
"Rif...! Kamu pasti kesepian ya, setelah Mama tiada?" gumamku pelan, namun terdengar jelas di telinga Arif.
Pemuda itu langsung tertunduk.
Sepertinya, kepergian Mamanya adalah pukulan terburuk di masa pencarian jati dirinya. Di usia belasan tahun dan masih duduk di bangku SMP.
"Maaf...! Abang ga tau sama sekali tentang keadaan Mama!" ucapku lagi.
"Ini semua udah takdir, Bang! Udah jalannya Allah, Arif harus terima. Harus bisa sekuat kak Alifah. Hhh..."
"Hhh..."
Kami sama-sama menghela nafas. Panjang dan nyaris berbarengan.
"Alifah..., pasti bangga ngeliat kamu yang sekarang. Tumbuh dewasa dengan sikap yang baik pula. Itu harapannya selalu."
"Hhh..."
Terdengar helaan nafas Arif kembali. Seperti beban berat yang teramat sangat bergelayut dalam fikiran serta jiwanya yang masih teramat muda.
"Aku sedih, kalo ingat kakak! Sampai akhir, aku tetap ga bisa jaga dan lindungi dia!"
Deg.
Koq gue ikutan kesentil ya?
"Hhh...! Alifah kakak yang hebat ya?!?" gumamku pelan.
"Pastinya. Dan dia... Berkorban berani pasang badan untuk semua orang yang disayanginya."
Aku menunduk. Malu dan runtuh kebesaran jiwaku.
Selama ini aku lebih banyak menghalu.
Alih-alih ingin sekali membahagiakan Siti Alifah, tetapi pada akhirnya tetap diri ini tak mampu melakukannya. Alhasil hanya seperti bualan angin lalu saja.
"Arif juga minta maaf ya, Bang? Arif ga bisa berbuat apa-apa waktu suami kak Lifah sama keluarganya mempermalukan Abang waktu itu!"
Aku termangu. Mengingat-ingat kisah sedih yang sudah kukubur dalam-dalam saking bencinya pada keadaan waktu itu.
"Udahlah, Rif! Itu cuma masa lalu. Yang penting, sekarang kak Alifah udah terbebas dari orang yang jahat!" kataku langsung diamini Arif.
"Bang...! Aku... Kepingin sekali liat Abang sama Kakak bahagia!"
Suara Arif yang terbata-bata dan kalimatnya yang membuatku terharu. Luluh lantahkan perasaanku.
"Terima kasih! Aku juga... Kepingin bahagiain Alifah lah!"
"Bang!... Boleh ga, aku ada permintaan?"
"A_apa?"
__ADS_1
Aku terkejut mendengar ucapan Arif. Seketika bulu kudukku seakan merinding.
"Mau ga, Abang ziarah kubur ke makamnya almarhumah kak Inayah?"
"Inayah? Siapa?..."
Aku langsung mencari-cari tahu siapa itu Inayah lewat memori ingatan di otak ini.
Siapa Inayah? Almarhumah Inayah? Berarti Inayah itu udah meninggal dunia dong, ya?
"Abang lupa, siapa itu kak Inayah?"
Aku menatap Arif dengan tatapan bingung. Menggeleng lalu mengangguk. Kembali mengingat-ingat siapa itu Inayah.
"Kakaknya Iqbal. Anaknya bu Rukiyah, tetangga kami, Bang!"
???
Oiya... Tetangga bigos dan juga biang kerok sampe gue sama Alifah cerai waktu itu!
"Iya, iya. Abang ingat! Inayah? Emang... Inayah udah meninggal dunia, Rif!"
"Udah tiga tahunan malah!"
"Hah?!? Kenapa? Khan... Seusia sama Abang sama Lipah? Koq, mati muda?"
"Sakit, Bang!"
"Inayah... Ternyata cinta sama Bang Gatot!"
"Hah?!?"
"Terus??? Mana Abang tau juga? Inayah ga pernah deh ngegodain Abang macem-macem! Malah... Ga pernah ketemuan lagi kita sejak keributan di rumah kompleks perumahan green garden waktu itu."
"Itulah. Bu Rukiyah baru tau juga dari buku-buku deary kak Inayah. Katanya, banyak nama-nama Abang betebaran di situ."
"Kamu, kapan ketemuan sama bu Rukiyah? Dia bilang apaan aja?"
