
Aku sedang dalam mode on : cowok egois.
Hhh...
Padahal aku sendiri tahu, egois itu adalah sifat yang paling menyebalkan. Dan harus kupangkas habis sifat jelekku yang satu itu jika kepingin hidup maju.
Tapi, justru saat ini aku sedang ingin mempertahankan eksistensinya di jiwa ini. Bahkan sampai pukul dua belas siang, masih berkomuk dingin pada pacarku Eliza Maura.
Bisa dibilang, beginilah EGOISnya lelaki! Tapi jangan salah. Biarpun lelaki adalah makhluk Tuhan paling egois, tetapi hati kecilnya sangat sedih. Dan mengakui kesalahan yang diperbuatnya itu adalah tidak benar. (Hilih!!! Bela diri; beda sama bela negara, wkwkwk)
"Bang, makan dulu! Mau nasi apa mie ayam?"
Sebenarnya aku malu hati. Eliza walaupun belum jadi istri tapi melayaniku sepenuh hati.
Tiba-tiba otakku seperti ter-rewind sendiri, pada kelihaian tangan ini dalam memainkan dua gunung milik pacarku semalam.
Hiks! Hadeuh Gatot! Bisa-bisanya lo marah tidak pada tempatnya! Semalem lo mainin dia, cumbu rayu dirinya, tapi pas pagi lo marah-marah kaga jelas cuma karena Eliza ngeledek lo dengan julukan 'kang mabok'. Hhh... Padahal emang bener, lo mabok semalam. Ogah pulang, malah nginep di rumah si Lilis! *****-grepein dia, walau ga sampe berbuat yang lebih jauh lagi,... Tapi kelakuan lo bener-bener!!!
"Non!..."
Eliza menoleh.
"Mau kuambilin minum? Air dingin apa air hangat?"
Hiks, Tuhaaan!!! Koq mata gue berair ya?
Jangan, jangan...! Jangan nangis! Malu, bego! Depan lo ada beberapa karyawan juga tuh! Tahan, tahan!!!
"Maafin aku, ya?" kataku dengan lembut sambil menatap Eliza yang termangu. Cengo'!
Eliza tersenyum, manis sekali.
Ya Allah! Sungguh bodoh gue, kalo sampe oleng dan terhempas cintanya dari Non Lilis ini! Udah cantik, baik, juga pengertian! Apa yang gue butuhin di dunia ini, ada semua padanya. Hanya karena ada Alifah di rumah, dan bibirnya berhasil nyuri ciuman gue... Lalu gue oleng nyepelein Eliza seperti sampah. Hhh... Gatot! Kalo sampe lo putus sama Eliza, yakin dah lo yang bakalan jadi sampah masyarakat!
"Abis makan, usahain dzuhuran di masjid bareng Coki sama Bang Bima, Bang! Minta sama Allah, pilihan yang terbaik buat diri lo!"
Hiks... Kenapa Eliza bisa ngomong kayak gitu? Kenapa? Ada apa? Apa dia punya firasat kalo gue masih belom bisa move on dari JANDAKU yang sekarang ada di rumah Ayah Ibu?
Aku mengangguk.
Ucapannya seratus persen benar.
Dan sangat bodoh jika emosiku kembali menaik, marah-marah tak jelas padanya. Hanya karena nada bicaranya yang terdengar sedikit kesal.
__ADS_1
Wajar aja kalo seandainya Eliza marah pun. Karena kelakuan gue yang diam-diam lumayan jahat juga, sosor sana sosor sini. Untungnya dia belum tau. Hiks...
Hari ini, aku lumayan religi. Dzuhuran juga Asharan. Beneran membikin hatiku tenang.
Alhasil, aku semakin malu dan sadar kalau perbuatanku sungguh sudah tak benar.
Pukul lima sore, kantor mulai sepi.
Satu persatu karyawan pulang. Hanya tinggal Bang Bima sang operator yang menginap di ruko lantai dua, ditemani mang Royhan sebagai penjaga keamanan.
Aku gegana. Pulang ke rumah orang tua atau tetap stay di kantor. Lagi-lagi nasehat Lilis jadi bahan pertimbanganku yang membuatku semakin sadar, betapa kekasihku itu punya kedewasaan dalam berfikir ketimbang aku.
