kami yang kini ditempati Alifah untuk sementara.


Ibu seperti mengerti kalau aku ingin bicara empat mata dengan Alifah. Beliau perlahan keluar kamar sembari membawa nampan berisi mangkok kosong bekas sop buah yang sengaja Ibu buat untuk Alifah.


"Makasih banyak, Bu!" kataku dan juga Alifah. Kompak seperti sudah janjian padahal tidak.


Ibu tersenyum mengangguk.


Aku duduk di kursi samping ranjang. Menatap lembut ke arah Alifah yang masih berpakaian santai.


Sejujurnya dia agak malu, lalu merapikan kerudungnya yang tak dipakai dengan benar.


Aku menunduk. Menjaga pandanganku agar tak terus menatap wajahnya yang sedikit bengkak karena banyak menangis.


"Makasih banyak ya, Tot!" gumamnya seraya meremas jari jemarinya yang masih terlihat gemetar.


"Kamu ga akan kenapa-napa, Lip! Selama nafas ini masih dikandung badan, aku akan selalu ada disampingmu. Menjagamu dari apapun itu. InshaaAllah, aku mohonkan itu pada Allah!"


Mirip tukang obat, emang.


Janji besar setinggi langit, tapi entah kenyataannya.


"Jangan anggap aku kang obat ya?" tambahku membuatnya tersenyum.


Senangnya. Akhirnya JANDAKU bisa tersenyum walau sedikit.


Ngomong ga ya? Ngomong sekarang kira-kira bagus ga ya? Alifah bakalan respon ga ya? Gimana kalo anggapannya malah salah? Gimana kalo gue justru dianggap seolah aji mumpung sama keadaan yang lagi bikin mentalnya down? Hiks...


Gue pengen cepetan 'tembak' dia. Pengen dapet kepastian dan ujungnya happy ending bahagia sama dia. Dan gue rasa pembaca juga keknya udah mulai bosen sama story sedih gue, sama curahan hati galau gegana gue. Hiks.


Sabar Tot, sabar! Tahan diri dulu, Tot! Tahan! Biarinin Alifah tenang dulu buat beberapa hari ini. Secara dia baru juga nyampe tanah air. Kena musibah yang hampir bikin lo berubah jadi HULK ijo seluruh tubuh. Mental Alifah juga butuh istirahat. Ajak do'i jalan-jalan, healing. Biar kembali senang dan makin ngerasa sayang sama elo!


Cakep tuh ide! Wokelah kalo begituh!


Aku dan Alifah bertatapan. Lama juga.


Kalimat pengakuan dan ajakan menikah yang sudah ada diujung lidah terpaksa kutahan dulu untuk beberapa waktu lagi.


Harus sabar. Harus ekstra sabar.


Aku meyakini, segala sesuatu yang didapatkan dengan banyaknya pengorbanan hasilnya pun tak akan mengecewakan. Selain pelajaran hidup yang banyak, yang akan mampu mendewasakan aku dan Alifah kedepannya.


"Aku... Aku mau memperpanjang kontrak kerjaku di Jeddah, Tot!"


Deg.


"Ga boleh!!!" larangku tegas.

__ADS_1


Alifah menjilat bibirnya. Membuat jakunku turun naik menelan ludah.


"Tot..."


"Ga boleh! Ga bakalan gue izinin!!!"


Aku melengos. Memalingkan wajahku ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Tot!"


"Gue bilang ga boleh ya ga boleh! Ngerti ga si lo, Lip?"


Aku kembali memandang wajahnya yang ayu.


Lagi-lagi seperti tersetrum aliran listrik tegangan tinggi.


Alifah menunduk.


"Mungkin Tuhan lebih ridho kalo aku mengabdikan diri di negeri orang!" gumamnya masih dengan wajah tertunduk.


"Ga. Gue ga ridho!"


"Ya khan lo bukan Ridho!"


Eh? Belut gokil!?!


"Ya emang. Gue Gatot Subroto bukannya Ridho Rhoma! Emang lo mau sama anaknya bang Rhoma? Mendingan gue beliin biskuit Roma se-pak sekarang juga!"


"Maunya biskuat yang ada badaknya!"


"Hahaha...! Dasar, Belut! Cintai ususmu kalo emang mau biskuat!"


"Minum yakult tiap hari. Hahaha... Ish Gatot mah! Mau yakult khan jadinya!"


"Yuk, keluar yuk? Mau ke pantai yang menyimpan kenangan indah kita berdua ga?"


