
Aku seperti biasa, setelah subuhan di masjid, mandi pagi, sarapan buatan istri, lalu berangkat nguli.
Hari ini terasa lebih dingin. Tubuhku sedikit greges, kurang enak badan.
Alifah juga mengalami hal yang sama. Badan lemas, sakit kepala juga.
Apa ada virus baru lagi ya yang nyerang Indonesia? Hiks... Kudu waspada ini. Doping vitamin, suplemen penjaga imunitas. Hadeuh! Kebayang negara kita terus-terusan digempur penyakit. Generasi penerus bangsa harus rutin di suntik imunisasi zat kimia. Gimana ntar belasan-puluhan tahun kemudian ya? Hhh...
Sebelum pergi berangkat ke kantor, aku kembali dulu ke kamar. Ada beberapa berkas dokumen keluarga yang harus kubawa untuk merapikan data-data NPWP ku di kantor.
Puk.
Tiba-tiba setumpukan pembalut jatuh tepat dihadapanku.
Eh? Koq perasaan banyak banget pembalutnya ya? Bukannya setiap bulan Alifah pasti pake? Dan... Eh? Bulan ini seingatku Alifah ga menstruasi deh? Eh, halangan ga sih ya? Lupa...
Aku merenung sejenak. Tetapi langsung buyar ketika suara Alifah memanggil.
"Yaaang! Udah ketemu Aktanya?"
"Udah, ini udah!"
Aku keluar. Memperhatikan wajah Alifah yang terlihat pucat dengan bibir berwarna agak gelap.
"Yang! Kamu kayaknya harus ke lab deh! Periksa darah. atau, coba tensi dulu tekanan darahnya. Barangkali kurang darah? Pucat banget sih? Apa tunggu nanti aja sore ya? Pulang kerja aku?"
"Iya, Suamiku! Aku nanti tes tekanan darahku sama Mbak Santi. Kamu sekarang pergi kerja dulu. Hati-hati di jalan bawa motornya, Yang! Jangan ngebut, ya? I love you!"
Cup.
Alifah mencium pipiku. Tentu saja aku menarik tubuhnya agar menempel ke tubuh ini.
"Love you too, Sayang! Aku kerja dulu ya?"
Cup cup... Sluurrp
Ciuman bib*rnya yang manis menjadi penyemangat kerjaku.
"Jangan lupa makan, Yang!" tambah Alifah dengan suara bisikannya yang merdu.
Aku mengerjapkan mata.
"Tar malem ya?!" kodeku padanya.
"Ish, apaan sih? Hihihi..."
"Masih punya hutang hadiah, tuh!" bisikku membuat Alifah tertawa renyah.
"Dasar..."
__ADS_1
Kami sama-sama tersenyum senang.
Motorku melaju dengan kecepatan sedang. Helm, sarung tangan dan jaket parasit menjadi alat keamananku agar safety sampai tujuan.
Pekerjaan demi pekerjaan telah kuselesaikan sebelum jam makan siang. Arif mengajakku survey hunian baru di perumahan baru yang kini sedang di bangun boss Ardi. Hebat, usaha pembangunan propertinya berkembang dengan pesat di daerah kami ini.
Treeet... Treeet... Treeet
Ibu nelpon? Ada apa ya? Tumben-tumbenan.
"Ya hallo? Assalamualaikum, Bu?!"
...[Waalaikumsalam. Tot, Alifah pingsan, Tot!]...
"Hah?!? Keadaannya sekarang gimana, Bu?"
...[Udah dibawa ke RS Miless pake ambulan]...
"Gatot otewe, Bu!"
...Klik...
Aku menghampiri Arif yang masih memeriksa sikring listrik di kamar utama.
"Rif! Aku mau ke rumah sakit! Alifah pingsan!"
"Hah? Rumah sakit mana?"
"RS Miless!"
"Aku ikut, Bang!"
Kami meluncur ke RS dengan mengendarai mobil dinas Arif.
Jantungku berdebar kencang. Khawatir dengan keadaan istriku yang memang agak kurang sehat kondisi fisiknya sedari malam.
"Bu!"
Aku berlari menghampiri Ibu yang berdiri di depan ruang ICU Rumah Sakit.
"Gimana Lifah?"
Puk puk.
Ibu tersenyum seraya menepuk bahuku.
"Anak Ibu hebat!"
Hah???
__ADS_1
"Bu! Kak Alifah gimana keadaannya?" tanya Arif masih dengan nafas ngos-ngosan karena berlari mengejarku yang keluar mobil lebih dahulu sementara Arif masih harus memarkir dulu.
"Kamu... Akan jadi Om, Rif!"
"Ibu???"
Tentu saja netraku membulat. Bibirku menganga lebar.
"Maksud Ibu?"
"Istrimu sedang mengandung. Sudah delapan minggu."
Hah??? Beneran ini? Beneran ga ini??? Ini bukan PRANK khan? Ini bukan bo'ongan khan?
"Bu? Bener?" tanyaku sambil mengguncang-guncangkan bahu Ibuku.
"Iya lah. Masa' sih Ibu bohong!?"
"Huaaa... Ibuuu!!! Yeeesss!!! Yes yes yes! Huaaa... Terima kasih ya Allaaah!!!"
Tentu saja aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sampai lupa meluapkan euforianya di lorong Rumah Sakit depan ruang ICU kalau saja sekuritinya tak menepuk bahuku sambil berkata, "Maaf ya Pak, di mohon tenang!"
"Oh iya, Pak! Maaf... Saya lupa!"
Aku malu sekali, tapi bahagia.
Saking bahagianya aku hampir salah menubruk orang. Kukira pasien itu adalah Alifah, istriku tersayang. Ternyata bukan.
"Yang! Aku disini!"
Untung saja Alifah yang berada di seberang pasien perempuan uang kusangka dia langsung memanggilku setelah melihat dari sela gorden putih yang menutupi sebagian ranjangnya.
Hadeuh! Ampir aja gue double malu! Hiks...
"Yang!"
Kupeluk erat tubuh Alifah. Tapi segera kelepas, teringat ada janin muda yang bersemayam di rahimnya kini.
"Yang! Hiks... Alhamdulillah! Akhirnya... Penantian itu, tak sia-sia. Calon anak kita akan hadir sebentar lagi!"
Aku terhanyut dalam keharuan.
Keciumi pipi Alifah, lagi dan lagi. Air mataku ikut menetes di kedua belah pipi ini. Bahagia, sekaligus bangga. Bersyukur sekali. Betapa Tuhan Maha Baik padaku.
Enam bulan lebih kapal mahligai rumah tangga kami berlayar, kini ada hasil tangkapan yang luar biasa besar dan menggembirakan.
Istriku akhirnya hamil.
Thanks God! Terima kasih atas semua rahmat-Mu pada kami.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...