MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (22) Terjadi Suatu Musibah


__ADS_3

Nasi uduk pesananku diantar Mang Acong (mungkin).


"Ayo, makan nasi dulu!" kataku sambil menyuapi Alifah sesuap penuh.


"Ih, ga mau disuapin!"


Entah kenapa, suaranya terdengar getek di telinga. Apa karena sedikit manja dam seperti suara mendes*h yang tadi kudengar di apartemen kamar sebelah. Sungguh aku merasa ada sesuatu yang tegak dibagian depan tubuhnya. Njirr lah! Hiks.


"Buka mulut! A'!!!"


Senangnya, My Belut akhirnya menurut.


Mau juga ia mengikuti perintahku yang sok-sok galak tegas.


Gue lagi belajar jadi pria pemimpin alias imam keluarga. Secara yang namanya pemimpin itu harus tegas. Harus dihormati pengikut atau makmumnya. Semoga Alifah bisa jadi makmum berikut empat anak yang nantinya tercetak. Aamiin...


"Kenapa tadi di telepon kedengeran sedih suaranya, Lif?" tanyaku lembut setelah Alifah makan beberapa suap dari sendokan tanganku.


"Ga sedih tuh! Kamunya aja salah denger!"


Ahhey... Dia mulai pake bahasa aku-kamu! Biasanya gue-elo! Hehehe... Mulai-mulai manja pula alunan suaranya. Uhuk, makin bikin candu!


"Udah ketauan koq! Jujur aja! Lagi ada masalah ya?"


"Hehehe...! Lagi kesel sama tugas kuliah. Sibuk skripsi, bab dua udah berapa kali revisi tapi gagal lagi dan ditolak dosen pembimbing."


Aku tersenyum padanya.


"Yang sabar ya? Semangat dan harus tetap positif thinking! Yakin kamu bisa lalui ini semua!"


"Iya, Mbah! Hehehe..."


"Sedikit lagi, Lif! Tinggal selangkah lagi. Kemaren sempro gimana?"


"Alhamdulillah, tahap pertama selesai selesai. Tinggal cari tesis, disertasi. Penentuan sidang. Hhh...!"


"Go Lipah, go!!! Semangat!"


Entah mengapa obrolan yang terasa pendek ini ternyata menghabiskan waktu yang panjang.


Aku baru sadar, setelah mang Acong melirik kami tapi tak berani menegur.


Hanya makan dua porsi roti bakar dan minum dua gelas bajigur serta sepiring nasi uduk paket lengkap, membuat kami duduk sampai tiga jam di situ.


"Udah jam satu!" desisku pada Alifah.


Ternyata dia pun sama terkejutnya denganku. Waktu berlalu cepat sekali. Membuat kami hanya bisa saling menatap penuh kesedihan.


"Pulang yuk?!" ajakku pada Alifah.


Alifah menghela nafas lalu mengangguk.


Entah mengapa, rasanya aku ingin sekali menjadi pria yang bisa ia andalkan. Ingin sekali bisa menjadi dewasa dimatanya. Ingin berbuat yang dapat menyamankan hati serta perasaannya pula.


Kuusap pucuk kepalanya dengan lembut. Membuat Alifah tersipu dan merona seketika.

__ADS_1


Apakah ini yang dinamakan CINTA? Tapi dia adalah tunangan orang. Salahkah aku mengharap cintanya untukku sedangkan dia sudah memiliki hubungan dengan orang lain.


Dosakah perbuatanku dan juga dia?


Hiks... Mengapa hati ini merasa sakit? Dilema yang membuat dada nyelekit dan pikiran gue jadi sempit. Andai..., andaikan..., andai saja, andai kata...


Treeet... Treeet... Treeet...


Ponselku berdering.


"Hallo? Ya, Bang Muis? Kenapa? Hah???... Iya, iya! Tolong dihandle dulu ya, Bang!? Maaf, aku lagi diluar ini! Oke, oke... Thanks ya Bang informasinya!"


Klik.


"Kenapa?"


"Gudang kebobolan! Rolling doornya satu kena jebol maling! Hadeuh!"


Aku menggaruk kepalaku. Mumet otak tiba-tiba. Padahal tadi jam tujuhan sudah kompakan ngobrol santui dan asyik agar para aparat pengaman setempat bisa membantuku menjaga gudang dari penjarahan. Bahkan sampai aku mengajak mereka ngopi, ngerokok dan ngemil. Tapi, hasilnya tetap nihil.


"Cepetan balik dulu sana, Tot!" tukas Alifah dengan suara tercekat kaget.


"Iya. Ayo, kamu aku antar dulu balik ke asrama!"


"Kamu aja dulu sana, Tot! Aku bisa jalan kaki motong jalan tikus lewat gang-gang!"


