MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (57) Berhasil Membereskan Masalah


__ADS_3

"Apa???"


Harlan terkejut mendengar penuturanku. Ia bengong. Bingung termangu dengan mata menatap kosong ke arah jalan.


Aku sengaja menyambangi bengkelnya. Menyita waktunya untuk berdiskusi tentang hubungan serius yang sedang dijalani adik bungsunya Harlan dengan Utami Habibah.


"Aku sudah punya feeling ga enak memang pada anak itu, Tot! Terus, aku harus gimana ini? Bagaimana caranya memberitahukan Baba sama Mama!" ujarnya setengah linglung.


"Mereka sudah berhubungan serius sejak masih dibangku sekolah! Utami sudah ceritakan semua. Rudi juga sudah jujur mengatakannya padaku! Sekarang mereka kusuruh untuk terbuka pada kedua orangtua masing-masing terutama pada Ibu Bapaknya Tami. Mereka..., sudah... Terlalu lekat. Bahkan... Sampai ciuman di depan gang rumah teman mereka ketemuan! Maaf, aku lihat sendiri, Lan!"


"Huufffhhh!"


Harlan hanya bisa menghela nafas panjang. Bingung dan terlihat panik.


Sebenarnya aku tak tega, juga tak mau ikut campur urusan percintaan adik bungsunya. Tetapi, karena ini juga menyangkut masa depanku. Mau tak mau, aku jadi ikut campur membenahi hubungan Utami dan Rudi yang terselubung.


Yang aku khawatirkan adalah andai tak segera kuluruskan, dan pernikahanku dengan Utami sampai terjadi, mereka bisa saja masih menjalin hubungan diam-diam.


Aku tidak mau kejadian seperti itu. Naudzubillahimindzaliq. Jangan sampai terjadi.


Kalau aku menikah lagi nanti, aku ingin untuk yang terakhir kali dan jangan ada kata CERAI lagi. Cukup pernikahan fenomenalku saja dahulu dengan Siti Alifah.


Aku tak mau, kegagalan berumah tangga terjadi lagi.


Apalagi jika sampai menikah dengan Utami yang notabenenya masih sangat muda. Dan punya pria idaman lain,...


Entah apa yang akan gue lakuin nanti! Gue ga mau ada Kekerasan Dalam Rumah Tangga! Dan ga mau jadi suami yang melakukan tindakan kriminal karena gagal menjadi pria satu-satunya yang dicintai sang istri. Hiks...


"Saran aku sih... Sebaiknya kalian datangi keluarga Utami. Minta dengan baik-baik agar hubungan Rudi adikmu dengan putri mereka mendapat restu. Sambil menunggu mereka tumbuh dewasa dan siap berumah tangga. Setidaknya, mereka bisa tenang ketemuan di rumah yang terpantau orang tua. Daripada nantinya mereka malah berbuat yang diluar batas karena janjian di luar."


Wanjim!!! Omongan gue, keren gak tuh?!? Kek orang bener khan kesannya?! Hihihi... Hadeh! Padahal mah, ibadah gua juga sangat jauh dari kata sempurna. Hiks (malu hati; kena mental)


Harlan mengangguk-angguk dengan ucapanku yang seperti orang tua. Hiks.


...........


Hari ini aku perasaanku jauh lebih lega. Setelah mengunjungi bengkel Harlan, aku juga mendatangi rumah Pak Abu Bakar yang janjian barengan dengan Rudi.

__ADS_1


Kami tadi chattan. Dan aku bersedia pasang badan untuk mendampingi Rudi jikalau kedua orang tuanya Utami sampai marah besar.


Seperti dugaanku, pak Abu Bakar sontak emosi mendengar penuturan Utami yang mengatakan hubungan seriusnya dengan Rudi. Bocah kemarin sore yang seumuran Utami.


"Kamu ini sudah gila ya, Tami? Kamu sudah Bapak jodohkan dengan Gatot. Dan Bapak juga sudah bicarakan serius dengan keluarga Gatot! Bapak tidak setuju dan tidak sudi kamu malah lebih memilih untuk pacaran sama bocah ini!" teriak pak Abu Bakar dengan lantang.


"Pak, maaf...! Bukan maksud Gatot ikut campur dan menolak perjodohan yang Bapak serta Ayah rencanakan. Tapi..., Gatot ingin berbicara empat mata dengan Bapak! Boleh?" kataku dengan hati deg-degan dan nada suara kurendahkan.


Akhirnya pak Abu mau berdiskusi denganku.


Ini kesempatanku mengatakan yang sebenarnya. Kalau Utami dan Rudi sudah lama berhubungan. Keduanya saling cinta serta lekat satu sama lain.


Aku menolak perjodohan karena melihat sendiri putrinya berciuman dengan Rudi, kekasihnya.


Sontak memerah wajah pak Abu Bakar.


Aku tegaskan kalau ini akan jadi rahasia pribadi antara aku dan dia. Cukup kukatakan kalau pak Abu harus bersabar serta mau menerima hubungan putrinya yang sudah terlanjur jauh melangkah.