"Pulang, Bang! Kasian Ibu. Kamu semalam pergi tanpa bilang. Jangan pernah membuat orangtua sedih. Kamu bakalan menyesal seribu kali kalo Ayah Ibu tiada nanti."
Deg.
Entah mengapa. Perkataan Eliza membuat jantungku berdebar kencang.
Seperti tersedot dalam lorong labirin putih yang panjang, aku merasakan kepalaku pening bukan kepalang.
Samar terdengar suara Eliza yang memanggilku semakin jauh.
............
Kemarin, Si Belut yang tergeletak di ranjang rumah sakit. Tetapi kali ini, justru aku yang terbaring setelah pingsan cukup lama di ruko kantor.
Hhh...
Terima kasih ya Allah, aku masih diberi kesempatan untuk melihat wajah mereka lagi!
Aku bertanya pada mereka, kenapa membawaku ke rumah sakit. Ayah bilang, Eliza dan Bang Bima yang mengurusku karena khawarir. Dokter mengatakan kalau tekanan darahku sangat rendah dan aku dehidrasi kekurangan cairan.
"Lis!..."
Aku menyebut nama kekasihku. Kini aku telah punya pilihan yang harus aku perjuangkan. Gadis yang sudah kuyakini, akan kusunting sesuai janji serta tekad hati ini.
"Aku disini, Bang!"
Rupanya gadisku itu sedang duduk berdampingan dengan Alifah. Membuat tenggorokanku kembali tersekat.
Gue mesti putuskan segera. Keadaan yang menggantung di antara Eliza dan Alifah ga boleh terus menerus. Itu dosa! Dan gue juga harus bisa menentukan salah satu diantara mereka. Untuk memilih keduanya, gue ga cukup mapan dan ga sanggup juga.
"Lis!"
__ADS_1
"Iya, Bang?"
"Ayah, Ibu... Boleh ga Gatot minta waktu buat bicara sebentar sama Eliz?"
Ayah mengangguk. Ibu menatapku lama. Sesekali ia menoleh Eliz sambil memberiku dukungan lewat genggaman tangannya.
Ayah dan Ibu keluar kamar. Alifah juga dituntun Ibu agar ikut keluar.
"Lis!"
Aku menatap wajah Eliza. Meraihnya dengan kedua belah tanganku.
"Percayakah kau padaku, Liz?" tanyaku lembut.
Eliza mengangguk. Senyumnya mengembang.
Aku tahu, dia gugup. Wajahnya tegang, matanya fokus menatap wajahku.
"Aku ingin membereskan masalahku dulu dengan Alifah. Kumohon,... pengertianmu! Saat ini..., sebaiknya kita break dulu. Sampai urusanku dengan Alifah selesai."
"Apa? Kamu... Putusin aku?"
"Bukan. Bukan gitu, Liz! Tapi..., aku butuh waktu untuk membereskan hubunganku yang gantung dengan Alifah. Aku harus segera menyelesaikannya terlebih dahulu. Sebagai seorang lelaki, aku pernah punya janji untuk menjaganya seumur hidupku. Aku, ingin menyelesaikan dahulu janjiku!"
"Maksudmu, apa Tot?"
Merebak seketika mata Eliza Maura.
Aku tahu, gadisku ini pasti telah salah faham. Karena terlihat wajahnya pucat pasi dan bibirnya gemetar.
"Terima kasih, kamu pernah menjadi orang yang paling kusayangi. Terima kasih. Maaf... jika aku selama menjadi pacarmu selama dua minggu ini selalu membuatmu susah! Aku... Mengerti maksudmu! Aku menerima keputusanmu, aku pamit!"
Ah, Nona Lilis... Lo salah fahaaam!!! Lo salah mengartikan maksud gueee!!! Hellooow..., please baby...! Please, dengerin ucapan gue sekali lagiii!!!
Sayangnya, gadisku itu malah langsung pergi dengan langkah tergesa. Dan uraian air mata.
"Lis! Eliza Maura!!!"
Dia telah pergi. Meninggalkan kusendiri!
Tuhaaan... Hik hik hiks, aku ini bodoh! Aku nyebelin! Aku ini lelaki yang suka bikin cewek-cewek malah illfeel!
__ADS_1
Tolong aku ya Allah! Please... Aku ingin bahagia. Aku ingin segera berumah tangga. Bahagiakan Ayah Ibu! Hanya itu cita-citaku saat ini!
...❤BERSAMBUNG❤...