
Malam ini aku tak bisa tidur. Detik demi detik jam beker yang bertengger diatas nakas membuatku ikut menghitung langkahnya satu demi satu.
Jendela kamar kusibakkan. Terlihat pantulan jendela kamar rumah seberang. Rumahnya Arif dan Siti Alifah tersayang.
Selamat tidur, JANDAKU sayang! Mimpi indahlah! Mimpikan aku juga, Lipah Sayang!
Bibirku tersenyum malu-malu.
Merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Dan seperti kembali muda karena Alifahku telah pulang.
Tetapi tiba-tiba aku melihat pantulan bayangan mencurigakan dari jendela kamar seberang.
Eh, apa itu??? Alifah sedang apa ditengah malam menjelang pagi buta begini? Kenapa belum tidur? Kenapa malah bergerak-gerak seperti sedang...
Wanjim!!! Itu seperti ada bayangan orang lain!!!
Aku langsung melompat turun dari ranjang. Melesat keluar rumah bagaikan terbang menuju rumah Alifah.
Kunci serep rumahnya yang masih kupegang memudahkan aku dengan cepat masuk kedalamnya.
Dengan kaki langkah seribu, aku menuju kamar yang tadi terlihat mencurigakan.
Pintunya terkunci!!!
Dor dor dor...
"Buka!!! Alifah!!!"
Tak ada jawaban.
Tapi feelingku sangat kuat dan terasa tidak enak.
Bruak.
Kucoba menendang pintu kamar. Dan pintu rupanya dibuka dari dalam.
"Bang... Gatot???"
"Bangs*aat!!! Bajingan tol*l!!!"
Bug bag bug
Plak, plak plak plak
"Awww!!!"
Desigh... Jedug
Dug dug dug dug
"Huaaa..."
"Manusia dajjal kalian!!!"
Prak!!!
__ADS_1
"Aaa... Ampuuun! Ampun, Baaang!!!"
Dug dug dug dug
Jedag jedug
Desigh...
Gubrag!!!
Ketiga manusia jahanam itu terkapar di lantai dengan darah berceceran dari wajah, mulut dan hidungnya.
Kurengkuh tubuh Alifah yang tersingkap dengan selimut tebal. Kurobek kain menutup yang menyumpal mulut JANDAKU.
Aku dan Alifah berurai airmata.
Bangs***t!!! Bajingan-bajingan ini mesti mati di tanganku!!!
Pikiranku kalut. Otakku beku karena amarah tinggi.
Yang ada dalam pikiranku adalah dimana pisau yang bisa kugunakan untuk menghujam jantung manusia-manusia biadab durjana yang seenak udelnya telah melakukan perbuatan hina pada JANDAKU.
"Gatot! Gatot!! Hik hik hiks..."
"Mana pisau? Mana pisau???"
Aku tak bisa berfikir jernih. Kuambil salon aktif sound system yang segede gaban. Lalu kubanting ke tubuh lelaki-lelaki dajjal yang terkapar pingsan.
"Jangaaan!!!" pekik Alifah membuatku pengang.
Aku menangis. Meraung tersungkur dibawah kaki Alifah yang masih terbungkus selimut bedcover karena tubuhnya setengah telanjang.
"Hik hik hiks...! Hik hiks..."
Kami menangis berangkulan di bawah.
Malam itu, jadi malam bencana yang membuat kebahagiaanku berubah jadi amarah tingkat dewa.
Seperempat jam kami terisak dengan tubuh rapat, saling memeluk erat.
Kesadaranku perlahan baru muncul. Kubuka bedcover selimut yang membungkus tubuh Alifah.
Nyaris saja!!! Para bajingan itu berbuat tidak senonoh pada JANDAKU!
Aku mengambilkan pakaian atas Alifah yang tergeletak di sisi ranjang. Ternyata sudah terkoyak robek.
Kuambilkan kemeja dan celana milik Arif. Lalu memberikannya pada Alifah.
"Pakai ini!"
Aku juga memoto para cecunguk sialan yang tergolek lemah dan pingsan setelah kujotos satu persatu.
Malam itu juga, aku menghubungi nomor 110 layanan darurat pihak kepolisian.
Pukul dua dini hari, rumah Arif ramai aparat kepolisian serta pihak aparat setempat. Mereka dengan mudah menciduk ketiga orang pria muda yang mengaku teman Arif dan masuk rumah karena memiliki akses kunci serep dari sang pemilik rumah.