"Hehehe... Love you too my Belut!"


Alifah terdiam membisu. Dia terkejut lalu termangu mendengar kalimat terakhirku. Kemudian menunduk malu.


"Lif...! Tadinya gue mau ngomong serius sama elo! Tapi... Gue tahan dulu melihat kondisi lo yang sedang tak memungkinkan. Tapi..., berhubung ada jalan, ...mmm, yuk jalan yuk?"


"Apaan sih? Kagak jelas deh, hehehe..."


"Yuk beli yakult sama biskuat juga!?"


"Hmm... Aku salin baju dulu deh!"


"Oke!"


Senang sekali hati ini. Alifah bersedia jalan denganku. Dan kami memilih menaiki VW Kodok kepunyaan Ayah, hadiah ulang tahunnya dariku setahun lalu.


Kami keliling kota PP. Mendatangi pantai tempat bersejarah yang tak kan pernah bisa kulupa. Walaupun Alifah justru terlihat sangat malu dan berkali-kali menutupi wajahnya jika aku tertawa menggodanya.


Kami kemudian main ke taman kota. Membeli es krim dan popcorn pelangi, kemudian duduk berdampingan di kursi taman.


"Makasih banyak ya Tot!"


"Apaan sih, ngomong makasih mulu dari kemaren!"


"Tanpamu, aku hanyalah butiran debu!"


"Jiaaah hehehe, lagunya Rumor, Riza Abbas! Kemana ya tuh orang?"


"Emang ngapain nanyain penyanyinya? Kenal?"


"Ga, nanyain doang!"


"Ish!"

__ADS_1


Alifah mencubit pinggangku. Sakit, tapi enak. Kami tertawa lepas bersama.



"Lif..."


"Hm?"


"Nikah yuk?"


"Ya emang, ini kursi kayu!"


"Lipah!!! Ish, kacau deh ni bocah! Ga ada sisi romantisnya jadinya khan!"


Dia tertawa. Menatapku sesekali kemudian menunduk malu.


"Lif...! Sekian lama, aku menunggu momen ini! Aku sungguh-sungguh mencintaimu!"


Mataku panas, bibirku bergetar. Ini benar-benar ungkapan perasaan yang paling terdalam dan kukeluarkan akhirnya sekarang juga.


"Lif... Apa jawabanmu?"


Dug dug dug dug...


Jantungku tak bisa kukondisikan pada keadaan aman. Detaknya berbunyi lebih cepat dan makin kencang.


"Gatot!"


"Aku beneran ingin sekali nikah sama kamu! Ingin berumah tangga sama kamu, Siti Alifah binti almarhum Bapak Mukti. Apa... Kamu mau nikah sama aku?"


Kuulangi lagi. Kini lebih panjang dan detil ungkapan rasaku.


Mampus kojor ga lo kalo si Belut nolak!?! Hiks.


Alifah memandangku.


"Jangan kasihani aku, Tot!"


"Aku mencintaimu! Kuharap kamu juga masih mencintaiku seperti dulu. Tulus, suci dan murni!"


"Aku... Masih mencintaimu!" katanya pelan. Sontak mataku mendelik.


"Jadi, jadi lamaranku ini gimana? Diterima? Diterima khan? Lip???"


Alifah tersipu malu. Wajahnya bersemburat merah jambu. Dia mengangguk pelan dengan senyumannya yang menawan.


"Alhamdulillaaah!!!"


Aku beneran sujud syukur di atas trotoar jalan taman.


"Tot, bangun Tot! Ish hihihi... Jangan gitu! Diliatin orang tuh!" bisik Alifah padaku. Tapi aku tak pedulikan tatapan orang. Aku bahagia. Alifah mau menikah denganku. Dan itu adalah sujud terima kasihku pada Illahi Robbi yang memuluskan langkahku maju ke depan.


"Kita pulang yuk? Bilang Ayah, Ibu. Minta Arif jadi wali nikah kamu!"


Alifah tersenyum sumringah.


"Boleh... Pegangan ga?" tanyaku malu.


"Emangnya kita mau nyebrang?"


"Ish, Belut! Khan biar kelihatan romantis gitu!"


"Nanti romantisnya diatas ranjang aja kalo kita sah resmi jadi suami istri!" bisiknya membuat mataku terbelalak.


What? Jinjja? Huaaa... Buruan thoor percepat nikahaaan!!!



...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2