Aku ceritakan panjang lebar kalau keluarga Rudi sudah berunding dan punya niat baik untuk datang menyambangi keluarga Utami.


Setidaknya, keduanya bisa berhubungan serius dengan pantauan masing-masing orang tua hingga tiba pada waktunya berjodoh dan menikah.


"Gatot gak akan cerita pada siapapun. Termasuk Ayah serta Ibu. Ini adalah rahasia kita saja. Dan Utami serta Rudi. Serta pihak keluarga Rudi tentunya. Jadi, Gatot mohon... Bapak segera mengabari Ayah Ibu untuk pembatalan perjodohan antara Gatot dengan Utami."


"Baiklah. Hhh... Bapak minta maaf yang sebesar-besarnya. Putri bapak sudah berbuat yang memalukan bahkan sampai Gatot saksikan sendiri. Hhh... Bapak malu, Tot!"


"Ini khan sudah kita sepakati sebagai rahasia kita saja. Jadi, sebaiknya Bapak bilang saja sama Ayah kalau Gatot dan Utami sangat tidak cocok disatukan menurut weton. Ayah pasti faham, dan ga akan banyak pertanyaan. Hehehe..."


"Iya ya. Betul juga kata kamu. Hhh... Makasih banyak ya? Hik hiks... Aduuuh, kamu itu menantu idaman Bapak, Tot! Hiks... Gagal bapak menikahkan Utami sama kamu. Malah dapat bocah ingusan yang tak bisa diandalkan!"


"Rudi anak baik, Pak! Keluarganya juga keluarga terpandang. Bahkan kakaknya Rudi adalah sahabat saya. Harlan namanya. Dia punya bengkel besar di pusat kota Pangkal Pinang. Kalau Bapak tak percaya, biar Gatot antar kapan-kapan. Tapi, kalau tak salah dengar, Harlan dan orangtuanya akan datang kemari mengurus persoalan Rudi dengan Utami minggu-minggu ini."


"Iya kah?" tanyanya dengan mata bersinar.


"Iya, Pak! Harlan yang katakan langsung ke Gatot tadi."


"Syukurlah! Tadinya Bapak ragu pada Rudi. Tapi mengingat keluarganya sendiri yang akan datang kemari, berarti ada itikad baik dari pihak mereka!"

__ADS_1


"Sudah Gatot bilang, Rudi berasal dari keluarga baik-baik. Jadi Bapak tak perlu terlalu risau. Memang Rudi dan Utami masih terlalu muda. Tapi mereka sudah berhak memiliki pendapat dan menentukan pilihan sendiri. Yang penting, orangtua mengetahui juga menyetujui. Hehehe... Duh, jadi malu! Gatot berasa seperti bapak-bapak umur tiga puluh tahunan deh kalo kek gini. Hehehe..."


"Hehehe... Gak apa, Tot! Berarti kamu itu punya pemikiran dewasa. Hehehe! Makasih ya, atas sarannya. Maaf, putri bapak sudah membuat Gatot kecewa!"


"Intinya Gatot tak berjodoh dengan Utami, Pak! Tapi Gatot bisa jadi kakak khan buat Utami? Masih bisa jalin silaturahmi kekeluargaan. Hehehe..."


"Iya, betul itu,Tot! Alhamdulillah. Terima kasih, Tot!"


"Sama-sama, Pak!"


Lega rasanya. Satu masalah telah terselesaikan.


Ayah dan Ibu terlihat agak sedih, ketika pak Abu menelpon Ayah membawa kabar buruk.


Katanya lewat telepon, kalau sesepuh yang dimintai pendapatnya mengatakan Utami dan Gatot tidak cocok dari segi pasaran, tanggal serta bulan kelahiran mereka berdua.


"Koq tebakan kamu benar, Tot? Koq kamu bisa tahu sih Tot, kalau kalian tidak bisa menikah?" selidik Ayah dengan wajah serius setelah memikirkan pembatalan perjodohan yang pak Abu sampaikan.


"Ayah mau tau?" bisikku serius.


"Iya."


"Sini, mendekat. Ibu juga. Biar ga penasaran dan minta siaran ulang!"


"Apaan, Tot?"


"Sesepuhnya itu, bapaknya temen Gatot. Gatot dengar secara gak sengaja waktu main kerumah teman waktu itu!" jawabku. Tentu saja itu kebohongan belaka.


"Yassalam... Bisa-bisanya kamu dengerin cerita tentang dirimu sendiri ya? Hahaha..."


"Hahaha... Gitu deh, Bu! Gatot pura-pura aja waktu itu. Padahal Bapaknya temen Gatot lagi ngomongin Gatot di telepon sama Bapaknya Utami! Hahaha..." (Yah, Bu... Maaf! Gatot nipu kalian! Huaaa... Please forgive me, God!)


Ayah Ibu tertawa ngakak.


Berbohong demi kebaikan diperbolehkan khan ya? Soalnya aku kadung janji, kalau semua ini hanyalah rahasia antara aku dan Bapaknya Utami Habibah.


Maaf, Ayah! Maaf, Ibu!...

__ADS_1



...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2