__ADS_1
Aku dan Alifah ikut serta sebagai saksi dan korban dari tindak perbuatan penganiayaan serta pelecehan s*sual yang ketiganya lakukan pada Alifah.
Pihak berwajib juga menginterogasiku karena telah menghajar bengis para bajingan yang berani menjamah JANDAKU. Satu diantaranya kini dalam kondisi kritis.
Tentu saja aku membela diri. Aku bahkan akan lebih puas jika semuanya mati.
Alifah walaupun trauma berat, tapi masih bisa menguatkan serta menenangkan diri ini.
Akhirnya penyidikan diakhiri menjelang pukul tiga pagi.
Pukul empat pagi, Arif mendatangi kantor polsek. Dia mengunjungi aku dan Alifah yang masih ada di ruang perawatan intensif karena psikis Alifah yang cukup terguncang.
Plak.
Kutampar Arif dihadapan Alifah dan beberapa orang Polisi jaga.
"Sudah kubilang sejak awal! Ini yang kamu bilang teman? Mereka yang kau anggap teman seiya sekata? Baik dan berbudi andaikan diarahkan ke jalan yang benar?" makianku semakin membuat Arif tersungkur dilantai.
Menangis ia sejadi-jadinya setelah mengetahui perbuatan ketiga temannya yang sering menginap dan sedang belajar mengaji padanya itu.
Bug bug
Arif meninju lantai keramik kantor. Kesal bercampur sedih dengan linangan air mata. Sesekali matanya melirik padaku dan Siti Alifah.
"Maaf, Kak! Hik hik hiks... Maaf..."
Kedua kakak beradik itu saling berangkulan. Tangis Alifah kembali pecah.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menguatkan keduanya dan merangkul bahu Arif serta Alifah.
Pukul lima lebih Ayah Ibuku datang. Sepertinya sholat Subuh-nya pun dilakukan dengan tergesa-gesa demi ingin melihat keadaan juga kondisi putra-putrinya.
Aku sedih. Tubuh Ayah terlihat sedikit ringkih. Semalam keadaannya kurang baik. Tapi pagi ini beliau memaksakan diri mengendarai mobil VW kodok jadulnya demi menjemput kami pulang di Kantor Polsek setempat.
Kami sudah memasuki berkas laporan pengaduan. Tersangkanya pun kini sudah ada dalam tahanan.
Pak Kapolsek menjelaskan kalau suatu waktu mereka akan memanggil kami untuk proses selanjutnya.
Mereka juga menjamin keselamatan korban jika ada hal-hal yang mengganggu seperti teror, ancaman dari pihak terdakwa.
Alifah didampingi Ayah dan Ibu. Sementara Arif berjalan menunduk disampingku.
"Hik hik hiks... Maafin aku, Bang! Maaf..."
Arif lagi-lagi jatuh ke bawah memeluk lututku.
"Bangun, Rif! Bangun! Sudahlah! Semua baik-baik aja! Kak Lifah yang penting ga sampe kenapa-kenapa. Kalo sampe Kakakmu kenapa-kenapa, bakalan kugorok mereka semua!" kataku tegas pada Arif yang masih menangis dalam rengkuhanku.
Hhh...
Itu bener, Rif! Ucapan gue bukan cuma dibibir doang! Bakalan gue bunuh orang-orang yang udah berani nyakitin orang-orang yang gue sayang!
"Jadiin semua ini pelajaran buat kita kedepannya. Hati-hati bergaul, Rif! Jangan terlalu polos dalam berteman! Tulus harus, bego jangan! Pertemanan itu tidak perlu kita posisikan sejajar dengan persaudaraan. Beda orang, beda isi kepala. Lo anak baik, belom tentu temen lo! Inget pepatah, berteman dengan penjual minyak wangi. Pasti kau akan terkena harum minyak wanginya. Berteman dengan si pandai besi, siap-siap kau juga tercipratan panas api yang sedang ditempanya."
Wadidaw... Dapet perkataan dari mana ya gue??? Hiks... Oiya, itu dari Pak Kholidin guru Agama gue waktu SMA. Thanks, Pak! Setidaknya ada satu ucapan beliau yang bisa gue jadiin pelajaran. Arigatou gozaimasu.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...