"Ini udah malem non! Jam satu malam! Ayo, naik! Aku antar dulu ke asrama!"


Alifah menurut. Memakai helmnya sendiri dengan gerakan cepat.


"Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut!"


"Iya, Yang!" jawabku singkat tapi masih sempat meledek.


"Ish!..."


"Hehehe...! Masuk sana, Lif! Cuaca dingin!"


"Iya!"


Aku sedih, harus segera meninggalkan Alifah dan secepatnya kembali ke gudang perusahaan.


Ada segerombolan pencoleng yang sudah membuka paksa gudang. Untung segera ketahuan pihak pengamanan setempat sebelum mereka beraksi mengobrak-abrik dan menjarah barang-barang yang harus kukirim besok pagi. Hhh...


Harus ekstra sabar, menangani pekerjaan berat macam ini.


"Gimana, Bang?"


"Untung keburu ke-gep, Tot!" jawab Bang Muis, yang menjadi ketua keamanan setempat.


"Kira-kira ada barang yang hilang ga ya?"


"Waduh, kalo itu gue kaga tau, Tot! Ga berani masuk kedalam gudang lebih dalam. Ada CCTV, entar malah gue yang dituduh malingnya!"


"Iya juga sih!"

__ADS_1


"Makanya gue langsung hubungin elo!"


"Iya, makasih banyak Bang!"


"Bilang Boss lo, pake rolling doornya yang model gudang sebelah tuh! Barang baru tuh, lebih safety! Ganti biar lebih kuat lagi bahan stainlessnya. Rolling door milik perusahaan Boss lo itu barang lama. Perlu diganti tuh! Bisa lewat gue, bilang Boss lo!"


Ck! Feeling gue kaga enak nih! Jangan-jangan ini permainan Bang Muis, biar dagang rolling doornya laris manis!


"Gue sih cuma saran! Selebihnya terserah boss lo sama lo sendiri dah! Tapi kalo dibobol mulu gudang perusahaan, ada barang ilang, lo bisa dipecat dari pekerjaan!"


"Iya juga sih! Ntar deh, Saya coba diskusiin dulu sama Boss saya!"


"Ya udah! Terus itu gimana? Mau ditutup pake apaan yang jebol, Tot?"


"Kayaknya malam ini saya tidur di gudang, Bang! Jaga malam. Khawatir juga ada barang customer hilang. Kena marah saya nanti sama Boss!"


"Di gue ada tuh GRC. Bisa koq gue bawa sekarang juga dan langsung pakai buat keadaan darurat. Ya, sekitar 500 ribuan deh, bersih sekarang juga gue kerjain!"


"Bentar saya lapor Boss dulu, Bang!"


"Oke!"


"Bang! Bisa nitip lagi sebentar ga? Saya mau pulang dulu, ambil jaket bawa selimut dari tempat saya tinggal!"


"Ya udah, sana dih! Gue tungguin gudang lo!"


"Makasih Bang! Saya juga langsung kabarin Boss, moga direspon cepat biar bisa langsung abang pasang GRCnya!"


"Sip!"


Aku hanya bisa mengangguk hormat. Lalu segera ke apartemen mengambil yang kubutuhkan.


Gitu amat ya cari duit?! Hiks, sampai harus berbohong bikin drama dan sandiwara. Padahal tebakan gue itu pasti kerjaan Bang Muis. Karena secara ini baru hari pertama, dan tadi gue udah nyogok para keamanan lain. Tapi tadi yang lain cuma diam. Dia yang banyak berkoar. Hhh... Pusing pala gue!


Dug.


Aku hampir saja terpental karena bertubrukan dengan sesosok tubuh lelaki jangkung yang wajahnya tertutup topi dan hanya terlihat separuh.


Ia baru saja keluar dari pintu lift apartemen. Dan berjalan tergesa-gesa di pukul dua malam. Tentu saja mencurigakan.


Tapi,... Ketika aku memperhatikannya sampai menghilang di kejauhan. Kenapa aku merasa mengenal sosok itu?


Aku segera mengejar. Mencoba memastikan kalau pria itu adalah...


Bryan Anggara???Ngapain itu anak ada di apartemen gue malem-malem? Bahkan ini menjelang dini hari. Apa..., ada seseorang yang lagi dia sambangi? Atau, dia punya apartemen juga dimari?


Kepalaku dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


Duh, Tot! Urusan yang kudu lo beresin sekarang itu adalah gimana ini gudang yang nyaris kebobolan. Bukannya mikirin si Bryan yang gak penting! Kerjaan lo lebih utama dibanding dia, Bambang!!!


Hiks. Bomat ah! Aku langsung meluncur ke lantai sepuluh menuju kamar apartemenku mengambil barang keperluanku.



...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2