
Hari yang melelahkan.
Walau aku berusaha memperlihatkan ketulusan hatiku yang terpancar dari dalam, namun wajah lelah serta jiwa yang tengah merapuh tak dapat kusembunyikan.
"Pergilah ke tempat kerjamu, Tot! Aku ga apa-apa. Disini ada Ayah, Ibu, Pak Sub sama Bu Imah. Siangnya aku udah janjian sama Mas Ubay!"
"Mas Ubay?" tanyaku termenung.
"Cak Ubaid maksudku, hehehe...!"
"Idih!? Udah punya panggilan kesayangan. Ck dasar si Belut! Hahaha..."
Aku senang. Alifah ternyata sudah bisa bangkit bahkan lebih cepat move on dibanding aku.
Hhh... Suwe' bener! Gue yang berusaha cari kebahagiaan untuk dia. Malah gue yang terseret ombak kesedihannya dan dia menari-nari bahagia diatas derita gue. Yiha... Hehehe... Cuma sebatas ledekan candaan!
.............
Dua hari tak masuk kerja. Tak terima chattan juga teleponan Nona Lilis Tersayang, rasanya tubuh ini seperti sebatang pohon kering dan mati. Tak berseri karena tak ada kehidupan disana. Hhh...
Mataku menatap nanar pada pagar ruko yang tertutup rapat. Hanya ada tulisan spidol besar bertuliskan kata TUTUP DULU TIGA HARI.
Aku berdiri didepannya, dengan tatapan kosong dan hati deg-degan.
"Bang Gatot!"
Seseorang berlari keluar.
"Bang! Kak Eliz dua hari lalu dijemput seseorang dari Jakarta. Katanya, kalo tak salah dengar... Ada yang khitbah! Gitu deh..."
HAH???
Sontak denyut jantungku berpacu dengan waktu.
Kaget setengah mati, kalau Eliza akan mendapatkan pinangan dari laki-laki lain dan...
"Bang, tunggu!!!"
Aku tak hiraukan panggilan Diki, salah seorang karyawan usaha kami. Niatku langsung menuju rumah Eliza Maura.
"Lis, Lis...! (treng treng treng) Eliza!"
"Den Gatot?"
"Bibi Karti... Eliza kemana?"
Wanita paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga mendiang orangtua Eliza hanya bisa menatap wajahku sedih.
"Non Eliz dijemput tuan Kadir, Den! Belum pulang dari kemarin!"
Hiks. Lis! Lis...! Liliiis...!!!
Aku mencoba menghubungi Eliza Maura. Tapi handphone tidak aktif.
__ADS_1
Aku menanyakan juga kepada grup pertemanan kuliah, namun tiada seorang pun tahu.
Lilis, please...! Please, Lis! Give me one more chance! Please,... Please God!
Tuhanku Yang Maha Agung! Tolonglah hamba-Mu ini! Tolong aku, Tuhan! Hik.
Aku sudah meyakini keputusanku. Aku sudah kuatkan tekadku.
Aku akan menyusul Eliza Maura ke kediaman Pamannya di wilayah pusat Ibukota.
Tunggu aku, Lis! Tunggu aku datang untuk melamarmu!
Aku pasrah pada Takdir Tuhan. Tapi aku akan berusaha terlebih dahulu untuk mencapainya. Jikalau memang Takdir sulit digapai, aku ikhlas, legowo dan berpasrah hanya Kepada-Nya.
Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi. Meliuk-liuk penuh fokus pada jalan raya. Zig zag kanan dan kiri menaklukan trotoar panjang berliku. Tujuanku adalah sebuah jasa travel online. Mencari tiket pesawat untuk besok berangkat terbang pagi ke Ibukota.
Tuhan Maha Baik.
Tiket pesawat telah terkirim ke emailku lewat aplikasi pembelian tiket online.
Aku kembali ke kantor usaha milik Eliza. Mencoba membenahi kerjaan laporanku yang menumpuk setelah dua hari mangkir tak masuk kerja.
Aku salah.
Aku teramat bersalah pada Eliza Maura.
Alih-alih menginginkan hubungan yang tulus dengannya, aku malah mengatakan hal-hal yang tak guna. Membikin Non Lilis-ku salah faham dan menyangka aku memutuskan hubungan dengannya.
Hari ini Aku bekerja bagaikan kerasukan.
"Kalau kamu benar-benar ingin mendapatkan Eliza, makan dan istirahat sekarang! Kalau kamu sampai pingsan lalu masuk rumah sakit lagi, kamu bakalan nyesal, Tot! Kamu kehilangan dia buat selamanya!"
Deg.
Bang Bima bener! Gue mesti sehat! Gue harus kuat! Kalo gue sakit, gue lemah! Gue bisa gagal jemput Eliza di Jakarta dan pacar gue tercinta itu keburu dikhitbah orang! No no no!!!
Aku mengangguk.
Mengambil nasi kotak yang Bang Bima sodorkan dengan senyum tersungging dan ucapan terima kasih.
"Makasih, Bang!"
Bima mengangguk. Dia adalah karyawan yang paling tua diantara kami dan sudah punya dua anak. Otomatis pemikirannya jauh lebih dari dewasa dibandingkan kami semua.