Gatot mode on kepo maksimal! Hiks. Bodo amatlah. Kadung gendeg sama ibu-ibu rempong bin julid satu itu.
"Ternyata... Ada banyak kisah dan kejadian di kehidupan kita, karena... Ada hal-hal yang... lumayan cukup mengerikan. Wallahu a'lam bishowaf!"
Lagi-lagi aku termangu.
Jujur aku tak mau pemuda yang baru beranjak dewasa ini mengatakan hal-hal yang diluar nalar.
Bukan karena penakut apalagi pengecut, tapi memang dalam kamus hidupku no way untuk hal-hal yang kesannya tak masuk akal.
Bukan tak percaya, atau munafik tak mengakui akan adanya hal-hal yang goib.
Tapi... Entahlah. Sedari dulu aku lebih suka berfikir realistis sajalah. Tak suka pada hal-hal yang terlalu dramatis. Bahkan sampai pada pemikiran yang tak logis. Macam saat ini.
__ADS_1
Dan aku mulai bisa menebak alur cerita yang Arif urai lewat penuturannya yang mulai berat.
"Abang tau? Hal yang paling berbahaya itu apa?" katanya mengandung makna dalam.
"Apa?"
"Sirik dan dengki serta iri hati manusia yang pada akhirnya di realisasikan lewat perbuatan musyriknya menyekutukan Allah Ta'ala!"
"Ck. Hhh... Ini yang ga aku suka dalam diskusi. Masalah supranatural dan ilmu kebatinan."
"Bukan, Bang! Ini bukan menjurus ke hal itu walaupun masih dalam satu aliran!" tukasnya membela diri dengan meralat ucapan ngasalku.
"Apa bedanya dengan pesulap, penyihir dan penipu agama? Mereka sama, Rif! Sama-sama menipu hamba Allah dan sama-sama merusak akidah seseorang lewat trik yang dimainkan!" rutukku kesal.
Arif tersenyum kecil.
Kami kini sama-sama terdiam. Sama-sama larut dengan fikiran masing-masing soal Inayah dan Bu Rukiyah.
"Apa... Ada masalah yang kamu yakini, Rif? Sampe aku harus ziarah kubur ke makam Inayah?" tanyaku pada akhirnya dengan agak gamang.
Arif menghela nafasnya. Lalu mengangguk pelan.
"Bukan meyakini juga. Cuma... Ngerasa ada sesuatu yang salah. Yang agak mengganjal hubungan Kak Alifah sama Bang Gatot!"
"Maksudnya Arif?"
"Sebenernya, Arif kepengen kak Lifah ziarah sama Bang Gatot. Tapi... Berhubung kak Lifah masih ada kontrak kerja, mau ga mau... Arif minta abang Gatot duluan yang ziarah!"
"Apa itu suatu keharusan? Doain orang yang udah meninggal bisa dimana aja khan? Cukup sebutin namanya plus bin dan bintinya lengkap, setauku... Bisa sampai koq itu ke hak nya!" tukasku masih dengan perdebatan panjang.
"Betul. Tapi..., ada satu lain hal yang lebih afdol kalo Abang mencoba menyambanginya. Berdoa dengan tulus untuk kebaikan almrhumah di alam barzakh!"
"Bukannya doa anak yang soleh soleha yang bisa bantu kebaikan seseorang, ya? Dan lagi... Aku ngerasa ga punya salah, juga ga merasa ada sesuatu yang harus diluruskan dalam hal ini, Rif!"
"Bu Rukiyah ternyata masukin cel*na dalam Abang ke lubang makam kak Inayah!"
"HAH?!?"
Langsung merinding sekujur bulu romaku.
Wanjiiim!!! Celdam gue ikutan dikubur bareng jenazah anaknya? Apa maksudnya?
Aku mendelik. Antara kaget, takut, juga speechless. Tak bisa diungkapkan perasaan campur aduk di hati ini dan digambarkan seperti apa suasana kegalauan di dalamnya.
"Cel*ana dalamku? Buat apa???"
"Itulah, yang tadi aku kata. Ketika sirik, dengki, iri hati menjadi perbuatan musyrik melawan takdir, Bang!"
Seketika aku terdiam. Tak lagi berani berdebat.
Gila ini!!! Ini gila!!!
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...