Aku benar-benar menjadi orang yang taat ibadah hari ini. Subuh, Dzuhur, Ashar bahkan Maghrib aku sudah duduk manis di dalam masjid dekat ruko kantor.
Besok pagi aku akan meluncur ke Ibukota. Tanah kelahiran, kampung halaman. Menjemput impian bersama gadis tersayang. Hhh...
Tuhanku Yang Maha Baik! Tolong permudah langkahku! Tolong tunjukkan jalan yang lurus padaku! Tolong aku, Tuhan!
Setelah selesai Maghriban, aku pulang.
Ibu dan Ayah mencoba menghiburku. Mereka memberiku kekuatan lewat obrolan ringan dan canda tawa ceria.
__ADS_1
"Dengar, Nak! Jodoh itu rahasia Allah. Jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri. Percaya deh, suatu hari nanti Allah pasti akan memberikanmu jodoh yang terbaik menurut-Nya yang sesuai dengan kriteriamu!"
Ucapan Ibu membuatku menganga.
Aku duduk dihadapan mereka dengan raut wajah serius dan penuh rasa penasaran tinggi tentang awal mula mereka bertemu.
"Ayah sama Ibu, dulu ketemuan dimana?"
Mereka kompak tertawa. Wajah Ayah memerah, demikian juga Ibu. Tersipu malu sambil sesekali saling bertatapan. Membuatku mengiri sebagai jombo ngenes yang ditinggal pacar. Hiks.
Yah, Bu! Please lah... Kondisikan kesweetan kalian dihadapan anakmu yang menyedihkan ini! Bikin kepengen buru-buru ketemu jodoh yang se-iya se-kata kayak kalian. Hiks... Adakah??? (hopeless...tingkat dewa)
Ada sedih, tapi tumbuh pula semangat baru.
Aku tersenyum tipis. Jodoh. Dimana kau kini? Usiaku sudah 25 tahun lebih beberapa bulan. Ingin segera melepas masa lajang. Ingin tanggalkan status bujang. Berganti menjadi pria beristri yang dipandang orang sebagai pria sukses.
Apalagi, punya kerjaan, istri, juga anak. Dimataku, pria seperti itulah yang sempurna hidupnya.
Hm... Kapan ya Allah? Gue ngerasa sesempurna itu? Ngeliat Harlan yang sibuk belepotan oli hitam dan minyak rem sembari memangku putri ciliknya yang menangis, beneran bikin gue iri. Terus Desi datang sambil bawa segelas kopi hitam mengepul panas, gue makin iri. Bahkan bertambah iri ketika istrinya Harlan itu bilang, "Abang..., gulanya habis. Jadi kopinya pahit tanpa gula, ya? Kalo mau kopinya manis, liat mukaku aja ya, Bang! Hihihi..."
Aaarrrggghhh... Gue kapan kayak gituuu???
............
Jakarta menyambutku di pukul sepuluh lewat lima belas menit.
Cuaca cerah agak panas menjelang tengah hari membuatku mengecek ponselku lagi setelah kumatikan selama pesawat komersil yang kunaiki lepas landas dan mendarat sesuai jadwal alias tanpa delay.
Handphone Eliza masih tak dapat kuhubungi. Padahal ini sudah hari ketiga.
Ada apa denganmu, Nona Lilis? Please, aktifkan ponselmu, Nona! Aku kangen amarahmu padaku! Aku rindu suara manjamu memanggilku 'Abang'. Nona Lilis!... Tidakkah kau juga merindukanku? Hiks...
Alamat rumah Eliza Maura, dibilangan Pasar Baru Pusatnya Ibukota.
Berbekal alamat rumah Pamannya Eliz yang bi Karti berikan padaku kemarin, aku dengan menggunakan google maps berhasil juga dalam menemukannya.
Debaran jantungku semakin kencang. Terlebih ketika mendapati rumah Pamannya tampak ramai sekali orang dengan wajah-wajah sumringah.
Apa Eliza sedang lamaran? Gustiii!!! Tolong batalkan, pleaseee...
"Permisi, Assalamualaikum!"
Aku dengan kekuatan diri serta hati yang kubulatkan agar besar dan makin besar, mencoba menerobos keramaian di teras rumah pamannya Eliza Maura. Dan...
"Bagaimana? Apakah lamaran saya diterima? Apakah pihak keluarga setuju dan calon mempelai wanitanya juga menerima pinangan putra saya ini?"
Deg.
"Tunggu! Maaf, maaf...! Mohon maaf, Saya Gatot Subroto. Saya datang dari Pangkal Pinang, ingin mengajukan pinangan juga kepada Nona Eliza Maura! Mohon..., mohon pertimbangannya juga dari Bapak Basuki Hidayat! Maaf..., Saya terkesan menyelak. Karena Saya sangat mencintai Nona Eliza Maura!"
"Hah???"
Semua yang hadir disitu terdiam. Dengan mata mengarah padaku semua.
__ADS_1
Hiks, gokil lo Tot! Mati lo pasti! Mati lo bentar lagi kena amukan keluarga lelaki yang lagi mau melamar Eliza!!! Hadeeuh...
...❤BERSAMBUNG❤...